wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.......

* Ghibah adalah penyakit hati yang memakan kebaikan, mendatangkan keburukan
serta membuang-buang waktu secara sia-sia. Penyakit ini meluas di masyarakat
karena kurangnya pemahaman agama, kehidupan yang semakin mudah dan banyaknya
waktu luang. Kemajuan teknologi, telepon misalnya, juga turut menyebarkan
penyakit masyarakat ini.*

*Hakekat Ghibah*

*Ghibah* adalah *membicarakan orang lain dengan hal yang tidak disenanginya
bila ia mengetahuinya, baik yang disebut-sebut itu kekurangan yang ada pada
badan, nasab, tabiat, ucapan maupun agama hingga pada pakaian, rumah atau
harta miliknya yang lain. Menyebut kekurangannya yang ada pada badan seperti
mengatakan ia pendek, hitam, kurus dan lain sebagainya. Atau pada agamanya
seperti mengatakan ia pembohong, fasik, munafik dan lain-lain.*

Kadang orang tidak sadar ia telah melakukan ghibah, dan saat diperingatkan
ia menjawab: "Yang saya katakan ini benar adanya!" Padahal Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dengan tegas menyatakan perbuatan tersebut
adalah ghibah. Ketika ditanyakan kepada beliau, bagaimana bila yang
disebut-sebut itu memang benar adanya pada orang yang sedang digunjing-kan,
beliau menjawab: "Jika yang engkau gunjingkan benar adanya pada orang
tersebut, maka engkau telah melakukan ghibah, dan jika yang engkau sebut
tidak ada pada orang yang engkau sebut, maka engkau telah melakukan dusta
atasnya." (HR. Muslim)

Ghibah tidak terbatas dengan lisan saja, namun juga bisa terjadi dengan
tulisan atau isyarat seperti kerdipan mata, gerakan tangan, cibiran bibir
dan sebagainya. Sebab intinya adalah memberitahukan kekurangan seseorang
kepada orang lain. Suatu ketika ada seorang wanita datang kepada 'Aisyah
Radhiyallahu 'Anha. Ketika wanita itu sudah pergi, 'Aisyah mengisyaratkan
dengan tangannya yang menunjukkan bahwa wanita itu berbadan pendek.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam lantas bersabda: "Engkau telah
melakukan ghibah!" Semisal dengan ini adalah gerakan memperagakan orang lain
seperti menirukan cara jalan seseorang, cara berbicaranya dan lain-lain.
Bahkan yang demikian ini lebih parah daripada ghibah, karena di samping
mengandung unsur memberitahu kekurangan orang, juga mengandung tujuan
mengejek atau meremehkan.

Tak kalah meluasnya adalah ghibah dengan tulisan, karena tulisan adalah
lisan kedua. Media massa sudah tidak segan dan malu-malu lagi membuka aib
seseorang yang paling rahasia sekalipun. Yang terjadi kemudian, sensor
perasaan malu masya-rakat menurun sampai pada tingkat yang paling rendah.
Aib tidak lagi dirasakan sebagai aib yang seharusnya ditutupi, perbuatan
dosa menjadi makanan sehari-hari.

*Macam dan Bentuk Ghibah*

Ghibah mempunyai berbagai macam dan bentuk, yang paling buruk adalah ghibah
yang disertai dengan riya' seperti mengatakan: "Saya berlindung kepada Allah
dari perbuatan yang tidak tahu malu semacam ini, semoga Allah menjagaku dari
perbuatan itu." padahal maksudnya mengungkapkan ketidaksenangannya kepada
orang lain, namun ia menggunakan ungkapan doa untuk mengutarakan maksudnya.

Kadang orang melakukan ghibah dengan cara pujian, seperti mengatakan:
"Betapa baik orang itu, tidak pernah meninggalkan kewajibannya, namun sayang
ia mempunyai perangai seperti yang banyak kita miliki, kurang sabar." Ia
menyebut juga dirinya dengan maksud mencela orang lain dan mengisyaratkan
dirinya termasuk golongan orang-orang shalih yang selalu menjaga diri dari
ghibah. Bentuk ghibah yang lain misalnya mengucapkan: "Saya kasihan terhadap
teman kita yang selalu diremehkan ini. Saya berdoa kepada Allah agar dia
tidak lagi diremehkan." Ucapan semacam ini bukanlah doa, karena jika ia
menginginkan doa untuknya, tentu ia akan mendoakannya dalam kesendiriannya
dan tidak menguta-rakannya semacam itu.

*Ghibah yang Diperbolehkan*

Tidak semua jenis ghibah dilarang dalam agama. Ada beberapa jenis ghibah
yang diperbolehkan, yaitu *yang dimaksud-kan untuk mencapai tujuan yang
benar, dan tidak mungkin tercapai kecuali dengan ghibah*. Setidaknya ada
enam jenis ghibah yang diperbolehkan:
* Pertama : Melaporkan perbuatan aniaya*. Orang yang teraniaya boleh
mela-porkan kepada hakim dengan mengatakan ia telah dianiaya oleh seseorang.
Pada dasarnya ini adalah perbuatan ghibah, namun karena dimaksudkan untuk
tujuan yang benar, maka hal ini diperbolehkan dalam agama.

*Kedua : Usaha untuk mengubah kemungkaran dan membantu seseorang keluar dari
perbuatan maksiat*, seperti mengutarakan kepada orang yang mem-punyai
kekuasaan untuk mengubah kemungkaran: "Si Fulan telah berbuat tidak benar,
cegahlah dia!" Maksudnya adalah meminta orang lain untuk mengubah
kemungkaran. Jika tidak bermaksud demikian, maka ucapan tadi adalah ghibah
yang diharamkan.

*Ketiga : Untuk tujuan meminta nasehat*. Misalnya dengan mengucapkan: "Ayah
saya telah berbuat begini kepada saya, apakah perbuatannya itu
diperbolehkan? Bagaimana caranya agar saya tidak diperlakukan demikian lagi?
Bagaimana cara mendapatkan hak saya?" Ungkapan demikian ini diperbolehkan.
Tapi lebih selamat bila ia mengutarakannya dengan ungkapan misalnya:
"Bagaimana hukum-nya bila ada seseorang yang berbuat begini kepada anaknya,
apakah hal itu diperboleh-kan?" Ungkapan semacam ini lebih selamat karena
tidak menyebut orang tertentu.

*Keempat : Untuk memperingatkan atau menasehati kaum muslimin *. Contoh
dalam hal ini adalah jarh (menyebut cela perawi hadits) yang dilakukan para
ulama hadits. Hal ini diper-bolehkan menurut ijma' ulama, bahkan menjadi
wajib karena mengandung masla-hat untuk umat Islam.

*Kelima : Bila seseorang berterus terang dengan menun-jukkan kefasikan dan
kebid'ahan,* seperti minum arak, berjudi dan lain sebagainya, maka boleh
menyebut seseorang tersebut dengan sifat yang dimaksudkan, namun ia tidak
boleh menyebutkan aib-aibnya yang lain.

*Keenam : Untuk memberi penjelasan dengan suatu sebutan yang telah masyhur
pada diri seseorang*. Seperti menyebut dengan sebutan si bisu, si pincang
dan lainnya. Namun hal ini tidak diperbolehkan bila dimaksudkan untuk
menunjukkan kekurangan seseorang. Tapi alangkah baiknya bila memanggilnya
dengan julukan yang ia senangi.

