Saya pernah dapat forward artikel ini dari milis nakita dulu ttg pentingnya ASI 
eksklusif 6 bulan. Semoga bermanfaat bagi yang memerlukan :-).

brgds,
yuli



>> ASI Eksklusif, Hindarkan Bayi dari Penyakit Berbahaya
>>
>> Rugi bila bayi Anda tak diberi ASI Eksklusif. Sebab,
>> menurut penelitian terbaru, ASI yang diberikan secara
>> eksklusif, melindungi tubuh anak dari berbagai
>> penyakit kronis.
>>
>> Jika sejak dulu para orangtua tahu betapa besarnya
>> manfaat air susu ibu (ASI), pastilah sayang bila harus
>> memberi tambahan susu formula atau pisang lumat pada
>> buah hati mereka. Khasiatnya, menurut penelitian
>> terbaru, mencegah anak dari serangan penyakit akut dan
>> kronis.
>>
>> Tentu saja bukan sembarang ASI yang punya manfaat
>> luarbiasa tersebut. Tetapi terutama ASI yang
>> dikonsumsi bayi secara eksklusif. Yakni, ASI diberikan
>> sejak bayi baru lahir sampai usia 6 bulan tanpa
>> dicampur dengan makanan atau cairan lain meski air
>> putih sekalipun. "Manfaatnya akan terserap tubuh
>> sangat baik dan memberi perlindungan yang diperlukan
>> bayi. ASI masih tetap perlu diberikan sampai usia bayi
>> 2 tahun, tapi bayi harus mendapat makanan pendamping,"
>> ujar Dr. Utami Rusli, SPA, MBA, IBCLC, pakar ASI.
>>
>> Sayangnya, informasi tentang ASI buat ibu-ibu hamil
>> dan melahirkan masih sangat kurang. Laporan Departemen
>> Kesehatan sangat memprihatinkan. Pemberian ASI
>> ekslusif selama enam bulan mengalami penurunan. Pada
>> tahun 1997 sebanyak 42,4% dan turun menjadi 39,5% pada
>> tahun 2002. Hal serupa juga terjadi pada bayi yang
>> mendapat ASI dalam satu jam pertama setelah
>> dilahirkan. Pada 1997 jumlahnya hanya 8% dan turun
>> menjadi 3,7% pada tahun 2002. Sebaliknya dengan susu
>> formula justru mengalami peningkatan 10,8% menjadi
>> 32,45%.
>>
>> Padahal, bila diberika ASI eksklusif, Anda tak perlu
>> beli susu formula lho. Belum lagi bonusnya. Sebab,
>> berbagai penelitian telah membuktikan kalau bayi usia
>> 0 - 6 bulan diberikan hanya ASI saja, pertumbuhannya
>> jauh lebih baik dibanding bayi yang tidak mendapatkan
>> ASI. Mengapa demikian? Di dalam ASI mengandung zat
>> kekebalan yang dapat meningkatkan daya tahan anak
>> terhadap penyakit yang cukup baik. Diantaranya,
>> mengandung lemak, protein, karbohidrat, vitamin dan
>> mineral yang sangat dibutuhkan bayi.
>>
>> Hindarkan Bayi dari Penyakit Berbahaya
>> ASI, jelas Utami, sebenarnya bahan atau cairan hidup.
>> Sekitar 80 % lemak ASI merupakan bakal DHA-AA yang
>> selama ini banyak digaungkan produsen susu formula.
>> Uniknya, 90% DHA-AA dari ASI dapat diserap oleh usus
>> bayi ketimbang yang ada pada susu formula. "ASI itu
>> zat yang sangat baik untuk pertumbuhan otak. Salah
>> satu buktinya, menurut penelitian, anak yang diberikan
>> ASI, tingkat IQ-nya berbeda 12,9 poin di atas anak
>> yang tidak diberi ASI pada anak usia 9,5 tahun," jelas
>> Tami mengurai data.
>>
>> Selain kandungan gizinya yang lengkap, di dalam ASI
>> terdapat enzim pencernaan. Enzim inilah yang dapat
>> membantu pencernaan mencerna berbagai nutrisi dan
>> kandungan zat imun (anti infeksi) lebih
>> maksimal. Zat inilah kelak yang dapat menjadi perisai
>> tangguh anak dari berbagai penyakit infeksi yan
>> berbahaya.
>>
>> Zat anti infeksi ini banyak terdapat pada kolostrum
>> atau susu jolong, cairan kuning kental yang muncul di
>> awal-awal menyusui sampai hari ke 4 atau 7. Susu ini
>> tinggi protein rendah lemak. Keluarnya di awal-awal
>> ASI keluar, makanya begitu bayi lahir susui terus
>> meski (rasanya) ASI belum keluar. Sebab, rugi bila
>> kolostrum ini merembes keluar dan terlewati bayi.
>>
>> Berbagai penyakit berbahaya di masa bayi maupun usia
>> dewasa bisa dihindari bila bayi diberi ASI eksklusif.
>> Contohnya penyakit seperti infeksi, diare, radang
>> paru-paru (pneumonia), radang otak (meningitis),
>> diabetes dan kanker.
>>
>> Menurut Utami, bayi yang diberikan ASI, 20 kali lipat
>> jarang terkena diare akut ketimbang bayi yang
>> diberikan susu formula. 7 kali jarang kena radang
>> paru-paru, 4 kali tidak terkena radang otak atau
>> meningitis.
>>
>> Sederhananya begini. Komposisi kandungan ASI berubah
>> sesuai dengan pertambahan usia dan kondisi bayi. Kalau
>> seorang bayi terserang diare dengan sendirinya
>> komposisi zat gizinya berubah. Komposisi kandungan ASI
>> akan bereaksi terhadap penyakit diare yang diderita
>> bayi. Sehingga mengurangi bahkan menyembuhkan diare
>> bayi.
>>
>> Komposisi ASI huga akan berubah sesuai dengan
>> kebutuhan bayi pada setiap usia. Misalnya ASI yang
>> keluar pada minggu pertama (kolostrum) beda
>> komposisinya dengan ASI pada minggu kedua, bahkan
>> berbeda dari menit ke menit. Bahkan ASI yang
>> dihasilkan ibu yang melahirkan kurang bulan juga
>> berbeda dengan ASI yang dihasilkan oleh ibu yang
>> melahirkan cukup bulan. Nah, tak mungkin dicontek susu
>> formula, bukan?
>>
>> Mendidik dengan ASI
>> ASI memang dapat menambah kecerdasan anak. Tapi,
>> menurut Utami, ASI saja tak cukup untuk kecerdasan
>> anak. Ibarat komputer, otak adalah hardwarenya,
>> sedangkan pendidikan bagi anak adalah softwarenya.
>> "Jadi, jangan hanya salah satunya saja," tandas Dr
>> Utami.
>>
>> Saat ibu menyusui bayinya tak hanya memberikan makan
>> pada bayi, tapi di dalamnya memiliki nilai-nilai
>> pendidikan. Kata Utami, menyusui itu adalah sebuah
>> pekerjaan pendidikan. Saat itu terjadi kontak emosi
>> dan psikologis antara ibu dan anaknya. Sambil
>> menyusui, seorang ibu akan membelai-belai, menyanyi
>> atau pun melantunkan ayat-ayat suci yang akan
>> merangsang otak kiri dan kanan bayi.
>>
>> Saat menyusu pula, kelima panca indera bayi mencoba
>> merasakan, mendengar, melihat, membaui apa yang ada di
>> sekelilingnya. Bayi akan merasa sang ibu sedang
>> berbicara padanya, menyayanginya. "Makanya sangat
>> berbeda antara anak yang diberi ASI dengan yang tidak.
>> Anak yang diberi ASI akan tumbuh lebih cerdas, sehat,
>> 16 kali jarang dirawat di rumah sakit ketimbang bayi
>> dengan susu formula," terang ketua Sentra Laktasi
>> Indonesia (SELI) tersebut.
>>
>> Selain lebih tinggi secara IQ, bayi ASI memiliki
>> emotional quetient (EQ) dan spiritual quentient (SQ)
>> yang baik. "Syaratnya jangan hanya payudara yang
>> diberikan tapi ibu harus proaktif mengekspresikan
>> kasih sayang ibu pada bayi, begitu juga ayah." Bila
>> ibu sibuk berkarir, ASI serta pendidikan tetap bisa
>> diberikan. "Perahlah ASI ibu, terus berikan dengan
>> penuh kasih sayang oleh nenek atau pengasuh bayi.
>> Memberikan ASI itu hak anak lho. Bayi yang sehat
>> fisik, intelektual dan emosional, sang ibu turut
>> menciptakan generasi sehat bagi bangsanya." *anggi
>>
>> Ibu Juga Mendapat Manfaat ASI
>> Tak hanya bayi yang diuntungkan dengan ASI, tapi juga
>> sang ibu. Apa saja? Menurut dr Utami, ibu yang
>> menyusui akan mendapat beberapa manfaat.
>>
>> Mencegah terjadinya kurang darah atau anemia
>> defisiensi zat besi. Dengan menyusui ekslusif selama
>> enam bulan, akan berpengaruh terhadap penundaan haid.
>> Dengan menunda timbulnya haid, ibu dapat menyimpan zat
>> besi dan mencegah anemia defisiensi zat besi
>>
>> Mencegah perdarahan saat ibu baru saja usai melahirkan
>> dan mempercepat involusi uterus (pengecilan rahim
>> seperti semula). Hal ini disebabkan karena pada saat
>> bayi lahir dan segera disusukan ke ibunya, maka
>> rangsangan hisapan bayi pada payudara ibu akan
>> diteruskan ke hipofisis pars posterior yang akan
>> mengeluarkan hormon progesteron
>>
>> Mempercepat ibu kembali ke berat sebelum hamil. Dengan
>> menyusui, timbunan lemak pada tubuh ibu akan
>> dipergunakan untuk pembentukan ASI sehingga berat
>> badan ibu akan lebih cepat kembali ke berat sebelum
>> hamil
>>
>> Mengurangi resiko terkena kanker payudara dan ovarium.
>> Cukup banyak penelitian yang membuktikan bahwa ada
>> korelasi antara infertilitas dan tidak menyusui dengan
>> peningkatan risiko terkena kanker, baik itu kanker
>> payudara ataupun kanker ovarium
>>
>> Mempererat jalinan kasih sayang dan hubungan emosional
>> ibu dan anak
>>
>> Memiliki pengaruh emosional. Sebab dengan memberikan
>> ASI juga mempunyai pengaruh emosional bagi ibu dan
>> bayi
>>
>> Lebih murah dan hemat. Coba dihitung, berapa biaya
>> yang harus dikeluarkan selama sebulan untuk memberi
>> susu formula ketimbang ASI yang murah dan lebih bagus
>> nilai gizinya.
>>
>> Membuat hubungan seksual lebih hangat. Sebab, menyusui
>> bayi akan mempercepat rahim untuk kembali ke bentuk
>> semula. Sehingga hubungan seksual dengan pasangan pun
>> akan lebih nikmat.
>>
>> Dapat menunda kehamilan. Dengan menyusui secara
>> eksklusif dapat menunda haid dan kehamilan, sehingga
>> dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi alamiah yang
>> secara umum dikenal sebagai Metode Amenorea Laktasi
>> (MAL).
>> Manfaat ASI bagi Bayi
>> Begitu besar manfaat ASI bagi bayi baik untuk
>> kesehatan maupun kecerdasan anak:
>> a. Untuk kesehatan:
>>
>> ASI mengandung zat anti infeksi, bersih dan bebas
>> kontaminasi.
>> Selama dalam kandungan bayi mendapatkan zat pelindung
>> dari ibunya melalui plasenta. Setelah lahir, suplai
>> zat pelindung ini terhenti digantikan ASI. Zat
>> protektif seperti makrofag, limfosit, laktoferin,
>> imunoglobulin, laktobasilus bifidus, dll dapat
>> melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi yag
>> disebabkan bakteri, virus, ataupun jamur.
>>
>> Immunoglobulin A (Ig.A) dalam kolostrum atau ASI
>> kadarnya cukup tinggi. Sekretori Ig.A tidak diserap
>> tetapi dapat melumpuhkan bakteri patogen E. coli dan
>> berbagai virus pada saluran pencernaan.
>>
>> Laktoferin yaitu sejenis protein yang merupakan
>> komponen zat kekebalan yang mengikat zat besi di
>> saluran pencernaan.
>>
>> Lysosim, enzym yang melindungi bayi terhadap bakteri
>> (E. coli dan salmonella) dan virus. Jumlah lysosim
>> dalam ASI 300 kali lebih banyak daripada susu sapi.
>>
>> Sel darah putih pada ASI pada 2 minggu pertama lebih
>> dari 4000 sel per mil. Terdiri dari Brochus-Asociated
>> Lympocyte Tissue (BALT) antibodi pernafasan, Gut
>> Asociated Lympocyte Tissue (GALT) antibodi saluran
>> pernafasan, dan Mammary Asociated Lympocyte Tissue
>> (MALT) antibodi jaringan payudara ibu.
>>
>> Faktor bifidus, sejenis karbohidrat yang mengandung
>> nitrogen, menunjang pertumbuhan bakteri lactobacillus
>> bifidus. Bakteri ini menjaga keasaman flora usus bayi
>> dan berguna untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang
>> merugikan.
>>
>> Dari aspek Neurologis. Dengan menghisap payudara,
>> koordinasi syaraf menelan, menghisap dan bernafas yang
>> terjadi pada bayi baru lahir dapat lebih sempurna.
>>
>> Untuk Kecerdasan
>>
>> Perkembangan psikomotorik lebih cepat. Penelitian di
>> Inggris mendapatkan bahwa bayi yang mendapat ASI, dua
>> bulan lebih cepat kemampuan jalannya dibandingkan bayi
>> yang diberi susu formula
>>
>> Menunjang perkembangan kognitif. Perkembangan kognitif
>> anak, daya ingat dan kemampuan bahasa pada anak yang
>> mendapat ASI lebih tinggi dibandingkan bayi yang
>> mendapat susu formula
>>
>> Kandungan Taurin-sejenis asam amino kedua terbanyak
>> dalam ASI; berfungsi sebagai neuro-transmitte.
>> Percobaan pada binatang menunjukkan bahwa defisiensi
>> taurin akan berakibat terjadinya gangguan pada retina
>> mata.
>>
>> Decosahexanoic Acid (DHA) dan Arachidonic Acid (AA)
>> adalah asam lemak tak jenuh rantai panjang yang
>> diperlukan untuk pembentukan sel-sel otak yang
>> optimal. Jumlah DHA dan AA dalam ASI sangat mencukupi
>> untuk menjamin pertumbuhan dan kecerdasan anak.
>> Disamping itu DHA dan AA tersebut dapat
>> dibentuk/disintesa dari substansi pembentuknya
>> (precursor), yaitu dari Omega 3 (asam linolenat) dan
>> Omega 6 (asam linoleat).
>>
>> Ikatan kasih sayang ibu-bayi terjadi karena berbagai
>> rangsangan seperti sentuhan kulit (skin to skin
>> contact). Bayi akan merasa aman dan puas karena bayi
>> merasakan kehangatan tubuh ibu dan mendengar denyut
>> jantung ibu yang sudah dikenal sejak bayi masih dalam
>> rahim.
>> Penelitian menunjukkan bahwa IQ pada bayi yang diberi
>> ASI memiliki IQ point 4.3 point lebih tinggi pada usia
>> 18 bulan, 4-6 point lebih tinggi pada usia 3 tahun,
>> dan 8.3 point lebih tinggi pada usia 8.5 tahun,
>> dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI.
>>
>> Majalah Ayahbunda Edisi/No.01 Januari 2005.
>>
>> Stop MP-ASI terlalu dini
>>
>> Anies Irawati, peneliti pada Pusat Penelitian dan
>> Pengembangan Gizi dan
>> Makanan, Departemen Kesehatan, Desember 2004 lalu
>> melaporkan hasil
>> penelitiannya tentang pengaruh makanan pendamping ASI
>> yang diberikan terlalu
>> dini, terhadap tumbuh kembang bayi. Penelitian yang
>> dilakukan dlm rangka
>> menyelesaikan program doktoralnya pada Fakultas
>> Kesehatan Masyarakat
>> Universitas Indonesia ini dimulai pada th 1999.
>> Penelitian melibatkan 270
>> orang ibu hamil di kawasan Sukaraja, Bogor, yg
>> dipantau sampai bayinya lahir
>> dan berusia 4 bln.
>>
>> Susahnya ASI eksklusif
>>
>> Sekalipun WHO dan Departemen Kesehatan sudah lama
>> mencanangkan anjuran bagi
>> para ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif kpd
>> bayinya, tapi pada
>> kenyataannya, pelaksanaan anjuran tsb masih jauh dari
>> harapan. Dan berbagai
>> studi, diinformasikan bahwa masih banyak ibu yang
>> memberikan ASI kepada
>> bayinya secara tidak benar. Lebih dari 50% bayi di
>> Indonesia sudah mendapat
>> makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada umur kurang dari
>> satu bln. Bahkan pada
>> umur 2-3 bulan, bayi ada yang sudah mendapat makanan
>> padat. Bayi yang
>> mendapat ASI dan MP-ASI berupa cairan, termasuk
>> vitamin, mineral, atau
>> obat-obatan, digolongkan sebagai predominant
>> breast-feeding baby (bayi ASI
>> predominan). Sedangkan bayi yang mendapat ASI dan
>> MP-ASI berupa makanan
>> pada, semi padat, atau cairan, termasuk vitamin,
>> mineral, atau obat-obatan,
>> didefinisikan sebagai partial beast-feeding baby (bayi
>> ASI parsial).
>> Tingkat pendidikan ibu yg rendah, wawasan pengetahuan
>> terbatas dan tradisi
>> turun-temurun merupakan faktor yang mendukung
>> timbulnya anggapan bahwa ASI
>> saja tidak cukup sebagai makanan bayi. Akibatnya, para
>> ibu memberikan bentuk
>> cairan sebagai makanan pendamping ASI sebelum bayinya
>> mencapai umur 4 bulan.
>> Jadilah anjuran pemberian ASI eksklusif minimal 6
>> bulan sangat sulit
>> dilaksanakan sesuai harapan.
>>
>> Dampaknya pada bayi
>>
>> Dari riset yang dilakukan selama 21 bulan ini
>> diketahui, bayi ASI parsial
>> lebih banyak terserang diare, batuk-pilek, dan panas
>> dibandingkan bayi ASI
>> predominan. Semakin bertambah umur bayi, frekuensi
>> terserang diare,
>> batuk-pilek, dan panas semakin meningkat.
>> Kondisi itu ternyata disebabkan oleh MP-ASI yg tidak
>> terjaga kebersihannya,
>> sehingga mudah terkontaminasi mikroba patogen penyebab
>> diare. Hal ini
>> diperkuat dengan kenyataan bahwa sebagian besar bayi
>> ASI parsial dan bayi
>> ASI predominan tidak mendapat kolostrum. Padahal kita
>> tau, bahwa di dlm
>> kolostrum terkandung zat antibodi.
>> Berbagai penyakit infeksi yg diderita kedua kelompok
>> bayi tsb menyebabkan
>> mereka menderita kekurangan zat gizi (malnutrisi).
>> Dampaknya terlihat pada
>> gangguan berat badan dan panjang tubuh bayi. Ini sudah
>> mulai tampak sejak
>> bayi berumur satu bulan dan berlanjut sampai bayi
>> berumur 4 bulan dan
>> kemungkinan masih berlanjut pada interval umur
>> selanjutnya.
>> Hasil penelitian ini merupakan bukti lain yang
>> menunjukkan bahwa ASI tetap merupakan makanan terbaik
>> bayi selama 6 bulan pertama kehidupannya.
>>
>> Resiko Pemberian MPASI Terlalu Dini
>> *
>> (Dirangkum & ditulis bebas oleh Luluk Lely Soraya I,
>> 26 March 2005)
>>
>> Banyak sekali pertanyaan dan kritik yang timbul
>> mengenai pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) di
>> usia < 6 bl. Bahkan banyak dari kita tidak pernah
>> tahu mengapa WHO & IDAI mengeluarkan statement bahwa
>> ASI eksklusif (ASI saja tanpa tambahan apapun bahkan
>> air putih sekalipun) diberikan pada 6 bl pertama
>> kehidupan seorg anak. Kemudian setelah umur 6 bulan
>> anak baru mulai mendapatkan MPASI berupa bubur
>> susu, nasi tim, buah, dsb.
>>
>> *Alasan menunda pemberian MPASI*
>>
>> Mengapa harus menunda memberikan MPASI pada anak
>> sampai ia berumur 6 bl ?! Kalo jaman dulu (baca :
>> sebelum diberlakukan ASI eksklusif 6 bl) umur 4 bl
>> aja dikasih makan bahkan ada yg umur 1 bl. Dan banyak
>> yang berpendapat gak ada masalah apa-apa tuh dg
>> anaknya.
>>
>> Satu hal yg perlu diketahui bersama bahwa jaman terus
>> berubah. Demikian juga dengan ilmu & teknologi. Ilmu
>> medis juga terus berkembang dan berubah berdasarkan
>> riset2 yg terus dilakukan oleh para peneliti. Sekitar
>> lebih dari 5th yg lalu, MPASI disarankan
>> diperkenalkan pada anak saat ia berusia 4 bl. Tetapi
>> kemudian beberapa penelitian tahun2 terakhir
>> menghasilkan banyak hal sehingga MPASI sebaiknya
>> diberikan >6bl.
>>
>> *Mengapa umur 6 bl adalah saat terbaik anak mulai
>> diberikan MPASI ?!*
>>
>> 1. Pemberian makan setelah bayi berumur 6 bulan
>> memberikan perlindungan ekstra & besar dari berbagai
>> penyakit.
>> Hal ini disebabkan sistem imun bayi < 6 bl belum
>> sempurna. Pemberian MPASI dini sama saja dg membuka
>> pintu gerbang masuknya berbagai jenis kuman. Belum
>> lagi jika tidak disajikan higienis.
>> Hasil riset terakhir dari peneliti di Indonesia
>> menunjukkan bahwa bayi yg mendapatkan MPASI sebelum
>> ia berumur 6 bl, lebih banyak terserang diare,
>> sembelit, batuk-pilek, dan panas dibandingkan bayi yg
>> hanya mendapatkan ASI eksklusif. Belum lagi penelitian
>> dari badan kesehatan dunia lainnya.
>>
>> 2. Saat bayi berumur 6 bl keatas, sistem
>> pencernaannya sudah relatif sempurna dan siap
>> menerima MPASI.
>> Beberapa enzim pemecah protein spt asam lambung,
>> pepsin, lipase, enzim amilase, dsb baru akan
>> diproduksi sempurna pada saat ia berumur 6 bl.
>>
>> 3. Mengurangi resiko terkena alergi akibat pada
>> makanan
>> Saat bayi berumur < 6 bl, sel2 di sekitar usus belum
>> siap utk kandungan dari makanan. Sehingga makanan yg
>> masuk dapat menyebabkan reaksi imun dan terjadi
>> alergi.
>>
>> 4. Menunda pemberian MPASI hingga 6 bl melindungi
>> bayi dari obesitas di kemudian hari. Proses pemecahan
>> sari2 makanan yg belum sempurna.
>>
>> Pada beberapa kasus yg ekstrem ada juga yg perlu
>> tindakan bedah akibat pemberian MPASi terlalu dini.
>> Dan banyak sekali alasan lainnya mengapa MPASI baru
>> boleh diperkenalkan pada anak setelah ia berumur 6
>> bl.
>>
>> *Masih banyak yg mengenalkan MPASI < 6 bl*
>>
>> Kalo begitu kenapa masih banyak orangtua yg telah
>> memberikan MPASI ke anaknya sebelum berumur 6 bl ?
>> Banyak sekali alasan kenapa ortu memberikan MPASI < 6
>> bl. Umumnya banyak ibu yg beranggapan
>> kalo anaknya kelaparan dan akan tidur nyenyak jika
>> diberi makan. Meski gak ada relevansinya banyak yg
>> beranggapan ini benar. Kenapa ? Karena belum sempurna,
>> sistem pencernaannya harus bekerja lebih keras utk
>> mengolah &
>> memecah makanan. Kadang anak yg menangis terus
>> dianggap sbg anak gak kenyang. Padahal menangis bukan
>> semata2 tanda ia lapar.
>>
>> Belum lagi masih banyak anggapan di masyarakat kita
>> spt ortu terdahulu bahwa anak saya gak papa tuh
>> dikasih makan pisang pas kita umur 2 bl. Malah sekrg
>> jadi orang.
>>
>> Alasan lainnya juga bisa jadi juga tekanan dari
>> lingkungan dan gak ada dukungan spt alasan di atas.
>> Dan gencarnya promosi produsen makanan bayi yg belum
>> mengindahkan ASI eksklusif 6 bl.
>>
>> *_Aturan MPASI setelah 6 bulan : Karena < 6 bl
>> mengandung resiko_*
>>
>> Sekali lagi tidak mungkin ada saran dari WHO & IDAI
>> jika tidak dilakukan penelitian panjang. Lagipula tiap
>> anak itu beda. Bisa jadi gak jadi masalah utk kita
>> tapi belum tentu utk yg lain. Misalkan,
>> ilustrasinya sama spt aturan cuci tangan sebelum
>> makan. Ada anak yg dia tidak terbiasa cuci tangan
>> sebelum makan. Padahal ia baru bermain2 dengan tanah
>> dsb. Tapi ia tidak apa2. Sedangkan satu waktu atau di
>> anak yg lain, begitu ia melakukan hal tsb ia langsung
>> mengalami gangguan pencernaan karena kotoran yg masuk
>> ke makanan melalui tangannya. Demikian juga dengan
>> pemberian MPASI pada anak terlalu dini. Banyak yang
>> merasa "anak saya gak masalah tuh saya kasih makan
>> dari umur 3 bulan". Sehingga hal tsb menjadi "excuse"
>> atau alasan utk tidak mengikuti aturan yg berlaku.
>> Padahal aturan tsb dibuat karena ada resiko sendiri.
>> Lagipula penelitan ttg hal ini terus berlanjut. Saat
>> ini mungkin pengetahuan dan hasil riset yg ada masih
>> terbatas dan "kurang" bagi beberapa kalangan. Tapi di
>> kemudian hari kita tidak tahu. Ilmu terus berkembang.
>>
>>
>> Dan satu hal yg penting. Aturan agar menunda
>> memberikan MPASi pada anak < 6 bulan bukan hanya
>> berlaku utk bayi yg mendapatkan ASI eksklusif. Tetapi
>> juga bagi bayi yg tidak mendapatkan ASI (susu formula
>> atau mixed). Semuanya akan kembali kepada ayah & ibu.
>> Jika kita tahu ada resiko dibalik pemberian MPASI < 6
>> bl, maka mengapa tidak kita menundanya. Apalagi
>> banyak sekali penelitian & kasus yang mendukung hal
>> tsb.
>>
>> Apapun keputusan ibu & ayah, apakah mau memberikan
>> MPASi < 6 bl ataupun > 6bl, alangkah baiknya
>> dipertimbangkan dg baik untung ruginya bagi anak,
>> bukan bagi orang tuanya. Sehingga keputusan yg diambil
>> adalah yg terbaik utk sang anak.
__,_._,___ 



=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+=+

Mailing List Nakita
milis-nakita@news.gramedia-majalah.com

Arsip
http://www.mail-archive.com/milis-nakita@news.gramedia-majalah.com/
------------------------------------------------

untuk berlangganan kirim mail kosong ke :
[EMAIL PROTECTED]

untuk berhenti berlangganan kirim mail kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]


Kirim email ke