ass.wr.wb,
saudaraku yang "tidak boleh bilang" adalah makan daging tidak boleh. Karena 
ternak disediakan Allah SWT untuk kebutuhan hidup akan protein. Tetapi jika 
enggak doyan atau alasan kesehatan semisal udang ada yang alaergi bukan berarti 
orang itu mengharamkan daging untuk dimakan . Keterangan saudara kita  bahwa 
vegetarian bertentangan dengan firman Allah SWT jika kaum vegetarian berpaham 
daging ternak TIDAK boleh...., 
Syukron 



----- Pesan Asli ----
Dari: yoedha pamungkas <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Kamis, 15 Mei, 2008 18:35:33
Topik: [mediamusliminfo] Re: Vegetarian Dalam Timbangan Islam


kalau saya vegetarian apakah saya kafir..??(sebagai sebuah kondisi saya akui 
saya kafir tapi bukan pada status)
ampun ...ya Allah sedemikian mudahnya kita mengkafirkan orang lain cuma 
gara-gara vegetarian 
mbak.. mas kalau makan daging membawa mudharat kepada jasad saya( darah tinggi 
kolestrol) dan saya tidak mengharamkan daging(cuma gak makan) apakah secepat 
itu saya di labeli kafir...???
 
mungkin penjelasan di bawah ini sedikit membuka wawasan sahabat sahabat 
sekalian tentang istilah kafir
Mari kita buka Al-Qur'an. Kita biasakan mencari definisi qur'aniyah dari segala 
istilah agama yang kita kenal. Dengan demikian, kita akan terbiasa untuk 
membuka Al-Qur'an dan pelan-pelan Insya Allah kita akan merasakan Al-Qur'an 
benar-benar berfungsi bagi kehidupan kita. Kita belajar untuk memahami agama 
ini, bukan sekedar menghafal dalil-dalil agama yang belum tentu benar, apa lagi 
menggunakannya untuk, misalnya, mendebat orang lain. Ini tentu bukan hal yang 
baik.

Definisi qur'aniyyah dari kata 'orang kafir', bisa kita temukan di surat 
Al-Kahfi ayat 100 dan 101.


Q.S. 18:100, "dan Kami tampakkan Jahannam pada hari itu kepada orang-orang 
kafir (Al-Kafiriin) dengan jelas."
Q.S. 18:101, "yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari 
'zikri' (diterjemahkan di terjemahan qur'an bahasa Indonesia dengan kata 
'memperhatikan') terhadap tanda-tanda kebesaran-Ku, dan adalah mereka tidak 
sanggup mendengar."
Dari dua ayat di atas, kita dapatkan definisi qur'aniyyah dari kata 'kafir'. 
Al-Kafiriin, atau orang-orang kafir, adalah mereka yang matanya tertutup dari 
'zikri' terhadap tanda-tanda kebesaran Allah, dan telinganya tidak sanggup 
mendengar.
Jika demikian, apakah orang yang kebetulan ketika lanjut usia ia menjadi tuli 
atau menjadi buta karena usia tua, apakah ia berarti ditakdirkan akan mati 
dalam keadaan kafir? Atau, jika seseorang kebetulan ditakdirkan tuli atau buta 
sejak lahir, apakah artinya ia ditakdirkan untuk hidup sebagai orang kafir? 
Sebab sama sekali bukan keinginannya untuk dilahirkan sebagai orang buta atau 
tuli. Apakah Allah menakdrkannya kafir karena kebetulan lahir sebagai orang 
tuli atau buta?
Tentu jawabannya tidak. Semua orang, termasuk mereka yang buta atau tuli, 
diberi-Nya kesempatan untuk mati kelak dalam keadaan diridhoi-Nya.
Jika demikian, mata dan telinga mana yang tertutup?
Jawabannya bisa kita dapatkan pada Al-Qur'an surat Al-Hajj (22) ayat 46.
Q.S. 22:46, "Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka 
mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga 
yang dengan itu dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang 
buta, tetapi yang buta ialah qalb-qalb mereka (quluubun) yang ada di dalam 
dada."
Dari definisi Qur'an tersebut, yang disebut 'kafir' bukanlah orang yang berbeda 
agama. Yang disebut kafir adalah mereka yang mata dan telinga qalb di dalam 
dadanya tidak berfungsi. Asal kata 'kafir' dan 'kufur' adalah 'kafara' yang 
artinya 'tertutup' (kata ini jkemudian diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi 
'cover' artinya penutup). 'Kafir' adalah mereka masih yang tertutup dari 
'Al-Haqq' (kebenaran mutlak).
Mata dan telinga yang di dalam dada, maksudnya adalah mata dan telinga yang 
adanya bukan pada level jasad kita, tapi lebih dalam lagi. Mata dan telinga 
yang dimaksud adalah mata dan telinga yang ada dalam qalb kita, dalam 
dada/shuduur, yang ada pada level jiwa (nafs). Shuduur artinya 'dada 
spiritual', sebagaimana hati yang biasa kita kenal bukanlah liver maupun 
jantung, tapi lebih kepada 'hati spiritual' seperti nurani.
Jiwa atau nafs itu, jiwa yang mana? Kita mengetahui, bahwa ada tiga unsur yang 
dipersatukan dalam membentuk satu manusia yang hidup, yaitu Ruh, Nafs (jiwa), 
dan Jasad. Jiwa inilah, yang diabadikan dalam Q.S. 7:172, yang dahulu sekali 
disumpah di hadapan Allah untuk menjadi saksi (syahid, perhatikan kata bahasa 
arabnya: syahidna, kami bersaksi) mengenai siapakah Rabb mereka.
Q.S. 7:172, "Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu mengeluarkan anak-anak Adam dari 
sulbi mereka dan Allah mengambil persaksian terhadap nafs-nafs (jiwa-jiwa, 
anfusihim) mereka: "Bukankah aku ini Rabb-mu?" Mereka menjawab, "Betul, kami 
bersaksi (syahidna)".
Nafs, atau jiwa, inilah yang diminta persaksiannya dahulu, dan kelak akan 
diminta pertanggungan jawabnya ketika mati. Sementara pada saat itu jasad kita 
terurai menjadi tanah, dan ruh kita yang menjadi daya hidup bagi jasad 
(fungsinya mirip seperti energi yang ada pada baterai) kembali pada-Nya. Kita 
tidak mengetahui apa-apa tentang ruh, karena ruh adalah urusan Allah. 
Disebutkan dalam Q.S. 17 : 85, "Katakanlah, Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, 
dan tidaklah kamu diberi pengetahuan (tentangnya) melainkan sedikit."
Dengan demikian, barangsiapa yang mata dan telinga yang ada dalam dadanya ini 
belum berfungsi, pada dasarnya ia masih 'kafir', atau tertutup. Ia tidak akan 
bisa memahami petunjuk Allah, karena petunjuk Allah diturunkan bukan ke telinga 
dan mata jasad kita, tapi ke 'mata dan telinga' qalb pada level jiwa (nafs) 
kita.
Dasar dari hal ini bisa kita lihat dalam surat At-Taghabuun ayat 11:
Q.S. 64:11, "... Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi 
petunjuk kepada qalb nya (di terjemahan qur'an ditulis: 'kepada hatinya')."
Dan, barangsiapa yang mata dan telinga dalam dadanya belum berfungsi, dia tidak 
akan mampu memahami Al-Qur'an dengan sebenar-benarnya, karena Al-Qur'an 
sebenarnya bukan untuk dihafal dalam otak. Sebagaimana yang dialami Rasulullah, 
Al-Qur'an diturunkan ke dalam dadanya. Rasulullah seorang yang buta huruf, tapi 
bagaimana Beliau saw. bisa memahami Al-Qur'an hingga ke hakikat terdalamnya? 
Karena Al-Qur'an seharusnya, dan sesungguhnya, ada dalam dada, bukan dalam 
kepala. 
Q.S. 29:49, "Sebenarnya (Al-Qur'an) itu adalah ayat-ayat yang nyata dalam dada 
orang-orang yang diberi ilmu."
Al-Qur'an dalam dada (qalb di dalam shuduur/dada) kita inilah yang akan kita 
bawa hingga ke akhirat kelak, dan bukan Al-Qur'an yang dihafalkan dalam kepala. 
Ketika mati kelak, otak kita dan segala apa yang ada dalam kepala kita akan 
hancur menjadi tanah. Kita harus memahami dengan hati hingga ke tingkat makna 
dan hakikatnya, bukan sekedar menghafalkan dalil-dalil Qur'ani di kepala.
Dari data-data di atas, maka bisa kita pahami makna  'Kafir' adalah mereka yang 
telinga dan mata dalam dadanya belum berfungsi, sehingga tertutup dari Al-Haqq 
(kebenaran mutlak, kebenaran Ilahiyah). Dengan demikian, bahkan saya sendiri 
masih kafir karena mata dan telinga jiwa saya belum berfungsi dengan baik, 
belum sempurna dalam melihat tanda-tanda kebesaran-Nya, dan belum memahami 
Al-Qur'an dengan sempurna.
Untuk memperkuat bahwa makna 'kafir' sebenarnya ada dalam konteks ketertutupan 
qalb  kita lihat lagi dua ayat berikut yang sangat terkenal:
Q.S. Al-Baqarah (2) : 6 - 7, 


"Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan 
atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman [6]."
"Allah telah mengunci mati hati (qalb-qalb, quluubihim) dan pendengaran mereka, 
dan pengelihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat [7]."
Sayang dua ayat di atas sering dijadikan dalil untuk bersikap kurang bersahabat 
terhadap saudara kita yang beragama lain. Padahal, seandainya kita lebih teliti 
lagi, kata 'kafir' sebenarnya ada dalam konteks ketertutupan hati.
Ayat ini sama sekali bukan rujukan supaya kita menunjukkan sikap tidak 
bersahabat pada saudara-saudara kita dari agama lain. Ayat ini justru 
memperkuat keterangan tadi, bahwa 'kafir' ada dalam konteks ketertutupan qalb, 
Tentu ini sama sekali bukan kebetulan yang tanpa makna. 'Kafir' adalah sebuah 
kondisi (ruhaniyyah) tentang qalb, bukan status (keagamaan).
Jadi, secara sederhana bisa kita katakan bahwa orang kafir adalah orang yang 
qalb-nya masih tertutup dari Al-Haqq (kebenaran ilahiyah), dan tidak secara 
langsung terkait dengan orang-orang yang tidak beragama Islam. 
Kondisi kafir sendiri bertingkat-tingkat, dari yang sama sekali tidak bisa 
memahami Al-Haqq, sedikit memahami, agak memahami, cukup memahami, dan 
seterusnya. Kadar kekufuran seseorang berbeda-beda, tergantung sejauh mana ia 
mampu memahami kebenaran (ilahiyyah). Kini semakin jelas bahwa kekafiran adalah 
sebuah kondisi, bukan status.
Karena saya sendiri masih kafir (atau masih banyak kekufuran yang ada dalam 
diri saya) 

-- 
lebih baik nekat ke surga dari pada terencana masuk neraka 


      Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang 
juga.
http://id.toolbar.yahoo.com/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke