dr judulnya... klo kecelakaan sejarah enggak juga sih...

klo pendapat saya..kita harus menghargai orang2 yg 'tidak sempurna' toh gak
ada manusia yg sempurna, tp dg mereka hidup kita jadi lengkap. dan kita juga
gak boleh sombong dg kelebihan yg Allah SWT berikan sama kita.

afwan..
*apakah mereka rahmat Tuhan / kecelakaan sejarah ?*
------------------------------
Apakah mereka yang terbelakang dan bodoh merupakan
rahmat Tuhan atau sebuah kecelakaan sejarah?
Barangkali, cerita saya ini bisa menjadi salah satu
kacamata untuk melihat, bahwa ternyata apapun yang
diciptakan Tuhan memang menjadi rahmat bagi dunia.
Saya lahir tahun 78 dan dua tahun kemudian ibu saya
meninggal karena suatu penyakit. Apalah yang
dimiliki
seorang anak umur 2 tahun ketika ditinggal ibunya
kecuali tangis ketidaktahuan. Ketidaktahuan karena
belum bisa berpikir tetapi telah diberi Tuhan
perasaan sepi dan kehilangan.

Di sebelah utara rumah saya, tinggal seorang pemuda
idiot. Dia kira-kira berumur 12 tahun ketika ibu
saya meninggal.

Selain itu, di sebelahnya tinggal pula seorang
pemuda
lain berumur 20-an tahun yang belum pernah
bersekolah,
tidak bisa membaca dan bekerja sebagai kusir andong
(kereta/bendi).

Sementara di sebelah barat rumah saya, tinggal
pemuda yang juga berumur 20-an tahun, terbelakang, bodoh
dan
harus keluar dari kelas I SD karena tak bisa
mengikuti pelajaran sedikitpun.

Sebagai anak berumur 2 tahun, tentu saja saya belum
begitu mengenal mereka. Tetapi seiring waktu, saya
mulai tahu bahwa merekalah sahabat terbaik dalam
hidup saya. Akal saya yang semakin terasah ketika berumur
5 tahun dan ingatan yang semakin kuat mematri kenangan
saya dengan 3 orang hebat dalam hidup saya tersebut.

Merekalah yang saya sebut sebagai 3 pendekar dalam
hidup saya. Tiga orang yang sama-sama terbelakang,
tidak bisa membaca dan sering dianggap "agak kurang"
(bahasa halus untuk sedikit gila) oleh tetangga-
tetangga, tenyata merupakan penyelamat hidup saya.

Pemuda pertama, anak belasan tahun yang saya tahu
dipanggil Adek, idiot dan selalu mengeluarkan air
liur dari mulutnya. Karena tak pernah memiliki teman
bermain, saya lah yang selalu dipandangnya dari
jendela rumah. Ketika semua orang mengusir dan
anak-anak lain takut untuk mendekat, dia
mencoba mengenal saya.

Dialah yang kemudian merawat saya, karena ketiadaan
ibu, dan ayah yang terlalu jarang di rumah. Anak
idiot
itulah yang mengajari saya bermain, membuatkan
wayang
suket, mencari kodok di sawah, berendam di kali,
atau
menonton karnaval 17 Agustus yang tiap tahun
diadakan di kota kecamatan.
Pemuda dua puluhan tahun yang menjadi kusir andong
bernama Gandul. Keterbelakangannya justru menjadi
sumber kebaikan hati. Setiap hari, begitu pulang
dari bekerja, dia selalu menyisihkan uang Rp 50-100 di
bawah jok andongnya. Uang itu khusus disediakan
untuk saya, anak SD yang tak pernah lagi menerima uang
saku dari ayahnya.
Selama bertahun-tahun, Gandul melakukan itu karena
tahu bahwa saya tak pernah bisa jajan jika dia lupa
menyisihkan. Dia juga yang mengajak saya
jalan-jalan,
menjadi kernet andong atau bersuka dengan kudanya.
Pemuda ketiga bernama Darsio, karena tak juga bisa
melakukan apa yang dilakukan kawan-kawannya, dia
dikeluarkan dari sekolah. Mulai itulah dia mendekati
saya, mengajak saya bermain di kebunnya yang luas.

Mencarikan buah apapun yang saya inginkan. Jika saya
lagi kepingin pisang, dia akan mencarinya. Begitu
pula
ketika saya minta kelapa muda di satu siang yang
panas, dia akan mengajak saya ke kebun dan
memetikkan
beberapa.
Darsio mengajari saya berenang, kadang berpetualang
seharian ke tempat-tempat yang jauh, berjalan kaki
dan
melatih keberanian saya. Karena sebelumnya saya
memang
terlalu penakut dan mudah menangis. Agar tubuh saya
kuat, dia juga memberi segelas susu kedelai dari
pabrik tahu milik orang tuanya hampir setiap hari.
Ketiga orang itu, 3 pendekar yang mengisi hidup masa
kecil saya. Menemani dengan tulus sehingga kini saya
bisa berpikir bahwa Tuhan memang mengambil ibu saya,
tetapi Dia mengirimkan 3 orang hebat dalam hidup
saya.
Ketiganya terbelakang, tidak sekolah, tak bisa
membaca, bahkan dua di antaranya sampai kini tak
punya
istri. Tetapi merekalah yang mengajari saya banyak
hal, menemani tahun-tahun sepi, membantu saya siap
untuk mandiri.
Kini saya 24 tahun dan akan segera menyelesaikan
kuliah. Karena pengalaman hidup itulah saya bisa
bertahan hingga sekarang, merantau, mandiri, dan
memiliki pandangan positif terhadap makluk ciptaan
Tuhan seperti apapun adanya.
Untunglah saya dibesarkan oleh 3 orang idiot dan
bukannya 3 orang profesor, 3 orang kaya, atau 3
businesmen. Sehingga saya bisa memaknai hubungan
antar
manusia, bukan karena kapasitas intelektual, materi
atau kesuksesan.

Bagi saya, ketulusan untuk memberi dan sikap menjadi
manusia seutuhnya itu lebih penting. Karena berkah
dari 3 pendekar hebat itulah saya selalu
beranggapan,
seperti apapun kondisinya, hidup kita diciptakan
Tuhan
sangat indah. Kalau mata kita memandangnya dengan
indah pula.





-- 
Dee Na

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke