ANTARA
ABUL HASAN AL-ASY’ARI
DAN
ASYA’IROH
•       Mungkin judul ini akan membuat dahi berkenyit, bagaimana tidak?
•       Bukankah Asya’iroh adalah pengikut Abul Hasan Al-Asy’ari? Sama
halnya Syafi’iyyah adalah pengikut Imam Syafi’i?
•       lalu mengapa mesti dipersoalkan?
•       Apa bedanya?
•       Bukankah itu berarti membingungkan pengikut beliau?


Oleh:
 Abu Syamiel A. Sudrajat
Telp. 0251 8969003/ Hp. 081382227222-085882227222

MUQADIMAH

Mari kita berpikir jernih. Mungkin luput dari pengamatan kita, betapa
banyak orang yang menggolongkan kepada seseorang atau kelompok namun
ternyata tidak selaras dengan pemikiran atau faham orang atau kelompok
yang di ikuti, masih segar dalam ingatan kita, Imam Syafi’i
berpendapat bahwa mengirim pahala kepada orang yang telah meninggal
tidak akan sampai sama sekali. Namun anehnya (tapi nyata) orang yang
mengaku pengikuti Imam Syafi’i justru menjadi pelopor terdepan dalam
mengamalkan amalan ini bahkan memasyarakatkanya.
Demikian pula dengan pengikuti Abu Hasan Al–Asy’ari. Mereka mengaku
mengikuti beliau dalam masalah akidah, terutama penetapan Nama-nama
dan Sifat Allah yang berjumlah tujuh. Mereka disebut Asya’iroh alias
Asy’ariyah. Padahal beliau telah ruju’ (kembali) ke manhaj salaf,
ahlussunah waljama’ah dengan menetapkan semua sifat bagi Allah, tidak
hanya tujuh. Namun pengikutnya tidak menyadari. Lebih aneh lagi ucapan
yang terlontar dari Pensyarah kitab Ihya Ulumuddin, Imam Az Zabidi
dalam kitabnya Ittihaf Sadatul Mutaqiin.
Apabila disebut kaum Ahlussunah wal jama’ah, maka maksudnya ialah
orang–orang yang mengikuti rumusan (faham) Asy’ari dan faham Abu
Manshur Al-Maturidi. (Lihat I’tiqad Ahlussunah Wal Jama’ah, KH.
Sirojuddin Abbas, hal. 16–17)
Dalam uraian berikut akan dikemukakan secara ilmiah “Insya Allah”
perbedaan antara imam Abul Hasan Al-Asy’ari dengan Asya’iroh dan
sekaligus sebagai bukti kongkrit kesalahan faham tersebut dan
penganutnya.
Pembahasan ini dibagi menjadi tiga bagian:
a.      Biografi Imam Abul Hasan Al-Asy’ari.
b.      Perkataan beliau dalam kitab-kitabnya setelah ruju’ ke manhaj
salaf
c.      Pijakan penetapan dan pembatasan sifat 20 menurut Asya’iroh dan
bantahannya.
Kita masih sering, mendengar lantunan: Wujud, Qidam, Baqa’
Mukholafathu Ta’al Lil Hawaditsi, Qiyamuhu Binafsihi, Wahdaaniyah,
Qudrat, Iradah, Ilmu, Hayat, Sama’ Bashara, Kalam, Kaunuhu Qadiran,
Kaunuhu Muridan, Kaunuhu Aaliman, Kaunuhu Hayyan, Kaunuhu Sami’an,
Kaunuhu Bashiran, Kaunuh Mutakaliman.
Inilah yang dinamakan sifat wajib dua puluh bagi Allah yang harus
diyakini menurut Asya’iroh.
Sebenarnya sifat–sifat tersebut bukan murni rumusan Abu Hasan Al-
Asy’ari, namun sudah ditambahi oleh Maturidiyyah, beliau hanya
merumuskan tujuh sifat yang terkumpul dalam syair’
Sifat hayat (hidup). Ilmu (mengetahui), Qudroh (berkuasa) dan Kalam
(berbicara); Irodah (berkehendak), Sam’u (mendengar) dan Bashor
(melihat).
Dikemudian hari populer dengan nama sifat dua puluh. Maturidiyah
adalah orang yang mengaku mengikuti Imam Abu Manshur Muhammad bin
Muhammad bin Mahmud Al-Maturidi. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh
KH. Sirodjudin Abbas: “I’tiqod Nabi dan sahabat–sahabat itu telah
termaktub dalam Al Qur’an dan dalam sunah Rasul secara terpencar–
pencar, belum tersusun secara rapi dan teratur, tetapi kemudian
dikumpulkan dan dirumuskan dengan rapi oleh seorang ulama Ushuluddin
besar, yaitu Syeikh Abu Hasan Al-Asy’ari (lahir di Basrah tahun 260 H.
wafat di Bashrah juga tahun 324 H dalam usia 64 tahun, yang benar
beliau meninggal di Baghdad –Pen) karena itu ada orang yang memberi
nama kepada kaum Alhussunah Wal Jama’ah dengan kaum Asya’irah jama’
dari Asy’ari, dikaitkan kepada Imam Abu Hasan Al-Asy’ari tersebut.
(I’tiqad Ahlussunah Wal Jama’ah, hal. 16)
Sedangkan Abu Mansur Al-Maturidiah adalah seorang ulama ushuluddin
juga. Yang faham dan I’tiqadnya sama atau hampir sama dengan Abu Hasan
Al-Asy’ari, beliau wafat di sebuah desa bernama Maturudin Samarqand.
Di Asia tengah pada tahun 333 H. Terkemudian 9 tahun dari Imam Abu
Hasan Al-Asy’ari (hal 17).
Inilah yang dinamakan oleh kaum Ahlusunah wal jama’ah dengan “Sifat
tuhan dua puluh yang wajib diketahui dan diyakini seyakin–yakinnya
oleh setiap orang muslim yang baligh – beraqal (lihat I’tiqad
Ahlussunah Wal Jama’ah, hal 36 – 45).
Itulah sekilas faham mereka seputar sifat – sifat Allah.

BIOGRAFI IMAM ABUL HASAN AL-ASY’ARI
Nama beliau adalah Ali bin Ismail bin Abi Sisyr Ishaq bin Salim bin
Ismail bin Abdilah bin Musa bin Amir Bashroh Bilal bin Abi Burdah bin
Abu Musa Al-Asy’ari Abdulloh bin Qois bin Hadhor Al-Asy’ari Al-Yamani,
Sahabat Rasulullah SAW. Populer dengan nama Abu Hasan Al-Asy’ari.
Dilahirkan di Basroh lalu menetap di Baghdad setelah melepas faham
Mu’tazilah. Tahun kelahirannya diperselisihkan, namun mayoritas
sejarawan menetapkan tahun 260 H, sebagaimana di tetapkan oleh Adz-
Dzahabi, dan wafat tahun 324 H. di Baghdad, perlu diperhatikan bahwa
beliau menjalani tiga fase kehidupan.
Fase Awal
Beliau mengikuti faham Mu’tazilah. Karena sejak kecil sampai umur
empat tahun dalam naungan didikan bapak tirinya, Abu Ali Muhammad bin
Abdul Wahhab Al Juba’I (wafat 303 H. seorang tokoh Mu’tazilah, seperti
dikisahkan oleh Ibnu Nadim (wafat 385 H).”Awalnya beliau adalah
berfaham Mu’tazilah lalu bertobat dari faham tersebut dengan berpidato
di masjid jam’i di Bashroh pada hari Jum’at. Beliau naik kursi dan
bersuara lantang: “siapa yang telah mengenalku berarti dia telah betul
– betul mengenalku, dan siap yang belum pernah mengenalku maka saya
mengetahui diri saya sendiri. Saya adalah Fulan bin Fulan. Saya dulu
berpendapat bahwa al Qur’an itu makhluk, Allah tidak bisa dilihat
dengan mata (pada hari Kiamat). Dan perbuatan jelek itu saya sendiri
yang berbuat (Allah tidak berperan) sekarang saya taubat dan melepas
keyakinan tersebut untuk membantah faham Mu’tazilah” lalu beliau turun
dan keluar, meninggalkan kejelekan dari aib mereka” (al Fahrosat, hal
257) Ibnu ‘Asakir menambahkan:”wahai seluruh manusia, saya menghilang
dari hadapan kalian beberapa waktu karena saya mendapati beberapa
dalil dan belum bisa membedakan mana yang hak dan yang batil. Lalu
saya meminta petunjuk kepada Allah dan Allah memberikan petunjuk-Nya,
untuk meninggalkan semua yang kutulis di buku–buku saya. Maka saya
ditinggalkan semua yang dulu saya yakini seperti saya melepaskan baju
saya ini” lalu beliau melepaskan bajunya dan melemparknya. (Tabyiini
Kadzibil Muftari, hal 39)
Adapun sebabnya ada dua, seperti disebutkan Ibnu Asakir, pertama:
bermimpi melihat Rasulullah SAW kata Abul Hasan Al-Asy’ari: penyebab
saya keluar dari faham Mu’tazilah adalah saya bermimpi melihat
Rasulullah pada awal bulan Ramadhan, Kedua: pertanyaan yang disodorkan
kepada para gurunya, tetapi mereka tidak mampu menjawab “(Tabyiin hal.
38 – 42)
Fase kedua
Setelah keluar dari faham Mu’tazilah beliau menganut faham Kullabiyah,
yang dimotori oleh Abdulloh bin Sa’id bin Kullab Al Bashri. Mulailah
beliau membantah golongan Mu’tazilah dengan berpijak kepada faham
Kullabiyah ini. Ibnu Taimiyah berkata: “Abul Hasan Al-Asy’ari
dahulunya adalah seorang Mu’tazilah, ketika keluar darinya dia
mengikuti faham Muhammad bin Kullab” (Majmu‘Fatawa 5 /556) hal ini
diakui pula oleh Ad Dzahabi dan selainnya (lihat Siyar A’laminubala
2/228) mengenai Ibnu Kullab, Ibnu Taimiyah berkata: “Dialah yang
mengarang kitab–kitab yang isinya membantah Jahmiyah, Mu’tazilah dan
firqoh lainnya. Dia termasuk ahli kalam dalam masalah sifat–sifat
Allah. Metode yang dia tempuh mendekati metode ahlul hadits dan sunah,
namun masih termuat cara–cara bid’ah. Karena dia menetapkan sifat
Dzatiyah dan menolak sifat Ikhtiariyah bagi Allah, Tetapi ketika
membantah Jahmiyah dikarenakan mereka menolak sifat dan sifat Uluw
(Allah berada di tempat yang tinggi). Sarat dengan hujjah dan dalil
dan menerangkan keutamaan hujah dan dalil tersebut. Maka apa yang
dikemukakan itu menyapu bersih syubhat Mu’tazilah. Dan ini membantu
bagi kalangan cendekia. Jadilah dia seorang imam dan panutan bagi
orang yang muncul setelahnya dalam masalah penetapan sifat dan
membantah orang yang menafikannya. Walaupun antara mereka (Ibnu Kullab
dan pengikutnya dengan golongan yang dibantahnya masih ada persamaan
dalam kaidah–kaidah pokok. Hal inilah yang menyebabkan sebagian kaidah
yang mereka munculkan. Menjadi batil dilihat dari kaca mata akal dan
karena menyelisihi sunah Rasulullah SAW “. (Majmu’fatwa 12/ 366).
Lanjut beliau :”…namun tatkala Muhammad bin Kullab berbicara dan
berdialog dengan Mu’tazilah menggunakan cara berfikir Qiyas (analogi),
dia menerima kaidah yang dicipta oleh Mu’tazilah yaitu menolak bahwa
Allah berbicara dengan huruf, melekatnya sifat–sifat ikhtiariyah yang
berkaitan dengan kehendak/ kekuasaan Allah berupa perbuatan, kalam dan
selainnya. Dengan beranggapan bahwa penetapan sifat ikhtiariyah itu
berkonsekuensi: Allah mempunyai sifat yang hadits (baru), padahal
sesuatu yang tidak terbebas dari sifat hadits berarti dia hadits
(baru). Implikasinya dia berpendapat bahwa kalam Allah itu hanya
berupa makna, dan huruf (ketika Allah berbicara) tidak termasuk kalam
Allah. Pendapat ini diikuti oleh Abul Hasan Al-Asy’ari” (Majmu’Fatawa
12/366)
Disinilah Abul Hasan Al-Asy’ari tidak menyadari. Ketika Ibnu Kullab
membantah Mu’tazilah dan menetapkan sifat Lazimah Allah sifat yang
selalu melekat pada dzat Allah (dia juga menafikan sifat–sifat
ikhtiariyah Allah seperti sifat ridho, marah, benci senang dan lain–
lainnya. Memang dalam penetapan sifat lazimah ini Ibnu Kullab
mencocoki madzhab Ahlususunnah seperti sifat Hidup, Ilmu, Qudroh dan
lainnya namun juga menyelisihinya dengan menolak sifat Ikhtiyariyah
tadi. Sehingga bisa dikatakan dia membentuk madzhab baru yang
sebagiannnya sesuai dengan madzhab ahlussunnah dan sebagiannya
menyelisihinya.
Berikut ini metode penetapan sifat Ibnu Kullab yang diikuti oleh Abul
Hasan Al-Asy’ari:
1.      Menetapkan sifat lazimah, semisal : Ilmu, Qudrah
2.      Menafikan sifat ikhtiariyah yang berkatian dengan Masyi’ah
(kehendak) dan Qudrah Allah.
3.      Kalam Allah adalah makna yang melekat tersimpan pada dzat (dalam
ungkapan kita: ungkapan yang masih terpendam di hati), jika
diungkapkan dengan bahasa Arab disebut Al Qur’an, bila dalam bahasa
Ibrani disebut Taurat, dalam bahasa Suryaniyah disebut Injil
4.      Al Qur’an bukanlah kalam Allah tetapi kalam Jibril atau yang lain,
Jibril mengungkapkan makna yang tersimpan dalam dzat Allah dengan
ungkapan dia sendiri.
5.      Menafikan Allah bersifat senang, ridho kepada kaum mukminin setelah
merek beriman, dan memurkai kaum kafirin setelah mereka kafir.

Adapun ahlussunnah wal jama’ah atau salafiyah menetapkan seluruh sifat
ikhtiariyah yang Allah tetapkan bagi diri-Nya tanpa ditakyif, tamtsil,
tahrif dan ta’thil, sebagai contoh, Allah beristiwa di atas arsy,
Allah turun, datang dan lainnya. Allah juga bersifat marah, senang,
murka, ridho dan sifat lainnya yang ditetapkan oleh Rasulullah SAW.
Allah juga berbicara, namun kalam Allah adalah qodimun nau’ dan
haditsul aahad, maksudnya adalah selalu bersifat bicara (sifat kalam
ini selalu melekat pada Allah), dan kalam perkalamnya adalah baru,
kalam Allah kepada Adam bukanlah kalam-Nya kepada Nuh, kalam-Nya
kepada Nuh bukanlah kalam-Nya kepada Ibrohim, juga bukan pula kalam-
Nya kepada Muhammad SAW dan seterusnya.
Fase ketiga
Setelah sekaian lama bergelut dengan faham Kullabiyah, meyakini dan
menyebarkannya, beliau sadar dan kembali kepada manhaj yang benar,
manhaj salaf ahlussunnah wal jama’ah dengan menisbatkan diri kepada
imam Ahmad bin Hanbal karena hidayah Allah, kesadaran dan kembalinya
beliau ke manhaj Ahlussunnah wal jama’ah dibuktikan dengan tiga
hal. :
1.      Perkataan Para Ulama
Banyak sekali ulama yang mempersaksikan kembalinya Imam Abul Hasan Al-
Asy’ari kepada madzhab salaf Ahlusunnah wal jama’ah, persaksian mereka
itu diikrarkan setelah meneliti kehidupan Imam Abul Hasan Al-Asy’ari.
Diantara mereka adalah:
a.      Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
b.      Imam Abnul Qoyyim
c.      Imam Ad Dzahabi
d.      Imam Ibnu Katsir, beliau berkata: “Mereka (para ulama) menyebutkan
tiga fase kehidupan Abul Hasan Al-Asy’ari, Fase pertama, berfaham
Mu’tazilah. Fase kedua: penetapan sifat tujuh yaitu hayat, ilmu,
qudroh, irodah, sam’u, bashar, dan kalam dengan berdasarkan kaidah
akal. Adapun sifat Khobariyah, seperti wajah, dua tangan, kaki, betis
dan lainnya dita’qil (ditahrif). Fase ketiga, menetapkan semua sifat
khobariyah tadi dengan tanpa ditakyif dan tasybih menurut faham salaf.
Inilah metode yang beliau tempuh seperti dijabarkan dalam kitab al
Ibanah, karya terakhir beliau” (Ithaf Sadatil Muttaqin, Murtadho Az-
Zabidi, 2/5 cet. Darul Fikr).
e.      Syaik Nu’man Al-Alusi
f.      Syaikh Abul Ma’ali Mahmud Al Alusi
g.      Al Allammah Muhibudiin Al Khotibb, beliau berkata: “Abul Hasan Al-
Asy’ari Ali bin Ismail termasuk pembesar imam ahlu kalam dalam Islam.
Pada awal kehidupannya dia menganut faham Mu’tazilah, dengan berguru
kepada Abu Ali Al Jubba’I kemudian Allah menyadarkannya ketika beliau
menginjak usia paruh baya dan awal kematangannya. Beliau mengumumkan
kesadaran? Keinsyafannya dan membeberkan kesesatan faham Mu’tazilah.
Pada fase ini beliau banyak menulis, berdebat dan mengajar dengan
membantah faham Mu’tazilah berlandaskan metode jidal (debat) ta’wil
(tahrif) dan metode salaf. Akhirnya beliau benar–benar kembali ke
manhaj salaf dengan mengistbatkan semua perkara–perkara ghoib
(termasuk sifat–sifat Allah) yang wajib diimani oleh para hamba-Nya
dengan berdasarkan pada Nash (al Qur’an dan Hadits) buktinya beliau
menulis kitabnya yang paling akhir yang sudah banyak dibaca orang
yaitu Al Ibanah. Para penulis biografi beliau memastikan bahwa al
Ibanah adalah kitab terakhir yang ditulis oleh Abul Hasan. Inilah yang
dikehendaki oleh Allah. Adapun yang menyelisihi hal di atas dan
dinisbatkan kepada beliau atau apa yang diada-adakan oleh Asy’iroh,
sesungguhnya Abul Hasan Al-Asy’ari telah menyadari bahwa itu salah dan
beliau telah meninggalkannya serta kembali ke manhaj salaf ahlussunah
wal jama’ah seperti yang ditulis dalam kitab al Ibanah dan kitab
lainnya”.  (Lihat komentar no. 2 pada Muntaqo Minhajul I’tidal milik
Adz Dzahabi).
2.      Perjumpaan Beliau Dengan Al Hafidz Zakaria As-Saaji
Setelah Abul Hasan Al-Asy’ari melepas faham Mu’tazilah dan Kullabiyah,
mulailah beliau menemui para imam ahlul hadits yang selamat aqidahnya
guna mengambil dan mengikuti metode yang ditempuh oleh mereka. Yang
paling mashyur adalah pertemuannya dengan ahli hadits negri Bahsrah Al
Hafidz Zakaria As-Saaji. Para ulama begitu memperhatikan pertemuan ini
karena merupakan point penting seputar keterusterangan Abul Hasan Al-
Asy’ari untuk kembali ke manharj salaf dan dan penisbatannya kepada
Ahmad bin Hanbal. Ibnu Taimiyah berkata: “Abu Hasan Al-Asy’ari
mengambil dasar–dasar ilmu hadits dari Zakaria as-Saaji di Bashrah
lalu setelah datang ke Baghdad menimba ilmu lainya dari pada ulama
Hanbaliyah. Ini adalah fase terakhir dikehidupannya seperti disebutkan
oleh para sahabatnya (muridnya) di kitab mereka” (Majmu Fatwa 3/ 288).
Kata Ibnu Taimiyah selanjutnya; “Abul Hasan Al-Asy’ari mengambil ushul
(pokok–pokok) ahlussunah dan hadits dari Zakaria As-Saaji. Hal ini
banyak dijumpai di kitabnya Maqolatul Islamiyyin. Dia menyebutkan
pendapat imam ahlussunnah sebagaimana juga pendapat Hammad bin Zaid
bahwa Allah berada di atas arsy dan dia mendekat kepada hamba-Nya
sekehendak-Nya” (Majmu’ Fatawa 5/ 386)
Imam Adz–Dzahabi sangat menaruh perhatian terhadap pertemuan dua orang
ini. Ketika Adz-Dzahabi menulis biografi As-Saaji beliau berkata:
“Abul Hasan Al-Asy’ari mengambil dari Al Hafidz As-Saaji perkataan
ahlul hadits dan salaf“. (Tadzkirotul Hufadz 2/709). Pada syiar
A’lamun Nubala’ 14/198, Ad Dzahabi berkata: “Abul Hasan Al-Asy’ari
mengambil dari Al Hafidz as-Saaji perkataan salaf dalam masalah sifat–
sifat Allah. Lalu dijadikan pijakan dalam kitab–kitabnya”. Termasuk
ulama yang memastikan adanya pertemuan antar Al Hafidz As-Saaji dengan
Abul Hasan Al-Asy’ari adalah dua orang imam: Ibnul Qoyyim dan Ibnu
Katsir (lihat Ijtima’u Juyus Islamiyah hal 97, Al Bidayah Wan Nihayah
11/131 dan Ghoyatul Amani oleh Al Alusi 1/480)
3.      Penulisan Kitab Al Ibanah Dan Pemastian Bahwa Kitab Itu Karya
Beliau
Banyak sekali ulama yang memastikan bahwa kitab Al Ibanah merupakan
karya terakhir Abu Hasan Al-Asy’ari, baik ulama terdahulu atau yang
belakangan, yang paling dekat masa hidupnya dengan Abu Hasan adalah
Ibnu Nadim, dalam kitabnya, al Fahrosat hal. 257, Ibnu Nadim
menyebutkan biografi Abu Hasan dan karya–karyanya. Di antara karyanya
adalah kitab At–Tabyiin an Ushulludin.
Setelah itu Ibnu Asakir, beliau membela Abu Hasan dan memastikan bahwa
kitab Al-Ibanah adalah kitab karya Abu Hasan, lalu Ibnu Asakir
menyebut–nyebut dari kitab Al Ibanah dalam kitabnya At Tabyiin untuk
memuji akidah Abu Hasan Al-Asy’ari, Ibnu Asakir berkata: “Karya Abu
Hasan Al-Asy’ari telah mashur di kalangan ulama, menurut ulama
peneliti, kitab tersebut sangat baik dan benar, siapayang meneliti
kitab Al Ibanah niscaya mengerti isinya yang sarat dengan ilmu dan
ketaatan”. (Tabyiin Kadzabul Muftari, hal 28) disebutkan bahwa Imam
Abu Utsman as-Shobuni tidak akan keluar ke majlis kecuali membawa kita
Al Ibanah karya Abul Hasan Al-Asy’ari, beliau sangat terkesan dengan
kitab itu, hingga berujar: “apa–apa yang dingkarkan kepada saya
tentang isi kitab ini maka akan terbongkarlah madzab orang tersebut”
Lalu Ibnu Asakir berkomentar: “Ini adalah ucapan Imama Abu Utsman,
sedang dia adalah tokoh ahli hadits di Khurosan” (Tabyiin Kadzbul
Muftari, hal 389)
Berikutnya, Ibnu Darbas (wafat 659 H) mengarang sebuah kitab untuk
membela Abu Hasan Al-Asy’ari dan memastikan bahwa kitab al Ibanah
adalah karya Abu Hasan. Dia berkata:“Adapun sesudah itu, ketahuilah
wahai saudara–saudara, semoga Allah memberikan taufik dan hidayah
kepada kita menapaki dien yang lurus dan untuk meniti jalan lurus,
sesungguhnya kitab Al Ibanah An Ushulid Diyanah buah karya imam Abu
Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari adalah kitab dimana akidah beliau
tertancap mantap padanya. Dan dengannya beliau beribadah kepada Allah
setelah melepas paham I’tizal (Mu’tazilah) karena karunia Allah dan
kelembutan-Nya, adapun perkataan yang muncul sekarang dan dinisbatkan
kepada beliau namun menyelisihi akidahnya, beliau telah
meninggalkannya dan beliau minta pembebasan kepada Allah dari
perkataan tersebut. Bagaimana tidak, beliau telah menyatakan bahwa
akidah tersebut adalah keyakinannya guna beribadah kepada Allah. Dan
dia telah meriwayatkan dan memastikan keyakinan sahabat, Tabi’in para
imam ahlul hadits yang telah berlalu, dan ucapan Ahmad bin Hanbal–
semoga Allah merohmati mereka semua. Tambahan lagi keyakinan itu telah
ditunjukkan oleh Al Qur’an dan Sunah Rarul-Nya. Apakah mungkin beliau
kembali kepada kayakinan lain? Lalu kepada apa beliau kembali?
Mungkinkah beliau berpaling dari kitab dan Sunnah, menyelisihi
pemahaman sahabat Tabi’in dan para imam hadits yang telah lalu?
Padahal telah diketahui bahwa itulah madzab beliau dan beliau sendiri
telah meriwiyatkan dari mereka (imam ahlul hadits, tabi’in dan
sahabat). Demi Allah, ini tidak patut dinisbatkan kepada orang awam
apalagi kepada pemuka agama ini! Sekelompok imam dunia, para fuqoha
Islam, imam ahli Qiro’at, ahli Hadits dan selain mereka telah menyebut
kitab Al Ibanah ini, mereka jadikan pijakan dan pastikan bahwa kitab
ini karya Abu Hasan Al-Asy’ari, mereka juga memujinya, membersihkanya
dari bid’ah–bid’ah yang dinisbatkan kepada beliau. Dan menukil
perkataan beliau dari Al Ibandah dalam tulisan–tulisan mereka”.
(Risalatul Dzahabbi An Abil Hasan Al-Asy’ari, hal 107, peneliti Dr.
Ali bin Nashir Al Fakihi).
Kemudian Ibnu Darbas Menyebutkan nama–nama mereka:
1.      Imam ahli Qiro’at al Qur’an, Abu Ali Al Hasan bin Ali bin Ibroihim
Al Farisi (wafat  446)
2.      Al Hafidz Abu Utsman As Shobuni (wafat  449H)
3.      Al Faqih Al Hafiz Aabu Bakr Al Baihaqi (wafat  458 H)
4.      Imam Abul Fath Nashr Al Maqdisi (wafat  490H)
5.      Al Faqih Abul Ma’ali Mujalli, penyusun kitab Ad Dzakhooir (wafat
550H)
Ulama lainnya yang tidak disebutkan Ibnu Darbas semisal:
1.      Imam Ibnu Timiyah
2.      Al Hafiz Ad Dzahabi, beliau berkata: “Kitab al Ibanah adalah
termasuk karangan Abu Hasan yang termashur. Dipopulerkan oleh Al
Hafidz Ibnu Asakir dan dijadikan rujukan dan disalin oleh Imam
Nawawi”. (Mukhtashor Al Uluw, hal 239)
3.      Imam Ibnul Qoyyim
4.      Al Hafidz Ibnu Katsir.
5.      Al Allmah Ibnu Farhun Al Maliki (wafat 799)
6.      dan masih banyak lagi
Kesimpulannya:
Abu Hasan Al-Asy’ari pada awal kehidupannya menganut faham Mu’tazilah
kemudian berlepas diri. Setelah itu menganut faham Kullabiyah. Masa
inilah beliau menetapkan sebagian sifat (yang tujuh dan menta’wil
sifat yang lain).
Akhirnya beliau Ruju’ (kembali) kepada faham salaf, membelanya dan
berpendapat sesuai pendapat salaf beliau mengambil dari pada ahlu
hadits pendapat ahlussunnah wal jama’ah, lalu mengarang kitab Al
Ibanah dan meyakini apa yang ditulisnya. Inilah yang dikehendaki oleh
Allah.
Kitab Al Ibanah adalah karya imam Abu Hasan Al-Asy’ari, seperti
ditegaskan oleh para ulama, persaksian mereka sudah cukup sebagai
bantahan terhadap orang yang menyangka bahwa kitab itu hanya
dinisbatkan kepada beliau bukan karyanya. (lihat bahasan ini dari hal
1 – 55)
PERKATAAN ABU HASAN AL-ASYA’ARI SEPUTAR SIFAT– SIFAT ALLAH
Berikut ini akan dikemukakan perkataan imam Abu Hasan Al-Asy’ari yang
diambil dari kitab beliau yaitu Al Ibanah An Ushulid Diyanah dan
Muqolatul Islamiyyin Wakhtilafil Mushollin. Dalam kitab Al Ibanah Bab
Kejelasan Perkataan ahlul hak dan ahlussunah hal 17–19, beliau
berkata; “Apabila seseorang bertanya: “kamu mengingkari perkataan
Mu’tazilah, Qodariyyah, Jahmiyya, Harruriyyah, Rodidhoh dan Murji’ah,
maka terangkan kepada kami pendapatmu dan keyakinanmu yang mengaku
beribadah kepada Allah dengannya! Jawablah: “Pendapat dan keyakinan
kami yang kami pegangi adalah perpegang teguh dengan kitab rabb kita
azza wajalla, sunnah Nabi kita SAW dan apa yang diriwayatkan dari para
sahabat, Tabi’in dan para ahlul hadits. Kami berpegang teguh
dengannya. Dan berpendapat dengan apa yang dikatakan oleh Abu Abdillah
Ahmad bin Muhammad bin Hanbal–semoga Allah mencerahkan wajahnya,
meninggikan derajatnya, dan memberi balasan yang melimpah. Siapa yang
menyelisihi perkataannya dia akan menyimpang, karena dia adalah imam
yang mulia, pemimpin yang sempurna yang dengan perantaranya Allah
menjelaskan kebenaran, menumpas kesesatan, membuat minhaj ini menjadi
gamblang, membarantas bid’ah–bid’ah rekayasa para ahli bid’ah,
penyelewangan orang yang menyimpang, dan kegamangan orang yang ragu–
ragu. Semoga Allah merohmatinya’.
Ringkas perkataan kami adalah kami beriman kepada Allah, Malaikat-Nya,
Kitab– kitab-Nya, para Rasul-nya dan apa yang dibawa oleh mereka dari
sisi Allah dan apa yang diriwayatkan oleh para ulama yang terpercaya
dari Rasulullah, kami tidak akan menolak sedikitpun, sesunguhnya Allah
adalah Ilah yang Esa, tiada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Dia,
Dia Esa dan tempat bergantung seluruh makluk, tidak membutuhkan anak
dan istri, dan Muhammad SAW adalah hamba dan utusan-Nya, Allah
mengutusnya dengan membawa petunjuk dan dien yang benar, Surga dan
Neraka benar adanya. Hari kiamat pasti datang, tidak ada kesamaran
sedikitpun. Dan Allah akan membangkitkan yang ada di kubur, dan Allah
bersemayam di atas Arsy, seperti firman-nya.
الرَّحْمَانُ عَلىَ الْعَرْشِ اسْتَوَاى
(Thoha ayat 5) Allah mempunyai dua tangan, tapi tidak boleh di takyif,
seperti firman-Nya: خَلَقْتُ بِيَدَيً (QS. Shod: 75) dan Firman-Nya:
بَلْ يََدَاهُ مَبْسُوْطَتَانِ (QS. Al Maidah: 64) Allah mempunyai dua
mata tanpa ditakyif, seperti firmanya (QS. Al Qomar: 14), siapa yang
menyangka bahwa nama–nama Allah bukanlah Allah maka dia telah sesat,
Allah mempunyai ilmu, firmanya (QS. An Nisa 166) firmannya:
وَمَاتَحْمِلُ مِنْ أُنْثَى وَلاَتَضْعُ إِلاَّ بِعِلْمِهِ
tidak ada seorang perempuan –perempuan mengandung dan tidak (pula)
melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. (QS. Al Fathir: 11)
Kita menetapkan bahwa Allah mendengar dan melihat, kita tidak
menafikanya seperti dilakukan oleh Mu’tazilah, Jahmiyah dan Khowarij,
kita juga menetapkan bahwa Allah mempunyai Quwwah (kekuatan), seperti
firman-Nya:
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدّ مِنْهُمْ
قُوَّةً
(QS. Fushilat: 15), kita katakan bahwa kalam Allah bukan makhluk,
Allah tidak menciptakan sesuatupun kecuali akan mengatakan jadilah!
Seperti firmannya
إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَىءٍ إِذَاأَرِدْنَاهُ أَنْ نَقُوْلَ لَهُ كُنْ
فَيَكُوْنَ
(QS. An Nahl: 40) Tidak ada satu kebaikan atau kejelekan pun di bumi
ini kecuali telah dikehendaki oleh Allah, sebab sesuatu itu terjadi
karena kehendak-Nya azza wajalla seseorang tidak mampu berbuat suatu
perbuatanpun sebelum Allah menentukannya dan dia pasti butuh kepada
Allah, tidak ada seorangpun yang mampu keluar dari ilmu Allah azza
wajalla sesungguhnya tidak ada pencipta kecuali Allah, amal perbuatan
hamba itu diciptakan dan ditentukan oleh Allah, seperti firmannya:
وَ اللهُ خَلَقَكُمْ وَمَاتَُعْمَلُوْنَ
(Qs.Ash Shofat: 96) seorang hamba tidak mampu menciptakan sesuatupun,
bahwa mereka diciptakan, seperti firman-Nya:
هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللهِ
(QS. Fathir: 3)
لاَيَخْلُقُوْنَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُوْنَ
(QS An Nahl: 20)
أَفَمَنْ يَخْلُقُ كَمَنْ لاَيَخْلُقُ أَفَلاَ تَذَكَّرُوْنَ
(Qs. An Nahl; 17)
أَمْ خُلِقُوْا مِنْ غَيْرِ شَىءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُوْنَ
(QS At Thur: 35) dan masih banyak lagi ayat yang lain dalam kitab
Allah.
Dalam maqolatul Islamiyyin bab inilah hikayat Sekumpulan perkatan
ahlul hadits dan ahlussunah, hal 290–297 beliau berkata seperti yang
tercantum dalam Al Ibanah di muka. Kemudian pada akhir Bab beliau
berkata: “Inilah sekumpulan perkataan yang diperintahkan, dilaksanakan
oleh mereka dan itulah pendapat mereka, kami berkata dan berpendapat
sama persis dengan siapa perkataan dan pendapat mereka. Tidak ada yang
memberi taufik kepada kami kecuali Allah saja. Dialah yang mencukupi
kami dan dialah sebaik–baik pemelihara. Kepada-Nya kami meminta
pertolongan, kepada-Nya kami bertawakal dan kepada-Nya akan kembali!
Dari dua kitab tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa beliau
menetapkan:
1.      Sifat–sifat yang tetap bagi Allah yang termaktuf dalam kitab-nya
dan dalam sunah nabi-Nya secara hakiki sesuai kegungan Allah ta’ala,
seperti sifat istiwa Allah di atas Arsy, Allah mempunyai dua tangan,
dua mata dan wajah secra hakiki, namun tidak boleh ditanyakan
bentuknya dan diserupakan dengan makhluk. Allah memiliki sifat ilmu,
pendengaran, penglihatan, kekuatan dan irodah (berkehendak) Allah
berbicara dan al Qur’an adalah kalam Allah, Allah turun ke langit
dunia.
2.      Allah akan dilihat pada hari kiamat dengan jelas tanpa pengahalng.
3.      Allah akan datang (sifat mamji’) pada hari kiamat sedangkan
malaikat berbaris )

Tidak hanya itu dalam kitab lainnya Risalah Ila Ahli Tsaghr, beliau
menetapkan adanya ijma” kesepakatan salaf dalam masalah aqidah
khususnya asma dan sifat yaitu;
1.      Salaf bersepakat menetapkan sifat mendengar, melihat, dua tangan,
sifat qobdh (menggenggam) dan dua tangan Allah adalah kanan.
2.      Mereka bersepakat menetapkan sifat nuzul (Allah turun ke langit
dunia pada sepertiga malam yang akhir), maji (kedatangan Allah pada
hari kiamat untuk memutuskan), uluw (ketinggian) dan Allah berada di
atas arsy.
3.      Mereka bersepakat bahwa kaum mukmin akan melihat Allah pada hari
kiamat dengan mata mereka, (hal 210 – 225)

Kemudian beliau menyebutkan beberap ijma’ lainnya, lalu menutup dengan
ijma’ yang menyeluruh sebagai kaidah terpenting bagi salaf, katanya:
“para salaf telah bersepakat untuk menetapkan sifat–sifat bagi Allah
sebagaimana Allah telah mensipati diri-Nya dengan sifat tersebut dan
pensifatan oleh Nabi-Nya SAW tanpa pemalingan dan tanpa ditakyif, iman
kepada sifat–sifat tersebut adalah wajib, demikian pula tidak bolehnya
takhif juga wajib (hal 224)
Semakin jelas kiranya bahwa akidah imam Abu Hasan Al-Asy’ari dalam
masalah asma’ dan sifat berdasarkan:
1.      Kitab Allah ta’ala yaitu al Qur’an dimana Allah menetapkan di
dalamnya sifat–sifat bagi diri-nya
2.      Hadits – hadits Rasululah SAW yang shohih yang menetapkan sifat
3.      Perkatan salaf dan para imam hadits. Karena aqidah mereka adalah
aqidah yang selamat dan motode mereka adalah lurus, yang menetapkan
sifat-sifat yang baik bagi Allah, tanpa ditakyif, tanpa tamsil, tanpa
tahrif, tanpa ta’thil, panutan dalam masalah ini adalah imam Ahmad bin
Hambal

Berbeda dengan apa yng diyakini oleh sementara orang yang mengaku
mengikuti beliau, dikenal dengan nama Asya’iroh, ternyata yang mereka
klaim itu tidak benar sama sekali, sehingga terlihat nyata perbedaan
antara imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Asy’iroh, dimana beliau
menetapkan semua sifat bagi Allah yang tertera dalam al Qur’an
sedangkan Asya’iroh hanya menetapkan dua puluh sifat saja, uraian ini
sebenarnya sudah cukup membuktikan kesalahan mereka dan sebagai
bantahan kepada mereka, karena beliau telah ruju’ (berlepas diri) dari
faham Mu’tazilah dan faham Kullabiyah. Membuktikan bahwa faham tadi
itu salah dan sesat, selain itu mereka telah berbuat lancang dzolim
kepada imam Abu Hasan Al-Asy’ari, jika mereka mengaku ittiba’ kepada
beliau seharusnya juga bertaubat dari keyakinan mereka dan ruju’
kepada faham salaf, ahlussunnah wal jama’ah yang hakiki, Allahu
a’lam.

(disadur)
[email protected]

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima E-Mail ini karena Anda tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs  http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com). Kirim artikel, pendapat/opini, informasi dan 
lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info dan 
http://www.kisahislam.com
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke