Mereka mendaratkan pathfinder di planet Mars, Kita masih bingung mengatasi kemacetan. Mereka membuat database gen manusia, hewan, dan tumbuhan, Kita ngapain? Mereka mencari partikel elementer materi di skala nanometer, Kita ngapain ? Mereka merekayasa materi di tingkat atom, Kita ngapain? (ironi teknologi Islam dan Barat)
Saya teringat sebuah pertemuan sekitar sebulan lalu di Bandung. Hadir sebagai peserta para mahasiswa sains dan teknologi. Acara tsb digagas presdir PT. IBM Indoensia, hadir pula direksi Medco Energi, dan beberapa pimpinan perusahan teknologi nasional. Seorang pembicara menantang para mahasiswa yg hadir untuk menguasai Indonesia lewat jalur industri teknologi. Jadi, bukan KAMMI saja yang sedang merencanakan kepemimpinan Indonesia masa depan. KAMMI hanya punya politik, tapi tidak dengan ekonomi aset strategis bangsa. Silahkan demo anti kapitalisme -neoliberalisme. Esoknya ketika bangun tidur anda sudah ditaklukan kapitalisme global. Anda pake pepsodent, lifebouy, pantene, susu frisian flag, teh sariwangi,ABC dll. (silahkan buat daftar ketergantungan anda terhadap produk2 MNC kapitalis global). Ketergantungan industri teknologi; paku payung aja impor dari RRC. kapan Indonesia mau bangkit, kalau para muslim negarawan tidak segera merencanakan kemandirian ekonomi industri nasional. memangnya masalah indoensia hanya bisa diselasaikan secara politik? Kondisi kelistrikan Indonesia sudah sangat kritis. Kamda medan mungkin sudah merasakan krisis listrik. sehingga demo2 ke PLN medan. Pulau Jawa-Bali akan segera merasakan efek krisis listrik, kalau tidak segera membangun pembangkit listrik baru. dan nuklir merupakan sebuah pilihan alternatif. di Jepang kenaikan harga BBM tidak merisaukan ekonomi. karena 30-an PLTN di jepang telah mengamankan pasokan energi nasionalnya. dan alat tansportasi masal dengan energi listrik dari PLTN membuat trasnportasi murah dan cepat. ya silahkan aja kalau di Jakarta masih mau berjubel-jubel di KRL jabotabek. Negara kita sudah punya banyak ahli nuklir. Wancana pembangunan PLTN sudah mulai sejal tahun 1980-an. Namun, hingga kini belum terwujud. Mengapa? menurut salah seorang dosen fisika nuklir di Bandung, persoalannya ada di wilayah politik internasional. Negara kita dihambat untuk maju. salam peradaban, Tata -kastrat kamda bandung --- In [email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote: > > Saya sepakat dengan akh ipung. > > Secara pribadi saya punya perhatian dengan masalah IT. Namun tidak > lantas menggunakan KAMMI untuk mengkampanyekan "melek IT" di kalangan > kader dakwah, apalagi menjadikannya sebagai program kerja KAMMI. Yang > benar adalah, keterampilan dan ilmu yang kita miliki dapat menjadi > sarana dari cita-cita luhur KAMMI, yaitu soal KEPEMIMPINAN UMAT. > > Secara pribadi gagasan akh Syahrijal tentang dakwah dan kompetensi > kurang cocok di praktekan di KAMMI. KAMMI punya visi dan misi yang > sudah cukup jelas. Setiap keterampilan yang dimiliki kader digunakan > untuk saling dukung dan menopang cita-cita KAMMI. Bukan untuk > memuluskan masing-masing kompetensi kader. Jangan pakai KAMMI jika > ingin bicara profesionalisme dari kompetensi masing-masing. SIlahkan > bikin LSM khusus. > > Ide dakwah dan kompetensi di KAMMI sepertinya berangkat dari > kegamangan bagaimana sih bentuk jati diri seorang muslim negarawan. > > Ingat, KAMMI bukan organisasi kaum cendekiawan yang melakukan > kajian-kajian profesi. Tetapi organisasi aksi yang memiliki > konsentrasi pada isu-isu kepemimpinan, dakwah dan isu-isu politik > Islam. > > Salam, > Yusuf Caesar > > > On 12/13/07, sudaryono achmad <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > oo tidak. justru hanya membuang energi. apalagi dikaji di KAMMI daerah. > > justru pragmatisnya ada disini, bukan berangkat dari isu KAMMI, tapi > > personal > > yang ada didalamnya (obsesi individu). > > > > contohnya begini, saya suka kajian media, dan misal jadi pengurus daerah (KP > > atau kastrat) > > bukan lantas membawa isu kajian media ke tubuh KAMMI, atau coba-coba jadikan > > KAMMI > > sebagai media watch, TIDAK. > > > > pengawasan media itu penting sama halnya kajian dengan nuklir itu, tapi > > membawa langsung > > ke forum "resmi" KAMMI bukan hal yang tepat. saya sepakat itu suplemen saja. > > dan kalau suplemen > > itu cukup di LSO, atau HMJ atau lokus kajian akademis. itu cukup. > > > > == > > sa > > > > > > On Dec 12, 2007 2:08 AM, diyah kusumawardhani <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > Gak ada yang gak mungkin pung. Justru dengan kajian seperti ini, bisa > > > semakin memperkuat positioning KAMMI. Kalo liatnya jangka pendek, tentunya > > > sifatnya jadi gak penting. Tapi liat secara jangka panjang. Pasti > > bermanfaat > > > buat kader lainnya. Jangan pragmatis. Karena pragmatis haram hukumnya bagi > > > kelangsungan sebuah gerakan mahasiswa (hehehe). Dan bukankah kita sedang > > > mengusung isu Muslim Negarawan? Menurut saya, kajian seperti cukup baik > > > untuk menjadi suplemen bagi calon-calon Muslim Negarawan tadi. > > > > > > Semangat Mbak Eva! ^_^ > > > > > > Salam, > > > MnX > > > > > > ** > > > > > >

