Sudahkah Anak Kita Cerdas (Bag. I)

Oleh : Hartono, S.Pd.* 

Setiap orang tentu meginginkan anak-anaknya tumbuh cerdas dan berprestasi. 
Berbagai cara ditempuh sebagai upaya untuk mewujudkan keinginan tersebut. 
Misalkan saja mengikutsertakan anak-anak mereka ke berbagai tempat bimbingan 
belajar, mengundang guru les dan lain sebagainnya. Hal ini tak lain sebagai 
upaya orang tua agar anak-anak mereka memperoleh nilai rapor teringgi di 
sekolah. Seringkali orang tua menganggap, anak yang mendapat nilai rapor 
tertinggi di sekolah sebagai bukti keberhasilan. Pada akhirnya, mereka merasa 
telah memiliki anak yang cerdas dan berpretasi.
Sangatlah wajar bila orang tua sangat menginginkan anak-anak mereka berprestasi 
dan cerdas. Namun, yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana jika anak-anak 
mereka tidak mampu memenuhi semua keinginan orang tua? Apa yang terjadi jika 
anak ternyata hanya mampu mendapat angka 'merah' untuk nilai matematika di 
rapor? Tak sedikit orang tua yang kemudian cenderung menjastifikasi anak mereka 
sebagai anak bodoh, anak pemalas atau bentuk-bentuk jastifikasi lainnya.
Disadari atau tidak, orang tua sedang membuat label bodoh pada diri anak, 
sehingga akhirnya anak pun akan kehilangan kemampuan diri. Setiap kali anak 
dihadapkan pada sebuah tangtangan, ia cenderung menganggap dirinya tidak mampu 
dan enggan mencoba karena sudah merasa bodoh. Jika ini terjadi, lantas siapa 
yang bersedia disalahkan?
Paradigma kecerdasan anak bagi sebagian besar orang tua adalah ketika anak-anak 
mereka memiliki nilai rapor yang bagus, penurut, patuh, pendiam, atau tidak 
banyak tingkah. Umumnya anak-anak yang demikian dipandang sebagai anak yang 
shaleh yang menjadi kebanggan kedua orang tua.
Padahal, kecerdasan anak tidak bisa dengan mudah diukur oleh seberapa hebat 
kemampuan matematikanya. Masih banyk aspek lainnya yang dimiliki oleh anak-anak 
kita. Anak bisa saja memiliki kecerdasan dalam bahasa, memiliki kemampuan dalam 
berseni, memiliki kemampuan dalam olah fisik (seperti olah raga) dan sebagainya.
Maka, sangat tidak pantas dan mendasar jika orang tua memarahi anak hanya 
karena alasan nilai pelajaran matematika di rapor berwarna merah. Sedangkan di 
satu sisi dalam pelajaran olahraga ia mendapat nilai 8. Ada pula anak yang 
memiliki kemapuan sosial yang tinggi, ia suka menolong kawan-kawannya di 
sekolah, namun dalam berhitung ia sealu lamban dan seringkali mendapat nilai di 
bawah rata-rata dan sering pula merah. Lantas, apakah kita harus serta merta 
mengatakan anak itu bodoh? (bersambung...)
*Pendidik di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al-Fiyah, Pekanbaru 
   Arsip Auladi


      
________________________________________________________ 
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo.com/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke