no coment....tunggu kalo sudah kiamat ...di hisab..nah nanti kita liat siapa
yang masuk neraka..syiah
..sunni...nu...muhammdiyah...salafy...fpi...fui...mui...ddi...apalagiyah?....pokokeno
coment
On 6/30/08, Mina Lestari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> *Syi'ah sangat berbeda dengan Sunni. Pencetus Syi,ah adalah seorang
> Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba', yang pura-pura masuk Islam untuk
> memecah belah umat Islam*. Silahkan baca artikel di bawah ini tentang
> Syi'ah.
>
> Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi Al-Atsari
>
> Serupa tapi tak sama. Barangkali ungkapan ini tepat untuk menggambarkan
> Islam dan kelompok Syi'ah. Secara fisik, memang sulit dibedakan antara
> penganut Islam dengan Syi'ah. Namun jika ditelusuri -terutama dari sisi
> aqidah- perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga, tidak
> mungkin disatukan.
>
> Apa Itu Syi'ah?
> Syi'ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut
> seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas
> suatu perkara. (Tahdzibul Lughah, 3/61, karya Azhari dan Tajul Arus, 5/405,
> karya Az-Zabidi. Dinukil dari kitab Firaq Mu'ashirah, 1/31, karya Dr. Ghalib
> bin 'Ali Al-Awaji)
>
> Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa
> Ali bin Abu Thalib lebih utama dari seluruh shahabat dan lebih berhak untuk
> memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu
> sepeninggal beliau. (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2/113, karya
> Ibnu Hazm)
>
> Syi'ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan
> bergulirnya waktu, kelompok ini terpecah menjadi lima sekte yaitu
> Kaisaniyyah, Imamiyyah (Rafidhah), Zaidiyyah, Ghulat, dan Isma'iliyyah. Dari
> kelimanya, lahir sekian banyak cabang-cabangnya. (Al-Milal Wan Nihal, hal.
> 147, karya Asy-Syihristani)
> Dan tampaknya yang terpenting untuk diangkat pada edisi kali ini adalah
> sekte Imamiyyah atau Rafidhah, yang sejak dahulu hingga kini berjuang keras
> untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin.
>
> Dengan segala cara, kelompok sempalan ini terus menerus menebarkan berbagai
> macam kesesatannya. Terlebih lagi kini didukung dengan negara Iran-nya.
> Rafidhah , diambil dari yang menurut etimologi bahasa Arab bermakna ,
> meninggalkan (Al-Qamus Al-Muhith, hal. 829).
>
> Sedangkan dalam terminologi syariat bermakna: Mereka yang menolak imamah
> (kepemimpinan) Abu Bakr dan 'Umar radiyallahu 'anhum, berlepas diri dari
> keduanya, dan mencela lagi menghina para shahabat Nabi radiyallahu 'anhu.
> (Badzlul Majhud fi Itsbati Musyabahatir Rafidhati lil Yahud, 1/85, karya
> Abdullah Al-Jumaili)
> Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: "Aku telah bertanya kepada ayahku,
> siapa Rafidhah itu? Maka beliau menjawab: 'Mereka adalah orang-orang yang
> mencela Abu Bakr dan 'Umar'." (Ash-Sharimul Maslul 'Ala Syatimir Rasul hal.
> 567, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah)
>
> Sebutan "Rafidhah" ini erat kaitannya dengan Zaid bin 'Ali bin Husain bin
> 'Ali bin Abu Thalib dan para pengikutnya ketika memberontak kepada Hisyam
> bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H. (Badzlul Majhud, 1/86)
> Asy-Syaikh Abul Hasan Al-Asy'ari berkata: "Zaid bin 'Ali adalah seorang
> yang melebihkan 'Ali bin Abu Thalib atas seluruh shahabat Rasulullah,
> mencintai Abu Bakr dan 'Umar, dan memandang bolehnya memberontak terhadap
> para pemimpin yang jahat. Maka ketika ia muncul di Kufah, di tengah-tengah
> para pengikut yang membai'atnya, ia mendengar dari sebagian mereka celaan
> terhadap Abu Bakr dan 'Umar. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka
> (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka ia katakan kepada mereka: "Kalian
> tinggalkan aku?" Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan Rafidhah
> dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka "Rafadhtumuunii." (Maqalatul
> Islamiyyin, 1/137). Demikian pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu
> Taimiyyah dalam Majmu' Fatawa (13/36).
>
> Rafidhah pasti Syi'ah, sedangkan Syi'ah belum tentu Rafidhah. Karena tidak
> semua Syi'ah membenci Abu Bakr dan 'Umar sebagaimana keadaan Syi'ah
> Zaidiyyah.
> Rafidhah ini terpecah menjadi beberapa cabang, namun yang lebih ditonjolkan
> dalam pembahasan kali ini adalah Al-Itsna 'Asyariyyah.
>
> Siapakah Pencetusnya?
> Pencetus pertama bagi faham Syi'ah Rafidhah ini adalah seorang Yahudi dari
> negeri Yaman (Shan'a) yang bernama Abdullah bin Saba' Al-Himyari, yang
> menampakkan keislaman di masa kekhalifahan 'Utsman bin Affan.
> Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: "Asal Ar-Rafdh ini dari munafiqin
> dan zanadiqah (orang-orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan
> kekafiran, pen). Pencetusnya adalah Abdullah bin Saba' Az-Zindiq. Ia
> tampakkan sikap ekstrim di dalam memuliakan 'Ali, dengan suatu slogan bahwa
> 'Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma'shum
> (terjaga dari segala dosa, pen)." (Majmu' Fatawa, 4/435)
>
> Sesatkah Syi'ah Rafidhah ?
> Berikut ini akan dipaparkan prinsip (aqidah) mereka dari kitab-kitab mereka
> yang ternama, untuk kemudian para pembaca bisa menilai sejauh mana kesesatan
> mereka.
>
> a. Tentang Al Qur'an
> Di dalam kitab Al-Kaafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih
> Al-Bukhari di sisi kaum muslimin), karya Abu Ja'far Muhammad bin Ya'qub
> Al-Kulaini (2/634), dari Abu Abdullah (Ja'far Ash-Shadiq), ia berkata :
> "Sesungguhnya Al Qur'an yang dibawa Jibril kepada Muhammad Shallallahu
> 'alaihi wassalam (ada) 17.000 ayat."
>
> Di dalam Juz 1, hal 239-240, dari Abu Abdillah ia berkata: "…Sesungguhnya
> di sisi kami ada mushaf Fathimah 'alaihas salam, mereka tidak tahu apa
> mushaf Fathimah itu. Abu Bashir berkata: 'Apa mushaf Fathimah itu?' Ia (Abu
> Abdillah) berkata: 'Mushaf 3 kali lipat dari apa yang terdapat di dalam
> mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari Al Qur'an
> kalian…'."
> (Dinukil dari kitab Asy-Syi'ah Wal Qur'an, hal. 31-32, karya Ihsan Ilahi
> Dzahir).
>
> Bahkan salah seorang "ahli hadits" mereka yang bernama Husain bin Muhammad
> At-Taqi An-Nuri Ath-Thabrisi telah mengumpulkan sekian banyak riwayat dari
> para imam mereka yang ma'shum (menurut mereka), di dalam kitabnya Fashlul
> Khithab Fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab, yang menjelaskan bahwa Al
> Qur'an yang ada ini telah mengalami perubahan dan penyimpangan.
>
> b. Tentang shahabat Rasulullah
> Diriwayatkan oleh Imam Al-Jarh Wat Ta'dil mereka (Al-Kisysyi) di dalam
> kitabnya Rijalul Kisysyi (hal. 12-13) dari Abu Ja'far (Muhammad Al-Baqir)
> bahwa ia berkata: "Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi, dalam keadaan
> murtad kecuali tiga orang," maka aku (rawi) berkata: "Siapa tiga orang itu?"
> Ia (Abu Ja'far) berkata: "Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan
> Salman Al-Farisi…" kemudian menyebutkan surat Ali Imran ayat 144. (Dinukil
> dari Asy-Syi'ah Al-Imamiyyah Al-Itsna 'Asyariyyah Fi Mizanil Islam, hal. 89)
> Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya'qub Al-Kulaini berkata: "Manusia (para
> shahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang:
> Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi."
> (Al-Kafi, 8/248, dinukil dari Asy-Syi'ah Wa Ahlil Bait, hal. 45, karya Ihsan
> Ilahi Dzahir)
> Demikian pula yang dinyatakan oleh Muhammad Baqir Al-Husaini Al-Majlisi di
> dalam kitabnya Hayatul Qulub, 3/640. (Lihat kitab Asy-Syi'ah Wa Ahlil Bait,
> hal. 46)
> Adapun shahabat Abu Bakr dan 'Umar, dua manusia terbaik setelah Rasulullah
> Shallallahu 'alaihi wassalam, mereka cela dan laknat. Bahkan berlepas diri
> dari keduanya merupakan bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu,
> didapati dalam kitab bimbingan do'a mereka (Miftahul Jinan, hal. 114), wirid
> laknat untuk keduanya:
> "Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan
> keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan
> thaghut keduanya, serta kedua putri mereka…(yang dimaksud dengan kedua putri
> mereka adalah Ummul Mukminin 'Aisyah dan Hafshah)"
> (Dinukil dari kitab Al-Khuthuth Al-'Aridhah, hal. 18, karya As-Sayyid
> Muhibbuddin Al-Khatib)
>
> Mereka juga berkeyakinan bahwa Abu Lu'lu' Al-Majusi, si pembunuh Amirul
> Mukminin 'Umar bin Al-Khaththab, adalah seorang pahlawan yang bergelar "Baba
> Syuja'uddin" (seorang pemberani dalam membela agama). Dan hari kematian
> 'Umar dijadikan sebagai hari "Iedul Akbar", hari kebanggaan, hari kemuliaan
> dan kesucian, hari barakah, serta hari suka ria. (Al-Khuthuth Al-'Aridhah,
> hal. 18)
>
> Adapun 'Aisyah dan para istri Rasulullah lainnya, mereka yakini sebagai
> pelacur -na'udzu billah min dzalik-. Sebagaimana yang terdapat dalam kitab
> mereka Ikhtiyar Ma'rifatir Rijal (hal. 57-60) karya Ath-Thusi, dengan
> menukilkan (secara dusta) perkataan shahabat Abdullah bin 'Abbas terhadap
> 'Aisyah: "Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur
> yang ditinggalkan oleh Rasulullah…" (Dinukil dari kitab Daf'ul Kadzibil
> Mubin Al-Muftara Minarrafidhati 'ala Ummahatil Mukminin, hal. 11, karya Dr.
> Abdul Qadir Muhammad 'Atha)
>
> Demikianlah, betapa keji dan kotornya mulut mereka. Oleh karena itu,
> Al-Imam Malik bin Anas berkata: "Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi
> untuk menghabisi Nabi namun tidak mampu. Maka akhirnya mereka cela para
> shahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa ia (Nabi Muhammad) adalah seorang
> yang jahat, karena kalau memang ia orang shalih, niscaya para shahabatnya
> adalah orang-orang shalih." (Ash-Sharimul Maslul 'ala Syatimirrasul, hal.
> 580)
>
> c. Tentang Imamah (Kepemimpinan Umat)
> Imamah menurut mereka merupakan rukun Islam yang paling utama3.
> Diriwayatkan dari Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (2/18) dari Zurarah dari Abu
> Ja'far, ia berkata: "Islam dibangun di atas lima perkara:… shalat, zakat,
> haji, shaum dan wilayah (imamah)…" Zurarah berkata: "Aku katakan, mana yang
> paling utama?" Ia berkata: "Yang paling utama adalah wilayah." (Dinukil dari
> Badzlul Majhud, 1/174)
>
> Imamah ini (menurut mereka -red) adalah hak 'Ali bin Abu Thalib radiyallahu
> 'anhu dan keturunannya sesuai dengan nash wasiat Rasulullah. Adapun selain
> mereka (Ahlul Bait) yang telah memimpin kaum muslimin dari Abu Bakr, 'Umar
> dan yang sesudah mereka hingga hari ini, walaupun telah berjuang untuk
> Islam, menyebarkan dakwah dan meninggikan kalimatullah di muka bumi, serta
> memperluas dunia Islam, maka sesungguhnya mereka hingga hari kiamat adalah
> para perampas (kekuasaan). (Lihat Al-Khuthuth Al-'Aridhah, hal. 16-17)
>
> Mereka pun berkeyakinan bahwa para imam ini ma'shum (terjaga dari segala
> dosa) dan mengetahui hal-hal yang ghaib. Al-Khumaini (Khomeini) berkata:
> "Kami bangga bahwa para imam kami adalah para imam yang ma'shum, mulai 'Ali
> bin Abu Thalib hingga Penyelamat Umat manusia Al-Imam Al-Mahdi, sang
> penguasa zaman -baginya dan bagi nenek moyangnya beribu-ribu penghormatan
> dan salam- yang dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa, ia hidup (pada saat
> ini) seraya mengawasi perkara-perkara yang ada." (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah,
> hal. 5, dinukil dari Firaq Mu'ashirah, 1/192)
>
> Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Minhajus Sunnah, benar-benar
> secara rinci membantah satu persatu kesesatan-kesesatan mereka, terkhusus
> masalah imamah yang selalu mereka tonjolkan ini.
>
> d. Tentang Taqiyyah
> Taqiyyah adalah berkata atau berbuat sesuatu yang berbeda dengan keyakinan,
> dalam rangka nifaq, dusta, dan menipu umat manusia. (Lihat Firaq Mu'ashirah,
> 1/195 dan Asy-Syi'ah Al-Itsna 'Asyariyyah, hal. 80)
> Mereka berkeyakinan bahwa taqiyyah ini bagian dari agama. Bahkan sembilan
> per sepuluh agama. Al-Kulaini meriwayatkan dalam Al-Kaafi (2/175) dari Abu
> Abdillah, ia berkata kepada Abu Umar Al-A'jami: "Wahai Abu 'Umar,
> sesungguhnya sembilan per sepuluh dari agama ini adalah taqiyyah, dan tidak
> ada agama bagi siapa saja yang tidak ber-taqiyyah." (Dinukil dari Firaq
> Mu'ashirah, 1/196). Oleh karena itu Al-Imam Malik ketika ditanya tentang
> mereka beliau berkata: "Jangan kamu berbincang dengan mereka dan jangan pula
> meriwayatkan dari mereka, karena sungguh mereka itu selalu berdusta."
> Demikian pula Al-Imam Asy-Syafi'i berkata: "Aku belum pernah tahu ada yang
> melebihi Rafidhah dalam persaksian palsu." (Mizanul I'tidal, 2/27-28, karya
> Al-Imam Adz-Dzahabi)
>
> e. Tentang Raj'ah
> Raj'ah adalah keyakinan hidupnya kembali orang yang telah meninggal. 'Ahli
> tafsir' mereka, Al-Qummi ketika menafsirkan surat An-Nahl ayat 85, berkata:
> "Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah raj'ah, kemudian menukil dari
> Husain bin 'Ali bahwa ia berkata tentang ayat ini: 'Nabi kalian dan Amirul
> Mukminin ('Ali bin Abu Thalib) serta para imam 'alaihimus salam akan kembali
> kepada kalian'." (Dinukil dari kitab Atsarut Tasyayyu' 'Alar Riwayatit
> Tarikhiyyah, hal. 32, karya Dr. Abdul 'Aziz Nurwali)
>
> f. Tentang Al-Bada'
> Al-Bada' adalah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Mereka
> berkeyakinan bahwa Al-Bada' ini terjadi pada Allah Ta'ala. Bahkan mereka
> berlebihan dalam hal ini. Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (1/111), meriwayatkan
> dari Abu Abdullah (ia berkata): "Tidak ada pengagungan kepada Allah yang
> melebihi Al-Bada'." (Dinukil dari Firaq Mu'ashirah, 1/252). Suatu keyakinan
> kafir yang sebelumnya diyakini oleh Yahudi4.
> Demikianlah beberapa dari sekian banyak prinsip Syi'ah Rafidhah, yang
> darinya saja sudah sangat jelas kesesatan dan penyimpangannya. Namun sayang,
> tanpa rasa malu Al-Khumaini (Khomeini) berkata: "Sesungguhnya dengan penuh
> keberanian aku katakan bahwa jutaan masyarakat Iran di masa sekarang lebih
> utama dari masyarakat Hijaz (Makkah dan Madinah, pen) di masa Rasulullah
> Shallallahu 'alaihi wassalam dan lebih utama dari masyarakat Kufah dan Iraq
> di masa Amirul Mukminin ('Ali bin Abu Thalib) dan Husein bin 'Ali."
> (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 16, dinukil dari Firaq Mu'ashirah, hal.
> 192)
>
> Perkataan Ulama tentang Syi'ah Rafidhah
> Asy-Syaikh Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili di dalam kitabnya Al-Intishar Lish Shahbi
> Wal Aal (hal. 100-153) menukilkan sekian banyak perkataan para ulama tentang
> mereka. Namun dikarenakan sangat sempitnya ruang rubrik ini, maka hanya bisa
> ternukil sebagiannya saja.
> 1. Al-Imam 'Amir Asy-Sya'bi berkata: "Aku tidak pernah melihat kaum yang
> lebih dungu dari Syi'ah." (As-Sunnah, 2/549, karya Abdullah bin Al-Imam
> Ahmad)
> 2. Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri ketika ditanya tentang seorang yang mencela
> Abu Bakr dan 'Umar, beliau berkata: "Ia telah kafir kepada Allah." Kemudian
> ditanya: "Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?" Beliau berkata:
> "Tidak, tiada kehormatan (baginya)…." (Siyar A'lamin Nubala, 7/253)
> 3. Al-Imam Malik dan Al-Imam Asy-Syafi'i, telah disebut di atas.
> 4. Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: "Aku tidak melihat dia (orang yang
> mencela Abu Bakr, 'Umar, dan 'Aisyah) itu orang Islam." (As-Sunnah, 1/493,
> karya Al-Khallal)
> 5. Al-Imam Al-Bukhari berkata: "Bagiku sama saja apakah aku shalat di
> belakang Jahmi, dan Rafidhi atau di belakang Yahudi dan Nashara (yakni
> sama-sama tidak boleh -red). Mereka tidak boleh diberi salam, tidak
> dikunjungi ketika sakit, tidak dinikahkan, tidak dijadikan saksi, dan tidak
> dimakan sembelihan mereka." (Khalqu Af'alil 'Ibad, hal. 125)
> 6. Al-Imam Abu Zur'ah Ar-Razi berkata: "Jika engkau melihat orang yang
> mencela salah satu dari shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam,
> maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq. Yang demikian itu karena Rasul bagi
> kita haq, dan Al Qur'an haq, dan sesungguhnya yang menyampaikan Al Qur'an
> dan As Sunnah adalah para shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam.
> Sungguh mereka mencela para saksi kita (para shahabat) dengan tujuan untuk
> meniadakan Al Qur'an dan As Sunnah. Mereka (Rafidhah) lebih pantas untuk
> dicela dan mereka adalah zanadiqah." (Al-Kifayah, hal. 49, karya Al-Khathib
> Al-Baghdadi)
>
> Demikianlah selayang pandang tentang Syi'ah Rafidhah, mudah-mudahan bisa
> menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari
> kebenaran…Amin.
>
> Artikel ini diambil dari *www.abusaid.co.cc...
> *
>
>
>
>
> >
>
--
lebih baik nekat ke surga dari pada terencana masuk neraka
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam Google Groups yaitu
"Media Muslim Group". (Group Situs http://www.mediamuslim.info dan
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian
satu-per-satu.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---