Indahnya Berhias

Penyusun: Ummu 'Abdirrahman
Muroja'ah: Ustadz Abu Salman & Ustadz Aris Munandar

Di sebuah kos putri…
*"Yanti subhanallah, mau pesta kemana?"* Tatap seorang temannya tak berkedip
pada Yanti yang berdandan tebal bak artis. Yanti menjawab, *"Kamu berlebihan
deh. Yanti mau ikut pengajian bareng temen-temen, jadi harus bersih dan
rapi. Kebersihan itu kan sebagian dari iman. Berangkat dulu ya.
Assalaamu'alaykum…"*

Setelah Yanti pergi, ada suara heboh Riri yang hendak pergi juga. *"Duh Riri
tetangga kamarku yang baru pulang dari kampus. Kucel amat. Lho… lho… Ini mo
pergi lagi ya, gak mau bersihin wajah dan rapiin bajumu dulu?"* Riri
menjawab, *"Nanti menyebar fitnah lho. Wanita itu kan ujian bagi laki-laki.
Riri berangkat ta'lim ya. Assalaamu'alaykum…"*

Sepenggal kisah di atas banyak kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari.
Banyak sekali wanita berhias di luar rumahnya dengan alasan kerapian dan
kebersihan, sementara di sisi lain banyak juga yang sama sekali tidak
memperhatikan penampilannya dengan alasan menjaga kehormatan muslimah.
Tahukah saudariku bahwa Islam memiliki tuntunan dalam berhias? Dalam
kitab *Shahih
Bukhari* disebutkan sebuah hadits shahih dari Ibnu Mas'ud *radhiyallhu 'anhu
*, bahwa Rasulullah *shallallahu 'alaihi wa sallam* pernah bersabda,

*"Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan."*

Dan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Al Handhalliyah
disebutkan bahwa Nabi *shallallahu 'alaihi wa sallam* pernah bersabda kepada
para sahabatnya ketika mereka hendak mendatangi saudara mereka,

*"Kalian akan mendatangi saudara-saudara kalian. Karenanya perbaikilah
kendaraan kalian, dan pakailah pakaian yang bagus sehingga kalian menjadi
seperti tahi lalat di tengah-tengah umat manusia. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai sesuatu yang buruk."* (HR. Abu Dawud dan Hakim)

Rasulullah *shallallahu 'alaihi wa sallam* telah mengkategorikan kondisi dan
pakaian yang tidak bagus sebagai suatu hal yang buruk. Semuanya itu termasuk
hal yang dibenci oleh Islam. Islam mengajak kaum muslimin secara keseluruhan
untuk selalu berpenampilan bagus. Bertolak dari hal itu, seorang muslimah
tidak boleh mengabaikan dirinya dan bersikap tidak acuh terhadap penampilan
yang rapi dan bersih, terlebih lagi jika sudah membina rumah tangga.
Hendaknya ia senantiasa berpenampilan yang baik dengan tidak
berlebih-lebihan.

Muslimah yang cerdas akan senantiasa menyelaraskan antara lahir dan batin.
Perhatiannya pada penampilan yang baik bersumber dari pemahaman yang baik
pula terhadap agamanya. Karena penampilan yang rapi dan bersih merupakan hal
yang mulia. Lalu, bagaimanakah tuntunan Islam dalam berhias?

*Kebersihan badan adalah kuncinya.*

Sudah seharusnya seorang wanita menjaga kebersihan badannya dengan mandi.
Dari Abu Hurairah *radhiyallau 'anhu*, nabi *shallallahu 'alaihi wa
sallam*bersabda,

*"Dari Abi Rofi', ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
pada suatu malam berkeliling mengunjungi beberap istrinya (untuk menunaian
hajatnya), maka beliau mandi setiap keluar dari rumah istri-istrinya. Maka
Abu Rofi' bertanya, 'Ya, Rasulullah, tidakkah mandi sekali saja?' Maka jawab
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Ini lebih suci dan lebih bersih.
'"* (Ibnu Majah dan Abu Daud, derajat haditsnya hasan)

Mandi dapat menghilangkan kotoran sehingga menjauhkan seorang muslimah dari
penyakit dan menjaga agar badannya tidak bau. Sehingga ia pun akan menjadi
dekat dengan orang-orang di sekitarnya.

Hendaklah seorang wanita juga menjaga hal-hal yang termasuk fitrah yaitu
memotong kuku dan memelihara kebersihannya agar tidak panjang atau kotor.
Kuku yang panjang akan tampak buruk dipandang, menyebabkan menumpuknya
kotoran di bawah kuku dan mengurangi kegesitan pemiliknya dalam bekerja.

Hal lain yang termasuk fitrah adalah mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu
kemaluan. Hal ini sangat dianjurkan dalam Islam, selain dapat menjaga
kebersihan dan keindahan tubuh seorang muslimah. Oleh karenanya, seorang
muslimah hendaknya tidak membiarkannya lebih dari 40 hari.Dari Abu Hurairah
radhiyallau 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

*"Lima hal yang termasuk fitrah (kesucian): mencukur bulu kemaluan, khitan,
menipiskan kumis, mencabut bulu ketiak dan memotong kuku."* (HR. Bukhari
Muslim)

*Perhatikanlah mulut karena dengannya engkau berdzikir dan berbicara kepada
manusia.*

Wanita muslimah hendaknya selalu menjaga kebersihan mulutnya dengan cara
membersihkan giginya dengan siwak atau sikat gigi dan alat pembersih lain
jika tidak ada siwak. Bersiwak dianjurkan dalam setiap keadaan dan lebih
ditekankan lagi ketika hendak berwudhu', akan shalat, akan membaca Al
Qur'an, masuk ke dalam rumah dan bangun malam ketika hendak shalat
tahajjud.Rasulullah
*shallallahu 'alaihi wa sallam* bersabda,

*"Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan memerintahkan kepada
mereka untuk bersiwak setiap kali akan shalat."* (HR. Bukhari dan Muslim)

Selain itu, hendaknya seorang muslimah menjaga mulutnya dari bau yang tidak
sedap.

*"Barangsiapa yang makan bawang merah dan bawang putih serta kucai, maka
janganlah dia mendekati masjid kami."* (HR. Muslim)

Karena bau yang tidak sedap mengganggu malaikat dan orang-orang yang hadir
di dalam masjid serta mengurangi konsentrasi dalam berdzkikir. Maka
hendaknya seorang muslimah juga menjaga bau mulutnya di mana pun ia berada.

*Rawatlah keindahan mahkotamu.*

Sudah seharusnya seorang muslimah menjaga keindahan rambutnya karena rambut
merupakan mahkota seorang wanita. Dan hendaknya dia menjaga kebersihan,
menyisir, merapikan dan memperindah bentuknya.

*"Barangsiapa yang memiliki rambut maka hendaklah dia memuliakannya."* (HR.
Abu Dawud)

*Kebersihan pakaian tidak pantas diabaikan.*

Islam menyukai orang yang menjaga kebersihan pakaiannya dan tidak menyukai
orang yang berpakaian kotor padahal ia mampu mencuci dan membersihkannya.
Dari Jabir *radhiyallahu 'anhu*, Rasulullah *shallallahu 'alaihi wa
sallam*pernah mengunjungi kami, lalu beliau melihat seorang laki-laki
yang
mengenakan pakaian kotor, maka beliau pun bersabda,

*"Orang ini tidak mempunyai sabun yang dapat digunakan untuk mencuci
pakaiannya."* (HR. Imam Ahmad dan Nasa'i).

Jika petunjuk nabi ini ditujukan pada laki-laki, maka terlebih lagi pada
wanita karena ia memegang peranan penting dalam rumah tangganya.

*Perbaikilah penampilan.*

Hendaklah seorang muslimah memperbaiki penampilannya untuk menampakkan
nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya.

*"Sesungguhnya Allah senang melihat tanda nikmat yang diberikan kepada
hamba-hambaNya."* (HR. Tirmidzi dan Hakim)

Seorang muslimah diperbolehkan untuk menghiasi dirinya dengan hal-hal yang
mubah misalnya mengenakan sutra dan emas, mutiara dan berbagai jenis batu
permata, celak, menggunakan inai (pacar) pada kuku dan menyemir rambut yang
beruban, menggunakan kosmetik alami atau kosmetik yang tidak mengandung zat
berbahaya dengan tidak berlebihan. Dan tentu saja berhias di sini bukanlah
dengan maksud mempercantik diri di hadapan lelaki yang bukan mahramnya.

Hal yang dapat membantu memperbaiki penampilan seorang muslimah adalah
memakan makanan yang bergizi serta tidak berlebih-lebihan dalam makan dan
minum.

*"Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."* (Qs. Al A'raf: 31)

Selain itu juga rajin berolahraga dapat bermanfaat untuk menjaga stamina dan
keindahan tubuh serta mempercantik kulit seorang muslimah. Rasulullah
*shallallahu
'alaihi wa sallam* merupakan teladan yang baik dalam hal ini, beliau pernah
mengajak 'Aisyah *radhiyallahu 'anha* untuk lomba lari (HR. Abu Daud, Nasa'i
dan Thabrani)

*Janganlah tabarruj.*

Berhias bagi wanita ada 3 macam, yaitu berhias untuk suami, berhias di depan
wanita dan lelaki mahram (orang yang haram dinikahi), dan berhias di depan
lelaki bukan mahram.

Berhias untuk suami hukumnya dianjurkan dan tidak memiliki batasan. Berhias
di hadapan wanita dan lelaki mahram dibolehkan tetapi dengan batasan tidak
menampakkan aurat dan boleh menampakkan perhiasan yang melekat pada selain
aurat. Di mana aurat wanita bagi wanita lain adalah mulai pusar hingga
lutut[*] sedangkan aurat wanita di hadapan lelaki mahram adalah seluruh
tubuh kecuali muka, kepala, leher, kedua tangan dan kedua kaki. Berhias di
depan lelaki bukan mahram hukumnya haram dan inilah yang disebut dengan
tabarruj.

[*] Demikianlah pendapat banyak ulama. Namun menurut Syaikh Al Albani,
pendapat ini tidak ada dalilnya, sehingga aurat di depan wanita sama dengan
aurat di hadapan mahram.

*Jauhilah cara berhias yang dilarang oleh Islam.*

Tidak diperbolehkan untuk berhias dengan cara yang dilarang oleh Islam,
yaitu:

1. Memotong rambut di atas pundak karena menyerupai laki-laki, kecuali dalam
kondisi darurat.

*"Aku terbebas dari wanita yang menggundul rambut kepalanya, berteriak
dengan suara keras dan merobek-robek pakaiannya (ketika mendapat
musibah)."*(HR. Muslim)

2. Menyambung rambut.

*"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat wanita yang menyambung
rambutnya dengan rambut lain dan wanita yang meminta agar rambutnya
disambung."* (HR. Bukhari Muslim)

3. Menghilangkan sebagian atau seluruh alis.

Tertera dalam *Shahih Muslim* bahwa Ibnu Mas'ud *radhiyallau 'anhu* berkata,
*"Allah melaknat wanita yang mentato bagian-bagian dari tubuh dan wanita
yang meminta untuk ditato, wanita yang mencukur seluruh atau sebagian
alisnya dan wanita yang meminta untuk dicukur alisnya, dan wanita yang
mengikir sela-sela gigi depannya untuk kecantikan, yang merubah ciptaan
Allah 'Azza wa Jalla."*

4. Mengikir sela-sela gigi, yaitu mengikir sela-sela gigi dengan alat kikir
sehingga membentuk sedikit kerenggangan untuk tujuan mempercantik diri.

5. Mentatto bagian tubuhnya.

6. Menyemir rambut dengan warna hitam.

*"Pada akhir zaman akan ada suatu kaum yang mewarnai (rambutnya) dengan
warna hitam seperti dada burung merpati, mereka tidak akan mencium baunya
surga."* (*Shahih Jami'ush Shaghir* no. 8153)

*Berhati-hati dalam memilih cara berhias.*

Sesungguhnya cara berhias sangatlah banyak dan beragam. Hendaknya seorang
muslimah berhati-hati dalam memilih cara berhias, di antaranya adalah
sebagai berikut:

1. Tidak boleh menyerupai laki-laki.

*"Sungguh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat seorang wanita
yang menyerupai laki-laki."* (HR. Abu Daud)

2. Tidak boleh menyerupai orang kafir.

*"Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk mereka."* (HR. Ahmad
dan Abu Daud)

3. Tidak boleh berbentuk permanen sehingga tidak hilang seumur hidup
misalnya tatto dan tidak mengubah ciptaan Allah misalnya operasi plastik.
Hal ini disebabkan termasuk hasutan setan sebagaimana diceritakan oleh
Allah,

*"Dan akan aku suruh mereka merubah ciptaan Allah dan mereka pun benar-benar
melakukannya."* (Qs. An Nisa: 119)

4. Tidak berbahaya bagi tubuh.

5. Tidak menghalangi air untuk bersuci ke kulit atau rambut.

6. Tidak mengandung pemborosan atau membuang-buang uang.

7. Tidak membuang-buang waktu sehingga kewajiban lain terlalaikan.

8. Penggunaannya jangan sampai membuat wanita sombong, takabur, membanggakan
diri dan tinggi hati di hadapan orang lain.

*Wanita santun lebih baik daripada wanita pesolek.*

Kita tahu banyak wanita yang berdandan secara berlebihan dan bepergian
keluar rumah tanpa mengenal batas waktu dengan mengatasnamakan 'Inilah rupa
kemajuan dan modernitas'.

Sesungguhnya kemajuan dan modernitas bukanlah dengan menentang perintah dan
larangan Allah. Ketahuilah Allah Maha Tahu apa yang baik dan buruk untuk
hambaNya. Mengikuti kemajuan adalah mengambil hal-hal bermanfaat yang dapat
memajukan umat dan membantu kita untuk hidup lebih baik. Dan kita harus
memandangnya dari kaca mata kebenaran. Kita mengambil hal-hal yang sesuai
tuntunan Islam dan meninggalkan hal-hal yang bertentangan dengan Islam.

Jauhilah berhias yang dilarang oleh syari'at, wahai saudariku. Sungguh
wanita yang keluar rumah dengan penampilan yang berlebihan sebenarnya dia
melemparkan dirinya ke dalam api neraka. Sedangkan wanita yang menghiasi
jiwanya dengan kesantunan dan berhias sesuai tuntunan Islam adalah wanita
yang menempatkan dirinya pada tempat yang mulia.

*Maraji':*

   1. *Indahnya Berhias* (Muhammad bin Abdul Aziz al Musnid)
   2. *Sentuhan Nilai Kefikihan untuk Wanita Beriman* (Syaikh Dr. Shalih bin
   Fauzan Bin Abdullah al Fauzan)
   3. *Jati Diri Wanita Muslimah* (Dr. Muhammad Ali al Hasyimi), Ensiklopedi
   Wanita Muslimah (Haya binti Mubarok al Barik)
   4. *Al Wajiz* ('Abdul 'Azhim bin Badawi al Khalafi)
   5. *Kenikmatan yang Membawa Bencana* (Jamal bin Abdurrahman bin Ismail)
   6. *40 Hadits tentang Wanita beserta Syarahnya* (Manshur bin Hasan al
   Abdullah)
   7. *Manajemen Wanita Sholehah* (Khalid Mustafa)
   8. Note: Baca juga: *Etika Berhias*, karya Amru Abdul Mun'im Salim
   terbitan at Tibyan.

Artikel www.muslimah.or.id

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke