*Gara-gara Nafsu*

* *

*"Tidak dikhawatirkan padamu manakala Jalan yang ada padamu begitu
membingungkan. Tetapi yang dikawatirkan manakala hawa nafsu mengalahkan
dirimu”.*


Kenapa demikian? Menurut Syeikh Ahmad al-Hadhrawih ra, “Kebenaran itu sudah
jelas, Jalan juga sudah lempang, dan pendakwah telah memperdengarkan,
apalagi yang masih membuat bingung, kecuali orang yang buta matahatinya?


Bahkan Abu Utsman menegaskan, “Semua makhluk Allah sesungguhnya berada di
maqom syukur, namun mereka menduga bahwa dirinya ada di maqom sabar.”


Mengapa? Sebenarnya cobaan itu merupakan nikmat dariNya, karena dengan
cobaan itu sang hamba kembali pada aturan kehambaannya, hingga ia mengenal
siapa dirinya, dan dengan demikian ia mengenal Tuhannya.


Betapa banyak orang yang memanipulasi kebenaran, agama, dan bahkan dunia
hakikat untuk kepentingan hawa nafsunya, atau bahkan ketika seseorang meraih
derajat luhur malah terjebak dalam ghurur (tipudaya) nafsunya.


Nafsu ingin selalu dipandang publik, dipuji orang, disanjung, dianut,
diikuti, ditakuti, dan dikagumi. Dan hasrat demikian semakin menjauhkan
dirinya dari Allah, karena terdegradasi dari derajat taqarrub kepada Allah
Ta’ala.


Maha Suci Allah yang menutupi rahasia keistemewaan (hambaNya) dengan
tampilnya sifat-sifat manusiawi. Dan Dia Jelas dengan agungnya sifat
RububiyahNya di dalam manifestasi sifat-sifat ‘Ubudiyahnya (hamba).


Rahasia keistimewaan adalah ma’rifat dan kewalian. Sedangkan sifat-sifat
manusiawi itu adalah wujud kehambaannya, berupa sifat fakir, hina, lemah,
dan tak berdaya di hadapan Allah Ta’ala, sebagai wujud atas pandangannya
terhadap Sifat Maha CukupNya, Maha MuliaNya, Maha KuatNya dan Maha KuasaNya,
yang tersembunyi dalam batin hamba.


Maka dengan munculnya sifat manusiawi itulah tertututp rahasia
keistemewaannya, sehingga sifat ma’rifat dan kewaliannya tidak bisa
terlihat, karena yang ada hanyalah Sifat Keagungan Rububiyah yang memancar
pada sifat-sifat kehambaan itu.


Karena itu, perwujudan keistimewaanya maujud dalam sifat Ubudiyah, dan
perwujudan hakikat ubudiyah adalah meninggalkan segala hal selain Allah
Ta’ala.



KH. Muhammad Luqman Hakim


-- 
"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

Kirim email ke