Tersebutlah seorang terhukum di sebuah negeri antah berantah. Ia dijatuhi 
hukuman rajam, dan setiap yang lewat harus melemparkan sesuatu ke tubuhnya. 
Yang tidak bersedia melakukannya, dihukum berat. Seorang sahabat karibnya harus 
melalui jalan Äitu, dan karenanya harus juga melemparkan sesuatu. Dibawanyalah 
sekuntum bunga melati yang harum semerbak dan kecil pula ukurannya, hingga 
tidak akan menyakitkan sahabatnya itu. Ketika dua pasang mata bertatapan dan 
kewajiban memaksa, maka bunga melati kecil yang harum semerbak itu pun 
melayanglah ke tubuh sang sahabat yang dari pinggang ke bawah terbenam di dalam 
tanah, sedangkan dari pinggang ke atas telah penuh berlumuran darah.
Ternyata, segala lemparan benda keras yang telah mengalirkan darah itu tidaklah 
sesakit seperti sekuntum bunga melati kecil yang harum semerbak, namun berasal 
dari tangan seorang sahabat, hingga terasa laksana terhunjam peluru kendali.
Begitulah barangkali rasa kecewa kebanyakan Ummat Islam ketika mendengar ucapan 
Barack Hussein Obama menyampaikan ceramah di depan American-Israel Public 
Affairs Committe - AIPC - sebuah badan lobi/penekan warga Amerika keturunan 
Yahudi serta simpatisan mereka di Amerika.
Ceramah tersebut disampaikan ketika kampa­nye pemilihan presiden di Amerika 
sedang seru-serunya.
Dalam kesempatan itu, Obama menyatakan dukungannya "apabila Yarusalem (Al Quds) 
yang dipersatukan menjadi ibukota Israel untuk selama-lamanya."
Sebelumnya, di Amerika tidak pernah ada seorang pejabat Amerika yang bersedia 
melangkah sampai sejauh itu. Paling-paling mereka hanya menjanjikan akan 
memindahkan letak Kedutaan Besar Amerika dari Tel Aviv ke Yarusalem. Namun 
janji itu sebenarnya memang dimaksudkan hanya sebagai janji, bukan ungkapan 
tekad yang sebenarnya. Mereka menyadari bahwa mengakui Yarusalem sebagai 
ibukota Israel, dengan cara apa pun, termasuk pemindahan letak Kedutaan Besar, 
akan memancing amarah bukan saja bangsa Palestina dan Dunia Arab melainkan juga 
mayoritas Ummat Islam sedunia.
Bagaimana tidak, bagi Ummat Islam, Masjidil Aqsha yang terletak di Yarusalem 
(Al Quds) merupakan persinggahan Rasulullah saw. ketika melakukan perjalanan 
malam menuju Sidratul Muntaha (Al-Isrâ' [17]:1). Allah swt. mengatakan, 
memberkahi kawasan sekeliling Baitul Maqdis itu.
Selama ini, salah satu sandungan dalam me­wujudkan perdamaian antara Israel dan 
Palestina adalah Yarusalem (Al-Quds). Palestina menyatakan tidak dapat 
ditawar-tawar tekad mereka untuk menjadikan Yarusalem (Al-Quds) Timur, sebagai 
ibukota sebuah Negara Palestina yang merdeka.
Tahu-tahu, Obama mencanangkan sesuatu yang bukan saja akan sangat menguntungkan 
Israel melainka juga sekaligus merugikan bangsa Palestina dan menyakiti Ummat 
Islam.
Pada hal begitu banyak Ummat Islam yang se­belum­nya, dan bahkan selama ini, 
masih meng­andalkan seorang Obama sebagai kekuatan yang lebih bersimpati dengan 
Islam. Maklum, ayahnya, kendati sekuler, namun dari keluarga Muslim; kemudian 
ayah tirinya, seorang warganegara Indonesia, adalah seorang Muslim, dan Obama 
pernah bergaul dengan anak-anak sebayanya di Jakarta, yang juga Muslim. 
Tidakkah semua ini kemudian membekaskan secuil rasa simpati pada kalbunya, atau 
bahkan hasrat untuk memahami perasaan Ummat Islam yang belakangan ini begitu 
deras dihujat?
Tidak mengherankan kalau sementara pengamat menyimpulkan bahwa tantangan dan 
ujian pertama yang akan dihadapi Obama setelah dilantik (20 Januari 2009) 
sebagai presiden bukan dari Iran atau Korea Utara atau Rusia, melainkan Israel. 
Khusus sebuah Israel yang perdana menterinya adalah Benjamin Netanyahu, tokoh 
garis keras yang sebenarnya kurang bernafsu untuk mewujudkan sebuah Negara 
Palestina yang merdeka, terutama di Tepi Barat. 
Lalu, bagaimana Obama akan menangani hal ini?
Berbagai presiden Amerika sejak berdirinya Israel, kecuali barangkali Dwight 
Eisenhower, terkesan tidak berani bersikap keras terhadap Israel.
Presiden George Walker Bush, begitu dikatakan, sejak awal sudah memutuskan 
untuk patuh saja sama Israel tanpa malu-malu, daripada harus menanggungkan 
akibat-akibatnya, mengingat raksasawiahnya pengaruh AIPC yang disebutkan tadi. 
Harus diakui bahwa ketika menjadi Menteri Luar Negeri dalam kabinet pertama 
Presiden Bush, Jederal Purnawiran Colin Powell, yang pernah menjadi Ketua 
Gabungan Kepala-Kepala Staf Amerika, menghardik seorang perdana menteri Israel 
yang hendak memperlakukannya laksana seorang budak suruhan. Waktu itu, demikian 
dilaporkan, Colin Powell lantang menyatakan bahwa dia bukanlah Menlu Israel, 
melainkan seorang Menlu Amerika. Akankah Obama pun demikian halnya atau akan 
patuh melebihi presiden-presiden Amerika sebelumnya kepada Israel? 
www.penerbitcakrawala.com


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke