Sedikit komentar : selama Yahudi dan Crusaders (Nashoro Harbi) masih
bercokol di jantung pemerintahan dan bisnis AS selama itu pula tidak
akan ada kata menyerah. Apalagi kalau membaca Al Baqarah ayat 120 dan Al
Maidah ayat 51,64, 82, makin nambah ketidak-percayaan kepada mereka. 

 

________________________________

From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of kus darmawan
Sent: Saturday, October 11, 2008 3:57 PM
To: mediamusliminfo; PKS; dzikrullah
Subject: [mediamusliminfo] AS Ingin Damai, Taliban Menolak

 

 <http://219.83.122.106/fckfiles/image/internasional/Nato.jpg>
eramuslim.com - Beginilah liciknya AS, setelah memporakporandakan
Afghanistan lewat invasinya selama hampir tujuh tahun dan setelah tahu
bahwa pasukan koalisinya tidak akan mampu menghadapi Taliban, negara
Paman Sam yang sedang diambang kehancuran ekonominya itu mulai "cari
selamat" untuk mengakhiri konfliknya di Afghanistan dengan menyatakan
siap berekonsiliasi dengan Taliban.

Berbicara usai pembahasan perang di Afghanistan dengan anggota pasukan
Nato di Budapest, Menhan AS Robert Gates mengatakan bahwa negara AS pada
"akhirnya" siap berekonsiliasi dengan Taliban untuk mengakhiri konflik
di Afghanistan. Setiap kesepakatan dengan Taliban harus berdasarkan pada
tuntutan pemerintah Afghanistan dan Taliban harus mematuhi aturan-aturan
yang ditetapkan pemerintahan Afghanistan yang saat ini dipimpin oleh
Presiden Hamid Karzai, presiden Afghanistan boneka AS.

"Harus ada akhir, dan saya pada akhirnya akan menekankan rekonsiliasi
sebagai bagian dari jalan keluar politik untuk konflik ini. Pada
akhirnya harus ada strategi jalan keluar untuk kita semua," kata Gates.

Meski demikian, Gates menyatakan tetap menolak untuk bernegosiasi dengan
kelompok al-Qaida di Afghanistan dan hanya bersedia berbicara dengan
Taliban. Padahal AS melakukan invasi ke Afghanistan dengan alasan
mencari pimpinan al-Qaida Usamah bin Ladin yang dituding menjadi dalang
serangan 11 September 2001 di AS. Invasi kemudiang berkembang menjadi
penjajahan AS di Aghanistan setelah berhasil menumbangkan pemerintahan
Taliban yang berkuasa di Afghanistan ketika itu.

Dalam invasinya, AS meminta bantuan dari pasukan Nato. Saat ini, ada
sekitar 33.000 pasukan AS dan 40.000 ribu pasukan Nato yang dikerahkan
ke Afghanistan.

Gates menyatakan kesediaan AS bernegosiasi dengan Taliban setelah
intelejen AS National Intelligence Estimate (NIE) kembali mengeluarkan
draft laporannya yang kontroversial hari Kamis kemarin. Laporan tersebut
menyatakan bahwa situasi di Afghanistan saat ini menjadi situasi
terburuk bagi pasukan koalisi AS sejak invasi mereka tahun 2001 dan
sedang meluncur ke arah kekerasan dan kekacauan.

Sebelum NIE mengeluarkan draft laporannya, Komandan Pasukan Inggris di
Afghanistan Brigadir Mark Carleton-Smith menyatakan bahwa perang di
Afghanistan tidak bisa dimenangkan jika tetap dilakukan dengan cara
militer dan sudah saatnya dilakukan negosiasi dengan Taliban. Pernyataan
Smith diamini oleh sejumlah komandan pasukan dan diplomat Nato yang
menilai perlunya melakukan negosiasi dengan Taliban untuk mengakhiri
konflik di Afghanistan.

Hari ini, Sekretaris Jenderal Nato, Jaap de Hoop Scheffer sendiri yang
mengungkapkan keraguannya bahwa pasukan asing mampu memenangkan
peperangan dengan Taliban di Afghanistan. Meski demikian, Scheffer dalam
pertemuan dua hari Nato di Budapest menyatakan bahwa ia mendukung
penambahan dana anggaran pertahanan, walaupun dunia, terutama
negara-negara anggota Nato sedang dilanda krisis keuangan buruk.

Lucunya, penjajah asing di Afghanistan sekarang membuat seolah-olah yang
bertikai adalah pemerintah Afghanistan dan Taliban, dan bukan kehadiran
mereka yang telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan di Afghanistan
lewat invasinya, Sehingga Presiden Afghanistan Hamid Karzai meminta Arab
Saudi untuk menjadi mediator negosiasi antara pemerintah Afghanistan dan
Taliban serta menyerukan pimpinan Taliban Mullah Omar agar membuka diri
bagi perdamaian di Afghanistan.

Sikap Taliban

 <http://219.83.122.106/fckfiles/image/internasional/Taliban1.jpg>
Sementara itu, menurut agen-agen intelejen dan sumber-sumber yang dekat
dengan pemerintah Afghanistan, sikap Taliban terpecah dua terkait
tawaran damai dengan pemerintahan Hamid Karzai yang didukung AS.

Tapi seorang juru bicara Taliban, Maulvi Zabihullah mengatakan bahwa
Taliban tidak tertarik untuk melakukan negosiasi atau kesepakatan dengan
AS atau agen-agennya di Afghanistan. "Taliban tetap bersatu dibawah
kepemimpinan Mullah Mohammad Umar dan akan tetap akan meneruskan
perjuangan untuk melawan para agresor asing dan agen-agen lokalnya,"
tegas Zabihullah.

Bulan September lalu, sejumlah mantan pejabat Taliban termasuk menteri
luar negeri Maulvi Wakil Ahmad Mutawakkil dan utusan Taliban untuk
Pakistan Mullah Abdul Salam Saeef, sudah menggelar pertemuan dengan
perwakilan dari pemerintahan Afghanistan di kota Makkah, Saudi Arabi
yang menjadi mediator perdamaian antara keduabelah pihak.

"Kami tahu, mereka bertemu dengan perwakilan pemerintah Afghanistan di
istana Raja Saudi di Makkah. Tapi mereka tidak diberi mandat untuk
bernegosiasi dengan mereka," kata Zabihullah seraya mengatakan bahwa
para mantan pejabat Taliban yang hadir dalam acara itu, saat ini tidak
punya kewenangan lagi untuk ikut menentukan kebijakan Taliban.

"Kami menghormati mereka. Namun kami tidak ada kaitannya dengan
pertemuan mereka atau pembicaraan dengan orang-orang Karzai," tambah
Zabihullah.

Sumber-sumber Taliban lainnya mengatakan, Mutawakkil dan mereka yang
hadir dalam pertemuan di Makkah adalah tokoh-tokoh yang oleh pejabat dan
media AS disebut sebagai tokoh "Taliban yang moderat" dan sudah tidak
dipercaya lagi oleh Mullah Umar.

Lebih lanjut Zabihullah mengatakan, Taliban menghormati upaya yang
dilakukan Raja Saudi, Raja Abdullah untuk memediasi perdamaian. "Tapi
fakta yang terjadi di Afghanistan sangat jauh berbeda. Banyak yang
menentang negosiasi dengan AS karena kebrutalan yang telah dilakukan AS
terhadap rakyat sipil Afghanistan," tukasnya.

Zabihullah juga menegaskan bahwa Taliban sudah makin kuat dan tidak
butuh negosiasi dengan AS atau para agen-agennya. "Pasukan penjajah
mengalami kekalahan setiap hari. Kesepakatan dan negosiasi hanya akan
memperkuat pasukan asing dan akan membahayakan gerakan pembebasan.
Apapun itu, pasukan AS harus meninggalkan Afghanistan," tandas
Zabihullah.

 

________________________________

Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru
<http://sg.rd.yahoo.com/id/mail/domainchoice/mail/signature/*http:/mail.
promotions.yahoo.com/newdomains/id/> 
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan
@rocketmail. br> Cepat sebelum diambil orang lain


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke