ini ada makalah dari sahabat senior kami semoga ber manfaat

Shalat dan Transformasi Fitrah
Diri<http://suluk.blogsome.com/2006/10/07/shalat-dan-transformasi-fitrah-diri/>

*Zamzam A. Jamaluddin *dan *Kuswandani Yahdin*, Yayasan Paramartha.

*Bismillahirrahmaanirrahiim, *

*Dalam* sebuah hadits, Rasulullah Muhammad Saw bersabda bahwa, *"Shalat
adalah mi'raj-nya mu'minin."* Istilah *mi'raj *di sini secara spesifik
dihubungkan dengan peristiwa *isra-mi'raj* Nabi Saw pada tanggal 27 Rajab
tahun ketiga belas dari *Nubuwwah*, saat beliau berusia 53 tahun.

Peristiwa *isra* yang artinya perjalanan malam adalah peristiwa
diperjalankannya Nabi Saw secara horizontal dari Masjidil Haram Mekkah ke
Masjidil Aqsha Yerussalem, Al-Isra [17] : 1. Dan peristiwa *mi'raj* adalah
peristiwa diperjalankannya beliau Saw secara vertikal dari Masjidil Aqsha
naik ke *Sidratul Muntaha*. Di tempat tertinggi ini secara khusus Nabi Saw
menerima perintah kewajiban menjalankan ibadah shalat bagi beliau Saw
beserta umatnya sebanyak lima kali (17 rakaat) dalam sehari semalamnya.

Secara umum, makna *mi'raj* dalam hadits tersebut dihubungkan dengan
"tangga" spiritual, yakni suatu perangkat ibadah yang dapat menaikkan
derajat si mu'min menjadi lebih dekat kepada *Rabb*-nya. Maka di dalam kata
shalat tersirat suatu dinamika atau suatu proses perjalanan yang sifatnya
menaik *('uruj)*, dan secara eksplisit bentuk ibadah shalat yang dicontohkan
Nabi Saw mengisyaratkan adanya suatu perubahan bertahap dari suatu *state*ke
*state* yang lain secara tertib. Serangkaian kalimah takbir yang diucapkan
dalam ibadah shalat menunjukkan suatu proses kenaikan *(mi'raj)* bertahap.

*Takbir* sebagai ungkapan yang menyatakan suatu proses naik tercermin pada
saat Nabi Saw sedang mendaki sebuah bukit, di sana beliau mendzikirkan
kalimat takbir. Berbeda dengan ketika Nabi Saw sedang turun dari sebuah
bukit, maka beliau mendzikirkan kalimat *tasbih*. Dalam 17 rakaat pada lima
waktu shalat wajib, diucapkan 94 kali takbir pokok yang membatasi setiap
bentuk sikap *(state)* dalam shalat, berarti dalam sehari semalam seharusnya
terjadi minimal 94 kali kenaikan derajat kedekatan dengan Allah Swt.

Istilah *shalat* melampaui dari sekedar sebuah nama suatu ibadah
*mahdlah*terpenting di dalam agama Islam. Makna spiritual dari kata
shalat
mencerminkan suatu proses "pengorbitan" setiap ciptaan Allah, secara
spesifik terhadap poros dari suatu amr Allah Swt , ini diisyaratkan oleh
Al-Qur'an Surat An-Nuur [24] : 41,

"Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya ber*tasbih* kepada Allah
siapa pun yang ada di petala langit dan bumi, dan burung dengan
mengembangkan sayapnya. Sungguh setiap sesuatu mengetahui cara shalatnya dan
cara *tasbih*nya masing-masing. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang
mereka kerjakan." (Q. S. An-Nuur [24] : 41)

*Tasbih *mencerminkan mengalirnya setiap ciptaan dalam suatu proses
penyerahan diri *(aslama)* yang bersifat umum, dan shalat dalam hal ini
mencerminkan suatu pengaliran dengan modus atau bentuk tertentu, yang
spesifik, tidak sama dari satu ciptaan ke ciptaan yang lainnya. Sebagai
contoh, shalatnya seekor burung telah ditentukan ada di dalam bentuk membuka
sayapnya ketika ia terbang, dan shalatnya seekor ikan telah ditentukan ada
di dalam kondisi saat ia berenang di dalam air.

Dalam pandangan para "pejalan" *(salik)*, seekor burung yang terbang bebas
menggambarkan jiwa *(nafs)* yang telah terbebas dari perangkap sangkar
dunia, dan dua sayap burung yang terkembang melambangkan berfungsinya dua
akal insan secara sinergis, yakni akal bawah (fikiran) dan akal atas *(lubb)
*. Sebagaimana Allah Swt mengungkapkan peringkat akal para malaikat dengan
pernyataan bersayap dua, bersayap empat dan seterusnya, dan ini menunjukkan
hirarki kemuliaan dari para malaikat. Maka shalat adalah seperti sepasang
sayap, merupakan perangkat untuk terbang *(mi'raj)* ke "atas", sehingga *
afdhal*-nya suatu shalat sangat ditentukan oleh pengetahuan lahiriyahnya
(hukum *fiqh*) dan pengetahuan *bathiniyah*nya (hakikat shalat).

Secara umum aspek praktis shalat, sebagai suatu ibadah *mahdlah* yang paling
pokok, wajib ditegakkan dalam waktu-waktu yang telah ditentukan. Dalam aspek
praktis shalat tampak tercermin keseluruhan dari dinamika kehidupan: pada
saat berdiri posisi akal ada di atas *qalb*, pada saat ruku' posisi akal
sejajar *qalb*, dan pada saat sujud posisi akal ada di bawah *qalb*. Dan
Nabi Saw mengingatkan bahwa semulia-mulia keadaan shalat adalah pada saat
sujudnya, dan beliau memerintahkan agar kita memperbanyak berdoa pada saat
bersujud, yaitu pada saat akal diletakkan di belakang *qalb* (akal yang
tunduk kepada *qalb* yang dirahmati Allah Swt).

"… Mereka memiliki qalbu yang dengannya mereka menggunakan *aql*-nya…" (QS
Al-Hajj [22]:46)

Serangkaian shalat praktis tersebut wajib ditegakkan untuk membangun suatu
keadaan *dzikir* kepada Allah Swt (lihat Q. S. Thaaha [20]:14). Dzikir di
sini bukan sebatas mengulang-ulang memuji Allah Swt dengan lisan ihwal
nama-nama dan sifat-sifat-Nya, tetapi suatu dzikir mencakup suatu keadaan
totalitas jiwa *(nafs)* akibat sentuhan rahmat-Nya, sehingga insan tersebut
*baqa'* dalam tasbih, doa, kesyukuran dan sebagainya. Dan jika dzikir ini
menjadi sebuah *maqam*, maka menjadi tidak berbatas waktu. Jadi serangkaian
shalat praktis yang berbatas waktu wajib ditegakkan untuk membangun dan
memelihara suatu keadaan 'shalat' (dalam tanda kutip) yang tidak berbatas
waktu, *dzikrullah*.

Petala langit dan bumi dan segala isinya *"yang berserah diri dengan suka
cita"* (QS Fushilat [41]: 11) berada dalam keadaan shalat dengan cara
"mengorbit" pada poros *amr* masing-masing, *"Sungguh setiap sesuatu
mengetahui cara shalatnya dan tasbihnya"* (QS An-Nuur [24]: 41).

Tujuan sejati dari suatu suluk *(tazkiyatu-nafs)* adalah untuk *menemukan
kodrat diri*, merupakan *qudrah* atau kuasa Allah Swt yang ada di dalam *
nafs*, sebagai mandat atau misi hidup yang harus dimanifestasikan.
Barangsiapa mengenal *nafs*-nya maka akan melihat *qudrah* dirinya sebagai
bayangan terbatas dari *qudrah*-Nya, dan barangsiapa yang mengenal kuasa-Nya
maka akan mengenal Rabb-Nya, sebagaimana dikatakan Rasulullah Saw, *"man
'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbahu."* Dan kodrat diri ini tak lain
merupakan fitrah Allah Swt yang disematkan kepada diri insan tertentu yang
telah menegakkan *ad-diin* dalam dirinya.

" Maka tegakkanlah wajahmu kepada *ad-diin* secara *hanif*. Fitrah Allah
yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada
fitrah Allah, itulah *diin* yang tegak, namun sebagian besar manusia tidak
mengetahui." (Q. S. Ar-Ruum [30] : 30).

Jika seseorang merealisasi *fitrah diri*nya, maka sebagaimana petala langit
dan bumi ia hidup dalam energi minimalnya, dan akan mengalirkan suatu
kekaryaan suci yang berguna untuk masyarakat. Apa yang ia lahirkan tak lain
merupakan harta terpendam *(kanzun makhfi)*-Nya yang merahmati alam
semestanya. Seorang insan yang telah berhasil merealisasi fitrah dirinya
adalah seorang yang telah berhasil menegakkan *ad-diin* dalam dirinya, dan
ini berarti ia telah berjalan dalam *shirath al-mustaqim*-nya.

"Shalat itu adalah tiangnya *ad-diin*." (Rasulullah Saw)

*Ad-Diin* di atas mencakup tiga komponen: *al-Islam, al-Iman* dan *al-Ihsan*.
Ketiga aspek tersebut harus ditegakkan secara utuh di dalam diri insan. Jika
satu dari ketiga aspek tersebut belum terbangun maka ia belum termasuk ke
dalam golongan orang-orang yang telah mendirikan *ad-Diin* di dalam dirinya.
Jadi rangkaian shalat itu merupakan proses untuk menegakkan ketiga pilar *
ad-diin* tersebut. Dan tentang pilar ketiga *ad-diin* yakni *al-ihsan,* Nabi
Saw pernah berkata, "Engkau mengabdi kepada-Nya seolah-olah engkau
melihat-Nya" adalah pilar yang paling halus dan paling sulit untuk
ditegakkan, kecuali oleh mereka yang mencari-Nya dengan sungguh-sungguh,
berharap bertemu *(liqa')* Allah dengan kerinduan yang mendalam.

"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang
demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu', yaitu
orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya *(liqa')* dan
bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." (QS Al-Baqarah [2] : 45-46).

Bagian akhir dari ayat di atas berkaitan dengan ke-*ihsan*-an sebagai tanda
dari hadirnya kekhusyu'an di dalam shalat. Dan jika suatu shalat tidak
mencapai pilar *ihsan*, maka ibadah shalat akan dipandang sebagai sesuatu
yang memberatkan, sehingga bangunan *ad-diin* dalam diri orang tersebut
sulit untuk didirikan. Jika seseorang tidak dapat menegakkan *ad-diin* dalam
dirinya maka shalatnya tidak dapat mencegahnya dari perbuatan *fakhsya'* dan
*munkar*.

"…sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan *fakhsya* dan *munkar*.
Dan sungguh dzikrullah itu adalah yang terbesar….." (QS Al-Ankabut [29] :
45)

Ke*ihsan*an dalam shalat hanya menjadi milik mereka yang berharap berjumpa *
(liqa')* Allah, dan ini sebagai salah satu tanda penting dari tumbuhnya
benih kecintaan dari Allah *Azza wa Jalla.*

" …Barangsiapa mengharap berjumpa dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia
mengerjakan amal shalih, dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu apa pun
dalam beribadat kepada-Nya." (QS Al-Kahfi [18] : 110)

Dalam Al-Quran, aspek amal shalih diletakan setelah keimanan. Dalam
pernyataan iman dan amal shalih, tercermin ketiga pilar *ad-diin*. Keimanan,
dengan banyak tahapannya, merupakan suatu proses penegakkan pilar *al-iman*.
Kemudian ketaatan mengamalkan setiap perintah Allah dan menjauhi
larangannya, dengan ikhlas, merupakan proses penegakkan pilar *al-islam*.

Adapun ke-*shalih*-an (ketidak rusakkan) yang dilekatkan pada kata *amal*,
merupakan suatu persoalan yang mengkualifikasi derajat amal-amal.
Ke-shalih-an diukur dari kemurnian *tauhid*, ini tidak dapat dicapai kecuali
dengan jalan membangun pengetahuan untuk mengenal-Nya, dan ini merupakan
pokok dari pilar *al-ihsan.* Nabi Saw bersabda bahwa,

"Seutama-utama amal adalah yang disertai dengan ilmu tentang Allah Ta'ala.
Amal yang banyak tanpa disertai dengan ilmu tentang Allah Ta'ala adalah
tidak berguna, dan amal yang sedikit jika disertai dengan ilmu tentang Allah
Ta'ala adalah bermanfaat."

Kemudian Nabi Saw bersabda pula, *"Siapa yang mengenal Allah maka pasti
mencintai-Nya."* Pada *maqam* ini pilar ketiga dari *ad-diin* terbangun.
Bagaimana agar keihsanan dan kecintaan kepada Allah dapat tumbuh, maka hanya
dengan cara mengikuti semua langkah Nabi Saw dengan ikhlas, baik
lahiriyahnya maupun batiniyahnya.

"Katakanlah, 'Jika kalian benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku,
niscaya Allah akan mencintai kalian, dan mengampuni dosa-dosa kalian.'" (QS
Ali Imran [3] : 31)

Dan Nabi Saw bersabda,

"Amal yang paling Allah cintai adalah shalat pada awal waktu, kemudian
berbakti kepada orang tua, dan setelah itu *jihad fi sabilillah*."

Para *mu'min* sejati adalah para pecinta Allah Swt, maka *ad-diin* tegak
dalam dirinya, sehingga tidak ada perbuatan *fakhsya'* dan kemungkaran yang
keluar dari dirinya.

*Alhamdulillahi Rabbil-'aalamin**
*
*Wallahu a'lam bish-shawaab.*


—
Makalah ini disampaikan dalam acara lokakarya *Shalat sebagai Mi'rajnya
Orang-orang Beriman,* 6 Oktober 2004, di *Jakarta Islamic Center.*



>  lebih baik nekat ke surga dari pada terencana masuk neraka
>
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke