Ibu memang jasamu tiada tara mendidik kita dengan penuh kesabaran dan kasih
sayangnya sampai pengorbanan beliau untuk memberikan waktu dan tenaga demi
anak-anaknya..

berkenaan dengan hari Ibu ini aku jadi pengen menceritakan Kisah Seorang Ibu
Yang gigih dalam perjuangannya

PENGEMUDI TAXI ITU SEORANG IBU

Setiap hari beliau bangun sebelum matahari keluar,beliau mulai berangkat
kerja dari rumahnya jam 5.00 subuh  ..sampai jam 12 malam..meskipun
pekerjaannya dilakoninya setiap hari seperti itu beliau tidak pernah
berkeluh kesah dan selalu tampil penuh semangat.. di tempat pekerjaannya
bekerja di salah satu Perusahaan Taxi ternama di negeri ini sebagai salah
satu pengemudi taxi wanita dari tujuh orang yang pengemudi wanita diantara
ribuan pengemudi laki- laki.. beliau sudah bekerja di perusahaannya kurang
lebih 12 tahun..Wow.. luar biasa dalam kurun waktu yang cukup lama..

Beliau yang memang sejak lama memilki hobi mengemudi mobil ini menjadi tidak
merasa keberatan bekerja di perusahaan tersebut dan pada akhirnya jadi
mencintai pekerjaannya.. beliau ini tinggal di Bandung dengan memiliki tiga
orang anak..anak yang paling pertama sudah masuk SMA dan yang paling kecil
usianya sekitar 12 tahun..dan seorang suami yang tidak bekerja. Jadi pada
intinya penghasilan nya untuk menghidupi empat orang..kadang -kadang beliau
pulang ke Bandung bisa sepekan sekali atau dua pekan sekali..

semoga kisah di atas bisa memberikan inspirasi kita dalam melihat makna
kehidupan ini..


kisah ini saya peroleh dari kabar pagi di tvone

http://supri-elegan.blogspot.com

Pada 21 Desember 2008 22:34, Dian Novian <[email protected]> menulis:

>  SECARIK SURAT DARI SEORANG IBU…!!
>
>
> Assalamu'alaikum,
> Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta'ala yang telah
> memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu
> sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, keluarga
> dan para sahabatnya. Amin…
> Wahai anakku,
> Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah
> berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena,
> sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis,
> setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap
> kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…
> Wahai anakku!
> Sepanjang mas    a yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah
> menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya
> engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas
> kertas ini lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah
> remas hati dan telah engkau robek pula perasaanku.
> Wahai anakku… 25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan
> tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang
> menyampaikan kabar tentang kehamilanku dan semua ibu sangat mengetahui
> arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri
> ini sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi…
> Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan. Tidur,
> berdiri, makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua
> tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh
> bersama berjalannya waktu.
> Aku mengandungmu, wahai anakku! Pada kondisi lemah di atas lemah,
> bersamaan dengan itu aku begitu grmbira tatkala merasakan melihat
> terjangan kakimu dan balikan badanmu di perutku. Aku merasa puas setiap
> aku menimbang diriku, karena semakin hari semakin bertambah berat
> perutku, berarti engkau sehat wal afiat dalam rahimku.
> Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah saat itu,
> ketika fajar pada malam itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan
> mataku barang sekejap pun. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan
> dan rasa takut yang tidak bisa dilukiskan.
> Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak dapat lagi
> menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian menari-nari di pelupuk
> mataku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia. Engkau pun
> lahir… Tangisku bercampur dengan tangismu, air mata kebahagiaan. Dengan
> semua itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan
> penderitaan, bahkan kasihku padamu semakin bertambah dengan bertambah
> kuatnya sakit. Aku raih dirimu sebelum aku meraih minuman, aku peluk
> cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air yang ada di kerongkonganku.
> Wahai anakku… telah berlalu tahun dari usiamu, aku membawamu dengan
> hatiku dan memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripati
> hidupku kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, berletih demi
> kebahagiaanmu.
> Harapanku pada setiap harinya; agar aku melihat senyumanmu.
> Kebahagiaanku setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar
> aku berbuat sesuatu untukmu… itulah kebahagiaanku!
> Kemudian, berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan
> dan tahun berganti tahun. Selama itu pula aku setia menjadi pelayanmu
> yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti,
> dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah mengenal lelah serta mendo'akan
> selalu kebaikan dan taufiq untukmu.
> Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi
> dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis
> yang telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu. Tatkala itu
> aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan demi mencari pasangan hidupmu.
> Semakin dekat hari perkawinanmu, semakin dekat pula hari
> kepergianmu. saat itu pula hatiku mulai serasa teriris-iris, air mataku
> mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan
> duka, tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau
> mendapatkan pasangan dan sedih karena engkau pelipur hatiku akan
> berpisah denganku.
> Waktu berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat. Kiranya
> setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu, senyummu yang
> selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihan, sekarang telah sirna
> bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang
> selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam seperti
> batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang
> berguguran. Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi karena engkau telah
> melupakanku dan melupakan hakku.
> Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat
> rupamu. Detik demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Akan
> tetapi penantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu
> hanya untuk melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit
> pintu aku manyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali
> telepon berdering aku merasa bahwa engkaulah yang menelepon. Setiap
> suara kendaraan yang lewat aku merasa bahwa engkaulah yang datang.
> Akan tetapi, semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia dan harapanku
> hancur berkeping, yang ada hanya keputusasaan. Yang tersisa hanyalah
> kesedihan dari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil
> menangisi diri dan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.
> Anakku… ibumu ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah menagih
> kepadamu yang bukan-bukan. Yang Ibu pinta, jadikan ibumu sebagai
> sahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai
> pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar Ibu
> teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.
> Dan Ibu memohon kepadamu, Nak! Janganlah engkau memasang jerat
> permusuhan denganku, jangan engkau buang wajahmu ketika Ibu hendak
> memandang wajahmu!!
> Yang Ibu tagih kepadamu, jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat
> persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana sekalipun
> hanya satu detik. Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak
> pernah engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksa engkau datangi sambil
> engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.
> Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku, karena
> badanku telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit… Berdiri
> seharusnya dipapah, dudukpun seharusnya dibopong, sekalipun begitu
> cintaku kepadamu masih seperti dulu… Masih seperti lautan yang tidak
> pernah kering. Masih seperti angin yang tidak pernah berhenti.
> Sekiranya engakau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya
> engkau akan balas kebaikannya dengan kebaikan setimpal. Sedangkan
> kepada ibumu… Mana balas budimu, nak!? Mana balasan baikmu! Bukankah
> air susu seharusnya dibalas dengan air susu serupa?! Akan tetapi kenapa
> nak! Susu yang Ibu berikan engkau balas dengan tuba. Bukankah Allah
> ta'ala telah berfirman,
>
> "Bukankah balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula?!"
>
> (QS. Ar Rahman: 60)
>
> Sampai begitu keraskah hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu?! Setelah
> berlalunya hari dan berselangnya waktu?!
> Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan
> hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak,
> engkau adalah buah dari kedua tanganku, engkaulah hasil dari
> keletihanku. Engkaulah laba dari semua usahaku! Kiranya dosa apa yang
> telah kuperbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?!
> Pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama bergaul
> denganmu, atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?
> Terus, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan statusku
> sebagai budak dan pembantu yang paling hina dari sekian banyak pembantu
> dan budakmu. Semua mereka telah mendapatkan upahnya!? Mana upah yang
> layak untukku wahai anakku!
> Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah
> naungan kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan sedikit kasih
> sayangmu demi mengobati derita orang tua yang malang ini? Sedangkan
> Allah ta'ala mencintai orang yang berbuat baik.
> Wahai anakku!! Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan
> yang lain.
> Wahai anakku! Hatiku teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau
> sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan bahwa engkau seorang
> laki-laki supel, dermawan, dan berbudi. Anakku… Tidak tersentuhkah
> hatimu terhadap seorang wanita tua yang lemah, tidak terenyuhkah jiwamu
> melihat orang tua yang telah renta ini, ia binasa dimakan oleh rindu,
> berselimutkan kesedihan dan berpakaian kedukaan!? Bukan karena
> apa-apa?! Akan tetapi hanya karena engkau telah berhasil mengalirkan
> air matanya… Hanya karena engkau telah membalasnya dengan luka di
> hatinya… hanya karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati
> durhakamu tepat menghujam jantungnya… hanya karena engkau telah
> berhasil pula memutuskan tali silaturrahim?!
> Wahai anakku, ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka
> titilah jembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang
> manis, pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu
> di sana dengan kasih sayang Allah ta'ala, sebagaimana dalam hadits:
>
> "Orang tua adalah pintu surga yang di tengah. Sekiranya engkau mau, maka
> sia-siakanlah pintu itu atau jagalah!!"
>
> (HR. Ahmad)
> Anakku. Aku sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu. Semenjak
> engkau telah beranjak dewasa saat itu pula tamak dan labamu kepada
> pahala dan surga begitu tinggi. Engkau selalu bercerita tentang
> keutamaan shalat berjamaah dan shaf pertama. Engkau selalu berniat
> untuk berinfak dan bersedekah.
> Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu hadits yang terlupakan olehmu!
> Satu keutamaan besar yang terlalaikan olehmu yaitu bahwa Nabi yang
> mulia shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Dari Ibnu Mas'ud
> radhiallahu 'anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu
> 'alaihi wa sallam, "Wahai Rasulullah, amal apa yang paling mulia?
> Beliau berkata: "Shalat pada waktunya",
>
> aku berkata: "Kemudian apa, wahai Rasulullah?"
>
> Beliau berkata: "Berbakti kepada kedua orang tua",
>
> dan aku berkata: "Kemudian, wahai Rasulullah!"
>
> Beliau menjawab, "Jihad di jalan Allah", lalu beliau diam. Sekiranya aku
> bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya.
>
> (Muttafaqun 'alaih)
> Wahai anakku!! Ini aku, pahalamu, tanpa engkau bersusah payah untuk
> memerdekakan budak atau berletih dalam berinfak. Pernahkah engkau
> mendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dan
> anak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mencari tambang
> emas?! Setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawa
> pulang hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalam
> usahanya. Setibanya di rumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubuk
> reotnya, tetapi yang dilihatnya adalah sebuah perusahaan tambang emas
> yang besar. Berletih mencari emas di negeri orang kiranya, di sebelah
> gubuk reotnya orang mendirikan tambang emas.
> Begitulah perumpamaanmu dengan kebaikan. Engkau berletih mencari
> pahala, engkau telah beramal banyak, tapi engkau telah lupa bahwa di
> dekatmu ada pahala yang maha besar. Di sampingmu ada orang yang dapat
> menghalangi atau mempercepat amalmu. Bukankah ridhoku adalah keridhoan
> Allah ta'ala, dan murkaku adalah kemurkaan-Nya?
> Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku takutkan bahwa
> jangan-jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi shallallahu 'alaihi wa
> sallam dalam sabdanya:
>
> "Merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang",
> dikatakan, "Siapa dia,wahai Rasulullah?, "Orang yang mendapatkan kedua
> ayah ibunya ketika tua, dan tidak memasukkannya ke surga". (HR. Muslim)
> Anakku… Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit dan aku tidak
> adukan duka ini kepada Allah, karena sekiranya keluhan ini telah
> membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan
> menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidak
> ada tabib yang dapat menyembuhkannya. Aku tidak akan melakukannya, Nak!
> Bagaimana aku akan melakukannya sedangkan engkau adalah jantung hatiku…
> Bagaimana ibumu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit sedangkan
> engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana Ibu tega melihatmu merana
> terkena do'a mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku.
> Bangunlah Nak! Uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu
> masa hingga engkau akan menjadi tua pula, dan al jaza' min jinsil amal…
> "Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam…" Aku tidak
> ingin engkau nantinya menulis surat yang sama kepada anak-anakmu,
> engkau tulis dengan air matamu sebagaimana aku menulisnya dengan air
> mata itu pula kepadamu.
> Wahai anakku, bertaqwalah kepada Allah pada ibumu, peganglah
> kakinya!! Sesungguhnya surga di kakinya. Basuhlah air matanya, balurlah
> kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yang
> telah lapuk.Anakku… Setelah engkau membaca surat ini,terserah padamu!
> Apakah engkau sadar dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.
>
>
> Wassalam,
> Ibumu
>
> ------------------------------
>  New Email names for you!
> <http://sg.rd.yahoo.com/aa/mail/domainchoice/mail/signature/*http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/>
> Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
> Hurry before someone else does!
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

<<inline: stat764.jpg>>

Kirim email ke