Mulianya Sikap Memaafkan

Oleh: Ustadz Agus Handoko



Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap
memaafkan:


Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan
pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al-A'raf 7:199)


Dalam ayat lain Allah berfirman:


"...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak
suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
(QS. An Nuur, 24:22)


Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur'an akan merasa sulit
memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun
yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa
memaafkan adalah lebih baik:


... dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka
sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)


Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat
memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al
Qur'an :


"Yaitu orang2 yang menginfakkan hartanya ketika lapang dan sempit dan
menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain." (QS. Ali ‘Imraan,
3:134)


Menurut Harun Yahya Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres,
kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan
yang bertambah dari keping-keping darah, yang memicu pembekuan darah
menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan
jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan
menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya
memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung.


Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari
mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur'an. Meskipun banyak
orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti
mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan
marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu.
Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena
mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan
mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu,
orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan
orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan
besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja.
Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut
kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka
berserah diri dengan peristiwa ini, tidak pernah terbelenggu oleh amarah.


Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka
yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang
yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah
memaafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa
orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah
namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan
penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung
akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah
berkurang pada orang-orang ini.


Memaafkan, adalah salah satu perilaku yang membuat orang tetap sehat, dan
sebuah sikap mulia yang seharusnya diamalkan setiap orang


Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic
Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi
kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf
memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan
percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan
stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak
ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang. Dia melanjutkan dengan
mengatakan bahwa:


Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan
adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam
tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu,
Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan
semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu membakar tubuh
dan menjadikannya sulit berpikir jernih – memperburuk keadaan.


Sebuah tulisan berjudul "Forgiveness" [Memaafkan], yang diterbitkan Healing
Current Magazine [Majalah Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan
September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau
suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak
keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel tersebut
juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan
itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan
hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan
pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin
menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan
kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.


Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan
pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain,
meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak
terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan
membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun
batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan –sebagaimana segala sesuatu
lainnya – haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa
sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara
ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari
banyak sumber kearifan yang dikandungnya.


Mulai saat inilah tidak ada kata terlambat bagi kita untuk selalu
introspeksi diri, sejauh mana dada dan hati kita memaafkan kesalahan orang
lain atau meminta maaf atas segala kesalahan kita. Hindari sikap egoisme
dalam diri yang membuat setiap manusia lupa akan hakikat jati dirinya.
Karena manusia yang besar adalah manusia yang dapat mengendalikan hawa
nafsunya, tidak mudah marah, lapang dada dan hatinya serta selalu
mementingkan kemaslahatan ummah.

Kirim email ke