Setuju Mas teguh.
Di saat Islam dan kaum muslimin di negeri ini sedang tertimpa fitnah, harusnya 
sikap sabar dan ukhuwah yang dikedepankan ya, bukannya menelikung dengan 
menstigmatisasi orang lain...


-----Original Message-----
From: [email protected] 
[mailto:[email protected]] On Behalf Of Teguh Wibowo
Sent: Tuesday, September 01, 2009 2:38 PM
To: [email protected]
Subject: Bls: [mediamusliminfo] Menyikapi Aksi-Aksi Teroris Khawarij

semoga tulisan ini bisa dipertanggungjawabkan didunia dan diakhirat,,

didunia thp para tertuduh (disebut tertuduh karena tidak terbukti)
diakhirat (bila sang penuduh berhasil mempengaruhi pemahaman salahnya ini)

wallahu a'lam,,

--- Pada Kam, 27/8/09, Dedy Iskandar <[email protected]> menulis:



        Dari: Dedy Iskandar <[email protected]>
        Judul: [mediamusliminfo] Menyikapi Aksi-Aksi Teroris Khawarij
        Kepada: [email protected], [email protected], 
[email protected]
        Tanggal: Kamis, 27 Agustus, 2009, 8:47 AM
        
        
Penulis: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc
.:  <http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=1511>  :. 
Seperti kita ketahui bersama, dalam kurun enam tahun belakangan ini, negeri 
kita diguncang sejumlah aksi teroris. Yang paling akhir (semoga memang yang 
terakhir), adalah bom di Hotel JW Mariott dan Ritz Carlton beberapa waktu lalu, 
disusul dengan peristiwa-peristiwa yang membuntutinya. Peristiwa-peristiwa itu 
menyisakan banyak efek negatif yang menyedihkan bagi kaum muslimin. Betapa 
tidak. Kaum muslimin yang merupakan umat yang cinta damai kemudian tercitrakan 
menjadi kaum yang suka melakukan kekerasan.

Kondisi ini diperparah dengan munculnya narasumber-narasumber dadakan. Di 
antara mereka ada yang membenarkan “aksi heroik” para teroris ini. Sedangkan 
yang lain beranggapan bahwa semua orang yang berpenampilan mengikuti sunnah 
sebagai orang yang sekomplotan dengan para teroris tersebut. Tak ayal, sebagian 
orang yang bercelana di atas mata kaki pun jadi sasaran kecurigaan, ditambah 
dengan cambangnya yang lebat dan istrinya yang bercadar. Padahal, bisa jadi 
hati kecil orang yang berpenampilan mengikuti sunnah tersebut mengutuk 
perbuatan para teroris yang biadab itu dengan dasar dalil-dalil yang telah 
sahih dalam syariat.

Oleh karena itu, kami terpanggil untuk sedikit memberikan penjelasan seputar 
masalah ini, mengingat betapa jeleknya akibat dari aksi-aksi teror tersebut. Di 
mana aksi-aksi tersebut telah memakan banyak korban, baik jiwa maupun harta 
benda, sesuatu yang tak tersamarkan bagi kita semua.

Nah, darimanakah teror fisik ini muncul, sehingga berakibat sesuatu yang begitu 
kejam dan selalu mengancam? Tak lain teror fisik ini hanyalah buah dari sebuah 
teror pemikiran yang senantiasa bercokol pada otak para aktor teror tersebut, 
yang akan terus membuahkan kegiatan selama teror pemikiran tersebut belum 
hilang.

Apa yang dimaksud dengan teror pemikiran? Tidak lain, keyakinan bahwa sebagian 
kaum muslimin telah murtad dan menjadi kafir, khususnya para penguasa. Bahkan 
di antara penganut keyakinan ini ada yang memperluas radius pengkafiran itu 
tidak semata pada para penguasa, baik pengkafiran itu dengan alasan ‘tidak 
berhukum dengan hukum Allah‘ atau dengan alasan ‘telah berloyal kepada orang 
kafir‘, atau dalih yang lain. Demikian mengerikan pemikiran dan keyakinan ini 
sehingga pantaslah disebut sebagai teror pemikiran. Keyakinan semacam ini di 
masa lalu dijunjung tinggi oleh kelompok sempalan yang disebut dengan Khawarij.

Dengan demikian, teror pemikiran inilah yang banyak memakan korban. Dan 
ketahuilah, korban pertama sebelum orang lain adalah justru para pelaku bom 
bunuh diri tersebut. Mereka terjerat paham yang jahat dan berbahaya ini, 
sehingga mereka menjadi martir yang siap menerima perintah dari komandannya 
dalam rangka memerangi “musuh” (versi mereka). Lebih parah lagi, mereka 
menganggapnya sebagai jihad yang menjanjikan sambutan bidadari sejak saat 
kematiannya. Keyakinan semacam inilah yang memompa mereka untuk siap menanggung 
segala risiko dengan penuh sukacita. Sehingga berangkatlah mereka, dan 
terjadilah apa yang terjadi…

Benarkah mereka disambut bidadari setelah meledaknya tubuh mereka hancur 
berkeping-keping dengan operasi bom bunuh diri tersebut? Jauh panggang dari 
api! Bagaimana dikatakan syahid, sementara ia melakukan suatu dosa besar yaitu 
bunuh diri! Kita tidak mendahului keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita 
hanya menghukuminya secara zhahir (lahir) berdasarkan kaidah hukum, tidak boleh 
bagi kita memastikan bahwa seseorang itu syahid dengan segala konsekuensinya. 
Bahkan berbagai hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang mencela Khawarij 
dan mengecam bunuh diri lebih tepat diterapkan kepada mereka. Oleh karena 
itulah, saya katakan: Mereka adalah korban pertama kejahatan paham Khawarij 
sebelum orang lain.

Tolong hal ini direnungi dan dipahami. Terutama bagi mereka yang ternodai oleh 
paham ini. Selamatkan diri kalian. Kasihanilah diri kalian, keluarga kalian, 
dan umat ini. Kalian telah salah jalan. Bukan itu jalan jihad yang sebenarnya. 
Segeralah kembali sebelum ajal menjemput. Sebelum kalian menjadi korban 
berikutnya. Teman-teman seperjuangan dan juga ustadz kalian tidak akan dapat 
menolong kalian dari hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Masing-masing akan 
mempertanggungjawabkan amalnya sendiri:

وَكُلُّهُمْ آَتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا (95) [مريم/95]

“Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan 
sendiri-sendiri.“ (Maryam: 95)

Sekadar itikad baik tidaklah cukup. Itikad baik haruslah berjalan seiring 
dengan cara yang baik.

Kami goreskan tinta dalam lembar-lembar yang singkat ini, dengan tujuan agar 
semua pihak mendapatkan hidayah. Barangkali masih ada orang yang sudi membaca 
dan merenungkannya dengan penuh kesadaran. Juga agar semua pihak dapat bersikap 
dengan benar dan baik. Sekaligus ini sebagai pernyataan sikap kami, karena kami 
pun menuai getah dari aksi teror tersebut.



Taat kepada pemerintah dalam hal yang baik

Kaum muslimin harus meyakini tentang wajibnya taat kepada pemerintah dalam 
perkara yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Hal itu berdasarkan firman 
Allah Subhanahu wa Ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ 
وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى 
اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ 
ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (59) [النساء/59]

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan 
ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang 
sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur‘an) dan Rasul (sunnahnya), 
jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu 
lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.“ (An-Nisa: 59)

Ulil Amri adalah para ulama dan para umara’ (para penguasa), sebagaimana 
disebutkan oleh Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsirnya. (Tafsir 
Al-Qur‘anil ‘Azhim, 1/530)

Seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, bernama Al-Irbadh 
Radhiyallah ‘anhu mengatakan:

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللهِ n ذَاتَ يَوْمٍ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا 
مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ 
فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، 
فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا؟ فَقَالَ: أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ 
وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي 
فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ 
الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا 
بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ 
بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam shalat mengimami kami, lalu 
beliau menghadapkan wajahnya kepada kami seraya memberikan nasihat kepada kami 
dengan nasihat yang sangat mengena. Air mata berderai dan qalbu pun bergoncang 
karenanya. Maka seseorang mengatakan: “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah 
nasihat perpisahan. Lalu apa wasiat anda kepada kami?” Beliau Shallallahu 
‘alaihi wa Sallam bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada 
Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendengar dan taat (kepada penguasa) sekalipun dia 
seorang budak sahaya dari Habasyah (sekarang Ethiopia, red.). Karena siapa saja 
yang hidup sepeninggalku, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka 
tetaplah kalian pada sunnahku dan sunnah (tuntunan) para khulafa‘ur-rasyidin 
yang mendapat petunjuk. Berpeganglah dengannya dan gigitlah dengan gigi-gigi 
geraham kalian, serta jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (dalam 
Islam), karena segala yang baru tersebut adalah bid‘ah dan segala yang bid‘ah 
adalah kesesatan.“ (Shahih, HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan yang lain)

Untuk lebih lengkapnya, lihat pembahasan pada majalah Asy Syariah Vol. I/05.



Berlepas diri dari aksi teror

Kaum muslimin harus berlepas diri dari aksi-aksi teroris, karena aksi-aksi 
tersebut bertolak belakang dengan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa 
Sallam dan para sahabatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi-Nya sebagai 
rahmat bagi alam semesta sebagaimana dalam firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ (107) [الأنبياء/107]

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta 
alam.“ (Al-Anbiya: 107)

Beliau adalah seorang nabi yang sangat memiliki kasih sayang dan kelembutan 
sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ 
حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (128) [التوبة/128]

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa 
olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, 
amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.“ (At-Taubah: 128)

Dalam sebuah riwayat dari Atha’ bin Yasar, ia berkata: Aku berjumpa dengan 
Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radhiyallah ‘anhuma maka aku pun mengatakan:

أَخْبِرْنِي عَنْ صِفَةِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي التَّوْرَاةِ. 
فَقَالَ: أَجَلْ، وَاللهِ إِنَّهُ لَمَوْصُوفٌ فِي التَّوْرَاةِ بِصِفَتِهِ فِي 
الْقُرْآنِ: يا أَيُّهَا النبي إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِداً وَمُبَشِّراً 
وَنَذِيراً وَحِرْزاً لِلْأُمِّيِّينَ وَأَنْتَ عَبْدِي وَرَسُوْلِي سَمَّيْتُكَ 
الْمُتَوَكِّلَ لَسْتَ بِفَظٍّ وَلاَ غَلِيظٍ وَلاَ سَخَّابٍ بِالْأَسْوَاقِ. 
قَالَ يُونُسُ: وَلاَ صَخَّابٍ فِي الْأَسْوَاقِ وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّئَةَ 
بِالسَّيِّئَةِ وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَغْفِرُ وَلَنْ يَقْبِضَهُ حَتَّى يُقِيمَ 
بِهِ الْمِلَّةَ الْعَوْجَاءَ بِأَنْ يَقُولُوا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ 
فَيَفْتَحُ بِهَا أَعْيُناً عُمْياً وَآذَاناً صُمًّا وَقُلُوباً غُلْفاً

“Kabarkan kepadaku tentang sifat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam 
kitab Taurat.” Beliau menjawab: “Ya, demi Allah, beliau disifati dalam kitab 
Taurat seperti beliau disifati dalam Al-Qur’an: “Wahai Nabi, sesungguhnya Kami 
mengutusmu sebagai saksi, sebagai pembawa berita gembira, sebagai pemberi 
peringatan, sebagai pelindung bagi kaum yang ummi. Engkau adalah hamba-Ku dan 
Rasul-Ku. Aku menamaimu Al-Mutawakkil (orang yang bertawakkal). Engkau bukanlah 
orang yang kasar tutur katamu, bukan pula kaku tingkah lakumu, bukan orang yang 
suka berteriak-teriak di pasar, bukan pula orang yang membalas kejelekan dengan 
kejelekan, akan tetapi justru memaafkan dan mengampuni kesalahan. Allah tidak 
akan mewafatkannya hingga Allah meluruskan dengannya agama yang bengkok, dengan 
orang-orang mengucapkan La Ilaha illallah. Dengan kalimat itu ia membuka mata 
yang buta, telinga yang tuli, dan qalbu yang tertutup.“ (Shahih, HR. Al-Bukhari 
no. 2018, Ahmad dalam kitab Musnad, dan yang lain)

Bahkan dalam kondisi perang melawan orang kafir sekalipun, masih nampak sifat 
kasih sayang beliau. Sebagaimana pesan beliau kepada para komandan pasukan 
perang yang diriwayatkan oleh Sulaiman bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا أَمَّرَ أَمِيرًا عَلَى جَيْشٍ أَوْ 
سَرِيَّةٍ أَوْصَاهُ فِي خَاصَّتِهِ بِتَقْوَى اللهِ وَمَنْ مَعْهُ مِنَ 
الْمُسْلِمِينَ خَيْرًا، ثُمَّ قَالَ: اغْزُوا بِاسْمِ اللهِ، في سَبِيلِ اللهِ، 
قَاتِلُوا مَنْ كَفَرَ بِاللهِ، اغْزُوا وَلَا تَغُلُّوا وَلَا تَغْدِرُوا وَلَا 
تَمْثُلُوا وَلَا تَقْتُلُوا وَلِيدًا وَإِذَا لَقِيتَ عَدُوَّكَ مِنَ 
الْمُشْرِكِينَ فَادْعُهُمْ إِلَى ثَلَاثِ خِصَالٍ -أَوْ خِلَالٍ- فَأَيَّتُهُنَّ 
مَا أََجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى 
الْإِسْلَامِ، فَإِنْ أَجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ…

Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bila menetapkan seorang 
komandan sebuah pasukan perang yang besar atau kecil, beliau berpesan kepadanya 
secara khusus untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berbuat baik 
kepada kaum muslimin yang bersamanya, lalu beliau mengatakan: “Berperanglah 
dengan menyebut nama Allah, di jalan Allah. Perangilah orang yang kafir 
terhadap Allah. Berperanglah, jangan kalian melakukan ghulul (mencuri rampasan 
perang), jangan berkhianat, jangan mencincang mayat, dan jangan pula membunuh 
anak-anak. Bila kamu berjumpa dengan musuhmu dari kalangan musyrikin, maka 
ajaklah kepada tiga perkara. Mana yang mereka terima, maka terimalah dari 
mereka dan jangan perangi mereka. Ajaklah mereka kepada Islam, kalau mereka 
terima maka terimalah dan jangan perangi mereka…” (Shahih, HR. Muslim)

Dalam riwayat Ath-Thabarani (Al-Mu‘jam Ash-Shaghir no. hadits 340):

وَلاَ تَجْبُنُوْا، وَلَا تَقْتُلُوا وَلِيْدًا، وَلاَ امْرَأةً، وَلاَ شَيْخًا 
كَبِيْرًا

“Jangan kalian takut, jangan kalian membunuh anak-anak, jangan pula wanita, dan 
jangan pula orang tua.“

Islam bahkan tidak membolehkan membunuh orang kafir kecuali dalam satu keadaan, 
yaitu manakala dia sebagai seorang kafir harbi (yang memerangi muslimin). Allah 
l berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ 
يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ 
اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8) إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ 
قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى 
إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ 
الظَّالِمُونَ (9) [الممتحنة/8، 9]

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap 
orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu 
dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. 
Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang 
yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu 
(orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, 
maka mereka itulah orang-orang yang zalim.“ (Al-Mumtahanah: 8-9)

Adapun jenis kafir yang lain, semacam kafir dzimmi yaitu orang kafir yang hidup 
di bawah kekuasaan dan jaminan penguasa muslim, atau kafir mu‘ahad yaitu 
seorang kafir yang memiliki perjanjian keamanan dengan pihak muslim, atau kafir 
musta‘min yaitu yang meminta perlindungan keamanan kepada seorang muslim, atau 
sebagai duta pihak kafir kepada pihak muslim, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa 
Sallam melarang membunuh mereka. Bahkan mereka dalam jaminan keamanan dari 
pihak pemerintah muslimin.

Kaum muslimin berlepas diri dari aksi-aksi teror tersebut, karena aksi-aksi 
tersebut mengandung pelanggaran-pelanggaran terhadap ajaran agama Islam yang 
mulia. Di antaranya:

1. Membunuh manusia tanpa alasan dan cara yang benar

2. Menumbuhkan rasa ketakutan di tengah masyarakat

3. Merupakan sikap memberontak kepada penguasa muslim yang sah

4. Menyelewengkan makna jihad fi sabilillah yang sebenarnya

5. Membuat kerusakan di muka bumi

6. Merusak harta benda

7. Terorisme Khawarij adalah bid’ah, alias perkara baru yang diada-adakan dalam 
agama, sehingga merupakan kesesatan.

Dan berbagai pelanggaran agama yang lainnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا (29) وَمَنْ 
يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ 
عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (30) [النساء/29، 30]

“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah adalah Maha 
penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan 
aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu 
adalah mudah bagi Allah.“ (An-Nisa: 29-30)

Janganlah membunuh diri kalian, yakni janganlah sebagian kalian membunuh yang 
lain. Karena sesama kaum muslimin itu bagaikan satu jiwa. (Lihat Tafsir 
As-Sa‘di)

إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي 
الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ 
وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ 
فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (33) [المائدة/33]

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan 
Rasul-Nya serta membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau 
disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau 
dibuang dari negeri (tempat tinggalnya). Yang demikian itu (sebagai) suatu 
penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang 
besar.“ (Al-Maidah: 33)

Makna memerangi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya adalah menentang dan 
menyelisihi. Kata ini tepat diberikan pada perkara kekafiran, merampok di 
jalan, dan membuat ketakutan pada perjalanan manusia. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/50)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

شِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ 
وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ. قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَفَلاَ 
نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟ فَقَالَ: لاَ، مَا أَقَامُوْا فِيْكُمُ الصَّلاَةَ، 
وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُوْنَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ 
وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

“Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membencinya dan mereka 
membenci kalian, yang kalian melaknatinya dan mereka melaknati kalian.“ 
Dikatakan kepada beliau: “Wahai Rasulullah, tidakkah kita melawannya dengan 
pedang (senjata)?“ Beliau mengatakan: “Jangan, selama mereka mendirikan shalat 
di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat pada pemimpin kalian sesuatu yang 
kalian benci maka bencilah perbuatannya dan jangan kalian cabut tangan kalian 
dari ketaatan.“ (Shahih, HR. Muslim)

Dari Abdurrahman bin Abi Laila, ia berkata:

حَدَّثَنَا أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى 
الله عليه وسلم : لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

Para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah memberitahukan 
kepada kami bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak 
halal bagi seorang muslim untuk menakut-nakuti muslim yang lain.“ (Shahih, HR. 
Abu Dawud)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda:

كَانَ يَنْهَى عَنْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةِ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ

“Adalah Rasulullah melarang dari ‘katanya dan katanya‘, banyak bertanya (yang 
tidak bermanfaat), dan menyia-nyiakan harta.“ (Shahih, HR. Al-Bukhari dari 
sahabat Al-Mughirah bin Syu’bah Radhiyallah ‘anhu )



Ideologi Teroris Khawarij

Mengapa kami memberi embel-embel kata teroris dengan kata Khawarij? Karena, 
kata teroris secara mutlak memiliki makna yang luas. Aksi teror telah dilakukan 
oleh banyak kalangan, baik yang mengatasnamakan Islam ataupun non-Islam, 
semacam yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi terhadap bangsa Palestina pada 
masa kini, dan semacam yang dilakukan oleh Sekutu terhadap bangsa Jepang dalam 
peristiwa pengeboman Nagasaki dan Hiroshima di masa lalu. Sehingga dengan 
penambahan kata “Khawarij” di belakang kata teroris, akan mempersempit 
pembahasan kita. Pembahasan kita hanya tentang orang-orang yang melakukan 
aksi-aksi teror di negeri kita akhir-akhir ini yang mengatasnamakan Islam atau 
mengatasnamakan jihad. Adapun Khawarij, merupakan sebuah kelompok sempalan yang 
menyempal dari Ash-Shirathul Mustaqim (jalan yang lurus) dengan beberapa ciri 
khas ideologi mereka.

Mengapa kami menyebutnya ideologi? Karena mereka memiliki sebuah keyakinan yang 
hakikatnya bersumber dari sebuah ide. Maksud kami, sebuah penafsiran akal 
pikiran yang keliru terhadap nash (teks) Al-Qur’an atau Al-Hadits. Dari sinilah 
kemudian mereka menyempal. Sekali lagi, hal ini terjadi akibat penafsiran yang 
salah terhadap Al-Qur’an dan Al-Hadits, bukan akibat penafsiran yang apa 
adanya, yang menurut sebagian orang kaku atau “saklek“, dan tidak pantas 
dikatakan sebagai salah satu bentuk ijtihad dalam penafsiran Al-Qur’an maupun 
Al-Hadits. Sehingga, ideologi mereka sama sekali tidak bisa disandarkan kepada 
Islam yang benar. Demikian pula aksi-aksi teror mereka sama sekali tidak bisa 
dikaitkan dengan ajaran Islam yang mulia nan indah ini. Bahkan Islam berlepas 
diri dari mereka. Lebih dari itu, Islam justru sangat mengecam mereka, di mana 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyebut mereka sebagai anjing-anjing 
penghuni neraka seperti dalam hadits berikut ini:

كِلاَبُ أَهْلِ النَّارِ، خَيْرُ قَتْلَى مَنْ قَتَلُوْهُ

“(Mereka) adalah anjing-anjing penghuni neraka. Sebaik-baik korban adalah orang 
yang mereka bunuh.“ (Shahih, HR. Ahmad dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak. Lihat 
Shahih Al-Jami‘ no. 3347)

Para teroris Khawarij yang ada sekarang ini adalah salah satu mata rantai dari 
kaum Khawarij yang muncul sepeninggal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam . 
Ketika itu, para sahabat masih hidup. Merekalah orang-orang yang memberontak 
kepada Khalifah Utsman bin ‘Affan Radhiyallah ‘anhu dan membunuhnya. Mereka 
jugalah yang membunuh Khalifah Ali bin Abu Thalib Radhiyallah ‘anhu. Sekte ini 
terus berlanjut, turun-temurun diwarisi oleh anak cucu penyandang ideologi 
Khawarij sampai pada masa ini, yang ditokohi oleh Usamah bin Laden (yang telah 
diusir dari Kerajaan Saudi Arabia karena pemikirannya yang berbahaya), 
Al-Mis’ari, Sa’ad Al-Faqih, dan tokoh-tokoh lainnya. Mereka bersama 
Al-Qaedahnya telah melakukan aksi-aksi teror di Saudi Arabia, bahkan di wilayah 
Makkah dan Madinah, sehingga menyebabkan kematian banyak orang, baik dari 
kalangan sipil maupun militer. Karenanya, pemerintah Saudi Arabia beserta para 
ulamanya (yaitu) anak cucu murid-murid Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab 
rahimahullah memberantas mereka. Sehingga para teroris Khawarij tersebut 
-termasuk yang ada di negeri ini- sangat benci kepada pemerintah kerajaan Saudi 
Arabia, dan ini menjadi salah satu ciri mereka.

Coba perhatikan, siapakah korban aksi teror mereka? Bukankah kaum muslimin? 
Perhatikanlah bahwa kaum muslimin juga menjadi target operasi mereka. Ya, walau 
awalnya mereka berdalih memerangi orang kafir, tapi pada akhirnya musliminlah 
yang menjadi sasaran mereka dan justru mereka akan lebih sibuk memerangi kaum 
muslimin. Sungguh benar sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ

“Mereka membunuh pemeluk Islam dan membiarkan penyembah berhala.“ (HR. 
Al-Bukhari dan Muslim)

Sehingga kami memohon kepada segenap kaum muslimin agar tidak mengaitkan aksi 
teror mereka dengan ajaran Islam yang mulia, yang dibawa Nabi Shallallahu 
‘alaihi wa Sallam pembawa rahmat. Mereka sangat jauh dari Islam, Islam pun 
berlepas diri dari mereka. Jangan termakan oleh opini yang sangat dipaksakan 
untuk mengaitkan aksi-aksi itu dengan Islam. Opini semacam ini hanyalah muncul 
dari seseorang yang tidak paham terhadap ajaran Islam yang sesungguhnya dan 
tidak paham jati diri para teroris Khawarij tersebut, atau muncul dari 
orang-orang kafir ataupun muslim yang “mengail di air keruh“, yang sengaja 
menggunakan momentum ini untuk menyudutkan Islam dan muslimin, semacam yang 
dilakukan pelukis karikatur terlaknat dari Denmark beberapa tahun silam.

Mungkin muncul pertanyaan, “Mengapa teroris Khawarij memerangi muslimin?” 
Jawabannya, bermula dari penyelewengan makna terhadap ayat:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ (44) 
[المائدة/44]

“Barangsiapa yang berhukum dengan selain hukum Allah, maka mereka adalah 
orang-orang kafir.“ (Al-Maidah: 44)

Kemudian, vonis brutal kepada banyak pihak sebagai kafir. Berikutnya, 
serampangan dalam memahami dan menerapkan dalil-dalil tentang larangan terhadap 
seorang muslim berloyal kepada orang kafir, sehingga beranggapan bahwa banyak 
muslimin sekarang, baik pemerintah secara khusus maupun rakyat sipil secara 
umum, telah berloyal kepada orang-orang kafir. Konsekuensinya, mereka tidak 
segan-segan menganggap banyak muslimin sebagai orang kafir. Semua itu berujung 
kepada tindakan teror yang mereka anggap sebagai jihad fi sabilillah.

Sebuah pemahaman yang sangat dangkal. Tidak sesederhana itu menghukumi seorang 
muslim sebagai kafir, disebabkan si muslim tersebut tidak berhukum dengan hukum 
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tidak sesederhana itu menghukumi seorang muslim 
sebagai kafir, disebabkan si muslim tersebut loyal kepada orang kafir. Karena 
loyal itu bertingkat-tingkat, dan sebabnya pun bermacam-macam. Loyal yang jelas 
membuat seseorang menjadi kafir adalah bila loyalnya karena cinta atau ridha 
kepada agama si kafir tersebut. Untuk lebih lengkapnya, lihat pembahasan 
masalah takfir ini pada Asy Syariah Vol.I/08/1425 H/ 2004.



Mengidentifikasi teroris Khawarij

Kami merasa perlu untuk membahas secara singkat tentang ciri-ciri teroris 
Khawarij, karena kami melihat telah terjadi salah kaprah dalam hal ini. Kami 
memandang bahwa tidak tepat bila seseorang menilai orang lain sebagai teroris 
atau sebagai orang yang terkait dengan jaringan teroris, ataupun mencurigainya 
hanya berdasarkan dengan penampilan lahiriah (luar) semata.

Pada kenyataannya, para pelaku teror tersebut selalu berganti-ganti penampilan. 
Bahkan terkadang mereka cenderung memiliki penampilan yang akrab dengan 
masyarakat pada umumnya untuk menghilangkan jejak mereka. Lihatlah 
gambar-gambar Imam Samudra cs sebelum ditangkap. Sehingga, penampilan lahiriah 
-baik penampilan ala masyarakat pada umumnya atau penampilan agamis- akan 
selalu ada yang menyerupai mereka. Berdasarkan hal ini, penampilan lahiriah 
semata tidak bisa menjadi tolok ukur. Tatkala para teroris tersebut memakai 
topi pet, celana panjang, kaos serta mencukur jenggot, kita tidak bisa 
menjadikan hal-hal ini sebagai ciri teroris. Tidak boleh bagi kita untuk 
menilai orang yang serupa dengan mereka dalam cara berpakaian ini sebagai 
anggota mereka.

Demikian pula sebaliknya. Ketika para teroris itu berpenampilan Islami dengan 
memelihara jenggot, memakai celana di atas mata kaki, memakai gamis, dan 
istrinya bercadar, kita juga tidak bisa menjadikan penampilan ini sebagai ciri 
teroris. [1] Tidak boleh pula bagi kita untuk menilai orang yang berpakaian 
seperti mereka ini sebagai anggota jaringan mereka. Faktor pendorong 
orang-orang untuk berpenampilan agamis adalah karena hal itu merupakan ajaran 
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam -terlepas dari perbedaan pendapat para ulama 
dalam hal cadar, apakah itu wajib atau sunnah-. Semua itu tak ubahnya ajaran 
agama Islam yang lain semacam shalat, puasa, dan lain sebagainya. Mereka para 
teroris Khawarij juga shalat dan berpuasa bahkan mungkin melakukannya dengan 
rajin dan penuh semangat. Lalu apakah kita akan menilai shalat dan puasa 
sebagai ciri teroris? Sehingga kita akan menuduh orang yang shalat dan puasa 
sebagai anggota jaringan teroris? Tentu tidak. Begitu pula jenggot dan cadar. 
Hal yang seperti ini hendaknya direnungkan.

Maka kami mengingatkan diri kami dan semua pihak dengan firman Allah Subhanahu 
wa Ta’ala :

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا 
فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا (58) [الأحزاب/58]

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa 
kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul 
kebohongan dan dosa yang nyata.“ (Al-Ahzab: 58)

Akan tetapi, di antara cara mengidentifikasi teroris Khawarij bisa dilakukan 
dengan hal-hal berikut ini:

1. Mereka memiliki pertemuan-pertemuan rahasia, yang tidak dihadiri kecuali 
oleh orang-orang khusus.

2. Mereka akan menampakkan kebencian terhadap penguasa muslim. Dalam 
pertemuan-pertemuan khusus, mereka tak segan-segan menganggap para penguasa 
muslim tersebut sebagai orang kafir.

3. Mereka akan menampakkan pujian-pujian terhadap para tokoh-tokoh Khawarij 
masa kini, semacam Usamah bin Laden dan yang sejalan dengannya.

4. Mereka gandrung terhadap buku-buku hasil karya tokoh-tokoh tersebut, juga 
buku-buku tokoh pergerakan semacam Sayyid Quthub, Salman Al-‘Audah, Fathi 
Yakan, Hasan Al-Banna, Said Hawwa, dan yang sejalan dengan mereka.

Ini semua sebatas indikasi yang mengarah kepada terorisme. Untuk memastikannya, 
tentu perlu kajian lebih lanjut terhadap yang bersangkutan.



Tidak boleh melindungi teroris Khawarij

Kami meyakini bahwa melindungi teroris Khawarij atau para pelaku kejahatan yang 
lain merupakan salah satu dosa besar yang bisa menyebabkan seseorang menuai 
laknat. Sebagaimana diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallah ‘anhu, 
beliau berkata:

مَا عِنْدَنَا شَيْءٌ إِلَّا كِتَابُ اللهِ وَهَذِهِ الصَّحِيفَةُ عَنِ النَّبِيِّ 
صلى الله عليه وسلم : الْمَدِينَةُ حَرَمٌ مَا بَيْنَ عَائِرٍ إِلَى كَذَا، مَنْ 
أَحْدَثَ فِيْهَا حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ 
وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ لَا يُقْبَلُ مِنْهُ صَرْفٌ وَلَا عَدْلٌ

Kami tidak memiliki sesuatu kecuali kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan 
lembaran ini yang berasal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Madinah 
adalah tanah suci antara gunung ‘A-ir sampai tempat ini; Barangsiapa 
mengada-adakan sesuatu yang baru (dalam agama) atau melindungi orang yang 
jahat, maka laknat Allah atasnya, laknat para malaikat dan manusia seluruhnya, 
tidak diterima darinya tebusan maupun taubat.“ (Shahih, HR. Al-Bukhari)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda:

لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ، وَلَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا، 
وَلَعَنَ الله مَنْ لَعَنَ وَالِدَيْهِ، وَلَعَنَ الله مَنْ غَيَّرَ الْمَنَارَ

“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah, Allah melaknat orang 
melindungi penjahat, Allah melaknat orang yang mencaci kedua orangtuanya, dan 
Allah melaknat orang yang mengubah batas tanah.“ (Shahih, HR. Muslim)



Membenarkan upaya pemberantasan terorisme

Kaum muslimin juga membenarkan secara global upaya pemberantasan terorisme, 
karena aksi teror adalah perbuatan yang mungkar. Sementara, di antara prinsip 
agama Islam yang mulia ini adalah amar ma‘ruf dan nahi munkar, yaitu 
memerintahkan kepada yang baik dan mencegah dari yang mungkar. Sehingga, 
masyarakat secara umum terbebani kewajiban ini sesuai dengan kemampuannya 
masing-masing. Untuk itu, sudah semestinya seluruh elemen masyarakat 
bahu-membahu memberantas terorisme ini dengan cara yang benar, sesuai dengan 
bimbingan Islam.

Di antara salah satu upayanya adalah memberikan penjelasan yang benar tentang 
ajaran agama Islam, jauh dari pemahaman yang melampaui batas dan juga tidak 
menggampang-gampangkan sehingga lebih dekat kepada pemahaman liberalisme dalam 
agama. Akan tetapi tepat dan benar, sesuai yang dipahami para sahabat di 
antaranya adalah sahabat ‘Utsman bin ‘Affan dan ‘Ali bin Abu Thalib Radhiyallah 
‘anhu (yang menjadi korban paham Khawarij yang menyimpang dari pemahaman para 
sahabat). Karena para sahabat adalah orang yang paling memahami ajaran agama 
ini setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Lebih khusus pemahaman tentang jihad, dengan pemahaman yang tidak ekstrem 
sebagaimana kelompok Khawarij dan tidak pula menyepelekan sebagaimana kelompok 
Liberal. Namun dengan pemahaman yang mengacu kepada jihad Rasulullah 
Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabatnya serta bimbingan para ulama 
yang mengikuti jejak mereka.

Demikian pula tentang kewajiban rakyat terhadap pemerintah, baik ketika 
pemerintah itu adil atau ketika tidak adil. Tetap taat kepadanya dalam perkara 
yang baik dan bersabar atas kekejamannya.

Juga bagaimana tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam menasihati 
penguasa ketika penguasa itu salah, zalim, dan tidak adil, yaitu menyampaikan 
nasihat dengan cara yang tepat tanpa mengandung unsur provokasi yang membuat 
rakyat semakin benci terhadap pemerintahnya. (lihat majalah Asy Syariah Vol. 
I/05/1424 H/2004)

Kemudian memahami klasifikasi orang kafir, serta hukum terhadap masing-masing 
jenis. Karena, tidak bisa pukul rata (Jawa: gebyah uyah, red.) bahwa semua 
jenis orang kafir boleh atau harus dibunuh.

Juga memahami betapa besarnya nilai jiwa seorang muslim di sisi Allah Subhanahu 
wa Ta’ala. Sehingga tidak bermudah-mudah dalam melakukan perbuatan yang menjadi 
sebab melayangnya nyawa seorang muslim.

Memahami pula kapan seseorang dihukumi tetap sebagai muslim dan kapan dihukumi 
sebagai orang kafir; dengan pemahaman yang benar, tanpa berlebihan atau 
menyepelekan, serta memahami betapa bahayanya memvonis seorang muslim sebagai 
orang kafir.

Selanjutnya memahami betapa jeleknya seorang Khawarij sebagaimana tertera dalam 
hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Dan terakhir, memahami pula bahwa bom bunuh diri hukumnya haram dan merupakan 
dosa besar, walaupun sebagian orang berusaha menamainya dengan bom syahid untuk 
melegitimasi operasi tak berperikemanusiaan tersebut.

Tentunya, rincian masalah ini menuntut pembahasan yang cukup panjang. Bukan 
pada lembaran-lembaran yang ringkas ini. Namun apa yang disebutkan cukup 
menjadi isyarat kepada yang lebih rinci.



Penutup

Kami ingatkan semua pihak, bahwa munculnya aksi teroris Khawarij ini merupakan 
ujian bagi banyak pihak. Di antaranya:

Pihak pertama, orang-orang yang berkeinginan untuk menjadi baik dan mulai 
menapaki jejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Mereka menyadari 
pentingnya berpegang teguh dengan ajaran-ajaran beliau Shallallahu ‘alaihi wa 
Sallam yang mulia nan indah. Mereka menyadari betapa bahayanya arus globalisasi 
yang tak terkendali terhadap ajaran Islam yang benar. Mereka berusaha 
mengamalkan ajaran Islam pada diri dan keluarga mereka untuk melindungi diri 
mereka sehingga tidak terkontaminasi oleh berbagai kerusakan moral bahkan 
aqidah, sekaligus melindungi diri dan keluarga mereka dari api neraka di hari 
akhirat, dalam rangka mengamalkan firman Allah l:

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا 
وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا 
يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (6) [التحريم/6]

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api 
neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya 
malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap 
apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang 
diperintahkan.“ (At-Tahrim: 6)

Pihak ini menjadi korban aksi teroris. Karena para teroris dengan aksi mereka, 
telah mencoreng Islam di mata masyarakat yang luas, sehingga pihak ini menuai 
getah dari aksi para teroris tersebut. Pihak ini akhirnya dicurigai oleh 
masyarakat sebagai bagian dari jaringan teroris hanya karena sebagian kemiripan 
pada penampilan luar, padahal aqidah dan keyakinan mereka sangat jauh dan 
bertentangan. Sehingga celaan, cercaan, sikap dingin, diskriminasi bahkan 
terkadang intimidasi (ancaman) dari masyarakat kepada mereka pun tak 
terelakkan. Maka kami nasihatkan kepada pihak ini untuk bersabar dan mengharap 
pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala kesulitan yang mereka 
dapatkan. Janganlah melemah, tetaplah istiqamah. Jadikan ridha Allah Subhanahu 
wa Ta’ala sebagai tujuan. Ingatlah pesan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ فَاسْتَقِمْ

“Katakan: ‘Aku beriman kepada Allah‘ lalu istiqamahlah.“ (Shahih, HR. Muslim 
dari sahabat Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi Radhiyallah ‘anhu)

Pihak kedua, adalah orang awam pada umumnya. Tak sedikit dari mereka 
ber-su‘uzhan (buruk sangka) kepada pihak pertama karena adanya aksi-aksi teror 
tersebut. Mereka memukul rata tanpa membedakan. Bahkan lebih parah dari itu, 
aksi teror tersebut memunculkan fobi terhadap Islam pada sebagian mereka, 
kecurigaan kepada setiap orang yang mulai aktif dalam kegiatan-kegiatan 
keislaman. Bahkan mungkin sebagian orang curiga terhadap Islam itu sendiri. Ya 
Allah, hanya kepada Engkaulah kami mengadu. Betapa bahayanya kalau kecurigaan 
itu sudah sampai pada agama Islam itu sendiri, sementara Islam berlepas diri 
dari kejahatan ini. Tak pelak, tentu hal ini akan menumbuhkan rasa takut dan 
khawatir untuk mendalami ajaran Islam dan untuk lebih mendekat kepada Allah 
Subhanahu wa Ta’ala dengan berbagai amalan ibadah.

Nasihat kami kepada pihak ini, janganlah salah dalam menyikapi masalah ini, 
sehingga menghalanginya untuk lebih mendalami Islam dan lebih mendekat kepada 
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pelajarilah Islam dengan benar, ikuti jejak para 
As-Salafush Shalih, para sahabat, serta menjauhi pemahaman ekstrem Khawarij dan 
menjauhi paham liberalisme serta inklusivisme yang bermuara pada kebebasan yang 
luas dalam memahami ajaran agama. Dengan cara ini, insya Allah mereka akan 
dapat menilai mana yang benar dan mana yang salah. Jalan pun menjadi terang 
baginya sehingga dia tidak akan salah dalam menentukan sikap dan tidak terbawa 
oleh arus.

Pihak ketiga, anak-anak muda yang punya antusias terhadap agama. Aksi teroris, 
penangkapan para teroris, dan berbagai berita yang bergulir dan tak terkendali, 
juga merupakan ujian buat mereka. Berbagai macam sikap tentu muncul darinya, 
antara pro dan kontra. Kami nasihatkan kepada mereka agar bisa bersikap adil 
dalam menilai. Jangan berlebihan dalam bersikap. Jangan menilai sesuatu kecuali 
berdasarkan ilmu, baik ilmu agama yang benar yang menjadi barometer dalam 
menilai segala sesuatu, maupun ilmu (baca: pengetahuan) terhadap hakikat segala 
yang terjadi. Lalu terapkanlah barometer tersebut pada hakikat realita yang 
terjadi. Jangan terbawa emosi karena larut dalam perasaan yang dalam.

Sebagaimana kami nasihatkan kepada anak-anak muda yang bersemangat dalam 
menjunjung nilai-nilai Islam, agar mereka tidak salah memilih jalan mereka. Ada 
73 jalan yang berlabel Islam di hadapan anda. Masing-masing jalan akan 
mempersunting anda untuk menjadi anggota keluarganya. Bila tidak berhati-hati, 
anda akan menjadi anggota keluarga penghuni neraka. Karenanya, ikutilah 
petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam menentukan jalan di 
tengah-tengah perselisihan yang banyak. Ikuti Sunnah Nabi dan para 
Khulafa’ur-rasyidin. Jauhilah bid’ah. Ingatlah hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi 
wa Sallam yang lalu di awal pembahasan ini.

Demikian apa yang bisa kami sumbangkan kepada Islam dan muslimin serta umat 
secara umum terkait masalah ini. Kami memohon maaf atas segala kekurangan dan 
kesalahan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima amal kami. Ampunan-Nya 
senantiasa kami mohon, sampai kami berjumpa dengan-Nya pada hari yang harta dan 
anak sudah tidak lagi bermanfaat padanya, kecuali mereka yang datang kepada-Nya 
dengan qalbu yang bersih.

Amin…

Footnote : 
[1] Perlu diketahui bahwa penampilan seperti itu sebenarnya merupakan cara 
penampilan yang dituntunkan dalam syariat dan dicontohkan oleh Nabi kita 
Muhammad n, serta diamalkan oleh para sahabat dan para salafush shalih, serta 
para ulama Ahlus Sunnah yang mulia. Jadi, sebenarnya itu merupakan ciri-ciri 
seorang muslim yang berpegang teguh dengan agamanya. Sepantasnya seorang muslim 
berpenampilan dengan penampilan seperti itu. Namun para teroris Khawarij 
tersebut telah menodai ciri-ciri yang mulia ini, dengan mereka terkadang 
berpenampilan dengan penampilan tersebut. Sehingga sampai-sampai kaum muslimin 
sendiri tidak mau berpenampilan dengan penampilan Islami seperti di atas, 
karena beranggapan bahwa penampilan tersebut adalah penampilan teroris. 
Nyata-nyata para teroris Khawarij tersebut telah membuat jelek Islam dari 
segala sisi!

(Sumber http://www.merekaadalahteroris.com/mat/?p=64) 

        start: 2009-06-05 end: 0000-00-00 
________________________________

        Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang 
Lebih Cepat hari ini!
        
        <http://id.mail.yahoo.com> 


________________________________

Berselancar lebih cepat. 
<http://us.lrd.yahoo.com/_ylc=X3oDMTFndmQxc2JlBHRtX2RtZWNoA1RleHQgTGluawR0bV9sbmsDVTExMDM0NjkEdG1fbmV0A1lhaG9vIQ--/SIG=11kadq57p/**http%3A//downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/>
 
Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman 
favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis) 
<http://us.lrd.yahoo.com/_ylc=X3oDMTFndmQxc2JlBHRtX2RtZWNoA1RleHQgTGluawR0bV9sbmsDVTExMDM0NjkEdG1fbmV0A1lhaG9vIQ--/SIG=11kadq57p/**http%3A//downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/>
 



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke