Insya Alloh artikel ini cukup untuk Solusi bagaimana Ukhuwwah Islamiyyah itu 
dapat di wujudkan dan beberapa Links Ceramah tentang Ukhuwwah Islamiyyah dan 
bagaimana cara Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, sekedar catatan bahwa Asy Syaikh Aid 
Al Qorni itu telah di tahdzir oleh Masyaikh Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan 
Kaset ceramah2, Buku2 Beliau telah di larang di beredar. Semoga Alloh menjaga 
kita dari kesesatan dan di tetapkan dan di Istiqomahkan di atas Islam dan 
Sunnah ini. amin
   
  Ceramah Ukhuwwah Islamiyyah (Anjuran Bersatu dan Tercelanya Perpecahan)
  Oleh Al Ustadz Dzulqarnain
  Sesi 1
Sesi 2
Sesi 3
Sesi 4
  Ceramah Solusi untuk mempersatukan Umat oleh Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed
Sesi 1
Sesi 2
Sesi 3
Sesi 4
Sesi 5

Ceramah Amar Maruf Nahi Munkar Oleh Al Ustadz Abdullah Al Bughuri
Sesi 1
Sesi 2
Sesi 3


 
 
  Merajut Ukhuwwah di Atas Al Qur’an dan Sunnah
  Bukan Ukhuwwah yang semu 
   
  Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan dan 
ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami 
dan kejelekan amalan-amalan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, 
maka tidak akan ada yang menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan oleh Allah, 
maka tidak akan ada yang memberi petunjuk kepadanya.
   
  Saya bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah 
kecuali hanya Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa 
Muhammad adalah seorang hamba dan utusan-Nya.
   
  Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik 
petunjuk adalah petunjuk Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam. Seburuk-buruk 
perkara adalah perkara yang diada-adakan. Setiap perkara yang diada-adakan 
adalah bid'ah. Setiap bid'ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan ada di neraka.
   
  Ukhuwwah Islamiyah adalah suatu karunia yang Allah Ta’ala berikan ke dalam 
hati-hati hambanya yang ikhlas, dan orang-orang yang bertaqwa kepadaNya. Allah 
tegaskan hal ini pada ayat berikut:
   
  “ Seandainya engkau belanjakan apa yang ada di bumi semuanya, tidaklah bisa 
engkau persatukan antara hati mereka, tetapi Allah lah yang mempersatukan 
antara mereka”(Al Anfal: 63).
   
  “ Dan ingatlah ni’mat Allah atas kamu, tatkala kamu bermusuh-musuhan, lalu ia 
jinakkan antara hati-hati kamu, lantas dengan ni’mat Allah kamu jadi 
bersaudara” (Ali Imran: 103).
   
  Ukhuwwah adalah kekuatan yang bersumber dari iman atau aqidah yang melahirkan 
perasaan spiritual berupa kasih sayang, kecintaan, kemuliaan dan rasa percaya 
dan mendahulukan kepentingan kepada saudara seaqidah. Dan darinya akan timbul 
sikap tolong menolong, mengutamakan orang lain, rasa sayang pemaaf, pemurah, 
setia kawan dan sikap-sikap mulia lainnya. Maka jelaslah bahwa ukhuwwah 
Islamiyah adalah sifat yang menyatu dengan iman dan taqwa. Kedua komponen ini 
tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya, Allah Ta’ala berfirman:
   
  “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu tidak lain melainkan bersaudara” (Al 
Hujurat: 11).
   
  Dari ayat ini terlihat jelas bahwa hanya dengan iman atau tauhid lah kita 
dapat berukhuwwah, bukan dengan ikatan-ikatan semu seperti kelompok, partai 
dsb. Karena hanya Allah Ta’ala lah yang dapat menyatukan hati-hati manusia, dan 
hati-hati manusi akan bersatu karena tauhid, oleh karena itu yg disebut di ayat 
ini adalah lafadznya adalah mukmin bukanlah hanya muslim sebagai syarat 
ukhuwwah tersebut.
   
  “ Teman-teman akrab pada hari itu sebagianya menjadi musuh sebagian yang 
lain, kecuali orang yang bertakwa”( Az Zukhruf: 67).
   
  Jika ukhuwwah kosong dari iman maka yang menjadi ikatannya adalah kepentingan 
pribadi atau kelompok, partai dsb. Hal ini jelas cepat atau lambat akan 
menghancurkan nilai ukhuwwah itu sendiri. Sedangkan persahabatan yang lepas 
dari akar taqwa sudah tentu akan menghasilkan permusuhan dan kebencian, seperti 
tampak pada awal terjadinya konflik dalam sejarah manusia, persaingan merebut 
harta rampasan (ghanimah) dan mengejar kepentingan dan keuntungan.
   
  Maka jika anda menjumpai seseorang mengaku berukhuwwah tetapi tidak 
memperhatikan pentingnya masalah iman (aqidah) dan taqwa maka berarti ukhuwwah 
itu palsu dan semu.Begitu pula jika seorang itu mengaku beriman dan bertaqwa, 
tetapi tidak memiliki rasa ukhuwwah berarti imannya masih setengah-setengah dan 
taqwanya palsu. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
   
  “ Tidak beriman seorang dari kamu sehingga ia mencintai saudaranya 
sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (HR Bukhari-Muslim).
   
  “ Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan 
jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan” (Al Maidah: 2).
   
  Orang-orang yang sikap kemanusiaannya dibentuk dari rasa iman dan taqwa bukan 
kepentingan pribadi, kelompok/partai, dan golongan. Jika bertemu dengan orang 
yang seiman dengannya maka timbulah rasa simpati antar mereka. Ketika rasa 
cinta (mahabbah) mulai mekar di hati, ukhuwwah merambat ke seluruh peredaran 
darahnya, maka rasa suka cita memancar di wajahnya. Selanjutnya berjalan 
bersama saling bahu membahu dengan penuh kejujuran dan kesetiaan di bawah 
naungan cinta (mahabbah) yang tulus. Sebaiknya jiwa yang tumbuh di atas 
tumpukan kekejian dan berakar pada ambisi pribadi kelompok dsb. Tak mungkin 
menyatu dengan jiwa yang dipenuhi dengan iman dan taqwa meskipun dipaksakan. 
Sebab keduanya saling bertolak belakang. Keduanya berasal dari Aqidah dan 
Manhaj (metode) yang bertentangan, sebagaimana ilmu dan kejahilan tidak mungkin 
bersatu.
   
  Sehingga jelaslah bahwa berbeda Aqidah dan manhaj(metode) tidaklah mungkin 
menyatukan manusia dalam ukhuwwah yang hakiki. “ Manusia adalah barang tambang 
seperti tambang emas dan perak. Orang yang terpilih dari mereka pada zaman 
jahiliyah, adalah orang yang terpilih di dalam Islam apabila mereka memahami. 
Ruh-ruh itu adalah tentara yang dikumpulkan. Maka yang saling mengenal akan 
berkumpul, dan yang saling tidak mengenal akan berpisah” ( HR Bukhari dan 
Muslim).
   
  Syarat-syarat Ukhuwwah.
   
  1. Ikhlas Ukhuwwah Islamiyah akan terlaksana selama pelaku-pelakunya mampu 
membebaskan diri dari kepentingan-kepentingan pribadi, kelompok, partai dan 
golongan.dan hanya menjadikan Allah Ta’ala semata-mata sebagai tujuan. Sehingga 
landasan yang dipakai dalam berjuang adalah landasan Islam bukan hanya label 
namun juga aplikasi dan pengamalan. Kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah dengan 
pemahaman sahabat dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan demikian barulah hasil 
positifnya dapat dirasakan masyarakat. Dan keharumannya kembali kepada Islam 
bukan kepada pribadi, partai atau kelompok. Sehingga jelaslah kemuliaan 
ukhuwwah Islamiyah itu.
   
  2. Dilandasi loyalitas (Al Wala) dan Berlepas diri (Baro) yang dibingkai 
dengan Al Qur’an dan Sunnah. Tak dapat disangkal lagi bahwa ukhuwwah Islamiyah 
hanya akan terwujud diantara orang-orang beriman dan bertaqwa. Artinya seorang 
muslim hanya mengambil mukmin dan muttaqin menjadi temannya. “ Dari Abu 
Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wasallam bersabda ‘ Seseorang itu 
menurut agama sahabat dekatnya maka hendaklah kamu melihat dengan siapa ia 
bersahabat” ( HR Dawud dan Tirmidzi). Ukhuwwah Islamiyah yang dibentuk dari 
pribadi mukmin dan muttaqin ikatannya sangat kuat dan kokoh, tak akan goyah 
meski badai fitnah melandanya karena mereka bersaudara berlandaskan ilmu dan 
aqidah/ keyakinan yang haq.
   
  3. Tegak Berasas Nasihat Karena Allah Seorang muslim harus menjadi cermin 
bagi saudara mu’min lainnya. Ia akan terus untuk selalu meningkatkan kebajikan, 
sebaliknya jika terdapat kekurangan pada diri saudaranya ia akan menasehatinya 
dengan cara yang baik dan menganjurkannya agar segera bertaubat kembali kepada 
petunjuk agama yang Haq. Dengan demikian terjadilah tolong menolong yang penuh 
keberkahan jauh dari fanatisme semu. Sekaligus mendorong terbentuknya 
persaudaraan atas dasar Islam dengan neraca syariatNya. “ Demi Masa. 
Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang 
yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya mentaati 
kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” ( Al ‘Ashr: 1-3) 
Imam Syafi’i, seorang ulama salaf termuka dengan pandangan yang tajam 
mengatakan “ Andaikan Al Qur’an itu hanya surat Al Ashr, maka itu sudah cukup 
menjadi hujjah dari Allah kepada manusia”.
   
  4. Komitmen (Iltizam) dengan metode (Manhaj) Pemahaman Yang Benar Hal ini 
akan terwujud jika mereka-mereka yang bersaudara ini setia untuk tetap berhukum 
kepada hukum Allah dan mengembalikan semua masalah kepada Allah dan RasulNya. 
“...Jika kalian berbeda pendapat, maka kembalikanlah semuanya kepada Allah dan 
RasulNya jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang 
demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (An Nisa: 59). 
Bagaimana metode (manhaj) yang benar dalam berukhuwwah, sedangkan hari ini 
seluruh da’i menyerukan kembali kepada Al Qu’ran dan Sunnah namun kenyataannya 
umat tetap berpecah dan tidak berukhuwwah dengan benar? Hal ini disebabkan 
mereka memahami Al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman mereka sendiri bukan 
dengan pemahaman para Sahabat (Salaf) Radhiyallahu Anhum yang jelas dijamin di 
Dalam Al Qur’an dan Sunnah.
   
  “ Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara 
orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan 
ihsan, Allah ridha kepada mereka dan merekapun Ridha kepada Allah...”(At 
Taubah: 100).
   
  Pemahaman merekalah yang harus kita contoh dalam segala hal termasuk dalam 
berukhuwwah, mungkin sebuah kisah ini dapat menjadi sebuah renungan bagi kita 
bagaimana mulia dan tingginya ukhuwwah mereka.
   
  “Al Adawi dari Al Quthubi, ia berkata: “ Ketika berkecamuknya perang Yarmuk, 
aku pergi mencari keponakanku dengan tujuan memberikan minum pada saat dia akan 
menemui ajalnya. Lalu, keponakanku kutemui dalam keadaan sekarat. Seterusnya 
aku dekati dengan membawa sedikit air dan aku bertanya,’Maukah kamu meminum air 
ini?’Ia menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba terdengar rintihan temannya yang 
sangat mengharukan.haus, haus. Dia mengisyaratkan agar aku menemuinya. Setelah 
aku temui ternyata ia adalah Husein bin Ash. Kemudian aku berkata, ‘Maukah kamu 
minum air ini?’Ia menggaukkan kepalanya. ‘tetapi Husein kemudian menolak karena 
mendengar orang lain yang merintih pula, dan mengisyratkan kepadaku agar aku 
menemuinya. Ketika aku menjumpainya, ternyata dia telah syahid. Lalu aku 
kembali kepada Husein, dia pun telah syahid pula. Dan seterusnya aku bergegas 
menemui keponakanku lagi, dan ternyata dia juga sudah syahid Akhirnya ketiga 
orang tersebut tidak ada satupun yang meminum air
 tersebut karena lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya”
   
  Itulah sekeping mutiara dari lautan atsar para sahabat yang mulia, maka 
sangat terlaknatlah orang-orang yang mencela para sahabat Radhiyallahu 
Anhum,dan orang-orang yang berusaha mengikuti mereka dengan dalam kebaikan dan 
ihsan. Justru hendaklah sikap generasi Islam terdahulu (Salafusshalih) yang 
luar biasa ini menjadi tuntunan bagi kita.
   
  Di akhir risalah ini mualif teringat perkataan Ali bin Abi Thalib Ra: dari 
Abu Ishaq as Sabi’i, Imam Ar Rofi’i meriwayatkan: Jadikanlah engkau sumber 
tambang kebaikan, dan maafkanlah segala kesalahan yang menyakitkan. 
Sesungguhnya engkau dapat melihat apa yang engkau lakukan dan dapat mendengar 
apa yang engkau ucapkan. Jika kau mencintai seseorang, cintailah ia dengan 
cinta yang sewajarnya saja. Sesungguhnya kamu tidak tahu kapan cinta itu akan 
kembali.
   
  Maha Suci Allah segala puji bagiNya dan aku bersaksi tidak ada Tuhan 
selainNya aku memohon ampun kepadaNya dan aku bertaubat hanya kepadaNya. 
  
       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs http://www.mediamuslim.info). Kirim artikel, 
pendapat/opini, informasi dan lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke