Kapan Saatnya Kita Bicara

Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar 

Ketahuilah, sebelum berkata-kata, sesungguhnya kata-kata itu tawanan kita. Akan 
tetapi, sesudah terlontar dari lisan, justru kitalah yang ditawan oleh 
kata-kata sendiri. Buktinya, betapa banyak orang yang sengsara, menanggung 
malu, terbebani batinnya, bahkan membuat nyawanya melayang gara-gara kata-kata 
salah ucap, yang keluar dari mulutnya sendiri. Begitu banyak contoh nyata dalam 
kejadian kesehari-hari yang bisa membuktikan semua ini. 
Mungkin suatu ketika kita baca di koran berita tentang beberapa pelajar SMA 
yang terlibat pergaulan bebas dengan sesama teman sebayanya. Biasanya mulut ini 
begitu gatal untuk segera berkomentar, "Mereka sebenarnya adalah korban-korban 
dari ketidak becusan para orang tuanya dalam mendidik anak-anaknya sendiri." 
Atau, kadang-kadang ketika berkumpul bersama teman-teman, tidak bisa tidak, 
kita sering dengan sadar dan bahkan dinikmati, terjebak dalam perbuatan ghibah, 
mengumbar-umbar aib dan keburukan orang lain, teman, atau bahkan beberapa sikap 
dan perilaku orang tua sendiri yang dalam penilaian hawa nafsu kita, tidak kita 
sukai.
Nah, bila kita acap atau kerap kali senang menggelincirkan lisan ini ke dalam 
perbuatan-perbuatan demikian, maka pertanyaan yang harus segera diajukan 
terhadap diri sendiri adalah, mestikah saya berbicara? Haruskah saya 
mengomentari masalah ini? Mengapa saya harus ikut-ikutan memberikan penilaian, 
padahal kita sendiri mungkin tidak tahu permasalahan yang sebenarnya?
Subhanallah! Siapa pun yang ingin memiliki lisan yang bermutu serta kata-kata 
yang mengandung kekuatan dahsyat untuk mengubah orang lain menjadi lebih baik, 
satu hal yang harus direnungkan, yakni bahwa kekuatan terbesar dari kata-kata 
kita adalah harus membuat orang senantiasa mendapatkan manfaat dari apa pun 
yang kita ucapkan.
Kalau hanya sekadar berbicara, padahal kita sendiri tidak tahu akan membawa 
manfaat atau tidak maka sebaiknya diam saja. "Falyaqul khairan aw liyaskut," 
demikian sabda Rasulullah saw. Hendaklah berkata yang baik atau diam! Berkata 
itu bagus dan boleh-boleh saja, namun diam itu jauh lebih bagus kalau toh 
kata-kata yang kita ucapkan akan tidak membawa manfaat.
Kalaupun kita memandang perlu untuk berkata-kata, maka sebaiknya berikan yang 
terbaik kepada orang yang mendengarkannya kata-kata yang paling indah, paling 
tulus, paling bersih dari segala niat dan motivasi yang tidak lurus.
Sungguh, Allah Azza wa Jalla adalah Zat Maha Pembolak-balik hati manusia. Sama 
sekali tidak sulit bagi-Nya untuk membalikkan hati manusia seketika, sehingga 
orang pun mungkin akan menyadari kesehari-hariannya sekiranya ia berbuat 
keliru. Dan yang akan jauh lebih mengesankan lagi adalah bila kata-kata yang 
kita ucapkan menjadi jalan turunnya hidayah dan taufik-Nya ke dalam hati orang 
lain. Masya Allah, Dia pasti tidak akan pernah lalai untuk mencatat pahala yang 
teramat luar biasa bagi kita, tanpa mengurangi pahala yang diberikan-Nya kepada 
orang tersebut.
Karenanya, usahakanlah kata-kata yang keluar dari lisan ini kita kemas 
sedemikian rupa, sehingga membawa manfaat dan maslahat baik bagi diri sendiri 
maupun bagi jalan hidup serta tumbuhnya motivasi, kehendak, ataupun tekad 
seseorang.
Hanya empat hal dari kata-kata yang paling tinggi nilai dan mutunya, yang 
seyogianya keluar dari lisan kita. Pertama, ketika mendapat karunia nikmat, 
suruhlah lisan ini banyak bersyukur kepada Allah. Kedua, ketika ditimpa 
musibah, segera suruh mulut ini bersabar dengan mengucap inna lillaahi wa inna 
ilayhi raaji'uun. Ketiga, ketika mendapat taufik dari Allah berupa kemamapuan 
beribadah yang lebih baik daripada yang bisa dilakukan orang lain, suruh bunyi 
pula, yakini bahwa semua kemampuan ibadah kita adalah semata-mata berkat 
karunia dari Allah Azza wa Jalla. Terakhir, ketika kita tergelincir berbuat 
dosa, lekas-lekas suruh lisan ini beristigfar memohon ampunan kepada Allah. Dan 
selebihnya adalah sikap hati-hati setiap kali lisan kita hendak berkata-kata.
Hendaknya kita tidak membiarkan mulut ini sembarang berbunyi. Daripada 
berakibat sengsara, lebih baik menahan diri. Sebab, jangankan menyampaikan 
nasihat, bukankah untuk bertanya saja dalam ajaran Islam demikian tinggi 
adabnya.
Misalnya, terhadap seseorang yang kita tahu suka melaksanakan saum sunnah, kita 
bertanya, "Mas, Anda sedang saum?" Padahal di sekelilingnya sedang banyak 
orang. Ini kan pertanyaan yang berat. Betapa tidak? Kalau orang tersebut 
menjawab, "Ya, saya saum," hatinya mungkin bisa tergores-gores karena 
kekhawatirannya berbuat riya. Kalau ia menjawab tidak saum, berarti dusta dan 
itu dosa sekaligus bisa menghilangkan pahala saum-nya. Kalau memilih diam saja, 
bisa-bisa dianggap sombong. Demikian pula kalau hendak berdiplomasi saja, maka 
minimal ia akan kerepotan untuk mencari kata-kata yang tepat. Ini berarti 
pertanyaan kita membebani batin orang dan sekaligus mubazir.
Ada seorang wanita yang bertubuh gemuk, kita tanya, "Berat badan Mbak berapa 
kilo?" Ah, buat apa bertanya semacam ini, karena pasti akan membebani 
perasaannya?
Atau, mendapati seorang teman yang orang tuanya ditimpa musibah bercerai, 
padahal teman tersebut sangat menutup-nutupinya, eh kita malah menanyainya, 
"Oh, sudah bercerai ya? Kapan bercerainya? Mengapa bercerai?" Untuk apa 
pertanyaan ini? Ini kata-kata yang mempersulit orang lain kendatipun 
kenyataannya memang demikian.
Oleh sebab itu, tidak heran kalau para ulama dan orang-orang yang saleh serta 
berkedudukan di sisi Allah, sangat hemat dengan kata-kata. Kendatipun, mungkin 
ilmunya sangat luas, pemahamannya begitu dalam dan jembar, hafal seluruh surat 
Alquran dan ribuan hadis Nabi, telah menyusun berpuluh-puluh kitab yang 
monumental, ibadahnya begitu dahsyat, sementara akhlaknya pun demikian 
cemerlang.
Semua itu karena mereka sangat yakin bahwa kesia-siaan dalam berkata-kata 
pastilah akan mengundang setan dan niscaya pula akan menyeretnya ke dalam 
jurang neraka Saqar (Q.S. Mudatstsir: 45). 
"Tidaklah seseorang itu mendapatkan kesempurnaan hakikat keimanan," demikian 
sabda Rasulullah, "sehingga suka meninggalkan berbantah-bantahan sekalipun ia 
merasa di pihak yang benar." (H.R. Ibnu Abiddunya).
Walhasil, marilah kita tata lisan yang cuma satu-satunya ini. Percayalah, diam 
itu emas. Orang yang sanggup memelihara lisannya akan lebih kuat wibawanya 
daripada orang yang gemar menghambur-hamburkan kata-kata, tetapi kosong makna. 
Berusahalah senantiasa agar kata-kata yang kita ucapkan benar-benar bersih dari 
penambahan-penambahan dan rekayasa yang tiada artinya. Ukurlah selalu, di mana, 
kapan, dan dengan siapa kita berbicara agar setiap kata yang terucap 
benar-benar bermutu dan tinggi maknanya.
Mudah-mudahan Allah Yang Maha Menyaksikan segala-gala senantiasa menolong kita 
agar selalu sadar bahwa rahasia kekuatan lisan yang bisa menggugah dan mengubah 
orang lain itu, berawal dari hati yang tulus ikhlas. Tidak rindu apa pun dari 
yang kita katakan, kecuali rindu kemuliaan bagi yang mendengarkannya, rindu 
demi senantiasa mulia dan tegaknya agama Allah, serta rindu agar segala yang 
kita ucapkan menjadi ladang amal saleh untuk bekal kepulangan kita ke akhirat 
kelak. Insya Allah! Wallahualam.***
   Arsip Kolom


      ________________________________________________________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke