Assalamualaikum Warohmatullahi wabarokatuh,

Segala Puji bagi Allah dan Salam Hormatku bagi Nabi kita Muhammad SAW.

"Al-Ashr: 3." kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat
menasehati supaya menetapi kesabaran. "

Saudaraku Muslim dan Muslimah, Mengingat saat ini sdg terjadi
"Penggodokan Ghirah" Umat Islam diseluruh dunia.
Banyak dari kita merasa terpanggil dgn beraneka ragaman femahaman kita.
Dikhawatirkan justru malah terpecah belahnya Ukhuwah karena cara yg
keliru dalam menyampaikan pandangan thd sesama, maka saya beranikan
diri untuk menampilkan tulisan dibawah ini.
Tak ada niat apapun selain menggugurkan kutipan ayat diatas.( Allah saksiku.)
===========================================================
Rabu, 28 Agustus 2007 - 20:30:33,  Penulis : Al-Ustadz Abu Karimah Askari
bin Jamal Al-Bugisi


Kategori : Tafsir


Berdebat Tanpa Ilmu


وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلاَ هُدًى وَلاَ
كِتَابٍ مُنِيْرٍ. ثَانِيَ عِطْفِهِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ لَهُ فِي
الدُّنْيَا خِزْيٌ وَنُذِيْقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَذَابَ الْحَرِيْقِ.
ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللهَ لَيْسَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ
"Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa
ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya
dengan memalingkan lambungnya untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Ia
mendapat kehinaan di dunia dan di hari kiamat. Kami merasakan kepadanya
adzab neraka yang membakar. (Akan dikatakan kepadanya): 'Yang demikian itu,
adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu
dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya'."
(Al-Hajj: 8-10)

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat
ثَانِيَ عِطْفِهِ
"Memalingkan lambung atau lehernya." Ini merupakan gambaran bahwa dia tidak
menerima dan berpaling dari sesuatu.
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma mengatakan: "Ia menyombongkan diri dari
kebenaran jika diajak kepadanya."
Mujahid, Qatadah, dan Malik dari Zaid bin Aslam mengatakan: "Memalingkan
lehernya, yaitu berpaling dari sesuatu yang dia diajak kepadanya dari
kebenaran, karena sombong." Seperti firman-Nya:
وَفِي مُوْسَى إِذْ أَرْسَلْنَاهُ إِلَى فِرْعَوْنَ بِسُلْطَانٍ مُبِيْنٍ.
فَتَوَلَّى بِرُكْنِهِ وَقَالَ سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُوْنٌ
"Dan juga pada Musa (terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami
mengutusnya kepada Fir'aun dengan membawa mukjizat yang nyata. Maka dia
(Fir'aun) berpaling (dari keimanan) bersama tentaranya, dan berkata: 'Dia
adalah seorang tukang sihir atau seorang gila'." (Adz-Dzariyat: 38-39)
Ibnu Jarir At-Thabari rahimahullahu berkata: "Yang benar dari penafsiran
tersebut adalah dengan mengatakan bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa
Ta'ala menyifati orang yang mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta'ala ini
tanpa ilmu, bahwa itu karena kesombongannya. Jika diajak kepada jalan Allah
Subhanahu wa Ta'ala, dia berpaling dari yang mengajaknya, sambil memalingkan
lehernya dan tidak mau mendengar apa yang dikatakan kepadanya dengan berlaku
sombong." (Tafsir At-Thabari)
لِيُضِلَّ
"Untuk menyesatkan." Ada yang mengatakan bahwa huruf lam dalam ayat ini
adalah menjelaskan tentang akibat. Maknanya yaitu yang berakibat dia
menyesatkan (manusia) dari jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Pendapat ini
dikuatkan oleh Al-Qurthubi rahimahullahu dalam tafsirnya. Adapula yang
mengatakan bahwa huruf lam tersebut sebagai ta'li, yang berarti bertujuan
untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala. (lihat
Tafsir Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi)

Penjelasan Makna Ayat
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa'di rahimahullahu tatkala menjelaskan ayat ini,
mengatakan:
"Perdebatan tersebut bagi seorang muqallid (yang mengikuti satu perkataan
tanpa dalil). Perdebatan ini berasal dari setan yang jahat yang menyeru
kepada berbagai bid'ah. Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan bahwa dia
mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan cara mendebat para rasul
Allah Subhanahu wa Ta'ala dan para pengikutnya dengan cara yang batil dalam
rangka menggugurkan kebenaran, tanpa ilmu yang benar dan petunjuk. Dia tidak
mengikuti sesuatu yang membimbingnya dalam perdebatannya itu. Tidak dengan
akal yang membimbing dan tidak pula dengan seseorang yang diikuti karena
hidayah. Tidak pula dengan kitab yang bercahaya, yaitu yang jelas dan nyata.
Dia tidak memiliki hujjah baik secara aqli maupun naqli, namun hanya sekedar
menampilkan syubhat-syubhat yang dibisikkan oleh setan kepadanya. (Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman):
وَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لَيُوْحُوْنَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوْكُمْ
"Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka
membantah kamu." (Al-An'am: 121)
Bersamaan dengan itu, dia memalingkan lambung dan lehernya. Ini merupakan
gambaran tentang kesombongannya dari menerima kebenaran serta menganggap
remeh makhluk yang lain. Dia merasa bangga dengan apa yang dia miliki berupa
ilmu yang tidak bermanfaat, serta meremehkan orang-orang yang berada di atas
kebenaran dan al-haq yang mereka miliki. Akibatnya, dia menyesatkan manusia,
yaitu dia termasuk ke dalam penyeru kepada kesesatan. Termasuk dalam hal ini
adalah semua para pemimpin kufur dan kesesatan. Lalu (Allah Subhanahu wa
Ta'ala) menyebutkan hukuman yang mereka dapatkan di dunia dan akhirat. Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
لَهُ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ
"baginya di dunia kehinaan." Yaitu, dia akan menjadi buruk di dunia sebelum
di akhirat.
Dan ini termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang
menakjubkan, di mana tidaklah engkau mendapati seorang da'i yang menyeru
kepada kekafiran dan kesesatan melainkan dia akan dimurkai di jagad raya
ini. Ia mendapatkan laknat, kebencian, celaan, yang berhak ia peroleh.
Setiap mereka tergantung keadaannya.
وَنُذِيْقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَذَابَ الْحَرِيْقِ
"Dan Kami akan merasakan kepadanya pada hari kiamat adzab neraka yang
membakar."
yaitu Kami akan menjadikan dia merasakan panasnya yang dahsyat dan apinya
yang sangat panas. Hal itu disebabkan apa yang telah dia amalkan. Dan
sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak berlaku dzalim terhadap
hamba-hamba-Nya. (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)
Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: "Tatkala Allah Subhanahu wa Ta'ala
menyebutkan keadaan orang-orang sesat yang jahil dan hanya bertaqlid dalam
firman-Nya:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّبِعُ كُلَّ
شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ
"Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu
pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang sangat jahat." (Al-Hajj: 3)
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebut dalam ayat ini keadaan para penyeru
kepada kesesatan dari tokoh-tokoh kekafiran dan kesesatan. Yaitu, di antara
manusia ada yang mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan tanpa
ilmu, tanpa hidayah, dan tanpa kitab yang bercahaya, yaitu tanpa akal sehat
dan tanpa dalil syar'i yang benar dan jelas. Namun hanya sekedar akal dan
hawa nafsu. (Tafsir Ibnu Katsir)
Terjadi perselisihan di kalangan para ulama tentang siapa yang dimaksud
dalam ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah An-Nadhr bin
Al-Harits dari Bani Abdid Dar, tatkala dia berkata bahwa para malaikat ini
merupakan anak-anak perempuan Allah. Adapula yang mengatakan yang dimaksud
adalah Abu Jahl bin Hisyam, dan ada lagi yang mengatakan bahwa yang dimaksud
adalah Al-Akhnas bin Syuraiq. Namun ayat ini mencakup setiap yang mendebat
tentang Allah Subhanahu wa Ta'ala yang berakibat menolak kebenaran dan
menjauhkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala, baik dia orang
kafir, munafik, atau dari kalangan ahli bid'ah.
Diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma tatkala beliau
menjelaskan makna "ia memalingkan lehernya untuk menyesatkan manusia dari
jalan Allah": "Dia adalah ahli bid'ah." (lihat Tafsir Al-Qurthubi)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: "mendebat tentang Allah
Subhanahu wa Ta'ala dengan tanpa ilmu" ini merupakan celaan terhadap setiap
orang yang mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta'ala tanpa ilmu. Juga
merupakan dalil yang menunjukkan bolehnya (berdebat) bila dengan ilmu,
sebagaimana yang dilakukan oleh Ibrahim 'alaihissalam dengan kaumnya."
(Majmu' Fatawa, 15/267)

Berdebat, antara yang Boleh dan yang Terlarang
Terdapat nash-nash yang menjelaskan tentang tercelanya berdebat dalam agama
Allah Subhanahu wa Ta'ala. Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wa
Ta'ala:
مَا يُجَادِلُ فِي آيَاتِ اللهِ إِلاَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوا فَلاَ يَغْرُرْكَ
تَقَلُّبُهُمْ فِي الْبِلاَدِ
"Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang
yang kafir. Karena itu janganlah pulang balik mereka dengan bebas dari suatu
kota ke kota yang lain memperdayakan kamu." (Ghafir: 4)
dan firman-Nya:
إِنَّ الَّذِيْنَ يُجَادِلُوْنَ فِي آيَاتِ اللهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ
إِنْ فِي صُدُوْرِهِمْ إِلاَّ كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيْهِ فَاسْتَعِذْ
بِاللهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
"Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa
alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan
hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan
mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha
Mendengar lagi Maha Melihat." (Ghafir: 56)
Telah diriwayatkan dari hadits Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
أَبْغَضُ الرِّجَالِ إِلىَ اللهِ اْلأَلَدُّ الْخَصِمُ
"Orang yang paling dibenci Allah adalah yang suka berdebat." (Muttafaq
Alaihi)
Juga dari hadits Abu Umamah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوا الْجَدَلَ.
ثُمَّ تَلاَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ اْلآيَةَ:
{مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُوْنَ}
"Tidaklah tersesat satu kaum setelah mendapatkan hidayah yang dahulu mereka
di atasnya, melainkan mereka diberi sifat berdebat." Kemudian Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُوْنَ
"Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud
membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar."
(Az-Zukhruf: 58) [HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan Al-Albani t dalam
Shahih Al-Jami' no. 5633]
Abdurrahman bin Abiz Zinad berkata: "Kami mendapati orang-orang yang mulia
dan ahli fiqih -dari orang-orang pilihan manusia- sangat mencela para ahli
debat dan yang mendahulukan akalnya. Dan mereka melarang kami bertemu dan
duduk bersama orang-orang itu. Mereka juga memperingatkan kami dengan keras
dari mendekati mereka." (lihat Al-Ibanah Al-Kubra 2/532, Mauqif Ahlis
Sunnah, Asy-Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili 2/591)
Demikian pula Al-Imam Ahmad rahimahullahu mengatakan: "Pokok-pokok ajaran
As-Sunnah menurut kami adalah: berpegang teguh di atas metode para sahabat
Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam, mengikuti mereka, dan meninggalkan
bid'ah. Dan setiap bid'ah adalah sesat. Dan meninggalkan pertengkaran serta
duduk bersama pengekor hawa nafsu, juga meninggalkan dialog dan berdebat
serta bertengkar dalam agama ini." (Syarh Al-Lalika`i, 1/156, Mauqif Ahlis
Sunnah, Ar-Ruhaili 2/591)
Wahb bin Munabbih rahimahullahu berkata: "Tinggalkan perdebatan dari
perkaramu. Karena sesungguhnya engkau tidak akan terlepas dari menghadapi
salah satu dari dua orang: (1) orang yang lebih berilmu darimu, lalu
bagaimana mungkin engkau berdebat dengan orang yang lebih berilmu darimu?
(2) orang yang engkau lebih berilmu darinya, maka bagaimana mungkin engkau
mendebat orang yang engkau lebih berilmu darinya, lalu dia tidak
mengikutimu? Maka tinggalkanlah perdebatan tersebut!" (Lammud Durr, karangan
Jamal Al-Haritsi hal. 158)
Namun di samping dalil-dalil yang melarang berdebat tersebut di atas, juga
terdapat nash-nash lain yang menunjukkan kebolehannya. Di antara yang
menunjukkan bolehnya berdebat adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
ادْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ
ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
"Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu Dialah yang
lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang
lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (An-Nahl: 125)
Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan beberapa kisah debat antara
Rasul-Nya dengan orang-orang kafir. Seperti kisah Ibrahim 'alaihissalam yang
mendebat kaumnya. Demikian pula debat Nabi Musa 'alaihissalam dengan
Fir'aun, dan berbagai kisah lainnya yang disebutkan dalam Al-Qur`an.
Demikian pula dalam hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang
menyebutkan perdebatan antara Nabi Adam dan Musa 'alaihissalam, sebagaimana
yang disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah
radhiyallahu 'anhu.
Ibnu Rajab rahimahullahu berkata: "Banyak dari kalangan imam salaf
mengatakan: Debatlah kelompok Al-Qadariyyah dengan ilmu, jika mereka
mengakui maka mereka membantah (pemikiran mereka sendiri). Dan jika mereka
mengingkari, maka sungguh mereka telah kafir."
Demikian pula banyak terjadi perdebatan di kalangan ulama salaf, seperti
yang terjadi antara 'Umar bin Abdil 'Aziz rahimahullahu dengan Ghailan
Ad-Dimasyqi Al-Qadari, Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma yang mendebat
kelompok Khawarij, Al-Auza'i rahimahullahu yang berdebat dengan seorang
qadari (pengikut aliran Qadariyyah), Abdul 'Aziz Al-Kinani rahimahullahu
dengan Bisyr bin Ghiyats Al-Marisi Al-Mu'tazili, Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah rahimahullahu dengan para tokoh ahli bid'ah, serta yang lainnya,
yang menunjukkan diperbolehkannya melakukan dialog dan debat tersebut.
(Mauqif Ahlis Sunnah, 2/597)
Apa yang telah kami sebutkan di atas menunjukkan bahwa dalam masalah
berdebat, tidak dihukumi dengan sikap yang sama. Namun tergantung dari
keadaan, tujuan, dan maksud dari perdebatan tersebut. An-Nawawi
rahimahullahu berkata:
"Jika perdebatan tersebut dilakukan untuk menyatakan dan menegakkan al-haq,
maka hal itu terpuji. Namun jika dengan tujuan menolak kebenaran atau
berdebat tanpa ilmu, maka hal itu tercela. Dengan perincian inilah
didudukkan nash-nash yang menyebutkan tentang boleh dan tercelanya
berdebat."
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullahu berkata:
"Pertengkaran dan perdebatan dalam perkara agama terbagi menjadi dua:
Pertama: dilakukan dengan tujuan menetapkan kebenaran dan membantah
kebatilan. Ini merupakan perkara yang terpuji. Adakalanya hukumnya wajib
atau sunnah, sesuai keadaannya. Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa
Ta'ala:
ادْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ
ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
"Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu Dialah yang
lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang
lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (An-Nahl: 125)
Kedua: dilakukan dengan tujuan bersikap berlebih-lebihan, untuk membela
diri, atau membela kebatilan. Ini adalah perkara yang buruk lagi terlarang,
berdasarkan firman-Nya:
مَا يُجَادِلُ فِي آيَاتِ اللهِ إِلاَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوا
"Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang
yang kafir." (Ghafir: 4)
Dan firman-Nya:
وَجَادَلُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ فَأَخَذْتُهُمْ فَكَيْفَ
كَانَ عِقَابِ
"Dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran
dengan yang batil itu; karena itu Aku adzab mereka. Maka betapa (pedihnya)
adzab-Ku." (Ghafir: 5) [Mauqif Ahlis Sunnah, 2/600-601]
Ibnu Baththah rahimahullahu berkata: "Jika ada seseorang bertanya: 'Engkau
telah memberi peringatan kepada kami dari melakukan pertengkaran,
perdebatan, dan dialog (dengan ahlul bid'ah). Dan kami telah mengetahui
bahwa inilah yang benar. Inilah jalan para ulama, jalan para sahabat, dan
orang-orang yang berilmu dari kalangan kaum mukminin serta para ulama yang
diberi penerangan jalan. Lalu, jika ada seseorang datang kepadaku bertanya
tentang sesuatu berupa berbagai macam hawa nafsu yang nampak dan berbagai
macam pendapat buruk yang menyebar, lalu dia berbicara dengan sesuatu
darinya dan mengharapkan jawaban dariku; sedangkan aku termasuk orang yang
telah Allah Subhanahu wa Ta'ala berikan ilmu tentangnya serta pemahaman yang
tajam dalam menyingkapnya. Apakah aku tinggalkan dia berbicara seenaknya dan
tidak menjawabnya serta aku biarkan dia dengan bid'ahnya, dan saya tidak
membantah pendapat jeleknya tersebut?'
Maka aku akan mengatakan kepadanya: Ketahuilah wahai saudaraku –semoga Allah
Subhanahu wa Ta'ala merahmatimu– bahwa orang yang seperti ini keadaannya
(yang mau mendebatmu), yang engkau diuji dengannya, tidak lepas dari tiga
keadaan:
(1) Adakalanya dia orang yang engkau telah mengetahui metode dan pendapatnya
yang baik, serta kecintaannya untuk mendapatkan keselamatan dan selalu
berusaha berjalan di atas jalan istiqamah. Namun dia sempat mendengar
perkataan mereka yang para setan telah bercokol dalam hati-hati mereka,
sehingga dia berbicara dengan berbagai jenis kekufuran melalui lisan-lisan
mereka. Dan dia tidak mengetahui jalan keluar dari apa yang telah menimpanya
tersebut, sehingga dia bertanya dengan pertanyaan seseorang yang meminta
bimbingan, untuk mendapat solusi dari problem yang dihadapinya dan obat dari
gangguan yang dialaminya. Dan engkau memandang bahwa dia akan taat dan tidak
menyelisihinya.
Orang yang seperti ini, yang wajib atasmu adalah mengarahkan dan
membimbingnya dari berbagai jeratan setan. Dan hendaklah engkau
membimbingnya kepada Al-Kitab dan As-Sunnah serta atsar-atsar yang shahih
dari ulama umat ini dari kalangan para sahabat dan tabi'in. Semua itu
dilakukan dengan cara hikmah dan nasihat yang baik. Dan jauhilah sikap
berlebih-lebihan terhadap apa yang engkau tidak ketahui, lalu hanya
mengandalkan akal dan tenggelam dalam ilmu kalam. Karena sesungguhnya
perbuatanmu tersebut adalah bid'ah. Jika engkau menghendaki sunnah, maka
sesungguhnya keinginanmu mengikuti kebenaran namun dengan tidak mengikuti
jalan kebenaran tersebut adalah batil. Dan engkau berbicara tentang
As-Sunnah dengan cara bukan As-Sunnah adalah bid'ah. Jangan engkau mencari
kesembuhan saudaramu dengan penyakit yang ada pada dirimu. Jangan engkau
memperbaikinya dengan kerusakanmu, karena sesungguhnya orang yang menipu
dirinya tidak bisa menasihati manusia. Dan siapa yang tidak ada kebaikan
pada dirinya, maka tidak ada pula kebaikan untuk yang lainnya. Siapa yang
Allah Subhanahu wa Ta'ala beri taufiq, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan
meluruskan jalannya. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa
Ta'ala, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menolong dan membantunya."
Abu Bakr Al-Ajurri rahimahullahu berkata:
"Jika seseorang berkata: 'Jika seseorang yang telah diberi ilmu oleh Allah
Subhanahu wa Ta'ala, lalu ada seseorang datang kepadanya bertanya tentang
masalah agama, lalu mendebatnya; apakah menurutmu dia perlu mengajaknya
berdialog agar sampai kepadanya hujjah dan membantah pemikirannya?'
Maka katakan kepadanya: 'Inilah yang kita dilarang dari melakukannya, dan
inilah yang diperingatkan oleh para imam kaum muslimin yang terdahulu.'
Jika ada yang bertanya: 'Lalu apa yang harus kami lakukan?'
Maka katakan kepadanya: 'Jika orang yang menanyakan permasalahannya kepadamu
adalah orang yang mengharapkan bimbingan kepada al-haq dan bukan perdebatan,
maka bimbinglah dia dengan cara yang terbaik dengan penjelasan. Bimbinglah
dia dengan ilmu dari Al-Kitab dan As-Sunnah, perkataan para shahabat dan
ucapan para imam kaum muslimin. Dan jika dia ingin mendebatmu, maka inilah
yang dibenci oleh para ulama, dan berhati-hatilah engkau terhadap agamamu.'
Jika dia bertanya: 'Apakah kita biarkan mereka berbicara dengan kebatilan
dan kita mendiamkan mereka?'
Maka katakan kepadanya: 'Diamnya engkau dari mereka dan engkau meninggalkan
mereka dalam apa yang mereka bicarakan itu lebih besar pengaruhnya atas
mereka daripada engkau berdebat dengannya. Itulah yang diucapkan oleh para
ulama terdahulu dari ulama salafush shalih kaum muslimin." (Lammud Durr,
Jamal Al-Haritsi hal. 160-162)
  _____

Copyright (c) 2005 Asysyariah.com.. All rights reserved
Developed by OaSe Media
=================================================================
 Semoga Bermanfaat, dan kita bisa belajar mengamalkannya.Insya Allah.

Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.




-- 
Ahid_M

Bekasi

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke