Agung wrote:

> IMW> Di sini kita membahas dua hal yang berbeda..
>
> IMW> di Linux Linus bekerja terhadap 'kerjaannya sendiri' sehingga keputusan
> IMW> lisensinya... bergantung pada dia...
>
> IMW> Sedangkan di Transmeta dia bekerja di kelompok (keputusan terakhir bukan
> IMW> di dia).. dan lagi banyak third party, ataupun beberapa produk yang
> IMW> digunakan di Transmeta tidak memungkinkan untuk di Open Source (seperti
> IMW> kasus Solaris).
>
> berbeda dimana-nya nya bos!
> sekali prinsip tetap prinsip !
> prinsip-nya "open source" ya "open source"
> 'ga bisa diberi kebijaksanaan  bahwa ini "hal yang berbeda" (nanti
> seperti orde baru, terlalu banyak "kebijaksanaan")
> dia harus memperjuangkan open source-nya !
> kalau seperti ini berarti dia "menjual prinsip".
>

Lho nggak bisa begitu dongg..open source dan bukan open source kan tergantung
dari penentuan keputusan ( ** yg ini diambil dari Pak Made**), dan laih hal yaitu
reward yg diwujudkan dalam bentuk uang.

>
> menurut saya "Open Source" punya dunia sendiri yaitu di university !
> dan biarkan "dia" berkembang di university.
> Jangan campur adukan dunia university dengan dunia Bisnis
> (ini baru dua hal yang berbeda, satu untuk kemajuan ilmu pengetahuan,
> sedangkan yang lainnya untuk "uang")
>

Bisa saja open source diterapkan di bisnis, cuma kalo beli program dgn source
code harganyalebih mahal. Disini menterjemahkannya kalau beli program OS,
aplikasi bisa dapat source code-nya asalnya bayar juga beda. Dan ini banyak
terjadi koq. di bank-bank banyak yg beli source code-nya, terutama untuk aplikasi
retail dimana biasanya orang marketing sering membuat proruk baru.

>
> Selagi di university kita bisa "mengidolakan" open source dan itu
> sangat bagus untuk kemajuan teknology, tapi setelah masuk ke dunia
> Bisnis, saya rasa sudah tidak tepat lagi.
>

Bahkan di kantor saya waktu di bank dulu , pernah beli program. Tapi tidak beli
source code-nya tapi mendapat ijin lihat source code-nya. Dan tidak boleh
mengubah- ubah . Hanya diperbolehken liat saja. kalau mau beli dengan source
code-nya juga di kasih, harganya beda. Yg jelas berlipat2lipat.

>
> sekarang saya bertanya ....
> Siapa yang mau mengembangkan program yang canggih, yang sangat
> powerfull. Sampai sampai waktu buatnya perlu "puasa" dan "bertapa"
> berbulan-bulan. Dan setelah jadi "ditempel label" open source !
> dan tidak lupa "Harga Rp.XX,XXX ,untuk pengantian ongkos cetak".
>

Coba cek di www.s2systems.com, perusahaan itu masih ada lokasinya di Dallas ,
Texas, kalau mau beli aplikasi dgn soure code-nya juga boleh. Kebetulan saya juga
punya teman yg  kerja di perusahaan itu.  Ini hanya salah satu dari perusahaan
international yg bisa menjual program dengan source code-nya. Yg lain juga masih
banyak. Atau cek aja daftar vendor-nya NASA itu siapa saja, itulah daftar
perusahaan yg menjual program aplikasi dengan source code-nya.

Di indonesia sendiri juga ada koq..terutama untuk proyek2 pemerintah, diberikan
dengan source code-nya. Cek aja ke Pansystem, di Ps. Minggu yg beberapa
client-nya government juga kasih source code. Tentu saja bayarannya berbeda.
Masih banyak perusahaan yg lain mis. Citra Caraka, Tapi kalo cuma ditulis ongkos
cetak sih ...terlalu didramatisir....

>
> Kita tidak boleh munafik, kita perlu uang, anak kita perlu makan, anak
> kita pengen ke DisneyLand (wajar 'kan ? ), anak kita ingin kita
> sekolah kan di State misalnya (wajar juga 'kan).
>

Jadi yg membedakan cuma harga aja...jual sama source code-nya beda harga.  Itu
saja, jadi bukan maslah munafik atau bukan munafik.

>
> kalau semua "dunia" disuruh "open source", anak kita mau dikasih
> "makan" apa ? Apalagi kalau disuruh "freeware" !
>

kalau mau freeware sih itu terserah developer sendiri, kalau motivasinya untuk
amal yaa boleh2 aja, mau pamer juga boleh. dan untuk yg ini kan nggak ada yg
maksa.

>
> Ini buat orang yang profesinya "Developer Software", karena disanalah
> periuk nasinya !
>
> Dan bagi orang yang profesinya bukan "Developer", jangan banyak
> komentar, karena bisa nyenggol periuk nasi orang lain.
>

Wuih...galak banget nih ceritanya...take it easy , man ! Kita kan bermain dengan
aturan..masalah ada yg bisa mencari celah celah aturan itu yaa tergantung
kepintaran dia. Saya sendiri termasuk yg tidak keberatan kalau hrs memberikan
source code.

Sama halnya, anda di hire untuk masuk perusahaan, kemudian mesti modifikasi
program apl. ternyata source code-nya nggak ada, smentara pekerjaan harus
dilakukan untuk tuntutan bisnis..trus solusinya ? cuma 2 kan ..bikin baru atau
reserve engineering. Justru programmer-2 yg mau memberikan source code-nay itulah
yg akan banyak mendapat keuntungan. Toh sesudah 10 th dunia sudah berubah ...(
baca komenter saya mengenai PI dan 'PI').

Justru saya berpikir lain, source bisa menjadi nilai tambah bagi anda. Saya kasih
contoh begini.( saya juga kadang berkhayal bahwa kejadian ini bisa menimpa saya
),...

Ada perusahaan kecil yg didukung orang yg sangat qualified, mereka harus bersaing
dengan perusahaan IBM,Andersen Consulting, PwC, dan perusahaan gede seabrek
lainnya. User menginginkan sistem yg handal, cepat dan akurat..si perusahaan
kecil itu bisa memenangkan persaingan dengan mengatakan bahwa mereka mempunyai
source code, memberi tahukan cara mengakses data, pointer 2 yg digunakan dalam
aplikasi tsb, teknik akses data dengan sistem indexingnya apakah itu bikin dengan
B tree, atau hanya mengikuti aturan SQL versi ANSI tertentu...so ?? itu saja kan
kekuatannya...kalo hrs bersaing dengan nama besar seperti mereka ? no way , man!
That's the only  thing  that you can do..cuma kembali kepada rule di atas..tentu
saja bayarannya beda. Trus perusahaan itu bisa mendapatkankontrak kerja..tidak
kah terpikir cara demikian ?

Dan mungkin pula  pak Linus pun melakukan hal demkian untuk menaikkan nilai jual.
Itu adalah reward yg diterima dari perbuatannya mengembangkan linux.  disadari
atau tidak..( ** rasanya sih nggak, karena menurut pengakuannya sebelumnya dia
sangat culun, itu yg saya baca di info komputer **)


>
> Maka dari itu biarkan "system" berjalan sebagaimana mestinya, biarkan
> open source berkembang di university dan biarkan dunia bisnis
> berkembang di dunia-nya sendiri jangan ada saling intervensi.
>
> Best regards,
>  Agung                            mailto:[EMAIL PROTECTED]

Dunia ini tidak terpisah-pisah, tetapi saling berkait jadi jangan waktu kuliah
idealis, waktu jadi pejabat nggak idealis susah dong...Hanya saja yg perlu
diperhatikan adalah dalam organisasi yg lebih besar, ada porsi tersendiri  pada
tiap bagian itu. Dalam skala yg lebih kecil mis. perushaan porsi itu dituangkan
dalam job description.  Itu yg menunjukkan posisi kita ada dimana , kewenangan
kita ada dimana.

Bisnis bisa lahir dari bangku kuliah. Kita belajar, mengerti..bisa berpikir bisa
berbisnis. Ataupun dengan kuliah banyak teman bisa berbisnis.K uliah pun ada yg
didirikan karena kepentingan bisnis untuk sumberdaya manusia, dan tidak
terkecuali pula bahwa kuliah itu pun menjadi salah satu dari bisnis.

Ade

* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives     : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Langganan    : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Berhenti     : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke