On Wed, 31 Mar 1999, Herdarmadhi Kuswandito Utomo wrote:
> adicom schrieb:
~~~~~~~~~
bahasa Indonesianya = menulis
> Nach ini juga musti diperhitungkan berapa duit dikeluarkan utk
> reklame...promosi...(ini penting banget!)
Betul. bukankah produktifitas itu akan maksimal, kalau biaya
yang dikeluarkan untuk berproduksi makin rendah (dengan output
yang sama)
> Contoh lain, bbrp bank di swiss enggak pake ms office utk standard
> softwarenya, tapi pake staroffice atau smartsuite...kagak pake NT
> tapi pake OS2...
he..he.h Dresdner Bank.. juga... ya, kantor kantor administrasi di
sini..masih banyak yang pakai Win 3.1 karena butuh cuma sebagai terminal.
Mengetik pun mereka memakai program khusus (karena format surat sudah
pasti).
> Emang ada tuh...enggak usah buat perjanjian...mereka emang nyediain
> Student dan School license...
> Di Digital dulu mananya Campus License, Campus Support...
> Kalau juga enggak tertulis, kita bisa minta kemereka utk minta student
> atau school license...sbg contoh:
Memang tetapi menurut yang saya pernah alami (ketika itu ketemu lawyer
yang mewakili Borland dan MS) mereka tidak dapat memberikan harga itu di
Indoensia karena mereka tahu banyak "pembajakan"... artinya mereka
paham bahwa "student price" itu sebetulnya adalah media untuk marketing
atau mengenalkan produk mereka ke kalangan mahasiswa. (sehingga diharapkan
mereka nantinya akan memakai produk mereka. Beberapa kali ketemu vendor
di Indonesia, sedikit sekali mereka merasa, memperkenalkan secara gratis
kepada mahsiswa pun sudah merupakan "keuntungan".. pada waktu itu
saya coba mendapatkan kemungkinan "discount price" dari database vendor
untuk keperluan Gunadarma... he..he.eh sulitnya.
Hal ini disebabkan banyak vendor melihat mahasiswa bukan sebagai "target
marketing"... mereka merasa "sumbangan" mereka ke mahasiswa hanyalah beban
bagi persh mereka, bukan sebagai "biaya pemasaran".
Sedangkan di Indonesia mereka memakai pendekatan lain...
- mereka pura-pura tutup mata, yang penting 1 insititusi pendidikan
sudah membeli 1 atau beberapa lisensi itu cukup (alasannya institusi
pendidikan nggak kuat membayar).
Mereka tidak memberikan lisensi khusus. Sepintas selalu sepertinya
baik.. tetapi ini "menikam" karena kita cenderung akan membajak (saya
sendiri tidak tahu, ini sadar atau tidak sadar).
- Persh di Indoesia relatif sebagai (agent penjualan) bukan branch office
(nggak tahu sekarang kondisinya), sehingga kebijakan mereka bukanlah
kebijakan "kantor pusat" tetapi persh lokal. nah konyolnya persh lokal
ini tidak memberikan kebijakan "student price".. karena untuk menutupi
overhead cost mereka.. (he..he.he).
Mudah-mudahan situasi sudah berubah.
IMW
* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Berhenti : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]