*Taubat dari Ghibah*

Menurut ijma' ulama ghibah termasuk dosa besar. Pada dasarnya orang yang
melakukan ghibah telah melakukan dua kejahatan; kejahatan terhadap Allah
Ta'ala karena melakukan perbuatan yang jelas dilarang olehNya dan kejahatan
terhadap hak manusia. Maka *langkah pertama yang harus diambil untuk
menghindari maksiat ini adalah dengan taubat yang mencakup tiga syaratnya,
yaitu meninggalkan perbuatan maksiat tersebut, menyesali perbuatan yang
telah dilakukan dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi.*

Selanjutnya, harus diikuti dengan *langkah kedua untuk menebus kejahatan-nya
atas hak manusia, yaitu dengan menda-tangi orang yang digunjingkannya
kemudian minta maaf atas perbuatan-nya dan menunjuk-kan penyesalannya*. *Ini
dilakukan bila orang yang dibicara-kannya mengetahui bahwa ia telah
dibicarakan*. *Namun apabila ia belum mengetahuinya,* maka *bagi yang
melakukan ghibah atasnya hendaknya mendoakannya dengan kebaikan dan berjanji
pada dirinya sendiri untuk tidak mengulanginya.*

Kiat Menghindari Ghibah

Untuk mengobati kebiasaan ghibah yang merupakan penyakit yang sulit
dideteksi dan sulit diobati ini, ada beberapa kiat yang bisa kita lakukan.
Pertama: Selalu mengingat bahwa perbuatan ghibah adalah penyebab kemarahan
dan kemurkaan Allah serta turunnya adzab dariNya.

Kedua: Bahwasanya timbangan kebaikan pelaku ghibah akan pindah kepada orang
yang digunjingkannya. Jika ia tidak mempunyai kebaikan sama sekali, maka
diambilkan dari timbangan kejahatan orang yang digunjingkannya dan
ditambahkan kepada timbangan kejahatannya. Jika mengingat hal ini selalu,
niscaya seseorang akan berfikir seribu kali untuk melakukan perbuatan
ghibah.

Ketiga: Hendaknya orang yang melakukan ghibah mengingat dulu aib dirinya
sendiri dan segera berusaha memperbaikinya. Dengan demikian akan timbul
perasaan malu pada diri sendiri bila membuka aib orang lain, sementara
dirinya sendiri masih mempunyai aib.

Keempat: Jika aib orang yang hendak digunjingkan tidak ada pada dirinya
sendiri, hendaknya ia segera bersyukur kepada Allah karena Dia telah
menghindarkanndari aib tersebut, bukannya malah mengotori dirinya dengan aib
yang lebih besar yang berupa perbuatan ghibah.

Kelima: Selalu ingat bila ia membicarakan saudaranya, maka ia seperti orang
yang makan bangkai saudaranya sendiri, sebagaimana yang difirmankan Allah:
"Dan janganlah sebagian kamu menggunjingkan sebagian yang lain. Sukakah
salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?" (Al
Hujuraat : 12)

Keenam: Hukumnya wajib mengi-ngatkan orang yang sedang melakukan ghibah,
bahwa perbuatan tersebut hukum-nya haram dan dimurkai Allah.
Ketujuh: Selalu mengingat ayat-ayat dan hadits-hadits yang melarang ghibah
dan selalu menjaga lisan agar tidak terjadi ghibah.

Mudah-mudahan Allah selalu menjauhkan kita dari perbuatan yang tidak terpuji
ini, amin. (Aas)

Abdul Malik bin Muhammad Al Qasim, bit Tasharruf waz Ziyadah

sumber: www.alsofwah.or.id


Pada 19 November 2008 11:29, Febri - <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

> Assalamu'alaikum..
> Minta pendapat nech dari temen2 semua....
> Bagaimana pandangan Islam tentang Ghibah? Seandainya kita tidak sengaja
> melakukan Ghibah kemudian kita sadar, apa yang harus kita lakukan?
> Apakah harus meminta maaf kepada yang bersangkutan? Sedangkan kita tidak
> mengenalnya.
> Terimakasih..
> Wassalamu'alaikum...
>
> ------------------------------
>  Nama baru untuk Anda!
> <http://sg.rd.yahoo.com/id/mail/domainchoice/mail/signature/*http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/>
> Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan
> @rocketmail.
> Cepat sebelum diambil orang lain
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke