Baca artikel Romadhon disini
http://www.mediamuslim.info/index.php?option=com_content&task=category&sectionid=2&id=27&Itemid=37

yoedha pamungkas wrote:
> ini ada bahan renungan hasil diskusi teman teman pengajian saya tentang buka
> puasa semoga dapat jadi hikmah mempersiapkan diri di bulan puasa yang penuh
> rahmat
>
>
> SEBENTAR lagi Ramadhan. Di bulan puasa itu, sering kita dengar kalimat
> 'Berbuka puasalah dengan makanan atau minuman yang manis,' katanya.
> Konon, itu dicontohkan Rasulullah saw. Benarkah demikian?
>
> Kita lihat hadits berikut ini:
>
> Dari Anas bin Malik ia berkata : "Adalah Rasulullah berbuka dengan
> Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka
> beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering
> beliau meneguk seteguk air. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)
>
> Nabi Muhammad Saw berkata : "Apabila berbuka salah satu kamu, maka
> hendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka
> berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci."
>
> Nah. Rasulullah berbuka dengan kurma. Kalau tidak mendapat kurma,
> beliau berbuka puasa dengan air. Samakah kurma dengan 'yang manis-manis'?
> Tidak. Kurma, adalah karbohidrat kompleks (complex carbohydrate).
> Sebaliknya,
> gula yang terdapat dalam makanan atau minuman yang manis-manis yang biasa
> kita konsumsi sebagai makanan berbuka puasa, adalah karbohidrat sederhana
> (simple carbohydrate).
>
> Darimana asalnya sebuah kebiasaan berbuka dengan yang manis? Tidak
> jelas. Malah berkembang jadi waham umum di masyarakat, seakan-akan berbuka
> puasa dengan makanan atau minuman yang manis adalah 'sunnah Nabi'.
> Sebenarnya
> tidak demikian. Bahkan sebenarnya berbuka puasa dengan makanan
> manis-manis yang penuh dengan gula (karbohidrat sederhana) justru merusak
> kesehatan.
>
> Dari dulu saya tergelitik tentang hal ini, bahwa berbuka puasa
> 'disunnahkan' minum atau makan yang manis-manis. Sependek ingatan saya,
> Rasulullah
> mencontohkan buka puasa dengan kurma atau air putih, bukan yang
> manis-manis.
>
> Kurma, dalam kondisi asli, justru tidak terlalu manis. Kurma yang
> didatangkan ke Indonesia dalam kemasan-kemasan di bulan Ramadhan sudah
> berupa 'manisan kurma', bukan lagi kurma segar. Manisan kurma ini
> justru ditambah kandungan gula yang berlipat-lipat kadarnya agar awet dalam
> perjalanan ekspornya. Sangat jarang kita menemukan kurma impor yang
> masih asli dan belum berupa manisan. Kalaupun ada, sangat mungkin harganya
> menjadi sangat mahal.
>
> Kenapa berbuka puasa dengan yang manis justru merusak kesehatan?
>
> Ketika berpuasa, kadar gula darah kita menurun. Kurma, sebagaimana yang
> dicontohkan Rasulullah, adalah karbohidrat kompleks, bukan gula
> (karbohidrat sederhana). Karbohidrat kompleks, untuk menjadi glikogen, perlu
> diproses sehingga makan waktu. Sebaliknya, kalau makan yang manis-manis,
> kadar
> gula darah akan melonjak naik, langsung. Bum. Sangat tidak sehat. Kalau
> karbohidrat kompleks seperti kurma asli, naiknya pelan-pelan.
>
> Mari kita bicara 'indeks glikemik' (glycemic index/GI) saja. Glycemic
> Index (GI) adalah laju perubahan makanan diubah menjadi gula dalam tubuh.
> Makin tinggi glikemik indeks dalam makanan, makin cepat makanan itu dirubah
> menjadi gula, dengan demikian tubuh makin cepat pula menghasilkan
> respons insulin.
>
> Para praktisi fitness atau pengambil gaya hidup sehat, akan sangat
> menghindari makanan yang memiliki indeks glikemik yang tinggi. Sebisa
> mungkin mereka akan makan makanan yang indeks glikemiknya rendah.
> Kenapa? Karena makin tinggi respons insulin tubuh, maka tubuh makin menimbun
> lemak. Penimbunan lemak tubuh adalah yang paling dihindari mereka.
>
> Nah, kalau habis perut kosong seharian, lalu langsung dibanjiri dengan
> gula (makanan yang sangat-sangat tinggi indeks glikemiknya), sehingga respon
> insulin dalam tubuh langsung melonjak. Dengan demikian, tubuh akan
> sangat cepat merespon untuk menimbun lemak.
>
> Saya pernah bertanya tentang hal ini kepada seorang sufi yang diberi
> Allah 'ilm tentang urusan kesehatan jasad manusia. Kata Beliau, bila berbuka
> puasa, jangan makan apa-apa dulu. Minum air putih segelas, lalu sholat
> maghrib. Setelah shalat, makan nasi seperti biasa. Jangan pernah makan
> yang manis-manis, karena merusak badan dan bikin penyakit. Itu jawaban
> beliau.
> Kenapa bukan kurma? Sebab kemungkinan besar, kurma yang ada di
> Indonesia adalah 'manisan kurma', bukan kurma asli. Manisan kurma kandungan
> gulanya sudah jauh berlipat-lipat banyaknya.
>
> Kenapa nasi? Lha, nasi adalah karbohidrat kompleks. Perlu waktu untuk
> diproses dalam tubuh, sehingga respon insulin dalam tubuh juga tidak
> melonjak. Karena respon insulin tidak tinggi, maka kecenderungan tubuh
> untuk menabung lemak juga rendah.
>
> Inilah sebabnya, banyak sekali orang di bulan puasa yang justru
> lemaknya bertambah di daerah-daerah penimbunan lemak: perut, pinggang,
> bokong,
> paha,belakang lengan, pipi, dan sebagainya. Itu karena langsung membanjiri
> tubuhdengan insulin, melalui makan yang manis-manis, sehingga tubuh menimbun
> lemak, padahal otot sedang mengecil karena puasa.
>
> Pantas saja kalau badan kita di bulan Ramadhan malah makin terlihat
> seperti 'buah pir', penuh lemak di daerah pinggang. Karena waham umum
> masyarakat yang mengira bahwa berbuka dengan yang manis-manis adalah
> 'sunnah',
> maka puasa bukannya malah menyehatkan kita. Banyak orang di bulan puasa
> justru menjadi lemas, mengantuk, atau justru tambah gemuk karena kebanyakan
> gula.
>
> "Ingin 'Kurus' "
>
> Melenceng dikit dari topik materi berbuka  ya. Dikit aja.
>
> Untuk sahabat-sahabat yang ingin kurus: jangan diet (dalam pengertian
> mengurangi frekuensi makan). Diet justru menambah kecenderungan tubuh
> untuk menabung lemak karena 'dilaparkan'. Ketika diet memang makanan tidak
> masuk, tapi begitu makanan masuk, kecenderungan tubuh untuk menimbun lemak
> dari makanan justru lebih besar.
>
> Rahasia kurus sebenarnya adalah menjaga agar respon insulin dalam tubuh
> stabil, tidak melonjak-lonjak. Caranya, hanya makan makanan yang
> memberi respon insulin rendah, yaitu yang indeks glikemiknya rendah.
>
> Respon insulin tubuh meningkat bila:
>
> (1) Makin tinggi jumlah karbohidrat yang dimakan dalam satu porsi,
> makin tinggi pula respon insulin tubuh (ini umumnya porsi kita di Indonesia:
> lebih dari 70 persen dari satu porsi makannya adalah nasi).
>
> Makanya, makanlah dengan karbohidrat cukup lima puluh persennya saja.
> Sisanya protein, dan 5-10 persennya lemak. Lemak ini cukup dari lemak
> yang terkandung dalam daging yang kita makan, misalnya. Atau kuning telur.
> Tidak perlu menambah minyak atau memakan lemak hewan (yang justru buruk
> pengaruhnya bagi tubuh). Lemak (sedikit!) masih diperlukan untuk
> mengolah beberapa nutrisi dan vitamin, dan untuk membawa nutrisi ke seluruh
> tubuh.
>
> (2) Semakin tinggi GI (Glycemic Index) karbohidrat yang dikonsumsi,
> semakin meningkat pula respon insulin tubuh. Makanya, makan hanya makanan
> yang
> GI-nya rendah. Nanti saya jelaskan di bawah.
>
> (3) Semakin jarang makan, semakin meningkat respon insulin setiap kali
> makan.
>
> Ini sebabnya diet (dalam pengertian: mengurangi frekuensi makan supaya
> kurus) tidak akan pernah berhasil untuk jangka lama. Setelah diet
> selesai, tubuh justru akan cenderung lebih gemuk dari sebelum diet. Supaya
> kurus
> (baca: supaya respon insulin tidak melonjak) justru harus makan lebih
> sering (4-5 kali sehari) tapi dengan porsi setengah atau sepertiga porsi
> biasa, dengan karbohidrat maksimal 50 persen saja setiap porsi.
>
> Kalau respon insulin tubuh sudah stabil, maka tinggal diatur: kalau
> ingin kurus, kalori yang masuk harus lebih sedikit dari kalori makanan yang
> dibutuhkan untuk aktivitas sehari hari. Tambah dengan olahraga teratur
> untuk membakar lemak berlebih dalam tubuh, dan memperbesar otot. Otot
> membutuhkan energi, maka makin terlatih otot, ia akan makin mengkonsumsi
> lemak
> dalam tubuh kita untuk energi.
>
> Sebaliknya kalau ingin memperbesar otot (bukan gemuk) atau
> mengencangkan badan, maka kalori yang masuk harus agak lebih banyak dari
> jumlah
> kalori yang akan kita pakai untuk aktivitas selama sehari, agar otot
> mengalami
> pertumbuhan. Otot sendiri dirangsang pertumbuhannya dan
> 'kekencangannya' dengan olahraga teratur. Perbanyak protein agar pertumbuhan
> otot
> optimal. Karbohidrat cukup diposisikan sebagai bahan pemberi energi, bukan
> untuk
> mengenyangkan perut.
>
> Lucu ya: kalau ingin kurus atau memperbaiki bentuk badan, termasuk
> menumbuhkan otot, justru harus makan lebih sering dengan porsi kecil.
> Makanyang mengandung lemak, goreng-gorengan, kanji, atau karbohidrat
> sederhanaseperti gula, manisan, minuman ringan bersoda dan sebangsanya itu
> sudah
> out of the question. Kalau kita jarang makan, atau makan tidak teratur dan
> sekalinya makan 'balas dendam habis-habisan', ya justru respon insulin
> kita juga melonjak dan membuat tubuh jadi menimbun lemak.
>
> Sekali lagi, baik ketika berbuka puasa atau dalam makanan keseharian,
> makanlah makanan yang seimbang: 50 persen karbohidrat kompleks, 40-45
> persen protein dan 5-10 persen lemak dalam setiap porsinya. Jauhilah
> karbohidrat sederhana sebisa mungkin. Kalaupun harus makan karbohidrat
> sederhana
> karena butuh energi cepat carilah yang nilai indeks glikemiknya rendah.
>
> Karbohidrat kompleks membutuhkan waktu untuk diubah tubuh menjadi
> energi. Dengan demikian, makanan diproses pelan-pelan dan tenaga diperoleh
> sedikit demi sedikit. Dengan demikian, kita tidak cepat lapar dan energi
> tersedia dalam waktu lama, cukup untuk aktivitas sehari penuh. Sebaliknya,
> karbohidrat sederhana menyediakan energi sangat cepat, tapi akan cepat
> sekali habis sehingga kita mudah lemas. Maka, ketika makan sahur,
> jangan makan yang banyak mengandung gula, karena kita akan cepat lemas.
> Makanlah karbohidrat kompleks (protein jangan dilupakan!) sehingga kita
> tetap
> berenergi sampai waktu berbuka.
>
> Karbohidrat sederhana, GI tinggi (energi sangat cepat habis, respon
> insulin tinggi: merangsang penimbunan lemak) adalah: sukrosa (gula-gulaan),
> makanan manis-manis, manisan, minuman ringan, jagung manis, sirop, atau
> apapun
> makanan dan minuman yang mengandung banyak gula. Hindari, puasa atau
> tidak puasa.
>
> Karbohidrat sederhana, GI rendah (energi cepat, respon insulin rendah):
> buah-buahan yang tidak terlalu manis seperti pisang, apel, pir, dan
> sebagainya.
> Sekarang ngerti kan, kenapa para pemain tenis dunia, pemain
> bola, pemain basket atau pelari sering terlihat 'ngemil pisang' di
> pinggir lapangan? Karena mereka butuh energi cepat, tapi nggak ingin
> badannya
> gembul berlemak.
>
> Karbohidrat Kompleks, GI tinggi (energi pelan-pelan, tapi respon
> insulinnya tinggi): Nasi putih, kentang, jagung.
>
> Karbohidrat Kompleks, GI rendah (energi dilepas pelan-pelan sehingga
> tahan lama, respon insulin juga rendah): Gandum, beras merah, umbi-umbian,
> sayuran. Ini yang paling dicari para praktisi fitness.
>
> Makanan yang diproses pelan-pelan (karbohidrat kompleks) akan membuat
> kita tidak cepat lapar dan energi dihabiskan cukup untuk aktivitas satu hari
> penuh; respon insulin rendah membuat tubuh kita tidak cenderung untuk
> menabung lemak.
>
> Kalau saya pribadi, sahur cukup dengan oatmeal gandum (ditambah gula
> sedikiiiiiit), atau setengah piring nasi (pas kalo cuma itu yang ada dirumah
> ), dua atau tiga butir telur
> rebus, sayur, dan air putih. Ini sudah cukup untuk membuat tenaga saya tidak
> habis sampai buka puasa karena energi dari karbohidrat kompleksnya (gandum)
> akan dilepas pelan-pelan ke dalam tubuh sepanjang hari. Ketika berbuka,
> sesuai anjuran Rasulullah dan sufi tadi, saya biasanya minum segelas air,
> lalu
> shalat maghrib. Setelah shalat makan nasi seperti biasa, sebisa mungkin
> dengan porsi karbohidrat-protein-lemak-air seimbang. Dan tentu tidak
> untuk 'balas dendam' karena puasa seharian. Ini justru saat yang penting
> untuk melatih melawan keinginan hawa nafsu 'makan sekenyang-kenyangnya'.
> Belajar
> sabar.
>
> Kembali ke topik.
>
> Jadi, saya kira, "berbukalah dengan yang manis-manis" itu adalah
> kesimpulan yang terlalu tergesa-gesa atas hadits tentang berbuka diatas.
> Karena
> kurmarasanya manis, maka muncul anggapan bahwa (disunahkan) berbuka harus
> dengan yang manis-manis. Pada akhirnya kesimpulan ini menjadi waham dan
> memunculkan budaya berbuka puasa yang keliru di tengah masyarakat. Yang
> jelas,
> 'berbukalah dengan yang manis' itu disosialisasikan oleh slogan
> advertising banyak sekali perusahaan makanan di bulan suci Ramadhan.
>
> Namun demikian, sekiranya ada di antara para sahabat yang menemukan
> hadits yang jelas bahwa Rasulullah memang memerintahkan berbuka dengan yang
> manis-manis, mohon saya diberi tahu, ya. Saya, mungkin juga para
> sahabat yang lain, ingin sekali tahu.
>
> Semoga tidak termakan waham umum 'berbukalah dengan yang manis'. Atau
> lebih baik lagi, jangan mudah termakan waham umum tentang agama. Periksa
> dulu
> kebenarannya.
>
> Kalau ingin sehat, ikuti saja kata Rasulullah: "Makanlah hanya ketika
> lapar, dan berhentilah makan sebelum kenyang." Juga, saya lupa redaksi
> persisnya, tapi intinya: isi sepertiga perut dengan makanan, sepertiga lagi
> air,
> dan sepertiga sisanya biarkan kosong.
>
>
> Soal makanan untuk berbuka, bukan hanya harus menghindari makanan yang
> manis-manis, Al-Ghazali juga menekankan adab agar puasa itu bisa
> berhasil. Berikut diantaranya:
>
> - Tidak makan berlebihan
> - Tidak makan makanan yang berbeda dari hari-hari diluar puasa.
>
> jadi gak usah maksa-maksain diri atau mewajibkan untuk menyediakan ragam
> jenis
> menu hidangan berbuka nanti (selain bisa nguras kantong ..budget keuangan
> menipis jadi gak sempat lagi zakat infaq shadaqoh)
> ketika saatnya tiba buka puasa justru jadi overlap..overdosis ..over
> penyakit
> dan akhirnya bisa gameover.
> Dalam sebuah pengibaratan, hawa nafsu dan syahwat itu seperti binatang
> buas. Puasa itu adalah jalan untuk memperlemah kekuatan binatang-binatang
> buas tersebut di dalam diri kita. Tetapi apa jadinya bila setelah seharian
> binatang-binatang buas tersebut dibiarkan lapar seharian (atau sebulan
> penuh), lalu kita suguhkan makanan-makanan yang menjadi kesukaannya
> secara berlebihan atau lebih enak?
>
> Menurut Al-Ghazali, yang terjadi bukannya binatang-binatang buas itu
> semakin lemah, malah selepas puasa kebuasan binatang-binatang tersebut makin
> menjadi-jadi.
>
> Jadi, ingat-ingat yang kita makan hari ini, nanti jangan lupa saat buka
> puasa atau syawal maksimal seperti itulah hidangan yang kita santap.
>
> Semoga bermanfaat..
>
> Wassalaamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
>  yoedha pamungkas
>
> di sadur dari sumber asli tulisan hery mardian pada situs
> www.suluk.blogsome.com yang telah di edit seperlunya
>
> --
> lebih baik nekat ke surga dari pada terencana masuk neraka


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs http://www.mediamuslim.info). Kirim artikel, 
pendapat/opini, informasi dan lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke