Date: Mon, 2 Aug 1999 04:46:10 -0700 (PDT)
From: ganyang soeharto <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: ganyang (9) - Konsfirasi menghancurkan Bank Bali
To: [EMAIL PROTECTED]


Assalamu'alaikum wr. wb.


Fit  and Propper test yang dilakukan terhadap para bankir menimbulkan suatu
pertanyaan  yang  sangat  besar,  karena apakah yang melakukan tes tersebut
memang  sudah  benar-benar  bersih  ?  atau  yang  lulus  tes tersebut bisa
dipertanggung jawabkan ? atau yang lulus tes tersebut memang punya moral di
bawah yang melakukan tes ? bagaimana kriteria tes tersebut ? atau . . .???


Doko  S.  Chandra  pemilik  Grup  Mulia  sebagai  makelar  dalam konsfirasi
menghancuran  Bank  Bali bersama Manimaren Sinivasan dan Setya Novanto yang
merupakan  wakil  bendahara  DPP  Golkar menghubungi wakil ketua BPPN Pande
Lubis   melakukan   persekutuan  busuk  demi  kelanggengan  kekuasaan  yang
dihambakan mereka yaitu presiden tanpa restu Habibi.


Bank  Bali  masuk  dalam  kekuasaan  BPPN  yaitu Badan Penyehatan Perbankan
Nasional  yang  dalam  prakteknya  tidak  ada  bank yang masuk kekuasaannya
menjadi  sehat,  malah  dibekukan  operasinya  (likuidasi), Bank Bali masuk
sebagai  bank  yang tidak memenuhi tingkat kecukupan modal (CAR) 4%, per 13
Maret  1999  CAR  -8.2%  (jumlah kebutuhan modal 1,821 milyar) dengan total
asset 12,175 milyar dan jumlah kredit yang diberikan 6,200 milyar (sebagian
menjadi tanggungan BPPN atas pinjaman antarbank BDNI, BUN, Tiara).


Jika   BPPN  memang  berniat  menyehatkan  perbankan  nasional,  Bank  Bali
seharusnya  tidak  termasuk  bank  dalam katagori tidak mencukupi modal dan
anehnya  pihak  Bank  Bali tidak dapat menagih tagihannya atau BPPN sengaja
tidak  membayar  kewajibannya  padahal  BPPN  dalam  rangka penyehatan bank
nasional  sudah  menghabiskan  trilyunan  rupiah  (tanpa ada bank yang bisa
sehat),  anehnya  lagi hasil penjualan aset bank yang bermasalah tidak tahu
rimbanya.


Bank  Bali  adalah  pihak  yang buntung dan team sukses Habibi adalah pihak
yang  untung,  atau  memang  pemerintahan  Habibi  hanya bisa menghancurkan
negara   yang  dibangun  dengan  tangis  dan  darah,  Habibi  dan  konconya
bergembira diatas kesedihan Bank Bali.


Memang  seperti  yang pernah saya tulis BPPN yang dikomandoi Glenn Muhammad
Surya  Yusuf  adalah  sarang  rampok  dengan  berbagai cara kotor mengambil
keuntungan  dari  kehancuran Bank Bali, agar bisa mempersembahkan upeti dan
bisa  mendapatkan  penghargaan dari yang disembahnya, ingat bung Glenn anda
sudah  memakai  nama seorang nabi besar yang seharusnya bisa mencontoh suri
tauladannya kecuali anda mau dilaknat di akhirat nanti.


Piutang  Bank  Bali yang seharusnya menjadi kewajiban BPPN ternyata menjadi
proyek   korupsi   besar-besaran  dengan  alasan  membantu  tetapi  tenyata
membunuh,   apakah   masuk   akal   jika  membantu  mencairkan  (seharusnya
kewajibannya)  sebesar  Rp.  900  miliar harus membayar fee sebesar Rp. 550
milyar  kehancuran  ini  dilanjutakan  dengan penjualan secara murah kepada
pihak   asing  (Standard  Chartered  Bank)  yang  disertai  dengan  tuduhan
penggembosan  asset  sehingga  harus  menambah  kecukupan modal menjadi 4,3
triliun.


Siapakah yang harus melakukan fit and propper test ?


Wassalam




* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives     : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Langganan    : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Berhenti     : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke