FYI
==========================================


Forum Persaudaraan Antar-partai

                        Oleh Emha Ainun Nadjib

Hanya ikut menabung kerukunan: itu saja sumbangan saya
kepada Indonesia. Sangat terbatas dan mungkin tidak banyak
gunanya. Di daerah di mana mobil seorang ketua parpol dibakar
oleh massa parpol lainnya dan rumahnya dihancurkan, kita
tanyakan kepada sekitar enam ribu umat pengajian yang
sebagian adalah massa parpol pembakar dalam kejadian
tersebut -- lewat panggung, ''Apakah warga partai anu itu musuh
Sampeyan ataukah saudara Sampeyan?''

Wajah mereka agak tergagap, sebagian saling menoleh, dan
mereka butuh beberapa sekon untuk menjawab hampir
serentak, ''Saudaraaaaa!'' ''Bukan musuh?''

''Bukaaaan!'' ''Lha, kok pakai bakar membakar segala?'' saya
mengejar.

''Habis ngomongnya menyakitkan sih ...,'' jawab sebagian
mereka.

''Salahnya sendiri!'' sambung yang lain.

Saya melanjutkan dialog itu dengan nada bergurau. Dengan
massa saya bertanya jawab, menginventarisasi logika, pemikiran
dan nilai tentang beda antara saudara dengan musuh. Lantas
dirumuskan bersaudara itu begini bermusuhan itu begitu.

Saya ingat di satu kampus di Malang di awal 90-an saya 'paksa'
Danrem dengan pimpinan aktivis mahasiswa -- sesudah
memperdebatkan dan merundingkan solusi suatu kasus -- untuk
naik panggung dan nyanyi lagu ''Kemesraan'' bersama-sama.
Pak Danrem yang kebetulan tak begitu bagus nyanyinya
mencoel pinggang saya dan bergumam - ''Diamput Sampeyan
...'' Persaudaraan dan cinta itu tanpa reserve. Boleh lain suku,
agama, pandangan atau parpol -- tetap saja kita bersaudara.
Bersaudara sebagai sesama hamba Tuhan sebagai manusia dan
sebagai bangsa Indonesia.

Bersama Hamas (Himpunan Masyarakat Shalawat), Padhang
mBulan atau Kyai Kanjeng, sudah delapan bulan ini saya keliling
daerah-daerah untuk nyicil kerukunan semacam itu. Sesudah di
suatu daerah di Jatim ada orang gila dibunuh karena disangka
Ninja kemudian badannya dipotong-potong dan kepalanya
disate dengan linggis diarak keliling kota, sehingga penduduk tak
berani keluar rumah sehabis maghrib -- kami ngumpul dengan
sekitar enam puluh ribu orang penduduk. Massa memenuhi
terminal memanjang di jalan-jalan dan ngumpul di rumah-rumah,
ikut acara melalui teve monitor dan siaran radio.

Kami shalawatan dulu agar komunikasinya lebih jujur.
Saudara-saudara dan Kodim, Polres, Muspida, juga para ulama
dan pemuka masyarakat lainnya -- kita moderatori untuk
'digugat' oleh masyarakat. Dialog sangat transparan dan riuh
rendah sampai lewat tengah malam. Masalah dituntaskan,
komunikasi blak-blakan. Tak tahu apakah itu namanya
pendidikan politik, komunikasi sosial, silaturahmi rohani atau
apa. Pokoknya kami menangis bersama di akhir acara, dan
sesudah itu daerah ini aman tenteram, bahkan Pak Kasdim yang
lucu itu kemudian aktif menjadi mubaligh.

Di tempat lain sejumlah massa yang kurang lebih sama malah
ngumpul di depan wilayah pertokoan. Baru kali itu Batu
mengalami padatan massa sebanyak itu dan belum pernah lagi.
Bukaan-bukaan soal, meskipun masalahnya berbeda. Pak
Kapolres sejak awal takut kumpulnya massa seperti ini rawan
kerusuhan, tapi alhamdulillah semua aman. Bahkan teman-teman
Cina ngikutin acara dari balkon rumah-rumah di atas toko
mereka, dan seusai acara para nonpri itu nangis-nangis bersama
kami.

Banyak contoh lain dari lain daerah. Kita ngumpul bukan hanya
antar-partai, antar-etnis, antar-Agama, kalau perlu dengan kaum
Jin. Tapi apa yang kami lakukan ini ya tidak banyak menolong:
kerusuhan Ambon, Sambas, Singkawang dan entah mana lagi,
tetap terjadi. Tapi kami teruskan. Ajakan persaudaraan
universal, berjanji bikin happy end, sumpah husnul khatimah.
Terakhir yang saya tawarkan kepada masyarakat, dan belum
laku, adalah Forum Persaudaraan Antar-partai, atau idiom
Islamnya: Majelis Ukhuwah antar-Partai. Yakni hubungan
kultural, hubungan nurani antarwarga partai-partai politik.
Mungkin masing-masing parpol ngasih satus orang ke forum atau
majelis ini, yang ngumpul untuk ''sedia payung sebelum hujan
bentrok datang mengguyur''. Tugas anggota forum ini bukan
kampanye tapi khusus jadi 'kiper', mengantisipasi setiap
kemungkinan konflik antar-partai, apalagi benturan massa.

Bisa juga dibentuk Majelis Penyelesaian Masalah, yang
mengkerjasamakan secara silang berbagai segmentasi sosial,
yang tugasnya menampung dan memandu setiap masalah dalam
masyarakat: dari penumbuhan ekonomi rakyat, kebingungan
politik hingga bentrok sosial.

Yang lebih ideal adalah jika kaum ulama, pastor, pendeta dll
berfungsi kultural dan spiritual di atas semua partai. Jangan
hanya ABRI yang netral, pemimpin spiritual masyarakat juga
perlu menjadi guru batin masyarakat. Mereka jangan justru
menjadi ujung tombak parpol, yang di tingkat menengah bawah
hal ini sangat rawan dan bisa destruktif.

Tetapi saya haram untuk memaksakan gagasan ini kepada siapa
pun.

  _____

Dikutip dari Refleksi Harian Republika (11/4/99)

 ---------------------------------------------------------------------------
------------
  Padhang mBulan Net - Padhang mBulan mailing list
 ---------------------------------------------------------------------------
------------
 Untuk registrasi, kirim email dengan subject dan body message kosong ke:
  [EMAIL PROTECTED]
 Untuk pengunduran diri, kirim email dengan subject dan body message kosong
ke:
  [EMAIL PROTECTED]
 Homepage          : Http://www.maga.co.id/emha
 ---------------------------------------------------------------------------
-----------

* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives     : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Berhenti     : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke