Vegetarian Dalam Timbangan Islam
Penyusun: Ummu Ziyad
Muroja'ah: Ustadz Aris Munandar

Mengurangi lemak dengan tidak memakan daging hewan mungkin memang dibutuhkan
untuk beberapa orang yang terkena penyakit kolesterol tinggi. Tapi bagaimana
dengan orang-orang yang benar-benar mengaku sebagai vegetarian sehingga
mereka menghilangkan menu daging hewan secara total dari pola makan mereka?
Mereka berdalih karena rasa kasihan terhadap para hewan, tidak tega dengan
perlakuan para penyembelih hewan dan yang semacamnya. Yang lebih parah lagi,
pada akhirnya mereka menolak berbagai bahan makanan yang berasal dari hewan,
baik itu susu, telur, keju dan yang semacamnya. Sebabnya? Karena untuk
pemerahan susu dikatakan hewan diperlakukan semena-mena, telur itu adalah
cikal bakal anak hewan yang patut untuk hidup, atau kalimat-kalimat
semacamnya. Dengan usaha keras mereka mempertahankan status vegetarian
dengan menonton film yang memang dibuat untuk memperkuat 'keimanan' mereka
akan apa yang mereka lakukan. Mudah-mudahan ukhti muslimah tidak ada yang
ingin ikut-ikutan dengan apa yang mereka lakukan. Mengapa? Coba simak
penjelasannya secara syari'at.

Dalam sebuah kaedah fikih, semua yang merupakan masalah adat, seperti makan,
minum, pakaian, maka semuanya adalah boleh sampai ada dalil yang
mengharamkannya. Berbeda dengan masalah ibadah yang pada dasarnya semua
ibadah adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkannya. Oleh karena
itulah kita tidak bisa sembarangan dalam melakukan ibadah, karena kita harus
mengetahui bahwa hal tersebut benar diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Kembali ke masalah makanan, seperti dikatakan tadi, pada dasarnya, memakan
suatu makanan seluruhnya adalah halal sampai ada dalil syar'i yang
menjelaskan bahwa makanan itu haram. Misalnya, kita diharamkan untuk memakan
tikus, kodok, binatang yang bertaring atau binatang yang bercakar yang
cakarnya itu digunakan untuk memangsa.

Lalu, bagaimana dengan ayam, sapi, kambing dan yang lainnya yang tidak ada
dalil yang menjelaskan bahwa itu adalah haram. Tentu saja jawabannya itu
adalah boleh untuk dimakan. Dan tidaklah mereka diciptakan itu melainkan
sebagai nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk hamba-Nya yang
membutuhkan energi dalam melakukan aktifitas untuk ibadah kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala.ه

"Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah
rezekikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman
kepada-Nya." (QS. Al Maidah [5]: 88)

Jika hewan yang disembelih saja boleh untuk dimakan, maka terlebih lagi susu
atau telur yang dihasilkan oleh hewan tersebut. Bahkan susu juga termasuk
tanda-tanda kekuasaan Allah, sebagaimana dalam firman-Nya,


"Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran
bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya
(berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi
orang-orang yang meminumnya." (QS. An Nahl [16]: 66)

Sebab Lain Terlarangnya Menjadi Seorang Vegetarian

Walau telah jelas dalil-dalil tentang tidak haramnya binatang ternak, ada
baiknya kita juga mengetahui alasan lain mengapa menjadi seorang vegetarian
juga termasuk hal besar yang terlarang dalam agama.

1. Dapat dihukumi keluar dari Islam (kafir)

Hal ini dikarenakan seorang vegetarian telah mengharamkan sesuatu yang telah
dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dengan demikian, seorang
vegetarian telah membuat hukum baru yang bertentangan dengan syari'at. Allah
Ta'ala berfirman,

قُلْ هَلُمَّ شُهَدَاءَكُمُ الَّذِينَ يَشْهَدُونَ أَنَّ اللَّهَ حَرَّمَ هَذَا
فَإِنْ شَهِدُوا فَلا تَشْهَدْ مَعَهُمْ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ
كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَالَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ وَهُمْ
بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

Katakanlah: "Bawalah ke mari saksi-saksi kamu yang dapat mempersaksikan
bahwasanya Allah telah mengharamkan (makanan yang kamu) haramkan ini." Jika
mereka mempersaksikan, maka janganlah kamu ikut (pula) menjadi saksi bersama
mereka; dan janganlah kamu mengikuti hawa hafsu orang-orang yang mendustakan
ayat-ayat Kami, dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat,
sedang mereka mempersekutukan Rabb mereka. (QS. Al-An'am 6:150)

Syaikh Abdurrahman As Sa'di menjelaskan tafsir ayat ini, bahwa ada dua
kemungkinan ketika seseorang diminta untuk mendatangkan dalil/alasan ketika
mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan.

Kemungkinan pertama adalah mereka tidak dapat mendatangkan dalil. Hal ini
menunjukkan batilnya apa yang mereka serukan.

Kemungkinan kedua bahwa mereka mendatangkan alasan yang merupakan kedustaan.
Tentu saja persaksian mereka ini tidak diterima. Dan ini bukanlah termasuk
perkara dimana sah seorang yang adil untuk bersaksi dengannya. Oleh karena
itulah Allah memerintahkan kita untuk tidak mengikuti persaksian mereka.
(Taisirul Karimirrohman)

2. Membuat perkara baru (bid'ah) dalam agama

Hal ini terutama jika pengkhususan memakan makanan hanya dari yang berupa
sayuran tersebut disandarkan kepada agama. Atau dengan kata lain
menjadikannya sebagai sebuah ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

3. Menyerupai Orang Kafir

Tahukah ukhti muslimah, bahwa banyak sekali hadits dari Rasulullah
shalallahu 'alaihi wa sallam yang memerintahkan kita untuk menyelisihi orang
kafir? Sampai-sampai ada seorang Yahudi yang mengatakan,

"Apa yang diinginkan laki-laki ini? Tidak ada satupun urusan kita kecuali ia
pasti menyelisihi kita di dalamnya." (HR. Muslim)

Ukhti muslimah juga tentu telah mengetahui, bahwa para biksu Budha adalah
orang yang sangat teguh untuk tidak memakan daging. Mereka hanya mau makan
makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Maka yang benar, seharusnya
sebagai muslimah kita tidak ikut-ikutan menjadi seorang vegetarian, bahkan
berusaha menyelisihi para biksu (orang-orang kafir) tersebut.

4. Mengingkari nikmat Allah

Daging, susu, telur atau hasil makanan lain yang didapatkan merupakan
kenikmatan yang Allah berikan pada hamba-Nya.


"Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah
rezekikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman
kepada-Nya." (QS. Al Maidah [5]: 88)

5. Mengingkari hukum yang Allah tetapkan

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberitahukan cara untuk dapat memakan
daging dari binatang ternak dengan cara menyembelihnya. Dan tidaklah apa
yang Allah perintahkan melainkan sebuah kebaikan. Maka adalah suatu
kesalahan ketika seorang vegetarian tidak memakan daging karena rasa kasihan
melihat binatang ternak ketika disembelih menggelepar-gelepar, mengejang dan
meregangkan otot, bahkan menyatakan itu tidak berperikemanusiaan (atau tidak
berperikebinatangan?). Sekali lagi perlu kita ingatkan, bahwa tidaklah apa
yang Allah perintahkan dan tentukan merupakan kebaikan walaupun mungkin kita
belum mengetahui hikmahnya.

Alhamdulillah, tentang menyembelih hewan terdapat terdapat hasil penelitian
yang dilakukan oleh Prof. Schultz & Dr. Hazim yang keduanya adalah Animal
Scientists dari Hanover University – Jerman, yang menunjukkan bahwa hewan
yang disembelih tidak merasakan rasa sakit. Hal ini dikarenakan pisau tajam
yang mengiris leher 'tidaklah menyentuh' saraf rasa sakit. Sehingga reaksi
menggelepar, meregang otot dan lainnya hanyalah ekspresi 'keterkejutan otot
dan saraf' saja (saat darah mengalir keluar dengan deras). Dan bukan
ekspresi rasa sakit! (Nanung Danar Dono, S.Pt., M.P).

Berbeda dengan apa yang orang-orang kafir lakukan dimana mereka mematikan
hewan dengan cara dipukul terlebih dahulu dengan alat pemingsan (Captive
Bolt Pistols) baru kemudian disembelih. Alasan mereka adalah agar hewan
tersebut tidak kesakitan ketika disembelih dan daging tetap bagus karena
hewan jatuh dengan pelan. Apalah artinya logika manusia dibandingkan dengan
Allah yang Maha Mengetahui. Ternyata dari hasil penelitian tersebut, hewan
yang dimatikan dengan cara tersebut segera merasakan rasa sakit setelah
dipingsankan bahkan hasil dagingnya tidak sehat untuk konsumen.

Demikianlah syari'at menjelaskan tentang makanan yang berasal dari binatang
ternak. Janganlah tertipu dengan akal kita yang menilai sesuatu hanya
berdasarkan penglihatan lahir dan perasaan semata. Sudah kehilangan
kenikmatan dunia berupa makanan lezat, merugi pula di akhirat karena berbuat
dosa. Na'udzu billah min dzalik.

Maraji':

   1. Jilbab Wanita Muslimah, Syaikh Nashiruddin Al Albani.
   2. Taisirul Karimirahman, Syaikh Abdurrahman As Sa'di.
   3. Fadhilah IPTEK - Islam: Trying to be The Real Moslem, Nanung Danar
Dono, S.Pt, M.P

***

Diambil dari : Artikel www.muslimah.or.id

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke