BUDAYA BACA TULIS ADALAH INFRASTRUKTUR INTERNET

                  Internet alat produksi atau konsumsi 
                  ------------------------------------
                  (mengoptimalkan pemanfaatan Internet)

Kebutuhan Internet memang sudah tidak bisa ditawar lagi saat ini, tetapi
kembali kita harus merenung sejenak (terutama untuk lembaga pendidikan),
sebetulnya apakah fungsi Internet.  Apa hanya sebagai alat konsumsi yang
menghabiskan dana, atau sebagai alat produksi yang memberikan intangible
value.  Sebab bila tidak teliti maka pemanfaatan Internet hanyalah menjadi
faktor pendorong konsumtif belaka, proyek-proyek seperti SMU2000 dan
sebagainya bisa-bisa menjadi kurang optimal, bila tidak dilandasi
pemahaman fungsi dasar dari Internet tersebut.

Sebagai alat untuk mengkonsumsi 
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sebagian besar pemanfaatan Internet saat
ini (terutama di dunia pendidikan Indonesia) barulah pada tahap sebagai
alat untuk membantu proses 'mengkonsumsi'.  Mengkonsumsi dalam arti
sebagian besar yang dilakukan pengguna adalah 'membaca informasi' atau
menyerap informasi belum pada tahapan 'memberikan' atau 'sharing
informasi'.  Pengguna 'melahap' informasi dari luar.

Hal ini melanda hampir sebagian besar situs situs milik insitusi
penelitian, pendidikan (kecuali media massa mungkin yang tidak memiliki
traffic seperti ini). Bila kita perhatikan traffic Internet yang terjadi
(terutama WWW) maka akan tampak bahwa traffic yang ada adalah 'in'
dibandingkan 'out`. Hal ini disebabkan beberapa hal

- Situs tersebut sendiri tidak mengandung informasi yang dicari orang.
  Sebab isinya tak lebih hanyalah informasi biasa saja.

- Kepercayaan user untuk mencari informasi di situs-situs tertentu
  tidak ada. Artinya kredibilitas lembaga sendiri dipertanyakan.

- Bandwidth yang kecil serta design yang memakan bandwidth (misal terlalu
  banyak grafik). Hal ini adalah problem disain yang banyak melanda
  disainer Web di Indonesia.

Tetapi sebagian besar dari pengamatan yang dilakukan faktor pertamalah
yang menjadi penyebab masih tingginya nilai IMPORT informasi dibanding
EKSPORT.

Sebagai ilustrasi masalah tersebut, mari kita lihat satu per satu
situs milik perguruan tinggi (misal PTN yang sudah cukup punya nama, yang
di dalamnya banyak sekali Doktor dan Profesor).  Berapakah kandungan
informasi di dalamnya yang dapat menarik pengguna di luar kampus, misal :

- On line paper, maupun publikasi (baik daftar maupun yang disajikan)
- Kompendium suatu permasalahan
- Komentar terhadap suatu permasalahan
- Data penelitian (baik hasil penelitian maupun penelitian yang sedang 
  dilakukan) termasuk daftar penelitian yang dilakukan oleh suatu Uni.
- dan sebagainya.

Sebagian besar situs perguruan tinggi ataupun lembaga penelitian masihlah
pada taraf merupakan tampilan alternatif dari katalog elektronis.  Belum
berfungsi sebagai, sumber informasi, tempat berkolaborasi, sehingga
beberapa kemampuan tersembunyi dari Internet belum dimanfaatkan.

Hal ini disebabkan beberapa alasan klise seperti, sulit mengkonversinya,
takut ditiru, dan sebagainya.  Tetapi apabila kita amati, sebagian besar
lebih karena kurangnya keinginan atau MALAS untuk melakukan 'information
sharing'. Hal tersebut banyak melanda para ilmuwan dan dosen (secara jujur
saya harus mengakuinya).  Nah bagaimana dengan mahasiswanya...???

Tidak jauh berbeda.  sedikit sekali mahasiswa yang telah memiliki situs
web ataupun koneksi Internet memanfaatkanya sebagai media untuk
'information sharing'.  Misal menayangkan artikelnya secara online,
ataupun menuliskan idea-ideanya sehingga orang lain dapat membaca, dan
berdiskusi.  Hal ini menunjukkan bahwa memang kita belum menguasai
INFRASTRUKTUR dari Internet, yaitu BUDAYA BACA TULIS.

Sebagian besar mahasiswa masih memanfaatkan Internet tidak lebih sebagai
'kartu nama elektronis' menampilkan siapa dia, hobby, dan sebagainya.
Sedikit sekali yang menampilkan karya ataupun arsip kerjanya.

Nah bila pemanfaatan Internet pada suatu institusi PT masih dalam taraf
'mengkonsumsi' tentu perhitungan biaya akan dilakukan sebagaimana halnya
barang 'terpakai'.  Bukan sebagai 'alat produksi'.  Hal ini banyak
digunakan sebagai pertimbangan beberapa pengelola PTN dan PTS dalam
memperhitungkan biaya pemakaian Internet.

Internet sebagai alat produksi
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sekarang bagaimana posisi Internet sebagai alat produksi.  Hal ini
dimungkinkan misalnya Internet dimanfaatkan sebagai infrastruktur
kolaborasi.  Misal dalam pembuatan atau pengembangan suatu proyek yang
pihak pihak terlibat berada di seluruh dunia.  Sehingga fasilitas Web
benar benar menjadi sarana seperti papan tulis elektronik, untuk saling
bertukar pikiran.  Hasil akhir dapat diletakkan pada situs yang siap
didownload bagi pihak yang merasa tertarik.  Cara ini lazim digunakan para
pengembang Open Source karena mereka sendiri terpencar di seluruh dunia.
Nah bukankah hal ini dimungkinkan untuk diterapkan pada suatu lingkungan
perguruan tinggi, misal untuk membahas materi perkuliahan, berdiskusi
antar dosen, karena memang untuk saling bertemu waktu dan tempat sangatlah
sulit pada saat ini.  Sayang sekali pemanfaatan seperti ini masih minim
dalam situs-situs PT ataupun lembaga penelitian.

Pemanfaatan lain misal sebagai penerbitan online, hasil penelitian,
catatan mengajar, hasil kerja mahasiswa ditampilkan pada Web.  Sehingga
mereka yang tertarik membaca dapat menemukannya dengan mudah pada situs
tersebut.  Cara ini memberikan beberapa dampak positif

- Memaksa penulis menjadi 'hati-hati' ketika menulis, dan tidak asal
  menjiplak (hm...).  Karena pihak luar akan cepat tahu.
- Membantu pihak lain yang mencari informasi hal yang berkaitan.
- Mendorong terbentuknya BUDAYA BACA TULIS.

Akan tetapi mengapa masih sedikit sekali situs di Indonesia yang
menyertakan on line papernya..???  Hal ini tidak terlepas dari kenyataan
bahwa sebagian besar dari kita (baik mahasiswa maupun dosen), masih
terjebak kepada paradigma penerbitan kertas, yaitu apa yang kita tayangkan
adalah HASIL AKHIR yang tidak BER-EVOLUSI untuk diperbaiki.  Hal ini sudah
tidak tepat lagi.  Jangankan Internet bahkan penerbitanpun sekarang
memiliki siklus perbaikan yang cepat, hal ini dimungkinkan karena
teknologi pengeditan telah maju sehingga perbaikan versi penerbitan tidak
menjadi halangan.  Pada Internet, suatu on line paper, dengan mudah
di'edit' dan di-revisi.  Sudah barang tentu agar terjaga history-nya
sebaiknya disertakan pula daftar revisi yang dilakukan.

Pola penerbitan online seperti ini sudah lazim kini digunakan (Contoh
jelas adalah Tulisan Eric S Raymond, yang selalu mengatakan tulisan ini
jauh dari selesai...dan bla..bla..bla.. karena selalu diedit setelah ada
saran dan perbaikan).

Hambatan lain adalah 'rasa malu' menganggap karyanya belum layak tampil.
Kondisi ini diperburuk dengan banyaknya penilaian dari pihak peneliti
senior tentang suatu penelitian dengan komentar.. AH CUMA SEGITU KOQ
DISEBUT KARYA PENELITIAN DOSEN UNIVERSITAS. dan sebagainya yang relatif
kurang menghargai suatu pekerjaan.  Kendala seperti inilah yang juga harus
disingkirkan oleh para Peneliti Senior.  Komentar sebaiknya lebih
mendorong terciptanya keinginan 'information sharing' bukannya 'membunuh'
keinginan untuk 'information sharing'.

Pemanfaatan lain adalah sebagai bentuk Kompendium (informasi terkait suatu
bidang).  Misal membuat homepage yang isinya hal-hal yang berkaitan pada
suatu bidang (misal ambil Pemrograman Grafik), berisi link mengenai
paper-contoh, dsb.  Kompendium ini akan sangat bermanfaat bagi orang yang
ingin mempelajari bidang tersebut (contoh silahkan lihat  Kompendium
mengenai kecelakaan pesawat terbang yang dibuat pembimbing saya
8-)

http://www.rvs.uni-bielefeld.de/publications/Incidents/

Ataupun 'kumpulan paper terkait' masalah pengukuran kinerja web server.

http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/made/artikel/Web-Bench/web-bench.html

Sepintas lalu pekerjaan pembuatan Kompendium ini seperti 'main-main' dan
tak ada artinya, sehingga seringkali di Indonesia NILAINYA MASIH DIABAIKAN
DI LINGKUNGAN AKADEMIS.  Tetapi sebetulnya hal tersebut sudah tidak tepat
lagi, karena di lingkungan akademis internasional hal tersebut sangat
dihargai (apalagi kalau materinya hanya satu-satunya).  

Bahkan bisa akhirnya diproduksi dalam suatu CDROM.  Hal ini sangat
disadari karena bentukan kompendium informasi ini suatu model VALUE ADDED
PUBLISHING, yang dimungkinkan dengan teknologi Internet ini.  Nilai
kompendium ini akan semakin berarti bila dilengkapi dengan komentar dan
pengkategorian masalah yang baik.

Pemanfaatan lainnya adalah penayangan 'data mentah' penelitian.  Data ini
akan sangat bermanfaat bagi peneliti lain atau mahasiswa di Universitas
lain sehingga tidak perlu jauh jauh hanya untuk memfotokopi atau
menduplikasi pekerjaan.  Sebagai contoh para peneliti biologi kelautan di
USA sudah lazim menggunakan hal ini dengan situs-situs mereka, sehingga
para peneliti yang lainnya bisa memanfaatkan 'data mentah' ini.

Hal ini lazim digunakan beberapa peneliti yang memiliki peralatan yang
bisa dimanfaatkan secara ramai-ramai, oleh mahasiswa ataupun peneliti
Perguruan Tinggi lainnya.  Kembali lagi hal ini sangat bergantung pada
itikad PT tersebut untuk memanfaatkan fasilitasnya bagi ORANG INDONESIA
SECARA UMUM.

Apabila Internet telah dimanfaatkan dalam level di atas (sebagai alat
produksi) sudah tentu menyediakan 'akses gratis' menjadi hal yang wajar.
Karena Internet tidak dianggap sebagai 'alat yang mendorong konsumsi'
tetapi sebagai modal untuk 'berproduksi'.  Nah sekarang mari kita lihat
situasi di masing-masing institusi untuk menilai hal tersebut di atas.
Bahkan bisa meningkatkan reputasi dari lembaga tersebut dan menambah
kredibilitasnya.

Mentransformasikan dari alat konsumsi menjadi alat produksi
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Tentu kalau sekedar 'berkeluh-kesah' tanpa memberikan jalan keluar
sepertinya kurang afdol.  Sebagai penutup email ini saya utarakan
bebeberapa langkah yang dapat diambil oleh institusi pendidikan dan
penelitian untuk mengubah pemanfaatan Internet dari yang tadinya hanya
sebagai alat konsumsi dapat berubah menjadi alat produksi.

Sekarang bagimana cara mentransformasikan situs Web suatu institusi
pendidikan ataupun penelitian menjadi media produksi.  Beberapa saran
misal.

- Manfaatkan sebagai media publikasi online.  Dosen, didorong untuk
  meletakkan paper, bahan kuliah, bukunya dalam bentuk online.  Ini
  disamping akan mempermudah mahasiswa juga mempermudah saran yang dapat
  dilakukan oleh rekan sejawat (sudah barang tentu, mentalitas mau
  berdiskusi juga harus dikembangkan).  Juga institusi dapat membuat
  e-zinenya (electronic magazine).   

- Hasil tugas mahasiswa yang berupa tulisan sebaiknya dikumpulkan
  dalam format HTML sehingga siap untuk ditayangkan.  Hal ini sekarang
  tidak sulit untuk dilakukan hanya perlu "Save as HTML..." Jadi
  mahasiswa bukan sekedar mengerjakan tugas yang "HANYA UNTUK DIKUMPULKAN"
  tapi juga "UNTUK DITAYANGKAN".  Jelas pengajar harus mencari materi
  yang cocok untuk tugas ini dan mekanisme peletakkan hasil tugas 
  yang baik (misal dg memanfaatkan database, dan dynamic publishing)

- Mahasiswa didorong membuat proyek yang hasilnya dapat dirasakan
  orang banyak (misal mengeroyok membuat informasi museum Indonesia,
  satu mahasiswa, satu halaman.. dan sebagainya).  Program atau informasi
  ini disajikan secara OPEN SOURCE sehingga orang bebas mendownloadnya
  Dapat juga membuat suatu contoh program misal "Program database
  perpustakaan", yang dapat dimanfaatkan orang luas.. dan lain-lainnya.
  Hal ini mendorong orang melongok ke situs tersebut secara rutin, dengan
  harapan ada perubahan proyek atau materi baru yang dapat dimanfaatkan

- Situs internet dimanfaatkan sebagai media diskusi (bukan saja dalam
  mailing list) sudah barang tentu keterlibatan dosen sangat diharapkan.
  Media diskusi dapat dibagi berdasarkan materi ataupun mata kuliah..
  sehingga mahasiswa, alumni, dosen lain yang tertarik berdiskusi dapat
  bergabung.  Di samping itu dapat juga saling tukar web resource.
  Sehingga hasil diskusi di Internet DAPAT DIBAWA KE KELAS.

- Membuat kompendium informasi suatu bidang (lebih baik lagi dengan
  komentar).. misal tentang hal tertentu. (Contoh lihat web resource yang
  saya buat)

- Membuat suatu 'service' yang dibutuhkan orang sehingga akan menarik
  orang untuk membaca.  Misal 'informasi lokal', 'pembacaan off line web"
  security alert, program announcement, e-zine dsb.

- Manfaatkan situs tersebut sebagai repository (penyimpanan) data mentah
  penelitian,  Sehingga peneliti lain dapat mendownload data tersebut
  dan melakukan analisis.  Hal ini akan sangat bermanfaat bagi bidang
  bidang seperti kimia, biologi, fisika dan sebagainya.

Terus terang saran tersebut saya 'gali' dari pengalaman membangun situs
"nakula".  Yang saat ini berfungsi sebagai 'personal deck' saya.
Tetapi memiliki 'hit' yang cukup berarti.

Pada era Internet saat ini dosen lebih berperan sebagai 'fasilitator'
ketimbang instructor.. sehingga dengan memanfaatkan media di atas secara
optimal. Maka proses belajar mengajar dapat terjalin dengan baik.

Sudah barang tentu, dari pihak MAHASISWApun diharapkan keinginan MENULIS
yang tinggi (tidak saja masalah Politik saja, tetapi juga masalah bidang
studinya).  

Tanpa budaya baca tulis, sulit sekali Internet dapat dimanfaatkan secara
optimal, dan akhirnya hanya akan menjadi alat konsumsi kembali.. seperti
halnya Televisi....  yang awalnya begitu diharapkan sebagai perangkat yang
dapat membantu pendidikan,.. tetapi ternyata berkembang ke arah yang lain.

Salam hangat dari Jerman

IMW

===========================================================================
I Made Wiryana (0521-106 5328)            Universitas Gunadarma - Indonesia
Rechnernetze und Verteilte Systeme  http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/made
Universitaet Bielelfeld                                   Check my e-zine :
[EMAIL PROTECTED]    http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/majalah
===========================================================================














* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives     : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Langganan    : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Berhenti     : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke