Hidup Tanpa Ijazah
5 09 2008 

Ada seorang putra Indonesia yang tak punya gelar akademik sama sekali, bahkan 
ijazah SMA pun tak punya karena ia tidak menamatkan SMA-nya, tetapi ia diangkat 
sebagai gurubesar di tiga perguruan tinggi di Jepang. Bagaimana bisa ?

Kita barangkali akan sulit meneladani tokoh yang satu ini, bukannya tidak 
mampu, tetapi kesempatan yang ada pada masa kita hidup saat ini sudah jauh 
berbeda dengan kesempatan yang lebar terbuka pada saat dahulu. Orang harus 
mampu, dan ada kesempatan untuk menunjukkannya, maka ia akan sukses. Memang 
kesempatan bisa diciptakan, tetapi belum tentu selalu menjadi terbuka. Ini 
cerita tentang seseorang, barangkali ada manfaatnya, paling tidak menekankan : 
no pain no gain !

Sebuah buku baru diterbitkan Pustaka Jaya, Januari 2008. Tebalnya setebal 
bantal, 1364 halaman, dicetak di kertas HVS. Meskipun tebal dan cetakannya 
bagus, harganya murah untuk buku setebal ini, Rp 95.000 (bandingkan dengan buku 
seri Harry Potter terakhir, Deadly Hollows, tebal 1008 halaman, berkertas 
dengan kualitas di bawah HVS, berharga Rp 175.000). Saat

mengetahui harganya, saya cukup kaget juga, buku-buku yang dicetak biasa (bukan 
deluks) dengan tebal sekitar 200-300 halaman kini harga rata-ratanya sekitar Rp 
35.000-50.000, dengan harga rata2 itu maka buku tebal Pustaka Jaya ini mestinya 
berharga sekitar Rp 250.000. Bagaimana buku setebal 1364 halaman ini harganya 
hanya Rp 95.000 ?

Saya mendapatkan jawabannya pada halaman 1329 di buku ini dalam "Ucapan 
Terimakasih". Buku yang akan saya ceritakan ini memang harga seharusnya adalah 
sekitar Rp 300.000. Tetapi, siapa yang mau membeli buku setebal 1364 halaman 
dengan harga Rp 300.000 ? Kata Rosihan Anwar, wartawan dan penulis senior itu, 
tebal buku maksimal yang masih menarik untuk dibaca orang-orang Indonesia 
adalah sekitar 300-400 halaman. Memang Rosihan Anwar menganjurkan

penulis buku ini untuk memotong bukunya sampai menjadi maksimal 400 halaman 
saja, tetapi penulisnya merasa sayang memotong manuskripnya yang sudah sampai 
1000 halaman, jadi ia tak memotongnya sama sekali, maka akhirnya menjadi 1364 
halaman. Harganya ? Ada sekitar 100 orang, sebagian di antaranya tokoh-tokoh 
terkenal Indonesia dan Manca Negara dari berbagai

latar belakang, dari seniman sampai birokrat, dari ilmuwan sampai jenderal, 
yang bersedia membeli buku ini dengan harga edisi khusus dan terjadilah subsidi 
silang sehingga masyarakat umum dapat membelinya Rp 95.000. Sebuah ide bagus !

Baik, saya ceritakan saja buku ini. Judulnya adalah "Hidup Tanpa Ijazah : Yang 
Terekam dalam Kenangan", sebuah otobiografi Ajip Rosidi, sastrawan dan 
budayawan Indonesia. Buku ini ditulis dalam waktu kurang dari setahun, ditulis 
atas anjuran teman-teman Ajip dan mengejar waktu agar telah terbit saat Ajip 
berusia 70 tahun pada 31 Januari 2008. Buku ini ditulis oleh Ajip sendiri, jadi 
bukan otobiografi pesanan seperti banyak dipesankan oleh para tokoh politik dan 
militer (namanya otobiografi ya harusnya ditulis sendiri dong, kalau dituliskan 
orang lain ya namanya biografi). Walaupun buku ini mulai ditulis tahun 2006, 
Ajip dapat merekam dengan cukup detail peristiwa2 puluhan tahun sebelumnya 
sejak Ajip anak-anak, remaja, pemuda, dewasa muda, dewasa, sampai usianya 
sekarang (70 tahun). Pasti Ajip biasa menulis jurnal kegiatan harian sehingga 
ia bisa menuliskan kembali peristiwa sehari-hari puluhan tahun ke belakang.

Mengapa Ajip memberi judul buku ini "Hidup Tanpa Ijazah" ? Karena Ajip tak 
punya ijazah apa-apa, ijazah SMA pun tidak, sebab ia keluar sebelum ujian akhir 
SMA (Taman Madya). Ajip tidak pernah kuliah, bukan sarjana, tentu bukan master, 
apalagi doktor. Ia hanya seorang otodidaktis (pelaku otodidak) tulen. Tetapi, 
lihat karya, sepak terjang, dan pengakuannya. Itu semua melebihi pencapaian 
rata-rata sarjana, master, doktor, dan profesor pada umumnya.



Saya tidak akan menceritakan dengan detail isi buku ini, untuk yang berminat 
silakan membelinya saja. Saya ingin menyoroti mengapa Ajip keluar sekolah, 
tidak mau meneruskan sekolahnya, otodidaknya, dan karya, sepak terjang, serta 
pengakuannya. Dengan sikap dan kiprahnya seperti itu Ajip adalah manusia 
langka, bukan hanya di Indonesia, di dunia pun jarang yang seperti dia.

Ajip lahir di Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, wilayah yang banyak menghasilkan 
genteng dan kecap itu, pada 31 Januari 1938. Menempuh pendidikan hanya sampai 
setingkat SMA yaitu di Taman Madya, Taman Siswa Jakarta, itu pun tidak 
tamat.Tahun 1956 dia dengan sengaja keluar dari sekolahnya seminggu sebelum 
ujian akhir dimulai. Pendidikan formalnya berakhir 52 tahun yang lalu. Tetapi, 
ia tidak pernah berhenti belajar. Pendidikan dan belajar tak harus di satu 
tempat. Pendidikan harus di sekolah, belajar bisa di mana saja.

Saat Ajip mau menempuh ujian nasional, ramai terjadi kebocoran soal-soal ujian, 
orang tak segan mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk membeli soal ujian, 
guru-guru pun bisa disogok. Di koran-koran timbul polemic tentang manfaat 
ujian. Dipertanyakan tentang keabsahan ujian untuk menilai prestasi murid yang 
sebenarnya. Ajip muda (16 tahun) berkesimpulan : orang

tidak segan melakukan perbuatan hina, membeli soal ujian atau menyogok guru, 
demi lulus ujian. Untuk apa lulus ujian ? Untuk dapat ijazah. Untuk apa ijazah 
? Untuk melamar kerja. Untuk apa kerja ? Untuk dapat hidup. Kalau begitu, hidup 
berarti bergantung kepada secarik kertas bernama ijazah ! Ajip terkejut sendiri 
dengan kesimpulannya. Ia saat itu telah empat tahun berkarya (Ajip mulai 
mengirimkan tulisan2 cerita dan puisi dan dimuat di koran2 dan majalah2 sejak 
tahun 1952 saat umurnya masih 14 tahun) dan telah merasa bisa hidup cukup 
mandiri dengan honorariumnya. Ajip bertanya, apakah seorang pengarang 
membutuhkan ijazah untuk bisa hidup ? Tidak. 

Ajip memutuskan bahwa hidupnya tidak akan digantungkan kepada selembar ijazah. 
Prestasinya tidak akan bergantung kepada selembar ijazah. Menurutnya tak ada 
sekolah atau universitas yang dapat menuntunnya menjadi seorang pengarang yang 
baik, apalagi ia punya pengalaman bahwa guru2 bahasa Indonesianya semasa di SMP 
dan SMA harus lebih banyak membaca daripada dirinya.

"Aku akan dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuanku dalam bidang sastra 
dan penulisan dengan banyak membaca. Dan membaca tidak usah di sekolah. Tidak 
usah juga bersekolah tinggi karena aku sudah mengenal huruf-huruf. Buku-buku 
dapat dibeli, atau dipinjam dari perpustakaan. Dalam membaca aku dapat 
melampaui kebanyakan orang yang punya ijazah lebar. Dengan kian luasnya 
bacaanku, maka tulisanku akan lebih berbobot. Kalau tulisanku berbobot, niscaya 
orang-orang akan menghargaiku sebagai pengarang. Akhirnya yang penting dalam 
hidup adalah prestasi yang diakui oleh masyarakat. Berapa banyak orang yang 
mempunyai ijazah tinggi dan menduduki jabatan penting dalam masyarakat tetapi 
tidak pernah memperlihatkan prestasi pribadi ? Mereka akan lenyap dari ingatan 
masyarakat kalau mereka sudah pensiun atau setelah meninggal. Aku ingin tetap 
dikenang orang walaupun aku sudah meninggalkan dunia yang fana ini. Dan hal itu 
hanya dapat dicapai dengan berkerja keras, dengan mencipta karya yang bagus. 
Orang akan tetap mengingat namaku kalau karya-karya yang kutulis bermutu" 
begitu tulis Ajip Rosidi di dalam buku ini halaman 167-168.

Dan, keluarlah Ajip dari sekolah alias drop out, dia menulis surat kepada 
gurunya di atas kartu pos, "saya tidak jadi ikut ujian nasional karena saya 
akan membuktikan bahwa saya dapat hidup tanpa ijazah" Luar biasa keputusan anak 
remaja ini, keputusan sendiri, tanpa memberi tahu orang tuanya di Jatiwangi.

Dan puluhan tahun berikutnya adalah puluhan tahun pembuktian bahwa Ajip bisa 
hidup tanpa ijazah. Sebuah bakat yang ditekuni secara luar biasa akan berhasil 
luar biasa juga. Setahun sebelum ia keluar dari SMA, buku pertamanya telah 
terbit ketika umurnya masih 17 tahun, berjudul "Tahun-Tahun Kematian" (kumpulan 
cerpen). Itu adalah buku pertama yang mengawali sebanyak lebih dari 110 judul 
buku berikutnya selama puluhan tahun kemudian. Ajip menulis buku-buku baik 
kumpulan cerpen, kumpulan puisi, roman, drama, penulisan kembali cerita rakyat, 
cerita wayang, bacaan anak-anak, kumpulan humor, esai dan kritik, polemik, 
memoar, bunga rampai, buku terjemahan, biografi (ada 10 halaman daftar lengkap 
karya Ajip di buku otobiografi ini). Ajip menulis baik dalam bahasa Sunda 
maupun bahasa Indonesia. Banyak karyanya diterjemahkan oleh penerbit 
internasional ke dalam bahasa-bahasa asing Belanda, Cina, Hindi, Inggris, 
Jepang, Jerman, Kroasia, Prancis, Rusia, Thai, dan lain-lain.

Sepak terjang Ajip tak hanya dalam dunia penulisan sastra dan sekitarnya. Ia 
adalah redaktur dan Pemimpin majalah Suluh Pelajar (1953-1955) saat Ajip masih 
duduk di SMP dan SMA. Juga ia menjadi pemimpin redaksi Majalah Sunda 
(1965-1967), Budaya Jaya (1968-1979), dan Cupumanik (sejak 2005).

Ajip juga adalah redaktur, pendiri dan pemimpin usaha2 penerbitan. Ia adalah 
seorang redaktur Balai Pustaka (1955-1956). Tahun 1962 mendirikan Penerbit 
Kiwari, tahun 1964-1969 mendirikan dan memimpin Penerbit Tjupumanik di 
Jatiwangi. Tahun 1971 mendirikan Penerbit Pustaka Jaya dan menjadi pemimpinnya. 
Tahun 1981 mendirikan Penerbit Girimukti Pusaka, Tahun 2000 ia mendirikan dan 
memimpin Penerbit Kiblat Buku Utama di Bandung. Usaha penerbitannya ada yang 
terus berjalan sampai Sekarang (Pustaka Jaya), ada juga yang telah lama 
berhenti.

Ajip juga sangat giat dalam berorganisasi, misalnya tahun 1954 (umur 16 tahun) 
menjadi anggota Badan Musyawarat Kebudayaan Nasional. Tahun 1956 menjadi 
anggota Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda. Tahun 1972-1981 menjadi ketua Dewan 
Kesenian Jakarta (dewan ini juga dibentuk pada tahun 1968 atas prakarsa Ajip. 
Tahun 1973-1979 sebagai ketua Ikatan Penerbit Indonesia(IKAPI). Tahun 1993 Ajip 
mendirikan Yayasan Kebudayaan Rancage, sebuah yayasan yang mengapresiasi 
karya-karya sastra daerah dalam bahasa Sunda, Jawa, dan Bali.

Ajip juga menduduki banyak anggota badan-badan kehormatan. Tahun 1960-1962 dia 
adalah anggota Badan Pertimbangan Ilmu Pengetahuan bidang Sastra dan Sejarah. 
Tahun 1978-1980 sebagai staf ahli menteri Pendidikan dan Kebudayaan, tahun 
1979-1982 menjadi anggota Dewan Fim Nasional, tahun 1979-1980 menjadi anggota 
Dewan Pertimbangan Pengembangan Buku Nasional. Tahun 2002 diangkat menjadi 
anggota Akademi Jakarta.

Meskipun Ajip tak menamatkan SMA-nya, tak pernah kuliah, bukan sarjana, tentu 
bukan master, apalagi doktor, tahun 1967 ia diangkat sebagai dosen luar biasa 
pada Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran di Bandung. Ajip pun sering 
diundang memberikan kuliah umum di berbagai perguruan tinggi di seluruh 
Indonesia. Dan, tahun 1981, Ajip diangkat sebagai Visiting Professor pada Osaka 
Gaikokugo Daigaku di Osaka, Jepang. Ajip mengajar di Jepang sampai tahun 2003. 
Ajip pun diangkat sebagai Gurubesar Luar Biasa pada tahun 1983-1994 di Tenri 
Daigaku di Tenri, Nara, Jepang. Tahun 1983-1996 menjadi Gurubesar Luar Biasa 
pada Kyoto Sangyo Daigaku di Kyoto. Pensiun sebagai guru besar, Ajip pulang ke 
Indonesia pada tahun 2003. Sekalipun Ajip berada di Jepang selama 22 tahun, dia 
tetap menulis buku2nya dalam bahasa Sunda dan Indonesia, tetap berhubungan 
dengan para penggiat sastra di Tanah Air, dan tetap memantau serta mengelola 
organisasi2 yang pernah didirikannya dari jauh.

Sebagai penggiat sastra, tentu Ajip pun banyak menjadi pembicara di berbagai 
simposium, seminar, kongres, konferensi atau lokakarya mengenai kebudayaan dan 
kesenian, terutama tentang sastra dan bahasa, baik di tingkat daerah, nasional, 
regional, maupun internasional. Sebagai orang yang mumpuni dalam bidang sastra, 
Ajip pun kerap diminta sebagai anggota dewan juri dalam menilai berbagai 
perlombaan bidang sastra dan kesenian.

Ajip dan organisasinya pun beberapa kali mendapatkan dana nasional maupun 
internacional untuk penelitian sastra dan budaya. Tahun 1969-1972 Ajip 
mendirikan dan memimpin proyek penelitian pantun dan folklor Sunda. Tahun 
1960-1967 Ajip mendapatkan dana dari the Toyota Foundation untuk meneliti 
kebudayaan Sunda dalam rangka penyusunan Ensiklopedi Sunda (telah terbit pada 
tahun 2000). Tahun 1960-1994 meneliti puisi Sunda, dan hasilnya dituliskan 
dalam tiga jilid buku dengan tabal total 1700 halaman (telah terbit dua jilid).

Karena dedikasinya yang total lepada kesustraan dan kebudayaan, Ajip beberapa 
kali diganjar penghargaan, yaitu 1957 : Hadiah Sastra Nasional untuk kumpulan 
puisinya, 1960 : Hadiah Sastra Nasional untuk buku kumpulan cerpennya, 1974 : 
Cultural Award dari Australia, 1993 : Hadiah Seni, 1994 : penghargaan sebagai 
salah satu dari 10 putra Sunda terbaik, 1999 : penghargaan Order of the Sacred 
Treasure, Gold Rays with Neck Ribbon dari Jepang, 2003 : penghargaan Mastera 
dari Brunei, 2004 : Teeuw Award dari Belanda.

Demikian sekilas karya-karya dan pencapaian-pencapai an Ajip. Ia berkarya sejak 
berumur 14 tahun sampai kini usianya 70 tahun, menekuni sastra dan budaya Sunda 
dan sastra Indonesia selama 56 tahun.

Di dalam buku ini, yang berisi 23 bab, kita bisa mengetahui bahwa pergaulan 
Ajip begitu luas, baik dengan kalangan sesama sastrawan dan budayawan, juga 
dengan banyak tokoh dari berbagai bidang baik di Indonesia maupun peneliti2 
asing yang datang ke Indonesia untuk meneliti sastra dan budaya Indonesia. 
Bagaimana pergaulan dan pandangan Ajip dengan tokoh2 seperti Ali Sadikin, 
Mochtar Lubis, Taufik Ismail, Asrul Sani, Affandi, Gus Dur, Nurcholish Madjid, 
dan masih banyak lagi bisa dibaca di sini. Pengamatannya tentang kejadian2 
penting yang dialami Indonesia entah itu pertikaian politik, bencana, korupsi, 
dan lain2 dari tahun2 1940-an sampai sekarang bisa dibaca juga di sini. Ajip 
juga menceritakan pikiran dan sikapnya tentang itu semua dan hal2 yang 
dialaminya, termasuk saat gempa Kobe di Jepang, sebagaimana layaknya sebuah 
otobiografi. Buku otobiografi setebal 1364 halaman ini adalah salah satu dari 
buku2 otobiografi paling tebal yang pernah ditulis.

Kata seorang pengamat, Ajip adalah seorang langka dengan kelebihan yang tidak 
dimiliki H.B. Jassin, Goenawan Mohamad, dan Soebagio Sastrowardojo (Dr. Faruk 
dalam Kompas 31 Mei 2003).

"Mungkin ada orang yang membaca buku ini menuduh bahwa buku ini merupakan usaha 
Ajip untuk memamerkan kehebatannya sebagai orang yang "kurang sekolah", tetapi 
berhasil mencapai prestasi internasional. Tentu saja tuduhan itu sukar 
dibantah. Meskipun tentunya sah-sah saja bagi orang berprestasi untuk 
memamerkan prestasinya, apalagi prestasi ini dicapai melalui perjuangan dan 
usaha sendiri dengan kerja keras. Ajip sudah merupakan seorang yang dihargai di 
Indonesia, dia tak akan perlu memamerkan diri lagi, buku ini ditulisnya lebih 
kepada keinginan untuk mengawetkan kenangan2 dan pikiran2-nya, berbagi 
pengalaman dengan orang lain", begitu tulis Arief Budiman dari Melbourne, teman 
karib Ajip, dalam kata pengantar otobiografi ini.

Satu hal yang sangat penting yang merupakan pesan Ajip melalui buku ini adalah 
: meskipun pendidikan sangat penting, orang bisa juga berhasil meskipun tidak 
atau kurang sekolahnya. Ajip telah membuktikan kepada kita semua bahwa ia bisa 
hidup dan berhasil sampai punya reputasi internasional bahkan sampai menjadi 
gurubesar di tiga perguruan tinggi di luar negeri meskipun tak punya gelar 
akademik apa pun, bahkan ijazah SMA pun tak ia miliki, Ajip benar2 : hidup 
tanpa ijazah.

"Ajip akan diterjang kegelisahan yang luar biasa saat ia mandeg membaca dan 
gagap menulis" (Maman S. Mahayana dalam Panji Mas, Februari 2003).

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke