----- Forwarded Message ----
From: Andika <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Sunday, October 7, 2007 10:04:11 PM
Subject: [bpa-himafar-unpad] Dracula: Fakta yang Menjadi Fiksi

Dracula: Fakta yang Menjadi Fiksi

(Makalah ini disampaikan dalam bedah buku
"Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang
Salib" di auditorium Fakultas Ilmu Budaya UGM)

Oleh: Ragil Nugroho

Membongkar Sebuah Kebohongan

Kisah hidup Dracula merupakan salah satu contoh
bentuk penjajahan sejarah yang begitu nyata yang
dilakukan Barat. Kalau film Rambo merupakan suatu
fiksi yang kemudian direproduksi agar seolah-olah
menjadi nyata oleh Barat, maka Dracula merupakan
kebalikannya, tokoh nyata yang direproduksi
menjadi fiksi. Bermula dari novel buah karya Bram
Stoker yang berjudul Dracula, sosok nyatanya
kemudian semakin dikaburkan lewat film-film
seperti Dracula's Daughter (1936), Son of Dracula
(1943), Hoorof of Dracula (1958), Nosferatu
(1922)-yang dibuat ulang pada tahun 1979-dan
film-film sejenis yang terus-menerus diproduksi.

Lantas, siapa sebenarnya Dracula itu?

Dalam buku berjudul "Dracula, Pembantai Umat
Islam Dalam Perang Salib" karya Hyphatia Cneajna
ini, sosok Dracula dikupas secara tuntas. Dalam
buku ini dipaparkan bahwa Dracula merupakan
pangeran Wallachia, keturunan Vlad Dracul. Dalam
uraian Hyphatia tersebut sosok Dracula tidak bisa
dilepaskan dari menjelang periode akhir Perang
Salib. Dracula dilahirkan ketika peperangan
antara Kerajaan Turki Ottoman-sebagai wakil
Islam-dan Kerajaan Honggaria-sebagai wakil
Kristen-semakin memanas. Kedua kerajaan tersebut
berusaha saling mengalahkan untuk merebutkan
wilayah-wilayah yang bisa dikuasai, baik yang
berada di Eropa maupun Asia. Puncak dari
peperangan ini adalah jatuhnya Konstantinopel-
benteng Kristen-ke dalam penguasaan Kerajaan Turki Ottoman.

Dalam babakan Perang Salib di atas Dracula
merupakan salah satu panglima pasukan Salib.
Dalam peran inilah Dracula banyak melakukan
pembantain terhadap umat Islam. Hyphatia
memperkirakan jumlah korban kekejaman Dracula
mencapai 300.000 ribu umat Islam. Korban-korban
tersebut dibunuh dengan berbagai cara-yang
cara-cara tersebut bisa dikatakan sangat
biadab-yaitu dibakar hidup-hidup, dipaku
kepalanya, dan yang paling kejam adalah disula.
Penyulaan merupakan cara penyiksaan yang amat
kejam, yaitu seseorang ditusuk mulai dari anus
dengan kayu sebesar lengan tangan orang dewasa
yang ujungnya dilancipkan. Korban yang telah
ditusuk kemudian dipancangkan sehingga kayu sula
menembus hingga perut, kerongkongan, atau kepala.
Sebagai gambaran bagaimana situasi ketika
penyulaan berlangsung penulis mengutip pemaparan Hyphatia:

"Ketika matahari mulai meninggi Dracula
memerintahkan penyulaan segera dimulai. Para
prajurit melakukan perintah tersebut dengan
cekatakan seolah robot yang telah dipogram.
Begitu penyulaan dimulai lolong kesakitan dan
jerit penderitaan segera memenuhi segala penjuru
tempat itu. Mereka, umat Islam yang malang ini
sedang menjemput ajal dengan cara yang begitu
mengerikan. Mereka tak sempat lagi mengingat
kenangan indah dan manis yang pernah mereka alami."

Tidak hanya orang dewasa saja yang menjadi korban
penyulaan, tapi juga bayi. Hyphatia memberikan
pemaparan tetang penyulaan terhadap bayi sebagai berikut:

"Bayi-bayi yang disula tak sempat menangis lagi
karena mereka langsung sekarat begitu ujung sula
menembus perut mungilnya. Tubuh-tubuh para korban
itu meregang di kayu sula untuk menjemput ajal."

Kekejaman seperti yang telah dipaparkan di atas
itulah yang selama ini disembunyikan oleh Barat.
Menurut Hyphatia hal ini terjadi karena dua
sebab. Pertama, pembantaian yang dilakukan
Dracula terhadap umat Islam tidak bisa dilepaskan
dari Perang Salib. Negara-negara Barat yang pada
masa Perang Salib menjadi pendukung utama pasukan
Salib tak mau tercoreng wajahnya. Mereka yang
getol mengorek-ngorek pembantaian Hilter dan Pol
Pot akan enggan membuka borok mereka sendiri. Hal
ini sudah menjadi tabiat Barat yang selalu ingin
menang sendiri. Kedua, Dracula merupakan pahlawan
bagi pasukan Salib. Betapapun kejamnya Dracula
maka dia akan selalu dilindungi nama baiknya.
Dan, sampai saat ini di Rumania, Dracula masih
menjadi pahlawan. Sebagaimana sebagian besar
sejarah pahlawan-pahlawan pasti akan diambil
sosok superheronya dan dibuang segala kejelekan, kejahatan dan
kelemahannya.

Guna menutup kedok kekejaman mereka, Barat
terus-menerus menyembunyikan siapa sebenarnya
Dracula. Seperti yang telah dipaparkan di atas,
baik lewat karya fiksi maupun film, mereka
berusaha agar jati diri dari sosok Dracula yang
sebenarnya tidak terkuak. Dan, harus diakui usaha
Barat untuk mengubah sosok Dracula dari fakta
menjadi fiksi ini cukup berhasil. Ukuran
keberhasilan ini dapat dilihat dari seberapa
banyak masyarakat-khususny a umat Islam
sendiri-yang mengetahui tentang siapa sebenarnya
Dracula. Bila jumlah mereka dihitung bisa
dipastikan amatlah sedikit, dan kalaupun mereka
mengetahui tentang Dracula bisa dipastikan bahwa
penjelasan yang diberikan tidak akan jauh dari
penjelasan yang sudah umum selama ini bahwa
Dracula merupakan vampir yang haus darah.

Selain membongkar kebohongan yang dilakukan oleh
Barat, dalam bukunya Hyphatia juga mengupas makna
salib dalam kisah Dracula. Seperti yang telah
umum diketahui bahwa penggambaran Dracula yang
telah menjadi fiksi tidak bisa dilepaskan dari
dua benda, bawang putih dan salib. Konon kabarnya
hanya dengan kedua benda tersebut Dracula akan
takut dan bisa dikalahkan. Menurut Hyphatia
pengunaan simbol salib merupakan cara Barat untuk
menghapus pahlawan dari musuh mereka-pahlawan
dari pihak Islam-dan sekaligus untuk menunjukkan superioritas
mereka.

Siapa pahlawan yang berusaha dihapuskan oleh
Barat tersebut? Tidak lain Sultan Mahmud II (di
Barat dikenal sebagai Sultan Mehmed II). Sang
Sultan merupakan penakluk Konstantinopel yang
sekaligus penakluk Dracula. Ialah yang telah
mengalahkan dan memenggal kepala Dracula di tepi
Danua Snagov. Namun kenyataan ini berusaha
dimungkiri oleh Barat. Mereka berusaha agar
merekalah yang bisa mengalahkan Dracula. Maka
diciptakanlah sebuah fiksi bahwa Dracula hanya
bisa dikalahkan oleh salib. Tujuan dari semua ini
selain hendak mengaburkan peranan Sultan Mahmud
II juga sekaligus untuk menunjukkan bahwa
merekalah yang paling superior, yang bisa
mengalahkan Dracula si Haus Darah. Dan, sekali
lagi usaha Barat ini bisa dikatakan berhasil.

Selain yang telah dipaparkan di atas, buku
"Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang
Salib" karya Hyphatia Cneajna ini, juga memuat
hal-hal yang selama tersembunyi sehingga belum
banyak diketahui oleh masyarakat secara luas.
Misalnya tentang kuburan Dracula yang sampai saat
ini belum terungkap dengan jelas, keturunan
Dracula, macam-macam penyiksaan Dracula dan sepak terjang Dracula
yang lainnya.

Sebagai penutup tulisan ini penulis ingin menarik
suatu kesimpulan bahwa suatu penjajahan sejarah
tidak kalah berbahayanya dengan bentuk penjajahan
yang lain-politik, ekonomi, budaya, dll.
Penjajahan sejarah ini dilakukan secara halus dan
sistematis, yang apabila tidak jeli maka kita
akan terperangkap di dalamnya. Oleh karena itu,
sikap kritis terhadap sejarah merupakan hal yang
amat dibutuhkan agar kita tidak terjerat dalam
penjajahan sejarah. Sekiranya buku karya Hyphatia
ini-walaupun masih merupakan langkah awal-bisa
dijadikan pengingat agar kita selalu kritis
terhadap sejarah karena ternyata penjajahan
sejarah itu begitu nyata ada di depan kita. [*]
Other source:
http://en.wikipedia .org/wiki/ Vlad_III_ the_Impaler
http://groups. yahoo.com/ group/ppiindia/ message/72698

Best Regards,

Andika Pratama Heryadi




__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke