Dua Prinsip Agung<http://www.adanipermana.co.cc/Tafsir/dua_prinsip_agung.htm>

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ذَلِكُمُ
اللَّهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

Allah berfirman: "Tentang sesuatu apapun kamu berselisih maka putusannya
(terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah
Tuhanku. Kepada-Nyalah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali)"
(Asy-Syura: 10)

Keterangan dan kandungan ayat:

Firman Allah: "*Tentang sesuatu apapun kamu berselisih*" maksudnya masalah
prinsip-prinsip dan cabang-cabang agama yang tidak kalian sepakati.

Firman Allah: "*maka putusannya (terserah) kepada Allah*" maksudnya
dikembalikan kepada kitab Allah dan sunah Nabi sholallahu 'alaihi wasallam,
Apapun putusan yang tersebut di dalamnya adalah benar, sedang yang
bertentangan dengannya adalah salah. Atas kepasrahaan kita untuk meyerahkan
keputusannya kepada Allah bukanlah tanpa proses, bagaimana proses tersebut,
sebagaimana dijelaskan ayat berikut ini:

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan
ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang
sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul
(sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. An Nisa :
59

Firman Allah : *Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka
kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya) *, ayat ini
dengan jelas dan tegas tidak ada jalan lain selain mengembalikan semua
permasalahan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah telah wafat maka sekarang yang dijadikan dasar adalah
Sunnahnya, yaitu
segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad berupa perkataan,
perbuatan, atau persetujuannya (terhadap perkataan atau perbuatan para
sahabatnya) yang ditujukan sebagai syari'at bagi umat ini. *Termasuk
didalamnya apa saja yang hukumnya wajib dan sunnah sebagaimana yang menjadi
pengertian umum menurut ahli hadits*. Juga *'segala apa yang dianjurkan yang
tidak sampai pada derajat wajib'* yang menjadi istilah ahli fikih *(Lihat
Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi fil Aqaid wa al Ahkam karya As-Syaikh Muhammad
Nashiruddin Al-Albani, hal. 11)*

Dikemudian hari setelah masa kenabian berlalu 14 abad, ada sebagian manusia
yang mengembalikan segala permasalah yang terjadi diantara umat, dengan
jalan mengembalikannya kepada Al Qur'an dan Akal atau Al Qur'an dan Hawa
Nafsu. Maka tentu saja Sunnah lambat laun akan hilang, maka jangan meresa
aneh jika ada sebagian manusia yang masih tetap menjalankan sunnah Rasul di
masa sekarang dipandang aneh.

Jangan merasa bimbang atas keterasingan serta keanehan itu, karena
orang-orang yang masih berpegang teguh dengan Al Qur'an dan Sunnah Rasul,
telah dipredikcsi di akhir zaman, sebagaimana sabdanya:

*بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى
لِلْغُرَبَاءِ*

*"Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana
awalnya, maka thuuba (beruntunglah) orang-orang yang asing."* (HR Muslim).

Islam hadir pada masa Rasulullah Muhammad penuh dengan segala bentuk
kebodohan yang ada, dan diakhir zaman masa itu akan kembali, yakni masa
kebodohan tersebut, orang berbicara agama tanpa ilmu, keburukan dan segala
macam kejelakan sudah kita dapati di negara Indonesia ini.

Kemudian dikatakanlah orang yang selalu memegang tegus as sunnah dengan
sebutan islam ortodhok, wahabiesme, salafiesme, ahlusunnahaisme, atau
nama-nama lain yang memojokan umat yang masih memegang tegus As Sunnah.

Sesungguhnya yang ada pada jiwa manusia yang menyebut umat yang masih
berpegang teguh kepada As sunnah, bukanlah ilmu yang berbicara, melainkan
hawa nafsu yang diserat hatinya...

Dari Hudzaifah ra., ia berkata: Ketika kami bersama Umar ra. ia bertanya:
Siapakah di antara kalian yang mendengar Rasulullah sholallahu 'alaihi
wasallam bersabda tentang fitnah? Beberapa sahabat berkata: Kami pernah
mendengarnya. Umar berkata: Barangkali yang kalian maksudkan adalah fitnah
seseorang berhubungan dengan keluarga dan tetangganya? Mereka menjawab: Ya,
benar. Umar berkata: Itu bisa dihapus dengan salat, puasa dan zakat. Tetapi
(yang aku maksud), siapakah di antara kalian yang pernah mendengar sabda
Nabi sholallahu 'alaihi wasallam: Fitnah yang berombak seperti ombak laut?
Orang-orang terdiam. Lalu Hudzaifah berkata: Aku. Umar berkata: Engkau,
beruntung ayahmu (Lillahi abuka, pujian orang Arab kepada seorang yang
istimewa). Kata Hudzaifah: Aku mendengar Rasulullah sholallahu 'alaihi
wasallam bersabda: Fitnah-fitnah akan melekat di hati bagaikan tikar, dengan
berulang-ulang. Setiap hati yang termakan fitnah itu, maka pada hatinya akan
terdapat bintik hitam dan setiap hati yang menolaknya, maka akan muncul
bintik putih. Sehingga hati tersebut menjadi terbagi dua, putih yang
bagaikan batu besar, sehingga tidak akan terkena bahaya fitnah, selama masih
ada langit dan bumi. Sedangkan bagian yang lain hitam keabu-abuan seperti
kuali terbalik, tidak tahu mana yang baik dan mana yang buruk, *kecuali
hanya hawa nafsu yang diserap (hatinya)*. (Shahih Muslim No.207)

Sesungguhnya fitnah-fitnah yang telah ada disetiap golongan umat adalah
karena tidak mau mengembalikan setiap permasalahan kepada Al Qur'an dan
Sunnah Nabinya, mereka lebih mengagungkan akal dibanding wahyu,
mengunggulkan rasa egioisme dan rasa takut kehilangan jama'ah yang telah
membesarkan namanya.

Rasulullah Sholallhu 'alaihi wasallam bersabda "*Ketahuilah, sesungguhnya
aku diberi Al-Qur`an dan (sesuatu) yang serupa dengannya." -yakni As-Sunnah-
*, (H.R. Abu Dawud no.4604 dan yang lainnya dengan sanad yang shahih, juga
diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad IV/130)

Dengan kata lain bahwa As Sunnah adalah wahyu karena digandengkan dengan
alqur'an, sebagaimana sabda Rasulullah diatas. Begitupula dengan firman
Allah, "*Dan tiadalah yang diucapkannya (Muhammad) itu menurut kemauan hawa
nafsunya.*" (Q.S. An-Najm:3)

Jangan berkecil hati jika bertemu orang-orang yang hanya mengandalkan Al
Qur'an saja dimasa sekarang ini atau menolak hadits secara frontal, karena
orang seperti ini sudah diprediksi oleh Rasulullah 14 abad yang lalu

Abu Rafi' berkata bahwa Rasulullah bersabda :*"Sungguh, akan aku dapati
salah seorang dari kalian bersantai di atas tempat duduknya, yang apabila
sampai kepadanya hal-hal yang aku perintahkan atau aku larang dia berkata,
'Saya tidak tahu. Apa yang ada dalam Al-Qur`an itulah yang akan kami ikuti",
(HR Imam Ahmad VI/8 , Abu Dawud (no. 4605), Tirmidzi (no. 2663), Ibnu Majah
(no. 12), At-Thahawi IV/209)*

Idiom pada sabda Rasululah "*bersantai di atas tempat duduknya,*" adalah
kiasan kepada orang-orang yang malas mempelajari hadist serta ilmu-ilmu yang
berkaitan dengannya.

Namun dijika ditanya kepada mereka mengapa menolak hadist, mereka dengan
bangga menjawabnya dengan panjang lebar, namun jawabannya tidak beraturan
alias ngawur.

Ya memang jelas dan tepat kiasan yang diberikan Rasulullah  bahwa mereka
tidak mau mempelajari hadits karena *kemalasannya, *dan patut diakui
diantara kaidah ilmu islam yang paling ngejelimet adalah belajar hadist. Hal
ini "ngejelimet" karena begitu hati-hatinya para ahli hadits dalam menerima
atau menolak sebuah hadits. Mereka butuh ketekunan dan kesabaran.

Diakhir Surah An Nisa 59 diatas dijelaskan "*jika kamu benar-benar beriman
kepada Allah dan hari kemudian*", yakni, jika memang kita ber-iman kepada
Allah dan Hari Akhir maka mengembalikan semua urusan dan perselisihan
diantar umat dengan umat, umat dengan ulil amri, adalah dengan mengembalikan
kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan demikian keutuhan umat akan terjaga dan
itu mencukupi dan *yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya. [Akhir Surah An Nisa : 59]*

Pada akhirnya kepasrahan kita kepada Allah harus dilakukan dengan
mengembalikan semua hal kepada Al Qur'an dan Sunnah-nya.

Ada sebagaian orang berkata, "kita tidak perlu memvonis jama'ah A sesat dan
Jama'ah B melakukan Bid'ah", biasanya orang seperti ini diakhirnya seperti
pahlawan dan berkata" Jangan pernah menuduh bid'ah atau sesat karena
kebenaran itu milik Allah atau biar Allah yang memutuskan". Orang seperti
ini yang berani saya katakan salah mengartikan Makna Surah Asyura ayat 10
tersebut, kepasrahan kita kepada Allah dalam menghadapi masalah adalah
dengan proses, melihat latar belakang permasalahan, studi komperatif data
[Al Qur'an dan As Sunnah], dan kesimpulan baru menyerahkan kepada Allah

Kembali ke firman Allah Asy Syura ayat 10

Firman Allah "*itulah Allah Tuhanku*" maksudnya; Allah, sebagaimana Dia
adalah Tuhan Yang Maha Pencipta, Pemberi rezeki dan pengatur, Dia juga
sebagai hakim antara para hamba-Nya dengan syariat-Nya dalam semua urusan
mereka.

Dari ayat dapat diambil kesimpulan bahwa Ijma' (konsensus ulama) adalah
dalil yang qath'i adalah dasar hukum yang jelas. Hal itu, karena Allah swt.
tidak memerintahkan untuk merujuk kepada-Nya kecuali dalam urusan yang kita
perselisihkan. Dari itu maka semua hal yang sudah kita sepakati adalah
cukup. Umat terjaga dari kesalahan, dari itu kesepakatannya sesuai dengan
kitab Allah dan sunah Rasul-Nya.

Firman Allah: "*Kepada-Nyalah aku bertawakal*" yaitu, "Aku bersandar dengan
hatiku kepada-Nya dalam mendatangkan manfaat/maslahat dan menolak mudarat.
Aku percaya kepada-Nya dalam menolongku dalam urusan itu."

Firman Allah swt.: "*kepada-Nyalah aku kembali*" yaitu, "Aku menghadap
dengan hati dan badanku kepada-Nya, juga kepada ketaatan dan beribadah
kepada-Nya.

Tawakal dan kembali adalah dua prinsip agung yang sering disebut oleh Allah
dalam kitab-Nya. Karena dengan keduanya seorang hamba mencapai kesempurnaan,
dan akan tidak sempurna dengan kehilangan salah satu atau keduanya. Allah
berfirman: "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah
kami mohon pertolongan" dan "Sembahlah Allah dan bertawakallah kepada-Nya"

Kesimpulan:

   1.

   Jika terjadi perselisihan diantara umat, maka jalan keluar adalah
   mengembalikan kepada Allah dan Rasulnya [As Sunnah]
   2.

   Bertawakal dan bersabar kepada-Nya

Wallahu'alam bimorodihi... (Allahlah yang Maha Mengetahui semua yang
dimaksud dalam hal ini)

Sumber *Tafsir Ibnu
Sa'di*<http://www.qurancomplex.org/Quran/tafseer/Tafseer.asp?nSora=42&t=saady&l=arb&nAya=10#42_10>,
dan penambahan dari saya [Dani Permana] merujuk Sahih Bukhori, Sahih Muslim,
Sunan Abu Dawud, Sunan Atirmidzi, Ibnu Majah

Post in *Tafsir* <file:///C:/Data/adanipermana/Tafsir/index.htm>, *Dua
Prinsip Agung* <file:///C:/Data/adanipermana/Tafsir/dua_prinsip_agung.htm>,
June 12, 2008 10:41:36 AM

-- 
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,

A Dani Permana
www.adanipermana.co.cc
www.computer-knowledge.biz

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke