salam sahabat sabat semua

ada sebujah tulisan yang menarik buat saya yang (kadang sebel dengan ummat
seagama saya ) dari milis tetangga
yang saya bajak secara tidak beradab(tanpa izin).
semga saya di maafkan dan di ampuni oleh si empunya jika ia juga member di
milis ini

Tahun 2007 M telah lewat. Gemebyar tahun barunya
masyarakat international tersebut sudah hampir tak
terasa lagi, dan sebentar lagi 1 Suro tahun baru Jawa,
dan 1 Muharram 1429 H tahun baru Islam akan kita
lalui. Di Indonesia -sama seperti kondisi beberapa
tahun terakhir- tahun baru diwarnai banyak
keprihatinan. Bencana ada di mana-mana.

Di musim hujan ini, rumah roboh dan pohon tumbang
diterjang angin puting beliung, kapal pecah dan orang
tenggelam dihantam gelombang tinggi, banjir bandang,
tanggul jebol, dan tanah longsor sudah menjadi menu
harian berita di koran. Reda di suatu daerah, muncul
di daerah lainnya, bergilir. Ditambah lagi dengan
pejabat yang tak peduli atau hanya cari nama dan
popularitas dengan adanya bencana tersebut. Datang ke
lokasi bencana bukan untuk menyelesaikan penderitaan
korban bencana, tetapi untuk public expose dengan
membawa serombongan wartawan. Pas sudah penderitaan
korban... Bagi rakyat kebanyakan -menukil pesan
seorang kartunis di salah satu koran lokal- tahun baru
2008 M dan 1429 H ini bukannya tahun yang pantas
disambut dengan kegembiraan "Happy New Year", tetapi
lebih pantas sebagai tahun yang penuh keprihatinan.
Tahun yang penuh dengan lambaian tangan-tangan
menengadah yang butuh pertolongan. "Help Me New Year".

Begitu banyaknya bencana, sehingga ketika dilakukan
penggalangan dana untuk korban bencana banjir dan
longsor di sebagian besar Jawa Tengah dan Jawa Timur
yang seringkali didapat adalah kata, "Bukannya aku tak
peduli sesama, tetapi saudaraku sendiri juga menjadi
korban bencana, sehingga alokasi dana untuk bencana
sudah aku berikan sendiri ke sana."

Ya... prioritas bantuan tentu saja lebih pas apabila
ke lingkaran terdekat terlebih dahulu. Kepada sanak
saudara, karib kerabat terdekat, baru kemudian kepada
lingkaran luar berikutnya. Tetapi kenapa
penggalangan- penggalangan dana seperti ini yang harus
kita lakukan setiap tahun ? Dimana pengelola negara
ini ? Kenapa negara dan bangsa ini tidak bisa
mengantisipasinya dan mengambil pelajaran dari
tahun-tahun sebelumnya, sehingga bencana tersebut
tidak berulang dari tahun ke tahun ? Bukankah pasti
ada yang tidak beres apabila setiap musim hujan tiba
kemudian yang muncul adalah bencana ? Layaknya rumah
tinggal, tentu kita bisa antisipasi dan
mempersiapkannya menghadapi musim penghujan.

Apabila ada genteng atau talang yang bocor kita bisa
tambal, ganti dan benahi sebelum hujan tiba. Apabila
ada dinding rumah yang retak dan rusak bisa
diperbaiki, diperkuat, sehingga begitu musim penghujan
tiba rumah bisa digunakan sebagai tempat berlindung
yang nyaman dari cuaca buruk. Kecuali kalau rumah
tinggal tersebut sudah begitu bobroknya sehingga tidak
bisa lagi diperbaiki. Percuma... karena terlalu banyak
yang bocor, terlalu banyak yang rusak, tidak mungkin
lagi diperbaiki, sehingga harus dirobohkan dan diganti
dengan bangunan yang baru.

Apakah "rumah" tanah air ini begitu bobroknya, sama
bobroknya dengan rumah tinggal yang bocor di mana-mana
dan tidak mungkin diperbaiki ? Ataukah rumah tanah air
ini sebenarnya rumah yang bagus dan kokoh, cuma
terjadi salah urus saja ? Bukankah tanah air ini kaya
raya ? Hasil buminya, hasil lautnya, bahan tambangnya,
semuanya berlimpah. Tetapi kenapa bisa begini ?
Apakah karena ternyata penghuninya adalah
manusia-manusia pemalas, bebal, suka bermusuhan,
egois, bodoh, dan gampang dieksploitasi ? Penghuninya
adalah orang-orang yang tidak peduli, ketika
"genteng", "jendela", "pintu" dan "perabotan" lainnya
dari "rumah" tanah air ini dirusak atau dicuri orang.
Bahkan ternyata sebagian penghuninya mengajak
tetangga, orang lain untuk bersama-sama merusak dan
mencuri barang-barang milik saudaranya.

Pengerukan pasir pantai dilakukan untuk membangun
negara lain sehingga beberapa gugusan pulau hilang.
Pembalakan liar dilakukan untuk bahan baku pulp dan
industri meubel negara lain, sehingga industri kertas
dan furniture dalam negeri kekurangan bahan baku.
Illegal fishing dan pencurian hasil laut trilliunan
rupiah dilakukan untuk menebalkan kantong pribadi,
sehingga nelayan tradisional tidak kebagian rejeki.
Penggalian besar-besaran hasil tambang yang begitu
merusak lingkungan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan
dan menyenangkan negara lain, sehingga hancur sudah
"rumah" yang aslinya indah dan kokoh laksana ratna
mutu manikam di tengah garis katulistiwa ini. Dan
ironisnya semua ini dilakukan secara berjama'ah dan
sebagian dibuatkan aturannya agar bisa menjarah
secara legal.

"Silahkan ambil yang tuan perlukan seenak tuan. Saya
dan teman-teman akan buatkan peraturannya. Tak masalah
gunung, pulau, hutan menghilang. Tak masalah
masyarakat tenggelam oleh lumpur. Tak masalah nelayan
kehilangan hasil tangkapan. Yang penting tuan bayar
secukupnya, tidak mengganggu kenikmatan saya, dan
tidak menggoyang kursi kekuasaan saya dan
teman-teman."

Aneh ? Tidak...

Bukankah memang begitulah kebanyakan masyarakat kita
sekarang ini ? Tidak mungkin hutan lindung yang dalam
pengawasan Perhutani bisa gundul begitu saja tanpa
adanya pejabat yang mengijinkan untuk menggunduli.
Tidak mungkin hutan yang begitu banyaknya di lereng
gunung di sepanjang jalan raya yang mencolok mata bisa
lenyap begitu saja tanpa diketahui oleh pejabat
Perhutani, Lurah, Camat, Bupati, Kapolsek, Kapolres,
Kajari, dan masyarakat sekitarnya. Tidak mungkin
daerah aliran sungai (DAS) dan tanah-tanah pengairan
bisa dikonversi menjadi perumahan legal, apabila tidak
ada ijin dari pejabat BPN pembuat sertifikat. Semua
mendiamkannya, semua mendapat bagian, dan sebagian
rakyat kecil yang peduli hanya bisa berteriak tak
berdaya. Tenggelam dalam banjir, lumpur, dan tanah
longsor. Tangan mereka hanya bisa menengadah dan
melambai-lambai memohon pertolongan.

Kenapa ini bisa terjadi ? Karena tidak banyak orang
yang peduli dengan keadaan masyarakat kecil di lapisan
yang paling menderita sebagai korban. Tidak banyak
orang yang mengajak orang lain peduli. Tidak banyak
orang yang ikhlas dan konsisten mengajak orang lain
berbuat kebajikan (amar ma'ruf). Apalagi yang di
samping konsisten mengajak berbuat baik juga ikhlas
mengamalkannya. Sedikiiit.

Bagaimana dengan nahi munkar ? Apalagi.... Hanya
manusia langka yang berani melawan kejahatan dan
ketidakadilan (nahi munkar), dan bahkan jauh lebih
langka lagi yang berani mengamalkan keduanya (amar
ma'ruf nahi munkar) dengan ikhlas dan konsisten.
Padahal Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku
adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum
kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji,
kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran
kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (An Nahl
16:90)

Mayoritas penduduk negeri ini mengaku dirinya Islam,
setiap hari menjalankan shalat, setiap tahun 200 ribu
orang berhaji. Mayoritas pengelola negaranya pun juga
Islam. Jika konsisten dengan ajaran Nya dan dapat
mengambil pelajaran dari Nya, tentulah bencana dan
keprihatinan ini tidak akan terjadi. Tetapi semua
bencana dan kerusakan yang memprihatinkan sudah
terjadi, dari mana perbaikan dimulai ? Mengharapkan
perubahan perbaikan datang dari lembaga formal,
institusi negara, para pejabat dan pemegang kekuasaan
tampaknya masih butuh waktu lama. Politik masih
menjadi panglima. Meski sila Ketuhanan Yang Maha Esa
ditempatkan diurutan pertama, moralitas, apalagi agama
masih ditempatkan di tong sampah. Yang paling
realistis dilakukan adalah melongok ke dalam diri kita
masing-masing. Diri saya, diri anda pembaca tulisan
ini, diri kita semua. Apa yang sudah kita lakukan
dengan diri ini ? Apabila belum bisa bertindak
mencegah kemungkaran, minimal seharusnya sebagai orang
Islam kita sudah mempunyai sikap mental yang kuat
untuk tidak melakukan perbuatan keji dan mungkar.

Kalau tidak punya ?

Ya buat apa shalat...! Bukankah shalat yang benar,
pasti menghasilkan sikap mental yang mencegah diri
sendiri melakukan perbuatan keji (fahsya) dan jahat
(munkar) (29:45) ? Sehingga... orang yang shalatnya
benar otomatis pasti juga peduli dan tidak mentolerir
perbuatan keji, kemungkaran, ketidakadilan, dan
permusuhan.

Derita saudara-saudara kita yang tertimpa bencana
sungguh memprihatinkan. Semoga di awal tahun yang
penuh keprihatinan ini, menyadarkan kita tentang
kepedulian, tentang ikhtiar kita dalam ber amar ma'ruf
nahi munkar, dan tentang kualitas shalat kita.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf apabila tidak berkenan.
Selamat Tahun baru 2008 dan Selamat Tahun Baru Hijriah
1429. Semoga semangat Hijrah Nabi Muhammad saw
menuntun kita untuk kembali ke jalan Nya. Amiin.

Wassalamu'alaikum wr. wb.
ChAn
07012008

-- 
lebih baik nekat ke surga dari pada terencana masuk neraka

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs http://www.mediamuslim.info). Kirim artikel, 
pendapat/opini, informasi dan lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke