Kalau saja Belahan Jiwa dirilis akhir Desember sebagai film penutup tahun 2005, pasti film ini akan bisa lebih dikenang sebagai film yang menyimpulkan situasi perfilman Indonesia tahun ini: A joke. A very, very bad joke. Paling tidak, Belahan Jiwa akan diingat sebagai film di mana serombongan aktris-aktris papan atas Indonesia melakukan career suicide secara massal. Dan bunuh dirinya bukan sesederhana mengiris pergelangan tangan. Ini bunuh diri yang sangat menyakitkan. Misalnya dengan mengunyah puluhan paku payung, diikat lalu digelitikin selama setengah jam sampai lemes, dipaksa nonton sinetron selama 48 jam nonstop, dimasukkan ke dalam sebuah ruangan penuh dengan pembawa acara infotainment yang cara ngomongnya semua sama, dipangku sama Gus Dur, lalu diceburkan ke dalam kolam penuh ikan piranha. Review ini adalah pendapat saya pribadi karena Dodi Mahendra yang belum pulih dari trauma setelah menonton Apa Artinya Cinta?, sekarang gila setelah menonton Belahan Jiwa. Saya harus mengurungnya di rumah karena dia menolak untuk keluar dengan memakai celana. Kasihan dia. Apapun yang telah anda lalui di dunia ini tidak akan cukup mempersiapkan mental anda untuk menonton film ini. Di infotainment, Raam Punjabi bilang bahwa dia memproduksi Belahan Jiwa untuk memberikan sesuatu yang berbeda kepada penonton. Bapak Raam, kalau kami bilang kami bosan sama sayur asem, bukan berarti kami terus mau makan sop laler ijo. Belahan Jiwa dibuat sebagai psychological drama. Rachel Maryam, Dinna Olivia, Marcella Zalianty, dan Nirina Zubir adalah sahabat karib yang menganggap mereka semua adalah soulmates. Perempuan-perempuan ini bukan seperti tokoh-tokoh yang di Sex and the City, karakter-karakter di Belahan Jiwa adalah orang-orang yang tidak ingin anda temui di dalam hidup anda. Ada pelukis gila yang suka melukis dengan darah yang selalu teriak-teriak, ada juga arsitek dengan wig berwarna biru yang yang bisa bikin mimpi buruk. Semua elemen di film ini dimasukkan semata-mata sebagai shock value. Ada anak kecil diperkosa oleh bapaknya sendiri, ada perempuan yang menggugurkan kandungan supaya darahnya bisa dipakai untuk melukis, dan beberapa lagi. Semua dilakukan dengan tidak bertanggung jawab. (Di rumah duka, mana ada orang Batak nyanyi lagu Butet). Skrip yang ditulis sendiri oleh Sekar penuh dengan dialog yang menggelikan, baik disengaja atau tidak. Alexander Wiguna yang memerankan love interest dari semua perempuan di film ini adalah korban yang paling parah. Para filmmakernya pasti sadar bahwa dia tidak punya karisma dan kemampuan akting yang cukup untuk membawakan karakternya. Hasilnya, Alexander jadi bahan tertawaan para penonton (bahasa Inggrisnya, the object of ridicule, gitu loh). Marcella Zalianty masih memainkan karakternya sama seperti dia bermain di film-film sebelumnya. Sementara Dian Sastro seolah-olah berakting sebagai Dian Sastro. Dan musik yang dibuat oleh Andi Rianto (oh my God, the music) lengkap dengan skor jeng jeng jeng yang sangat corny. Seolah-olah efek visual yang hampir membuat Sadako keluar dari layar belum cukup. Film ini diregangkan sampai akhir untuk sebuah twist besar (yang tak orisinal) yang ketika dibuka hanya akan menghasilkan reaksi heh?, oke deeeh , atau whaaaat ? dari penonton. Atau hanya membuat penonton menguap. Saya suka film psychological thriller karena saya suka pikiran saya dipermainkan oleh film, tapi pada akhirnya, film-film ini selalu memberikan sesuatu kepada saya sebagai penghargaan. Belahan Jiwa tidak memberikan apa-apa kecuali trauma, lihat saja teman saya Dodi. Kelihatannya, Sekar Ayu Asmara membenci dunia dan dia ingin menyiksa kita semua. Gawatnya lagi, dia menemukan partner in crime se-powerful Raam Punjabi. Lari, dan selamatkan diri anda. Ferry Siregar --------------------------------------------------------------------------- Official Website : www.micky-fc.com Photos : http://mickierzsphotos.fotopic.net Archives : http://www.mail-archive.com/[email protected] --------------------------------------------------------------------------- YAHOO! GROUPS LINKS
|
