"Maa, Takut! Itu Siapa?" (bagian I)
Lebaran tiba. Saatnya handai taulan yang berjauhan dan berdekatan bersua.
Suara-suara ceria segera terdengar. Apalagi aroma hidangan sedap hilir mudik
menggoda hidung tiap orang yang dilewatinya. Tiba-tiba mobil sedan biru parker
di depan rumah.
"Sssst... Si kecil Kania dating. Semuanya pura-pura nggak liat ya," sedikit
berteriak tuan rumah seakan memberi instuksi pada semua orang yang orang yang
telah hadir. Serentak semuanya yang hadir manggut-manggut dan segera
nelanjutkan aktivitasnya.
Eiiits, bukan berarti tuan rumah orang-orang yang dimaksud memusuhi Kania loh.
Apalagi Kania baru berusia tiga tahun. Mmmmh.. ada apa ya?
Ternyata, mereka semua sudah cukup belajar dari pengalaman tahun lalu. Saat
itu Kania tak habis-habisnya menangis ketakutan setiap setiap ada orang yang
menyapa atau mencium karena gemas. Ya, semua tahu, Kania kecil sangat takut
pada orang asing atau bahkan saudara yang jarang ia temui. Alhasil semua harus
pura-pura cuek pada si kecil Kania.
***
Merasa takut. Tak ada orang yang tak luput dari rasa takut. Kita pun mungkin
pernah menemui balita yang takut pada orang yang belum dikenalnya. Saat masih
bayi, si kecil tampak santai saja saat orang-orang dewasa mengilir tubuhnya bak
trophy, berebut ingin menggendong. Sejalan dengan bertambahnya usia, belum juga
genap satu tahun, anak pun jadi pilih-pilih. Melihat orang yang tak dikenal,
serta merta ia langsung memeluk ayah dan ibunya.
Beri Kesempatan Anak untuk 'Bergaul'
Perasaan takut itu sendiri adalah fitrah semua manusia. Karena, dengan adanya
rasa takut, manusia jadi waspada terhadap ancaman. Namun, apa bagaimana bila
buah hati kita berubah menjadi orang yang hilang kendali akibat rasa takut yang
berlebihan. Berguling, memeluk erat, menangis bahkan berteriak histeris pun
dilakukan. Tentu tak ada orang tua yang tega melihatnya.
Apa sebab semua ini? Ternyata, ketakutan anak yang berlebihan itu tak luput
dari pean serta orang-orang terdekat. Termasuk ayah dan ibu. "Ketakutan itu
terjadi bukan karena pola asuh. Tapi, lebih karena anak tidak dibiasakan dengan
orang lain. Inilah yang disebut pola situasi dan kondisi," jelas psikolog, Sri
Yenawati.
Umumnya, anak-anak seperti Kania sejak awal tidak biasa diberi kesempatan untuk
lebih mengenal orang asing. Alih-alih memberi kesempatan pada anak untuk
berinteraksi, orang tua justeru sering memberi informasi yang salah dan
menakut-nakuti anak pada sesuatu yang baru dilihatnya. (bersambung...)
Arsip Auladi
________________________________________________________
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
http://id.yahoo.com/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam Google Groups yaitu
"Media Muslim Group". (Group Situs http://www.mediamuslim.info dan
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian
satu-per-satu.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---