2 + 4 = 6 juga 2 + 4 = 11 agar Open Mind
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ketika belajar matematika di SD kita pernah belajar "dasar bilangan" misal
contoh di bawah ini.
2 + 4 = 6 (dasar 10)
2 + 4 = 11 (dasar 5)
Nah kalau kita terapkan suatu operator yang sama pada "dasar bilangan"
yang lain tersebut maka aturan yang berlaku adalah aturan pada dasar
bilangan tersebut. Misal pada dasar 5 angka yang digunakan 0,1,2,3,4,
10,11, dst. Artinya bisa saja pada dasar bilang tertentu hasilnya
"sepertinya" berbeda dengan dasar bilangan lainnya (misal pada contoh di
atas 6 khan berbeda dengan 11). Dalam istilah matematiknya, operasi ini
terjadi di "ruang" matematika yang berbeda). Atau istilahnya ini
merupakan "formal language".
Tapi hal tersebut yang walaupun berbeda, tetapi tidak membuat bingung
orang. Ketika orang tersebut telah diberi tahu bahwa operasi tersebut
dilakukan pada suatu "ruang matematik" tertentu lainnya semuanya menjadi
jelas. Aturan yang diterapkan pada ruang matematik tersebut adalah
konsisten. Bayangkan kalau ada ruang matematik yang "kadang-kadang"
berbasis 10 dan "kadang-kadang" berbasis 5. Tentu orang jadi bingung
Kondisi ini inkonsisten ini berbeda dengan probabilistik jadi tidak bisa
di"counterexample"-khan. Operator di atas adalah yang terjadi pada ruang
"deterministik". (probabilistik adalah konsisten, tapi yang kita tidak
tahu event itu sebelumnya).
Hal yang sama juga terjadi, ketika kita "memanfaatkan" suatu produk untuk
mempelajari suatu teknologi (dalam hal ini saya berpendapat kita BUKAN
mempelajari produk tersebut, tapi mempelajari teknologi yang
DIIMPLEMENTASIKAN oleh produk tersebut). Sehingga saya mengambil posisi
mempelajari sistem operasi X bukan mempelajari cara operasi sistem operasi
X tersebut, tetapi mempelajari teknologi yang diterapkan oleh sistem
operasi X tersebut.
Syarat utama alat bantu yang digunakan dalam mempelajari sesuatu adalah
"konsistensi". (Begitu juga kalau kita anggap ruang bahasan adalah suatu
formal language, maka konsisten adalah sarat utama). Karena dengan
konsistensi akan memudahkan "pembahasan". Dan dengan konsistensi ini pula
maka "operator" di "ruang" tertentu dapat di"perluas".
Sebagai contoh misal operator "x" (perkalian)
2 x 3 = 2 + 2 + 2 = 6 (diperluas dari operator +, penjumlahan)
2^3 = 2 x 2 x 2 = 8 (diperluas dari opeartor x, perkalian)
Yang kalau kita terapkan dalam "ruang lainnya" operator ini juga dapat
dipahami (misal saya ambil bilangan dasar 2 atau biner). Karena proses
"perluasannya" berlangsung secara transparan dan konsisten.
10 x 10 = 10 + 10 + 10 = 110
10^11 = 10 x 10 x 10 = 1000
Nah, pemahaman akan perluasan operator ini dapat dilakukan pada suatu
"ruang" bila ruang tersebut memiliki konsistensi. Begitu juga dalam alat
atau produk yang digunakan untuk belajar. Apabila produk tersebut tidak
memiliki konsistensi dalam pengoperasiannya, maka sulit sekali si pengguna
mengambil "nilai inti" yang dapat di"perluas". Dengan kata lain si
pengguna sulit memahami "basic knowledge" dari teknologi yang diterapkan
oleh produk tersebut.
Perluasan suatu operator biasanya melibatkan pembuktian (atau penurunan)
yang bersifat terbuka dan konsisten. Sehingga si "pelajar" akan dapat
mengikuti dan memahami bagaimana proses "ekstensi" ini dilakukan. Dan
akhirnya berkata QED .. quad erat demonstantum..terbukti.
Misal pada contoh di atas terlihat bagaimana perluasan operator perkalian
dari operator penjumlahan. Atau operator "pangkat" merupakan perluasan
dari operator "perkalian". Bayangkan kalau hasil dari contoh operator di
atas tidak menunjukkan konsistensi "atau transparansi proses. Apakah si
"anak" didik mampu mengambil "hikmah"...?
Sulit sekali yang ada mungkin hanya sekedar pembentukan "Look Up Table"...
atau "IF..THEN"... yaitu
A ---> 2, kalau C ---> 5,...dst hingga n entri (rule)
Tanpa adanya penjelasan apa arti "pemetaan tersebut" sehingga fungsi
tersebut tidak dapat di"perluas".
Penguasaan materi secara "Look Up Table" yang diakibatkan didorong ketidak
konsistensian operator memiliki keterbatasan, yaitu dilema yang dikenal
dengan istilah "PLASTICITY vs STABILITY". Dilema ini timbul dikarenakan
"CAPACITY" dari Look Up Table itu terbatas (hanya ada n entri). Setelah
dilewatinya "kapasitas" LUT ini maka bila diberikan masukan terus menerus
akan terjadi proses "generalisasi"... titik stabil penyimpanan mulai
bergetar. Penyimpanan ini akan segera stabil, bila entri-entri yang masuk
memiliki konsistensi pola (adaptive resonance theory), sehingga akan
stabil pada nilai tertentu.
Untuk membuat Look up table sehingga bisa cukup plastis (bisa memungkinkan
dilakukannya ekstrapolasi), dan stabil (tidak hilang atau goyang isinya
alias kadang ingat kadang lupa), maka entri yang dimasukkan haruslah
konsisten pada nilai-nilai tertentu dan juga mencakup SEMUA atau SEBAGIAN
besar KASUS yang ada. Bila tidak konsisten, maka sulit sekali dimiliki
Look Up Table yang baik. Bila tidak cukup mengkover maka sulit sekali
melakukan ekstrapolasi.
Kelemahan lainnya dari metoda pengingatan atau penguasaan materi ala "Look
Up Table" ini adalah kemampuan ekstrapolasi. Artinya penguasaan materi
hanyalah yang pernah diakuisisi dan sulit mengadaptasi masukan baru di
luar dari yang pernah diterima.
Demikian juga ketika kita mempelajari teknologi komputer, kalau kita
menggunakan perangkat bantu (misal dalam hal ini sistem operasi dan
aplikasi) yang tidak konsisten serta terbatas "entri-nya" maka penguasaan
materi akan sangat terbatas, dan sulit melakukan ekstrapolasi terhadap
teknologi baru. Terlebih-lebih bila penggunaan teknologi tersebut tidak
memberikan "good practice" dan dorongan untuk mempelajari sesuatu hal.
Nah sekarang silahkan anda ganti kata-kata "entri" dengan jenis teknologi,
keterbukaan perluasan operator dengan ketersediaan source code, proses
IF-THEN dengan "kalau masalah ini click itu". Anda bisa menilai mana yang
cocok untuk dipakai memperkaya pengetahuan kita dalam penguasaan teknologi
informasi.
Belajar microkernel, monolitic kernel, belajar QoS, belajar WIMP user
interface, Zoom User Interface, 3D User Interface, belajar Schedule
Transfer Protocol (he.h.e apa lagi ini), memori manajeman, file system,
process manajemen, client server, traffic shaping, programming procedural,
descriptive programming , postmo programming, scripting, functional
programming, dan lain-lain. Dapat kita lakukan dengan memilih suatu jenis
alat bantu yang tepat. Tanpa terjebak kepada sekedar pemilihan produk
yang beragam. Bahkan kadang beragam produk tetapi dasar teknologinya
sama.
Jadi bukan Open terhadap berbagai jenis "produk" yang diutamakan tapi Open
terhadap berbagai jenis teknologi yang lebih dipentingkan. Hal ini dapat
kita capai dengan memilih "perangkat bantu" produk yang tepat. Yang
memungkinkan kita membangun pengetahuan dasar yang kokoh dan mampu
melakukan ekstrapolasi dan interpolasi terhadap teknologi baru yang akan
datang, atau bahkan turut mengembangkan teknologi tersebut.
Anda tahu apa yang memberikan begitu banyak variasi 8-) teknologi.
IMW
===========================================================================
I Made Wiryana (0521-106 5328) Universitas Gunadarma - Indonesia
Rechnernetze und Verteilte Systeme http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/made
[EMAIL PROTECTED] http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/majalah
Pendukung Open Source Campus Agreement - legal, cerdik, mandiri dan hemat
===========================================================================
* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Langganan : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Berhenti : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]