Sya’ban: Jembatan Meraih Keutamaan Ramadhan
[Al-Islam 466] Baru saja kaum Muslim meninggalkan bulan Rajab, salah satu bulan
yang Allah muliakan. Pekan ini, kita pun sudah berada pada bulan Sya’ban, yang
juga merupakan salah satu bulan istimewa. Beberapa hari ke depan, tidak sampai
sebulan lagi, kita pun insya Allah akan memasuki bulan mulia yang lain, yakni
bulan suci Ramadhan.
Bulan-bulan ini memiliki keistimewaan dan keutamaan masing-masing. Pertama:
terkait bulan Rajab. Bulan Rajab terletak antara bulan Jumadil Akhir dan bulan
Sya’ban. Bulan Rajab termasuk salah satu di antara empat bulan yang disucikan
(bulan haram) (QS at-Taubah [9]: 36). Sebagaimana penjelasan Rasulullah saw.,
keempat bulan suci itu adalah: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab (HR
al-Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679).
Selain itu, pada bulan ini, paling tidak, umat diingatkan dengan salah satu
peristiwa besar, yakni Peristiwa Isra’ Mikraj Baginda Nabi Muhammad saw.,
tepatnya tanggal 27 Rajab. Peristiwa ini bahkan diabadikan di dalam al-Quran.
Allah SWT berfirman:
Mahasuci Allah Yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid
al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami
perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya
Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha mengetahui (QS al-Isra’ [17]: 1).
Para ulama bersepakat, bahwa pada Peristiwa Isra’ Mikraj inilah Baginda Nabi
Muhammad saw. menerima perintah langsung dari Allah SWT berupa kewajiban shalat
lima waktu. Shalat lima waktu adalah salah satu kewajiban utama dan istimewa,
yang karenanya berusaha untuk selalu dijaga dan dipelihara setiap Muslim.
Karena itu, begitu pentingnya peristiwa Isra’ Mikraj ini, kaum Muslim,
khususnya di negeri ini, setiap tanggal 27 Rajab memperingatinya.
Namun, satu hal yang dilupakan oleh kebanyakan kaum Muslim, pada bulan Rajab
pula, tepatnya 28 Rajab tahun 1342 H, 88 tahun lalu, Khilafah Islam yang
terakhir, yakni Kehilafahan Turki Utsmani—sebagai institusi penegak syariah,
pemersatu umat di seluruh dunia sekaligus pengemban risalah Islam melalui
dakwah dan jihad—diruntuhkan oleh bangsa-bangsa kafir, khususnya Inggris,
melalui tangan anteknya, Mustafa Kamal Atturk. Sejak itulah, penderitaan,
keterpurukan, perpecahan dan berbagai malapetakan menimpa umat Islam. Semua ini
tidak lain karena umat telah kehilangan institusi pelayan, pengayom, pelindung
sekaligus pemersatu. Benarlah sabda Nabi saw.:
بِهِ وَيُتَّقَى وَرَائِهِ مِنْ يُقَاتَلُ جُنَّةٌ اْلإِمَامُ إِنَّمَا
Imam (Khalifah) adalah perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan
berlindung kepadanya (HR Muslim).
Jika sebagian Muslim begitu sungguh-sungguh menjaga dan memelihara shalatnya,
pada saat yang sama, mereka tidak jarang justru mengabaikan kewajiban-kewajiban
lain di luar shalat. Menegakkan Khilafah adalah salah satunya. Padahal
kewajiban menegakkan Khilafah ini merupakan salah satu kewajiban terbesar kaum
Muslim. Sebab, tanpa Khilafah, sebagaimana saat ini, sebagian besar hukum-hukum
Allah SWT—dalam bidang ekonomi, politik, pemerintahan, pendidikan, hukum,
sosial dll—dicampakkan.
Karena itu, kaum Muslim, khususnya di negeri ini, seyogyanya menyambut seruan
ribuan ulama yang hadir pada acara Muktamar Ulama Nasional beberapa waktu lalu
di Jakarta, tepatnya pada tanggal 21 Juli 2009/28 Rajab 1430 H, yang
diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia. Seruan tersebut intinya mengajak
seluruh komponen umat Islam, khususnya para ulamanya, untuk sungguh-sungguh
berjuang secara bersama-sama mewujudkan kembali Khilafah ini, demi tegaknya
syariah Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan kaum Muslim. Dengan
Khilafah, umat ini bukan hanya bisa menjaga dan memelihara shalat-shalat
mereka, tetapi juga hukum-hukum Allah SWT yang lain.
Kedua: terkait dengan bulan
Sya’ban. Dinamakan sya’ban, karena berasal dari kata syi’b, yaitu jalan di
sebuah gunung atau jalan kebaikan; karena orang-orang Arab pada bulan-bulan
tersebut yatasya’abûn (berpencar) untuk mencari sumber mata air; karena mereka
tasyâ’ub (berpisah-pisah di gua-gua). Dikatakan juga karena bulan ini muncul
(sya’aba) di antara dua bulan: Rajab dan Ramadhan.
Menurut pendapat lain, dinamakan sya’ban karena pada bulan itu terpancar
bercabang-cabang kebaikan yang banyak (yatasya’abu minhu khayrun katsir). Pada
bulan ini terdapat banyak kejadian dan peristiwa yang patut memperoleh
perhatian kaum Muslim. Di antaranya:
1. Perubahan arah kiblat.
Pada bulan Sya’ban, arah kiblat berpindah dari Baitul Maqdis di Palestina ke
Ka’bah di Makkah al-Mukarramah. Allah SWT berfirman:
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit. Karena itu, sungguh
Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke
arah Masjid al-Haram. Di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya
(QS al-Baqarah [2]: 144).
Dijelaskan dalam banyak kitab tafsir, saat ayat tentang perubahan kiblat turun,
Rasulullah saw. dan kaum Muslim di belakang beliau sedang menunaikan shalat.
Saat itu juga, tanpa menunda-nunda lagi, Rasulullah saw., yang kemudian
serentak diikuti kaum Muslim, langsung mengubah arah shalatnya; dari Baitul
Maqdis ke Masjid al-Haram.
Peristiwa ini sesungguhnya mengandung satu ibrah (pelajaran) yang amat penting,
yakni betapa kaum Muslim dulu, tanpa banyak bertanya, apalagi membantah, secara
sepontan menaati perintah Allah SWT dan mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah
saw. Mereka tidak seperti sebagian Muslim saat ini, khususnya para penguasa dan
elit politiknya, yang sampai hari ini bukan hanya enggan untuk menerapkan
hukum-hukum Allah, bahkan sebagian mereka menentangnya dan menganggapnya
sebagai hal berbahaya.
2. Diangkatnya amal manusia.
Pada bulan Sya’ban amal-amal manusia diangkat ke langit. Dalam hal ini, Usamah
bin Zaid ra. berkata, “Ya Rasulullah, saya tidak pernah melihatmu berpuasa
dalam suatu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasamu pada bulan
Sya’ban.” Beliau bersabda, “Itulah bulan yang manusia lalai darinya; bulan
antara Rajab dan Ramadhan. Sya’ban adalah bulan yang di dalamnya diangkat
amalan-amalan kepada Rabbul ‘alamin. Saya menyukai amal saya diangkat,
sedangkan saya dalam keadaan berpuasa.” (HR an-Nasa’i).
3. Keutamaan puasa pada bulan Sya’ban.
Aisyah ra. menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:
شَعْبَانَ فِي صِيَامً مِنْهُ أَكْثَرَ شَهْرٍ فِي رَأَيْتُهُ وَمَا رَمَضَانَ
إِلاَّ قَطْ شَهْرٍ صِيَامَ اسْتَكْمَلَ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ اللهِ صَلَّى اللهُ
رَسُوْلَ رَأَيْتُ وَمَا
Rasulullah saw. tidak pernah berpuasa sebulan penuh, kecuali pada bulan
Ramadhan. Aku tidak pernah melihat satu bulan yang paling banyak beliau
berpuasa kecuali pada bulan Sya’ban (HR Muslim).
Menurut Ibn Rajab, sesungguhnya Rasulullah saw. mengkhususkan bulan Sya’ban
dengan puasa adalah untuk mengagungkan bulan Ramadhan. Menjalankan puasa bulan
Sya’ban itu tak ubahnya seperti menjalankan shalat sunnah rawatib sebelum
shalat wajib.
4. Turunnya ayat tentang shalawat kepada Nabi saw.
Pada bulan Sya’ban, Allah SWT menurunkan ayat tentang anjuran membaca shalawat
kepada Nabi Muhammad saw., yaitu ayat:
Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Karena itu,
hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah
salam penghormatan kepadanya (QS al-Ahzab [33]: 56).
5. Sya’ban Bulan al-Quran.
Bulan Sya’ban dinamakan juga bulan al-Quran, sebagaimana disebutkan dalam
beberapa atsar. Memang, membaca al-Quran selalu dianjurkan di setiap saat dan
tempat. Namun, ada saat-saat tertentu pembacaan al-Quran itu lebih dianjurkan,
seperti pada bulan Sya’ban dan Ramadhan; atau seperti di tempat-tempat khusus
semisal Makkah, Raudhah dan lain-lain. Syaikh Ibn Rajab al-Hanbali menuturkan
riwayat dari Anas ra., “Saat memasuki bulan Sya’ban, kaum Muslim biasa menekuni
pembacaan ayat-ayat al-Quran dan mengeluarkan zakat untuk membantu orang-orang
yang lemah dan miskin agar mereka bisa menjalankan ibadah puasa Ramadhan.”
6. Malam Nishfu Sya’ban.
Pada bulan Sya’ban terdapat malam yang mulia dan penuh berkah, yaitu malam
Nishfu Sya’ban. Pada malam ini Allah SWT mengampuni orang-orang yang meminta
ampunan, mengasihi orang-orang yang minta belas kasihan, mengabulkan doa
orang-orang yang berdoa, menghilangkan kesusahan orang-orang yang susah,
memerdekakan orang-orang dari api neraka, dan mencatat bagian rezeki dan amal
manusia.
Banyak hadis yang menerangkan keistimewaan malam Nishfu Sya’ban ini, sekalipun
di antaranya ada yang dha’if (lemah).
Namun demikian, Al-Hafizh Ibn Hibban telah menyatakan kesahihan sebagian
hadis-hadis tersebut, di antaranya, bahwa Nabi Muhammad saw. pernah bersabda,
“Allah melihat kepada semua makhluknya pada malam Nishfu Sya’ban dan Dia
mengampuni mereka semua kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR
ath-Thabrani dan Ibnu Hibban).
Rasulullah saw. juga bersabda, “Jika tiba malam Nishfu Sya’ban, shalatlah pada
malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya, karena sesungguhnya Allah SWT
menurunkan rahmatnya pada malam itu ke langit dunia, yaitu mulai dari
terbenamnya matahari. Lalu Dia berfirman: Adakah orang yang meminta ampun, maka
akan Aku ampuni? Adakah orang meminta rezeki, maka akan Aku beri rezeki? Adakah
orang yang tertimpa musibah, maka akan Aku selamatkan? Adakah begini atau
begitu? Sampai terbitlah fajar.” (HR Ibnu Majah).
Malam Nishfu Sya’ban atau bahkan seluruh bulan Sya’ban adalah saat yang tepat
bagi seorang Muslim untuk sesegera mungkin melakukan kebaikan. Malam itu adalah
saat yang utama dan penuh berkah. Karena itu, selayaknya seorang Muslim
memperbanyak ragam amal kebaikan. Apalagi bulan ini adalah ‘pintu masuk’ menuju
bulan suci Ramadhan. Sudah selayaknya setiap Muslim mempersiapkan diri pada
bulan ini, dengan memperbanyak amal ibadah dan ketaatan. Tidak lain dalam
rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan untuk meraih keutamaannya yang
jauh lebih besar. Sebab, di dalam bulan Ramadhan ada Lailatul Qadar, malam yang
lebih baik daripada seribu bulan (QS al-Qadr [97]: 2).
Akhirul kalam, semoga Allah SWT memberkati kita di bulan Rajab dan Sya’ban ini,
dan semoga Dia memberikan kesempatakn kepada kita untuk bisa berjumpa dengan
‘tamu agung’, bulan suci Ramadhan yang akan datang, dan kita bisa mengisinya
dengan amal-amal kebajikan dan ketaatan kepada-Nya. Mudah-mudahan bulan Sya’ban
ini menjadi ‘jembatan’ bagi kita untuk dapat meraih keutamaan bulan Ramadhan
yang akan datang. Amin. []
KOMENTAR AL-ISLAM:
Republik Ini Belum Aman (Ahmad Syafii Maarif, Republika, 28/7/2009).
Keamanan hanya tercipta jika syariah dan Khilafah ditegakkan.
Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih
cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis.
Dapatkan IE8 di sini!
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam Google Groups yaitu
"Media Muslim Group". (Group Situs http://www.mediamuslim.info dan
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian
satu-per-satu.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---