Penulis: Al Ustadz Abu Hamzah al Atsari
Amat mengherankan perkaranya ketika dimunculkan satu pertanyaan i'tiqodiyah,
"Di mana Allah?", kita mendapatkan jawaban yang bermacam-macam dan berbeda-beda
dari mulut-mulut kaum muslimin. Ada yang beranggapan bahwa tidak boleh
mempertanyakan di mana Allah, tetapi tak sedikit pula yang menjawab, "Allah ada
di mana-mana", lebih ironisnya ada yang mengatakan, "Allah tidak di atas, tidak
juga di bawah, tidak di sebelah kanan tidak pula di sebelah kiri, tidak di
barat tidak di timur, tidak di selatan tidak juga di utara."
Para pembaca, sungguh sangat memprihatinkan bila seorang muslim atau banyak
muslim tidak mengetahui masalah pokok dalam agamanya ini, tapi apa hendak
dikata bila memang realita yang ada menunjukkan demikian, satu fenomena yang
cukup mu`sif (menyedihkan) menimpa ummat ini yang dilatarbelakangi dengan
jauhnya dari pendidikan ilmu agama yang benar, sementara Allah telah berfirman,
"Allah menganugrahkan al hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al Qur`an dan As
Sunnah) kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan barangsiapa yang dianugrahi al
hikmah itu ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya
orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran." (QS Al Baqoroh:
269). "Katakanlah: 'Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang
yang tidak mengetahui?' Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima
pelajaran." (QS Az Zumar: 9).
Bagaimana tidak dikatakan hal yang pokok dalam agama, pengetahuan tentang "di
mana Allah?" tatkala ternyata Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
menjadikannya sebagai dalil akan kebenaran iman seseorang. Di dalam Shohih
Muslim, dan Sunan Abi Daud, Sunan An Nasa`i, dan lainnya dari sahabat Mu'awiyah
bin Hakam as Sulami, ia berkata: Aku punya seorang budak yang biasa
menggembalakan kambingku ke arah Uhud dan sekitarnya, pada suatu hari aku
mengontrolnya, tiba-tiba seekor serigala telah memangsa salah satu darinya
-sedang aku ini seorang laki-laki keturunan Adam yang juga sama merasakan
kesedihan- maka akupun amat menyayangkannya hingga kemudian akupun menamparnya
(menampar budaknya, pent.), lalu aku mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam dan kuceritakan kejadian itu padanya. Beliau membesarkan hal itu padaku,
aku pun bertanya, "Wahai Rosulullah apakah aku harus memerdekakannya?" Beliau
menjawab, "Panggil dia kemari!" Aku segera memanggilnya,
lalu beliau bertanya padanya, "Di mana Allah?" Dia menjawab, "Di langit."
"Siapa aku?" tanya Rosul. "Engkau Rosulullah (utusan Allah)" ujarnya. Kemudian
Rosulullah berkata padaku, "Merdekakan dia, sesungguhnya dia seorang mu`min."
Di dalam hadits ini terkandung tiga pelajaran yang sangat signifikan. Pertama:
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menetapkan keimanan sang budak ketika ia
mengetahui bahwa Allah di atas langit. Kedua: Disyari'atkannya ucapan seorang
muslim yang bertanya "Di mana Allah?". Ketiga: Disyari'atkannya bagi orang yang
ditanya hal itu agar menjawab, "Di atas langit." Sulaiman at Taimi, salah
seorang tabi'in mengatakan, "Bila aku ditanya di mana Allah? Aku pasti akan
menjawab di atas langit."
Para pembaca, apa jadinya jika ternyata sebagian kaum yang taunya sebatas "air
barokah" dan orang-orang yang spesialisasinya hanya itu kemudian apriori untuk
menolak bahkan lebih dari itu mengkafirkan orang yang mempertanyakan "Di mana
Allah?" Ketahuilah bahwa siapa saja yang mengingkari permasalahan ini berarti
ia telah mengingkari Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, wal
'iyadzubillah bila kemudian mengkafirkannya. Jawaban seorang budak dalam hadits
di atas sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta'ala, "Apakah kamu merasa
aman terhadap Allah yang di langit, bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi
bersama kamu... Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit
bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu." (QS Al Mulk: 16-17). Tidaklah
mengherankan bila kemudian penetapan bahwa Dzat Allah di atas langit menjadi
keyakinan para imam yang empat, imam Abu Hanifah -seorang alim dari negeri
Iraq- berkata, "Barangsiapa yang mengingkari Allah
'azza wa jalla di langit maka ia telah kufur!" Imam Malik -imam Darul Hijroh-
mengatakan, "Allah di atas langit, sedang ilmuNya (pengetahuanNya) di setiap
tempat, tidak akan luput sesuatu darinya." Muhammad bin Idris yang lebih
dikenal dengan sebutan Imam asy Syafi'i berkata, "Berbicara tentang sunnah yang
menjadi peganganku dan para ahli hadits yang saya lihat dan ambil ilmunya
seperti Sufyan, Malik, dan selain keduanya, adalah berikrar bahwa tidak ada
ilah (yang berhak untuk diibadahi secara benar) kecuali Allah dan bahwa
Muhammad adalah utusan Allah, serta bersaksi bahwa Allah itu di atas 'arsy di
langit..." Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, "Apakah Allah di atas
langit yang ke tujuh di atas 'arsyNya jauh dari makhlukNya, sedangkan
kekuasaanNya dan pengetahuanNya di setiap tempat?" Beliau menjawab, "Ya, Dia di
atas 'arsyNya tidak akan luput sesuatupun darinya." (Lihat kitab Al 'Uluw, Imam
adz Dzahabi).
Aqidah yang agung ini telah tertanam dalam dada-dada kaum muslimin periode
pertama, para salafus sholih ahlussunnah wal jama'ah. Berkata Imam Qutaibah bin
Sa'id -wafat pada tahun 240 H-, "Ini adalah pendapat / ucapan para imam-imam
Islam, sunnah, dan jama'ah, bahwa kita mengenal Rabb kita di atas langit yang
ke tujuh di atas 'arsyNya." Sehingga semakin jelaslah bahwa Allah di atas
langit sebagai ijma ahlissunnah wal jama'ah yang berlandaskan Kitab, Sunnah,
akal, dan fitrah. Allah berfirman, "Dia mengatur urusan dari langit ke bumi."
(QS As Sajdah: 5). "KepadaNyalah naik perkataan yang baik dan amal sholeh yang
dinaikkanNya." (QS Fathir: 10). "Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap)
kepada Tuhannya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun." (QS Al
Ma'arij: 4). "Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit..." (QS Al
Mulk: 16-17). "Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tinggi." (QS Al A'laa: 1). Dan
ayat-ayat lainnya teramat banyak untuk
disebutkan sampai-sampai sebagian besar kalangan Syafi'i mengatakan, "Di dalam
Al Qur`an terdapat seribu dalil atau bahkan lebih menunjukkan bahwa Allah
ta'ala tinggi di atas makhlukNya." (Majmu'ul Fatawa: 5/226). Di dalam Shohih
Bukhori dan Muslim dari sahabat Abu Bakroh radhiyallahu 'anhu bahwa ketika
Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan manusia pada
hari Arafah, beliau berkata, "Ya Allah, saksikanlah" (seraya mengangkat jari
telunjuknya ke arah langit). Semua orang yang berakal akan menetapkan bahwa
ketinggian adalah sifat sempurna sedangkan kebalikannya adalah sifat
kekurangan, sementara Allah 'azza wa jalla tersucikan dari hal-hal yang
bersifat kekurangan, ini semua menunjukkan bahwa Dzat Allah di atas langit
adalah suatu kesempurnaan bagiNya. Demikian pula secara fitroh, semua kaum
muslimin di belahan dunia apabila berdo'a mengangkat kedua tangannya ke langit,
tak didapatkan seorang pun dari mereka apabila mengatakan, "Ya
Allah, ampunilah dosaku" mengarahkan kedua tangannya ke tanah
-selama-lamanya!!- menunjukkan secara fitrah, semua manusia menetapkan bahwa
Dzat Allah di atas langit.
Para pembaca, perjalanan waktu yang cukup lama aqidah Islam ini tak lagi
dikenal dan diketahui mayoritas umat Islam, seakan-akan sirna dari sumbernya,
malah sebaliknya faham-faham Jahmiyah, Asy'ariyah, Mu'tazilah, dan ahli kalam
yang merajalela bak wabah penyakit yang menular. Kalangan anak-anak, remaja,
dan para orang tua, bahkan sang ustadz atau kyai dan guru ngaji bila ditanya,
"Di mana Allah?" serempak menjawab, "Allah ada di mana-mana." Inna lillahi wa
inna ilaihi roji'un. Sebagian yang dinisbatkan kepada ilmu berdalil atas
pernyataannya itu dengan firman Allah, "Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu
berada." (QS Al Hadid: 4). Memang menjadi ciri khas ahli bathil adalah
"seenaknya mengambil dalil tetapi buruk ketika berdalil". Ketahuilah bahwa ayat
itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa Allah ada di mana-mana, sebab bila
difahami demikian, maka tentu ketika seseorang berada di masjid Allah ada di
situ, ketika di pasar Allah juga ada di situ,
bahkan tatkala seseorang berada di tempat kotor sekalipun, seperti WC, maka
Allah pun ada di situ! Maha tinggi Allah atas pernyataan-pernyataan ini. Tetapi
maksud dari ayat itu "Dia bersama kamu..." ialah ilmuNya, pengawasanNya,
penjagaanNya bersama kamu, sedang Dzat Allah di atas arsy di langit. (Lihat
Tafsir Qur`anil Azhim: 4/317). Imam Sufyan ats Tsaury -wafat pada tahun 161 H-
pernah ditanya tentang ayat ini "Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu
berada." Beliau menjawab, "yakni ilmuNya." Hanbal bin Ishaq berkata: Abu
Abdillah (Imam Ahmad, pent.) ditanya apa makna "Dan Dia bersama kamu"? Beliau
menjawab, "Yakni ilmuNya, ilmuNya meliputi segala hal sedangkan Rabb kita di
atas arsy..." Imam Nu'aim bin Hammad -wafat pada tahun 228 H- ditanya tentang
firman Allah "Dan Dia bersama kamu" beliau berkata, "Maknanya tidak ada
sesuatupun yang luput darinya, dengan ilmunya." (lihat Al 'Uluw, Imam adz
Dzahabi). Ketika Imam Abu Hanifah mengatakan, "Allah
subhanahu wa ta'ala di langit tidak di bumi", ada yang bertanya, "Tahukah Anda
bahwa Allah berfirman, 'Dia (Allah) bersama kamu'?" Beliau menjawab, "Ungkapan
itu seperti kamu menulis surat kepada seseorang "saya akan selalu bersama kamu"
padahal kamu jauh darinya. (I'tiqodul a`immah al arba'ah).
Para pembaca -semoga dirahmati Allah- sudah saatnya kita tanamkan kembali
aqidah yang murni warisan Nabi dan para salafus sholih ini di dalam jiwa-jiwa
generasi Islam kini dan mendatang. Sungguh keindahan, ketentraman mewarnai
anak-anak kita dan para orang tua saat kita tanyai "Di mana Allah?" lalu mereka
mengarahkan jari telunjuknya ke atas dan berucap, "Allah di langit." Wallahul
haadi ila sabilir rosyaad. Wal ilmu indallah.
(Buletin Dakwah Al Wala' Wal Bara')
Firefox 3: Lebih Cepat, Lebih Aman, Dapat Disesuaikan dan
Gratis.http://downloads.yahoo.com/id/firefox
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam Google Groups yaitu
"Media Muslim Group". (Group Situs http://www.mediamuslim.info dan
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian
satu-per-satu.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---