Sabar Setengah dari Iman


Tanya:

Kehadapan Pak Kyai,

Saya ada pertanyaan, yang sering kita sebut iaitu "sabar adalah separuh
daripada iman" apakah separuhnya lagi, agar bisa mencukupi iman itu?


Sekian pertanyaan dari saya yang jahil.


Sulaiman Mohd. Yusoff – Singapura


Jawab:

Saudara Sulaiman,


Sebelumnya perlu diketahui apa itu iman, dan apa itu sabar. Iman itu
merupakan gabungan pembenaran (akan perkara-perkara yang harus diimani:
Allah, para malaikat, para Nabi, dll) dan amal saleh. Dua hal, pembenaran
dan amal saleh ini tak bisa dipisahkan. Karena amal saleh merupakan
konsekuensi-logis (dampak yang pasti) adanya iman. Seseorang tak bisa
dianggap beriman hanya dengan membenarkan adanya Allah, tapi faktanya ia
sering berbuat maksiat. Demikian pula, sebaliknya, tak bisa disebut beriman
hanya dengan melakukan perbuatan baik, tapi hatinya tak pernah membenarkan
adanya Allah.


Itulah rahasianya mengapa terulang banyak kali dalam al-Qur'an "yaa ayyuhal
ladziina aamanuu wa 'amiluushshaalihaat..." [Wahai orang-orang yang beriman
dan beramal saleh..."]. Karena kalau seseorang mengaku beriman
konsekuensinya ia harus beramal saleh.


Lalu apa itu sabar? Sabar adalah keteguhan hati/jiwa untuk menghindari nafsu
(yang cenderung menyeret ke kemaksiatan).


Adapun ungkapan "sabar separuh dari iman" (yang merupakan makna penuh sebuah
hadis: "al-shabru nishful iimaan"), penjelasannya begini:


Karena iman adalah gabungan dari pembenaran dan amal baik, maka ia
membutuhkan dua syarat: keyakinan dan kesabaran. Yang pertama, keyakinan,
maksudnya adalah pengetahuan dan keyakinan kita akan adanya Tuhan, para
malaikat, para nabi, dan perkara-perkara lain yang harus diyakini (sesuai
pengetahuan kita dari ayat-ayat dan sunnah Nabi). Dan kedua, kesabaran,
maksudnya adalah amal perbuatan yang harus kita laksanakan dengan penuh
keteguhan hati sesuai kerangka keyakinan kita. Karena
keyakinan/pengetahuanlah yang bisa menunjukkan kita mana perbuatan baik
(taat) dan mana yang jelek (maksiat).


Setelah kita tahu/yakin mana yang baik dan mana yang jelek, sebagai orang
beriman, kita harus melakukan yang baik dan meninggalkan/menjauhi yang
jelek. Singkat kata kita harus bertakwa: melaksanakan kebaikan dan
meninggalkan/menjauhi kejelekan. Dan ketahuilah, takwa itu tak akan tegak
tanpa adanya kesabaran.


Bukankah seseorang yang melakukan kejelekan itu karena ia dijerumuskan oleh
nafsu? Orang yang menumpuk kekayaan sampai lupa saudaranya yang membutuhkan
karena ia terseret oleh nafsu keserakahannya; orang yang membenci orang lain
itu karena dirinya dikuasai amarah atau merasa benar sendiri dan itu tiada
lain adalah nafsu; orang mencuri karena nafsu; dll. Untuk melawan semua itu
tiada lain jalannya adalah dengan kesabaran/keteguhan hati. Bukankah
sebenarnya semua orang sudah tahu dan sadar bahwa mencuri itu jelek;
membenci orang lain itu tak baik; menumpuk kekayaan itu juga tak baik; hanya
saja ia tak memiliki keteguhan hati utk melawan nafsunya hingga akhirnya ia
terjerumus.


Jadi, jelaslah bahwa iman itu tak sempurna hanya dengan pembenaran. Tapi
harus diikuti dengan tindakan nyata yang membutuhkan keteguhan hati.


Demikian semoga cukup jelas.


Arif Hidayat


-- 
"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

Kirim email ke