Just a little bit story for your weekend thoughts.
Wassalamu `alaikum wR.wB.
CS

----- Original Message ----- 
From: Miladinne Inesza Lubis 


-----Original Message-----
From: Jenita <[EMAIL PROTECTED]>


-----Original Message----- 
From: Permadi Witjaksono [SMTP:[EMAIL PROTECTED]] 
Gue forward di bawah kesaksian dari Dede Basri temen gue alumni FEUI yang kebetulan 
ngelihat kebiadabannya tentara & polisi yang berpuncak dengan dibunuhnya mahasiswa 
FTUI. Semoga jelas, siapa sebenarnya yang nggak  bermoral. P.W. 
Sincerely yours, 
Permadi Witjaksono


Subject: Re: Surat Terbuka 
Ape dan kawan-kawan semua, 
Sorry gue baru kasih cerita sekarang dan sedikit response soal kejadian ini. 

Gue secara kebetulan ada di Atmajaya dan Rumah Sakit Jakarta (yang letaknya persis di 
sebelah Atmajaya) sejak Kamis siang. Gue menyaksikan sendiri gimana brutalnya itu TNI 
biadab. Kamis sore itu gue bantuin sedian logistik buat teman-teman disana. Rombongan 
FE dipimpin sama Kiki, juga  ada disana teman-teman KB UI, juga Jamil ketua Senat 
Psikologi. Kita semua, sama teman-teman mahasiswa yang ada disana terus coba bikan 
akses dari Atmajaya ke RSJ. Korban banyak sekali jatuh. Bang Faisal, Kiki (Hermawan) 
juga ada disana, terus Albert Hasibuan, Goenawan Mohamad, Fadjrul Rahman, teman-teman 
Suara Ibu Perduli dsb. Kita sama-sama mahasiswa waktu 'perang tak seimbang itu 
terjadi'. Tembakan di depan kampus Atmajaya mulai sejak sore.

Dan makin gencar selepas magrib.Korban terus dibawa ke RSJ. Mulai dari  yang matanya 
pecah (akhirnya buta) kena peluru, yang mulutnya hancur kena peluru sampai yang 
pingsan dibawa ke RSJ. Korban kalau gue nggak salah disana sekitar 79 orang. Suasana 
tegang sekali. Kawan-kawan mahasiswa tetap nggak mau evakuasi dari Atmajaya dan tetap 
ingin bertahan. Untuk bertahan, dibantu  massa mereka melemparkan molotov dan batu. 
Ucok Purba kena pukul popor dan Fadjrul Rahman masih terkurung di Atmajaya. Situasi 
betul-betul chaos seperti Semanggi I.

Tembakan masih terdengar. Yang ironis tokoh parpol yang hadir cuma Faisal Basri dan 
Matori Abdul Djalil. Kemana tokoh-tokoh politik. Faisal teriak-teriak : "Pemipin 
politik sipil semuanya taik kucing !" Megawati dan tokoh PDIP tidak kelihatan batang 
idungnya. Amien Rais 
nggak jelas cungurnya. Gus Dur malah bela TNI ! Geblek !  Faisal kelihatan kesel 
sekali dan dia bilang : Mas Amien suruh tidur di jalan aja tuh. Gue bilang sama Faisal 
supaya PAN bikin pernyataan keras, dan terus dia kontak Santoso dan kaya'nya tanpa 
ijin Amien, PAN ngeluarin statement. Situasi chaos sampai terus berlangsung. 
 
Sekitar jam 1 pagian (Jumat dini hari)Faisal, GM dan lain-lain ninggalin RSJ, karena 
kaya'nya situasi udah agak mereda. Faisal kayanya  bikin rapat sama Haryanto Taslam, 
Muhaimin Iskandar untuk bikin pernytaan besok paginya. Fadjrul ikut ke sana. Gue 
kebetulan masih bertahan disana sama beberapa teman. Bentrokan masih ada tapi nggak 
besar. Sekitar jam 2 an gue dapet telepon yang bilang bahwa 'aparat keparat' akan 
melakukan sweeping. Info ini kita kasih tau ke mahasiswa. Mereka juga udah tahu tapi 
tetap aja memutuskan bertahan di Atmajaja. Sambil nunggu situasi nggak tentu, gue 
tidur di RSJ. 
 
Jam 4 pagi tiba-tiba tembakan beruntun kedengeran sampai sekitar 10 menit. Bener aja, 
kampus Atmajaya diserbu !  Mahasiswa ditembakin dan mobil-mobil di kampus di ancurin. 
Brutal sekali. Korban-korban dievakuasi. Gue ngeliat gimana lewat tangga 'darurat' 
korban-korban dipindahin dari Atmajaya ke RSJ lewat tembok tinggi. Betul-betul brutal 
tuh keparat ! Situasi tegang sekali, massa rakyat membantu mahasiswa, tukang teh botol 
merelakan botolnya (yang sayangnya nggak ada tutupnya untuk dijadikan senjata atau bom 
 molotov). 

Sekitar jam 6.30 pagi gue ninggalin RSJ balik ke rumah. Di jalanan masih terjadi 
bentrok, kali ini yang menghadapi keparat bukan  mahasiswa, tapi teman-teman STM dan 
SMU. Dengan mahir sekali mereka mempermainkan keparat dan terus menimpuk batu. Gue 
balik lagi ke Atmajaya siang abis sembahyang Jum'at. Situasi kelihatan tegang sekali. 
Front Pembela Islam nyaris bentrok sama massa di Ben Hill. 
 
Kawan Toto Pranoto (loe masih ingat Toto kan Pe) ada disana dan sempet dikejer-kejer 
FPI dan keparat. Dia sambil lari  masih  sempet-sempetnya ngumpulin selongsong dan 
tabung gas air mata. Sambil lari dia nelpon gue dan bilang : "Wah di tas gue udah 
banyak tabung  gas dan selongsong nih De. Tapi gue sekarang lagi dikejar pake badik 
sama FPI !  Emang udah pada gila semuanya !" 

Di kampus Atmajaya gue sama Sjahrir, Rocky Gerung dan beberapa teman lain. Kawan 
mahasiswa terus bertahan dan yel-yel rakyat bersatu tak bisa dikalahkan . Situasi 
tegang sekali. Waktu gue sama Sjahrir dkk masih di kampus itu, tentara nyerbu lagi dan 
nembak-nembak. Kita mundur kebelakang dan lompat pager. Bayangin loe, Ciil (Sjahrir) 
yang begitu 'gendut ' diangkat sama mahasiswa dan dinaikkin ke pager. Pagernya tinggi 
juga. Terus dari pager Sjahrir jatuh ke selokan ! Gue geli juga waktu itu, dan masih 
sempet ngeledek, kita lari , tembakan masih terus dibelakang. Gue bilang sama Ciil wah 
musti disimpen tuh celana yang penuh air got he-he-he. 

Terus sekitar jam 6.30 sore hari Jumat, Sudrajat ngumumin RUU PKB ditangguhkan. 
Mahasiswa bersorak. Ciil dan teman-teman pulang. Gue masih bertahan di RSJ 
ngobrol-ngobrol sama teman-teman mahasiswa. Anak-anak KB UI pada kumpul disana. 
Situasi udah damai kelihatannya. Kita udah becanda-becanda. Teman-teman mahasiswa udah 
mulai gossip, cerita cewe'cewe', dan 'dugem' (dunia gemerlap), terus 'kebem' (kelompok 
begadang malam), isitilah ini gue dapet dari temen-temen mahasiswa, Din, Mas Amrih 
dll, paling nggak gue masih keliatan muda deh dengan istilah ini he-he).

Gue pikir semuanya udah beres. Sekitar jam 8.30 malem, hari Jumat gue pulang, ngantuk 
banget, udah lama nggak tidur. Gue liat suasana di jalan udah damai. Jalanan di depan 
Atmajaya udah dibuka. Mahasiswa dan rakyat udah ngasih makan tentara dan ngerokok 
bareng. Tapi ditengah jalan gue ditelepon sama temen-teman mahasiswa, mereka bilang 
ada sweeping dan mereka kembali ditembakin. Gila bener tuh keparat ! Sekitar jam 2 
pagi (Sabtu dini hari ) gue ditelepon dikasih tahu Kampus UI Salemba diserbu dan ada 
rumors bahwa ada mahasiswa UI yang tewas di tembak. 
 
Pagi-pagi dateng konfirmasi bahwa Yap Yun Hap mahasiswa Teknik UI tewas ditembak 
peluru tajam. Gue terus ke Salemba ke kamar Jenazah. Disana udah banyak teman-teman. 
Yang ngenesin lagi, tokoh parpol yang ada cuma : Matori Abdul Djalil. Yang lain ? 
Sibuk debat calon Presiden di Hotel Wisata. Edan ini bangsa !!!  Terus sekitar jam 9 
an pagi dilakukan prosesi jenazah di Balai Mahasiswa Salemba. Gue nggak liat banyak 
tokoh, kecuali Matori, Hariadi Dharmawan, Sjahrir, Lukman Hakim (Ketua DM UI 78). Yang 
lainnya 'jagoan politik' pada kemana.   Amien Rais kagak nongol, Gus Dur kagak 
keliatan, Megawati juga sama. Cape gue sama jagoan kesiangan ini. 
 
Acara prosesi begitu mengharukan, dimulai dengan menyanyikan 'Darah Juang' diikuti 
oleh pernyataan-pernyataan, puisi, lagu gugur bunga dsb. Gue coba telepon loe Pe 
maksud gue biar loe denger lewat handphone dan bisa merasakan 'hawa kemarahan' kita 
semua, tapi handphone loe mati. Suasananya betul-betul menyedihkan. Ibunya Yun Hap 
kelihatan terpukul sekali. Siang gue ke Atmajaya lagi, teman-teman mahasiswa bikin 
orasi terus mereka bergerak ke DPR. Setelah itu gue balik. 

Salam 
Dede

Kirim email ke