Hukum Sandiwara
Syaikh Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan
---------------------------------
Sandiwara, saya katakan tidak boleh karena:
Pertama: Di dalamnya melalaikan orang yang hadir, mereka memperhatikan
gerakan-gerakan pemain sandiwara dan mereka senang(tertawa). Di dalamnya
mengandung unsur menyia-nyiakan waktu. Orang Islam akan dimintai
pertanggungjawabannya terhadap waktunya. Dia dituntut untuk memelihara dan
mengambil faedah dari waktunya, untuk mengamalkan apa-apa yang diridhai oleh
Allah Ta'ala, sehingga manfaatnya kembali kepadanya baik di dunia maupun di
akhirat. Sebagaimana hadits Abu Barzah Al-Aslamy, dia berkata,'Telah bersabda
Rasulullah,
"Tidak bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga ditanya
tentang umurnya, untuk apa dia habiskan. tentang hartanya darimana dia
dapatkan, dan untuk apa dia infakkan. tentang badannya untuk apa dia kerahkan.
"[1]
Umumnya sandiwara itu dusta. Bisa jadi memberi pengaruh bagi orang yang hadir
dan menyaksikan atau memikat perhatian mereka atau bahkan membuat mereka
tertawa. Itu bagian dari cerita-cerita khayalan. Sungguh telah ada ancaman dari
Rasulullah bagi orang yang berdusta untuk menertawakan manusia dengan ancaman
yang keras. Yakni dari Muawiyah bin Haidah bahwasanya Rasulullah bersabda,
"Celaka bagi orang-orang yang berbicara(mengabarkan) sedangkan dia dusta
(dalam pembicaraannya) supaya suatu kaum tertawa maka celakalah bagi dia,
celakalah bagi dia."[2]
Mengiringi hadits ini Syaikh Islam berkata,'Dan sungguh Ibnu Mas'ud berkata,
"Sesungguhnya dusta itu tidak benar baik sungguh-sungguh maupun bercanda."
Adapun apabila dusta itu menimbulkan permusuhan atas kaum muslimin dan
membahayakan atas dien tentu lebih keras lagi larangannya. Bagaimanapun
pelakunya yang menertawakan suatu kaum dengan kedustaan berhak mendapat hukuman
secara syar'i yang bisa menghalangi dari perbuatannya itu.[3]
Tentang cerita-cerita, sungguh ulama' salaf membenci cerita-cerita dan
majelis-majelis cerita. Mereka memperingatkan segala peringatan dan memerangi
para narator (pencerita) dengan berbagai sarana. Ibnu Abi Ashim meriwayatkan
dengan sanad yang shahih, bahwa Ali melihat seseorang bercerita, maka dia
berkata, "Apakah engkau tahu tentang naskh(ayat yang menghapus) dan
mansukh(yang dihapus) ? Maka dia (pencerita itu) menjawab,"Tidak". Ali
berkata,"Binasa engkau dan engkau telah membinasakan mereka".[4]
Imam Malik berkata," Sungguh saya benci cerita-cerita di masjid. Saya
memandang berbahaya ikut bermajelis dengan mereka. Sesungguhnya cerita-cerita
itu bid'ah". Imam Ahmad berkata,"Manusia yang paling dusta adalah para narator
dan orang yang paling banyak bertanya (dengan pertanyaan yang tidak ada
faedahnya)". Kemudian ditanyakan padanya (Imam Ahmad),"Apakah Anda menghadiri
majelis mereka ? Dia menjawab, "Tidak".[5]
Kedua: Individu-individu yang ditiru, kadang-kadang berasal dari tokoh Islam,
seperti sahabat. Hal ini dianggap sebagai sikap meremehkan mereka[6], baik si
pemain merasa atau tidak. Contoh: anak kecil atau seseorang yang sangat tidak
pantas, menirukan ulama atau sahabat. Ini tidak boleh. Kalau ada seseorang
datang menirukan kamu, berjalan seperti jalanmu, apakah engkau ridha dengan hal
ini? Bukankah sikap ini digolongkan sebagai sikap merendahkan terhadap kamu?
Walaupun orang yang meniru tersebut bermaksud baik menurut sangkaannya. Tetapi
setiap individu tidak akan rela terhadap seseorang yang merendahkan dirinya.
Ketiga: Yang ini sangat berbahaya, sebagian mereka menirukan pribadi kafir
seperti Abu Jahal atau Fir'aun dan selain mereka. Dia berbicara dengan
pembicaraan yang kufur yang menurut dugaannya dia hendak membantah
kekufurannya, atau ingin menjelaskan bagaimana keadaan jahiliyah. Ini adalah
tasyabuh (meniru). Rasulullah melarang tasyabuh dengan orang-orang musyrik dan
kufur [7]baik meniru (menyerupai) kepribadian maupun perkataannya. Dakwah
dengan cara ini dilarang karena tidak ada petunjuk Rasulullah serta bukan dari
salafu ash shalih maupun petunjuk kaum muslimin. Model-model sandiwara ini
tidak dikenal kecuali dari luar Islam. Masuk kepada kita dengan nama dakwah
Islam, dan dianggap sebagai sarana-sarana dakwah. Ini tidak benar karena sarana
dakwah adalah tauqifiyah(ittiba'). Cukup dengan yang dibawa Rasulullah dan
tidak butuh jalan seperti ini. Bahwasanya dakwah akan tetap menang dalam kurun
waktu yang berbeda-beda. Tanpa adanya model-model sandiwara ini. Tatkala cara
ini (sandiwara) datang tidaklah menampakkan kebaikan kepada manusia
sedikitpun, dan tidak bisa mempengaruhinya. Hal itu menunjukkan bahwa cara ini
(sandiwara) adalah perkara negatif dan tidak ada faedahnya sedikitpun. Bahkan
di dalamnya terdapat hal-hal yang membahayakan.
Lalu jika ada orang yang berkata,'Sesungguhnya Malaikat itu menyerupai bentuk
anak Adam.(maksudnya bersandiwara kepada manusia-ed)
Kami jawab, 'Malaikat-malaikat itu datang dalam bentuk anak Adam, karena
manusia tidak mampu melihat dalam bentuknya yang asli. Ini merupakan kebaikan
bagi manusia. Sebab jika malaikat datang dengan bentuk mereka yang sebenarnya,
maka manusia tidak akan mampu berbicara dengan mereka dan tidak bisa melihat
kepada mereka.
Para
malaikat tatkala menyerupai bentuk manusia tidak bermaksud bermain sandiwara
sebagaimana yang mereka inginkan. Malaikat itu menyerupai manusia dalam rangka
memperbaiki. Karena malaikat mempunyai bentuk sendiri yang berbeda dari
manusia. Adapun manusia maka bagaimana bentuk seseorang itu berubah kepada
bentuk manusia yang lain. Apa yang mendorong kepada perubahan ini?
Kemudian ada beberapa tambahan keterangan yang diambil dari berbagai sumber:
Syaikh Bakar Abu Zaid berkata dalam kitabnya At-Tamtsil,'Keberadaan sandiwara
awalnya adalah bentuk peribadahan non-Islam. Sebagian ahlu ilmi menguatkan,
bahwa inti sandiwara itu adalah bagian dari syiar-syiar peribadahan penyembah
berhala di Yunani.(Hal 18) sandiwara itu tak ada hubungannya dengan sejarah
kaum muslimin pada generasi yang pertama(utama). Kedatangannya tak
disangka-sangka pada masa sedikitnya orang yang berilmu, yakni pada abad 14H.
Kemudian disambut dengan mendirikan rumah-rumah hiburan dan gedung-gedung
sandiwara, serta merta berpindahlah dari tempat-tempat peribadahan kaum Nashara
kepada sekelompok pelaku sandiwara Islami di sekolah-sekolah daripada sebagian
jamaah Islam.
Apabila hal ini telah dimaklumi, maka ketahuilah bahwa kaidah-kaidah dan
prinsip-prinsip Islam yang mengangkat ahlinya kepada derajat mulia dan sempurna
tentu menuntut penolakan dengan cara itu. Sebagaimana diketahui, bahwa suatu
amal mungkin termasuk sebagai ibadah, atau bisa jadi termasuk sebagai adat.
Maka asal ibadah, tidaklah disyariatkan kecuali apa yang disyariatkan oleh
Allah dan asal adat adalah tidak dilarang kecuali apa yang telah Allah larang.
Oleh karena itu sandiwara Islami itu tidak boleh diadakan sebagai jalan ibadah,
atau pun sebagai bagian dari kebiasaan atau adat yang mengandung unsur
permainan dan hiburan.
Sandiwara Islami tidak ditetapkan dalam syariat, dia jalan yang baru.
Sebagian dari keseluruhan ajaran Islam adalah apa yang disabdakan oleh
Rasulullah,'Barangsiapa yang membikin perkara-perkara baru dalam urusan
kami(Islam), yang perkara itu buka dari Islam maka tertolak'. Karena itu, apa
yang telah dilihat pada beberapa sekolahan atau kampus-kampus, yakni adanya
permainan sandiwara Islami maka sesungguhnya itu adalah sandiwara bid'ah,
karena telah diketahui asalnya. amalan tersebut bagi kaum muslimin adalah
perkara yang keluar dari daerah yang ditentukan berdasarkan dalil syar'i.
Karena amalan tersebut merupakan peribadahan penyembah berhala dari Yunani dan
ahlu bid'ah Nashara, maka tak ada dasarnya dalam Islam secara mutlak. Jadi
amalan itu adalah perkara baru dalam islam dan setiap perkara baru dalam Islam
adalah bid'ah yang menyerupai syariah. Nama yang pas untuk istilah itu berdasar
syariat Islam adalah 'Sandiwara Bid'ah'.
Apabila sandiwara ini dimasukkan sebagai adat, maka hal itu menyerupai
musuh-musuh Allah (kafir). Sedangkan kita telah dilarang menyerupai mereka.
Sementara perkara itu tidak dikenal kecuali dari mereka.
Jika ada orang yang berkata,'Sesungguhnya sarana-sarana berdakwah merupakan
bagian dari mashalihul Mursalah'. Kami jawab,'Apakah syariah meremehkan segala
kebaikan bagi hamba-hambanya?
Jawabannya terdapat dalam keterangan Syaikh Islam Ibnu Taimiyah, sebagai
berikut,'Secara singkat bahwa syariah tidak meremehkan kebaikan (maslahah) sama
sekali, bahkan Allah Ta'ala telah menyempurnakan dien nikmatNya bagi kita. Jadi
tidak ada yang mendekatkan diri ke surga kecuali kita telah diperintahkan
beliau untuk mengerjakannya. Beliau telah meninggalkan kita di atas lembaran
yang putih bersih. Malamnya seprti siangnya, tidak menyimpang daripadanya
melainkan orang yang binasa.[8]
Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al Haritsi berkata, 'Apabila sejumlah besar
dari berbagai kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan bertaubat kepada al-haq
dengan jalan yang syar'i dan memang harus demikian. Maka mengapa seorang da'i
mencari jalan yang tidak terdapat di dalam syara' ? Lagipula bahwa sesungguhnya
apa yang terdapat dalam syara' sungguh telah mencukupi untuk memperoleh tujuan
dakwah kepada Allah. Yakni menjadikan ahlu maksiat bertaubat dan orang-orang
yang tersesat mendapat petunjuk. Hendaklah para da'i melapangkan dirinya
tatkala berdakwah kepada Allah dengan sarana yang para sahabat melapangkan diri
mereka di atasnya. Sesungguhnya mereka kembali menuju kepada ilmu. Ibnu Mas'ud
berkata,'Sesungguhnya kalian akan menciptakan perkara yang baru dan akan
diciptakan perkara baru untuk kalian, Maka, apabila kalian melihat perkara yang
baru, wajib atas kalian berpegang dengan perkara yang pertama (Rasulullah dan
para sahabat)'. Ibnu Mas'ud berkata pula,'Hati-hati kalian
terhadap bid'ah, hati-hati kalian terhadap berlebih-lebihan, hati-hati kalian
terhadap berdalam-dalaman dan wajib kalian berpegang teguh dengan generasi yang
dahulu'.[9]
Syaikh Abdussalam berkata,'Sesungguhnya menentukan kebaikan dalam suatu
perkara adalah sulit sekali. Kadang-kadang seorang pengamat menyengka bahwa ini
adalah maslahah, padahal ini, sesungguhnya yang berkuasa menentukan
kemaslahatan adalah ahlu ilmi. Merekalah yang dipenuhi keadilan dan bashirah,
yang senantiasa mewujudkan hukum-hukum syariah serta kebaikan-kebaikan. Oleh
karena itu suatu masalah butuh sikap hati-hati yang besar dan sangat waspada
dari penguasaan hawa nafsu jika menghendaki sesuatu yang baik. Hawa nafsu
sering menghiasi sesuatu yang rusak menjadi tampak baik, sehingga banyak orang
tertipu. Padahal bahayanya lebih besar daripada manfaatnya. Lalu bagaimana para
muqallid(orang yang taklid) itu bisa dikuasai dengan persangkaan kemudian
menentukan bahwa ini adalah maslahah ? Bukankah ini merupakan sikap lancang
terhadap dien dan sikap nakal terhadap hukum syar'i dengan tanpa keyakinan ?
---------------------------------
[1] Dikeluarkan Imam At Tirmidzi (2417) dan dia menshahihkannya.
[2] Hadits hasan dikeluarkan oleh Hakim(I/46), Ahmad(V/35) dan
At-Tirmidzi(2315).
[3] Majmu Fatawa(32/256).
[4] Al-Mudzakir wa at-Tadzkir (hal 82).
[5] Al-Bida' wa al-Hawadits karya At-Turrusyi hal 109-112.
[6] Telah datang hadits shahih yang mencela orang yang menirukan gerakan
seseorang, dan larangan dari yang demikian itu, dari Aisyah bahwa Rasulullah
bersabda, 'Sungguh saya tidak suka menirukan seseorang dan sungguh bagi saya
seperti ini dan seperti ini'. Shahih dikeluarkan oleh Imam Ahmad (6/136-206),
At-Tirmidzi(2501).
[7] Hadits yang melarang menyerupai orang-orang musyrik dan kafir telah
tersebar, diantaranya sabda Rasulullah, 'Selisihilah orang-orang Yahudi dan
Nashara..'[Taqrib Ibnu Hibban(2186)], 'Berbedalah dengan orang-orang
musyrik...' [Muslim(259)], 'Berbedalah dengan orang-orang Majusi..'
[Muslim(260)].
[8] Hujatu al-Qawiyyah 'Ala Anna Wasa'ila ad-Da'wah Tauqifiyyah, karya
Abdussalam bin Barjas hal 40
[9] Hujaj al-Qawiyyah karya Syaikh Abdussalam bin Barjas hal 43.
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam Google Groups yaitu
"Media Muslim Group". (Group Situs http://www.mediamuslim.info dan
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian
satu-per-satu.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---