asrb. sy sependapat

----- Pesan Asli ----
Dari: yoedha pamungkas <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Rabu, 5 September, 2007 3:52:10
Topik: [mediamusliminfo] Re: FW: [mediamusliminfo] Balasan: [mediamusliminfo] 
Balasan: [mediamusliminfo] Balasan: [mediamusliminfo] nisfu sa'ban


salam
afwan  ya akhii semua ana nimbrung lagi nih smoga kita selalu dalam rahmat dan 
lindunggan Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang 
 
ana sedikit mau bercerita tentang amal perbuatan kita..ehem apa keterima atau 
ketolak ya.....semoga dapat menjadi renungan 


Telah diceritakan oleh Ibnu al-Mubarak tentang seorang laki-laki yang bernama 
Khalid bin Ma'dan, dimana ia pernah bertanya kepada Mu'adz bin Jabal ra., salah 
seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, "Ya Mu'adz! Ceritakanlah kepadaku suatu 
hadits yang telah engkau dengar langsung dari Rasulullah SAW, suatu hadits yang 
engkau hafal dan selalu engkau ingat setiap harinya disebabkan oleh sangat 
kerasnya hadits tersebut, dan sangat halus dan mendalamnya hadits tersebut. 
Hadits yang manakah yang menurut engkau paling penting?"

 
Kemudian, Khalid bin Ma'dan menggambarkan keadaan Mu'adz sesaat setelah ia 
mendengar permintaan tersebut, "Mu'adz tiba-tiba saja menangis sedemikian rupa 
sehingga aku menduga bahwa beliau tidak akan pernah berhenti dari menangisnya. 
Kemudian, setelah beliau berhenti dari menangisnya berkatalah Mu'adz":

 
"Baiklah aku akan menceritakannya, aduh betapa rinduku kepada
 Rasulullah SAW, ingin rasanya aku segera bersua dengan beliau"
 

Selanjutnya Mu'adz ra. mengisahkan sebagai berikut, "Ketika aku mendatangi 
Rasulullah SAW, beliau sedang menunggangi unta dan beliau menyuruhku untuk naik 
di belakang beliau. Maka berangkatlah aku bersama beliau dengan mengendarai 
unta tersebut, sesaat kemudian beliau menengadahkan wajahnya ke langit, 
kemudian beliau bersabda": 

 
"Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah yang memberikan ketentuan (qadha) 
atas segenap makhluk-Nya menurut kehendak-Nya, ya Mu'adz!". Aku menjawab, 
"Labbaik yaa Sayyidal Mursaliin".

 
"Ya Mu'adz! Sekarang akan aku beritakan kepadamu suatu hadits yang jika engkau 
mengingat dan tetap menjaganya maka (hadits) ini akan memberi manfaat kepadamu 
di hadhirat Allah, dan jika engkau melalaikan dan tidak menjaga (hadits) ini 
maka kelak di Hari Qiyamah hujjahmu akan terputus di hadhirat Allah Ta'aala!"

 
"Ya Mu'adz!, sesungguhnya Allah Tabaaraka wa Ta'aala telah menciptakan tujuh 
Malaikat sebelum Dia menciptakan tujuh lelangit dan bumi. Pada setiap langit 
tersebut ada satu Malaikat yang menjaga khazanah, dan setiap pintu dari 
pintu-pintu lelangit tersebut dijaga oleh seorang Malaikat penjaga, sesuai 
dengan kadar dan keagungan (jalaalah) pintu tersebut. 

 
Maka naiklah al-Hafadzah (malaikat-malaikat penjaga insan) dengan membawa amal 
perbuatan seorang hamba yang telah ia lakukan semenjak subuh hari hingga petang 
hari, amal perbuatan tersebut tampak bersinar dan menyala-nyala bagaikan sinar 
matahari, sehingga ketika al-Hafadzah membawa naik amal perbuatan tersebut 
hingga ke Langit Dunia mereka melipat gandakan dan mensucikan amal tersebut. 
Dan ketika mereka sampai di pintu Langit Pertama, berkatalah Malaikat penjaga 
pintu kepada al-Hafadzah: "Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya! 
Akulah Shaahibul Ghiibah, yang mengawasi perbuatan ghiibah (menggunjing orang), 
aku telah diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amal ini melewatiku 
untuk menuju ke langit yang berikutnya!"

 
Kemudian naiklah pula al-Hafadzah yang lain dengan membawa amal shalih diantara 
amal-amal perbuatan seorang hamba, amal shalih itu bersinar sehingga mereka 
melipat-gandakan dan mensucikan amal shalih tersebut. Sehingga ketika amal 
tersebut sampai di Langit Kedua, berkatalah Malaikat penjaga pintu kepada 
al_hafadzah: "Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah 
pemiliknya, karena ia dengan amalannya ini hanyalah menghendaki kemanfaatan 
duniawi belaka! Akulah Malakal Fakhr, malaikat pengawas kemegahan, aku telah 
diperintah Rabb-ku untuk tidak membiarkan amal perbuatan ini melewatiku menuju 
ke langit berikutnya, sesungguhnya orang tersebut senantiasa memegahkan dirinya 
terhadap manusia sesamanya di lingkungan (majelis) mereka!". Maka seluruh 
malaikat mela'nat orang tsb hingga petang hari.

 
Dan naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal seorang hamba yang lain, amal 
tersebut demikian memuaskan dan memancarkan cahaya yang jernih dari amalan 
shadaqah, shalat, shaum, dan berbagai amal bakti (al-birr) yang lainnya. 
Kecemerlangan amal tersebut telah membuat al-Hafadzah takjub melihatnya, mereka 
melipat-gandakan amal tersebut dan mensucikannya, mereka diizinkan untuk 
membawanya. Hingga sampailah mereka di Langit Ketiga, maka berkatalah Malaikat 
penjaga pintu kepada al-Hafadzah: "Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal ini ke 
wajah pemiliknya! Akulah Shaahibil Kibr, malaikat pengawas kesombongan, aku 
telah diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amal perbuatan seperti ini 
lewat dihadapanku menuju ke langit berikutnya! Sesungguhnya pemilik amal ini 
telah berbuat takabbur di hadapan manusia di lingkungan (majelis) mereka!"

 
Kemudian naiklah al-Hafadzah yang lainnya dengan membawa amal seorang hamba 
yang sedemikian cemerlang dan terang benderang bagaikan bintang-bintang yang 
gemerlapan dan bagaikan kaukab yang diterpa cahaya.
  Kegemerlapan amal tersebut berasal dari tasbih, shalat, shaum, haji dan 
umrah. Diangkatlah amalan tersebut hingga ke Langit Keempat, dan berkatalah 
Malaikat penjaga pintu langit kepada al-Hafadzah: "Berhentilah kalian! 
Pukulkanlah amal ini ke wajah, punggung, dan perut dari si pemiliknya! Akulah 
Shaahibul 'Ujbi, malaikat pengawas 'ujub (mentakjubi diri sendiri), aku telah 
diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amalan seperti ini melewatiku 
menuju ke langit berikutnya! Sesungguhnya si pemilik amal ini jika mengerjakan 
suatu amal perbuatan maka terdapat 'ujub(takjub diri) didalamnya!"

 
Kemudian naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal seorang hamba hingga mencapai 
ke Langit Kelima, amalan tersebut bagaikan pengantin putri yang sedang diiring 
diboyong menuju ke suaminya. Begitu sampai ke pintu langit kelima, amalan yang 
demikian baik berupa jihad, haji dan umrah tersebut cahayanya pun menyala-nyala 
bagaikan sinar matahari. Maka berkatalah malaikat penjaga pintu kepada 
al-Hafadzah: "Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah 
pemiliknya dan pikulkanlah pada pundaknya! Akulah Shaahibul Hasad, malaikat 
pengawas hasad (iri dengki), sesungguhnya pemilik amal ini senantiasa menaruh 
rasa dengki (hasad) dan iri hati terhadap sesama yang sedang menuntut ilmu, dan 
terhadap sesama yang sedang beramal yang serupa dengan amalannya, dan ia pun 
juga senantiasa hasad kepada siapapun yang berhasil meraih fadhilah-fadhilah 
tertentu dari suatu ibadah dengan berusaha mencari-cari kesalahannya! Aku telah 
diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak
 membiarkan amalan seperti ini melewatiku untuk menuju ke langit berikutnya!"

 
Kemudian naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal perbuatan seorang hamba yang 
memancarkan cahaya yang terang benderang seperti cahaya matahari, yang berasal 
dari amalan menyempurnakan wudhu, shalat yang banyak, zakat, haji, umrah, 
jihad, dan shaum. Amal perbuatan ini mereka angkat hingga mencapai Langit 
Keenam. Maka berkatalah malaikat penjaga pintu langit keenam kepada 
al-Hafadzah: "Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah si 
pemiliknya, sesungguhnya sedikitpun ia tidak berbelas kasih kepada siapapun 
dari hamba-hamba Allah yang sedang ditimpa musibah (balaa') atau ditimpa sakit, 
bahkan ia merasa senang dengan hal tersebut! Akulah Shaahibur-Rahmah, malaikat 
pengawas sifat rahmah (kasih sayang), aku telah diperintahkan Rabb-ku untuk 
tidak membiarkan amal perbuatan seperti ini melewatiku menuju ke langit 
berikutnya!"

 
Dan naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal perbuatan seorang hamba yang lain 
berupa shaum, shalat, nafaqah, jihad, dan wara'(memelihara diri dari 
perkara-perkara yang haram dan subhat/meragukan). Amalan tersebut mendengung 
seperti dengungan suara lebah dan bersinar seperti sinar matahari. Dengan 
diiringi oleh tiga ribu malaikat, diangkatlah amalan tersebut hingga mencapai 
Langit Ketujuh. Maka berkatalah malaikat penjaga pintu langit ketujuh kepada 
al-Hafadzah: "Berhentilah kalian! Pukulkanlah amalan ini ke wajah pemiliknya, 
pukullah anggota badannya dan siksalah hatinya dengan amal perbuatannya ini! 
Akulah Shaahibudz-Dzikr, malaikat pengawas perbuatan mencari nama-diri (ingin 
disebut-sebut namanya), yakni sum'ah (ingin termashur), aku yang akan menghijab 
dari Rabb-ku segala amal perbuatan yang dikerjakan tidak demi mengharap Wajah 
Rabb-ku! Sesungguhnya orang itu dengan amal perbuatannya ini lebih mengharapkan 
yang selain Allah Ta'aala, ia dengan
 amalannya ini lebih

 mengharapkan ketinggian posisi (status) di kalangan para fuqaha (para ahli), 
lebih mengharapkan penyebutan-penyebutan (pujian-pujian) di kalangan para 
ulama, dan lebih mengharapkan nama baik di masyarakat umum! Aku telah 
diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amalan seperti ini lewat 
dihadapanku! Setiap amal perbuatan yang tidak dilakukan dengan ikhlash karena 
Allah Ta'aala adalah suatu perbuatan riya', dan Allah tidak akan menerima 
segala amal perbuatan orang yang riya'!"

 
Kemudian naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal perbuatan seorang hamba berupa 
shalat, zakat, shaum, haji, umrah, berakhlak baik, diam, dan dzikrullah 
Ta'aala. Seluruh malaikat langit yang tujuh mengumandang-kumandangkan pujian 
atas amal perbuatan tersebut, dan diangkatlah amalan tersebut dengan melampaui 
seluruh hijab menuju ke hadhirat Allah Ta'aala. Hingga sampailah 
dihadhirat-Nya, dan para malaikat memberi kesaksian kepada-Nya bahwa ini 
merupakan amal shalih yang dikerjakan secara ikhlash karena Allah Ta'aala. 

 
Maka berkatalah Allah Ta'aala kepada al-Hafadzah, "Kalian adalah para penjaga 
atas segala amal perbuatan hamba-Ku sedangkan Aku adalah ar-Raqiib, Yang Maha 
Mengawasi atas segenap lapisan hati sanubarinya! Sesungguhnya ia dengan 
amalannya ini tidaklah menginginkan-Ku dan tidaklah mengikhlashkannya untuk-Ku! 
Amal perbuatan ini ia kerjakan semata-mata demi mengharap sesuatu yang selain 
Aku! Aku yang lebih mengetahui ihwal apa yang diharapkan dengan amalannya ini! 
Maka baginya la'nat-Ku, karena ini telah menipu orang lain dan telah menipu 
kalian, tapi tidakklah ini dapat menipu-Ku! Akulah Yang Maha Mengetahui 
perkara-perkara yang ghaib, Maha Melihat segala apa yang ada di dalam hati, 
tidak akan samar bagi-Ku setiap apa pun yang tersamar, tidak akan tersembunyi 
bagi-Ku setiap apa pun yang bersembunyi! Pengetahuan-Ku atas segala apa yang 
akan terjadi adalah sama dengan Pengetahuan-Ku atas segala yang baqa (kekal), 
Pengetahuan-Ku tentang yang awal adalah sama
 dengan Pengetahuan-Ku tentang yang akhir! Aku lebih mengetahui perkara-perkara 
yang rahasia

 dan lebih halus, maka bagaimana Aku dapat tertipu oleh hamba-Ku dengan 
ilmunya? Bisa saja ia menipu segenap makhluk-Ku yang tidak mengetahui, tetapi 
Aku Maha Mengetahui Yang Ghaib, maka baginya la'nat-Ku!"

 
Maka berkatalah malaikat yang tujuh dan 3000 malaikat yang mengiringi, "Yaa 
Rabbanaa, tetaplah la'nat-Mu baginya dan la'nat kami semua atasnya!", maka 
langit yang tujuh beserta seluruh penghuninya menjatuhkan la'nat kepadanya.

 
Setelah mendengar semua itu dari lisan Rasulullah SAW maka menagislah
 Mu'adz dengan terisak-isak, dan berkata, "Yaa Rasulullah, engkau adalah utusan 
Allah sedangkan aku hanyalah seorang Mu'adz, bagaimana aku dapat selamat dan 
terhindar dari apa yang telah engkau sampaikan ini?"

 
Berkatalah Rasulullah SAW, "Yaa Mu'adz, ikutilah Nabi-mu ini dalam soal 
keyakinan sekalipun dalam amal perbuatanmu terdapat kekurangan. Yaa Mu'adz, 
jagalah lisanmu dari kebinasaan dengan meng-ghiibah manusia dan meng-ghiibah 
saudara-saudaramu para pemikul Al-Qur'aan. Tahanlah dirimu dari keinginan 
menjatuhkan manusia dengan apa-apa yang kamu ketahui ihwal aibnya, janganlah 
engkau mensucikan dirimu dengan jalan menjelek-jelekan saudara-saudaramu, 
janganlah engkau meninggikan dirimu dengan cara merendahkan 
saudara-saudaramu,pikullah sendiri aib-aibmu dan jangan engkau bebankan kepada 
orang lain"

 
"Yaa Mu'adz, janganlah engkau masuk kedalam perkara duniamu dengan mengorbankan 
urusan akhiratmu, janganlah berbuat riya' dengan amal-amalmu agar diketahui 
oleh orang lain, dan janganlah engkau bersikap takabbur di majelismu sehingga 
manusia takut dengan sikap burukmu!"

 
"Janganlah engkau berbisik-bisik dengan seseorang sementara di
 hadapanmu ada orang lain. Janganlah engkau mengagung-agungkan dirimu dihadapan 
manusia, karena akibatnya engkau akan terputus dari kebaikan dunia dan akhirat. 
Janganlah engkau berkata kasar di majelismu, dan janganlah engkau merobek-robek 
manusia dengan lisanmu sebab akibatnya di Hari Qiyamah kelak tubuhmu akan 
dirobek-robek oleh anjing-anjing neraka Jahannam!"

 
"Yaa Mu'adz, apakah engkau memahami makna Firman Allah Ta'aala: 'Wa
 naasyithaati nasythan!' ('Demi yang mencabut/menguraikan dengan 
sehalus-halusnya!', An-Naazi'aat QS.[79]:2)? Aku berkata, "Demi bapakku, 
engkau, dan ibuku! Apakah itu yaa Rasulullah?"

 
Rasulullah SAW bersabda, "Anjing-anjing di dalam Neraka yang mengunyah-ngunyah 
daging manusia hingga terlepas dari tulangnya!"

 
Aku berkata, "Demi bapakku, engkau, dan ibuku! Yaa Rasulullah, siapakah manusia 
yang bisa memenuhi seruanmu ini sehingga terhindar dari kebinasaan?"


Rasulullah SAW menjawab, "Yaa Mu'adz, sesungguhnya hal demikian itu
 sangat mudah bagi siapa saja yang diberi kemudahan oleh Allah Ta'aala, dan 
untuk memenuhi hal tersebut tadi maka cukuplah engkau mencintai orang lain akan 
dapat meraih sesuatu yang engkau sendiri cinta untuk dapat meraihnya bagi 
dirimu, dan membenci orang lain akan ditimpa oleh sesuatu sebagaimana engkau 
benci jika hal itu menimpa dirimu sendiri, maka dengan itu wahai Mu'adz engkau 
akan selamat dan pasti dirimu akan terhindar!"


Khalid bin Ma'dan berkata, "Sayyidina Mu'adz bin Jabal ra. sangat sering 
membaca hadits ini sebagaimana seringnya beliau membaca Al-Qur'aan, dan sering 
mempelajari hadits ini sebagaimana seringnya beliau mempelajari Al-Qur'aan di 
dalam majelisnya
".
ehem...lagi jadi sahabat sahabat AMAL IBADAH KITA DI TENTUKAN ALLAH 
....silahkan kita menjaga diri dari penyakit...penyakit yang merusak amal kita 
...sungguh jangan lah bangga ...terhadap pengetahuan kita...jadilah tangan 
...tangan rahmat Allah di muka bumi ini 

 
 

 
On 9/5/07, Herlan Selaso <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
Saya setuju dengan ikhwan Sulaiman Jasa
Semoga kita semua akan selalu istiqomah mengikuti sunnah Rosulullah,, aaaaamiin.
 



From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of 
Trisno Su
Sent: Monday, September 03, 2007 12:12 PM
To: [email protected]
Subject: [mediamusliminfo] Balasan: [mediamusliminfo] Balasan: 
[mediamusliminfo] Balasan: [mediamusliminfo] nisfu sa'ban 
 
Afwan, ana nimbrung nih...
 
Di dalam Ushul Fiqih berlaku ka'idah sbb:
 
Semua ibadah ritual itu hukumnya HARAM, kecuali ada dalil yang 
memerintahkannya. 
Sedangkan segala mu'amalah itu hukumnya mubah ( boleh ) kecuali ada dalil yang 
melarangnya. 
 
Jadi jelasnya, jangan sampai kita menambah-nambah dalam urusan ibadah ritual 
selagi tidak ada dalil yang mewajibkannya, karena hal yang demikian itu HARAM. 
 
Sekian komentar ana, mudah-mudahan ada manfaatnya.
Mohon koreksi bila ada kesalahan.
 
Jazakumullah...
 


Sulaiman Jasa < [EMAIL PROTECTED]> wrote:
assalamu 'alaikum wr. wb.
 
apakah semua penambahan dalam hal agama itu buruk?
tolong beri dasar yang kuat.
 
wassalamu 'alaikum wr. wb



Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers</FONT



Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers</FONT









-- 
lebih baik nekat ke surga dari pada terencana masuk neraka 


      ________________________________________________________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs http://www.mediamuslim.info). Kirim artikel, 
pendapat/opini, informasi dan lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke