Maaf rekan2, saya baru bisa respon sekarang nih...
Diskusi mengenai hal ini rasanya harus diperdalam, sebab waktu demi waktu
kami tersiksa dengan hadirnya Ujian Mandiri (UM) ini...(*mungkin* para
alumni tidak merasakannya)
Saya setuju bila Gunadarma memberikan kemudahan supaya mahasiswanya bisa
menyelesaikan studi tepat pada waktunya. Namun tolong dilihat realita sbb:
MAHASISWA
- jadi enggan mencari ilmu, karena sistem pendidikan di Gunadarma (tentu
berikut UM-nya) malah mendidik mahasiswanya untuk mengerjakan ujian, bukan
untuk berpikir.
- yang tadinya belajar dengan baik dan bekerja keras (dan mungkin juga
mendapat nilai baik) menjadi tidak bernafsu untuk berprestasi, karena
mahasiswa lainnya yang mendadak mendapatkan nilai 1,0 lebih pada IP-nya
hanya karena mengikuti UM (dengan mutu soal yang rendah). Mahasiswa yang
sadar seharusnya tidak perlu merasa demikian, namun alangkah baiknya pihak
Kampus tidak menciptakan kebijaksanaan yang memunculkan iklim sedemikian rupa.
- dianggap "sarjana UM" atau "mahasiswa Gunadarma = sarjana UM" bagitu
keluar sedikit dari lingkup Gunadarma. Kalau sekedar "dianggap" sih masih
mending, namun pada dasarnya memang cuma bisanya mengerjakan ujian, tapi
tak mampu berpikir. Salah satu contoh, ketika konsultasi skripsi dengan
dosen pembimbing dari UI, langsung ditanya berapa banyak UM yang pernah
diikuti mahasiswa tersebut.
- tidak bisa bersaing di dunia pendidikan secara global, karena reputasi
perguruan tingginya tidak baik
- dan masih banyak lagi, tambah sendiri
DOSEN
- jadi enggan mengajar dengan baik..toh mahasiswanya bisa ikut UM bila ngak
puas akan nilai mata kuliah tersebut (bukan hanya bila ngak lulus).
- tidak bisa memberikan yang terbaik..mungkin bisa, tapi entah bagaimana
caranya, sebab nampaknya sangat sulit berbeda pendapat dengan pihak
Gunadarma (berbau sistem kerajaan)...vokal sedikit langsung *out*
- kualitas dosen menurun, karena tidak ada gunanya mengembangkan diri
YAYASAN PENDIDIKAN GUNADARMA
- dinilai masyarakat luas sebagai profit oriented..namun kalau memang
demikian adanya yah boleh buat apa..eh..apa boleh buat
- dinilai sbg perguruan tinggi (apa masih pantas disebut demikian) yang
aneh, karena ada pihak (oknum?) di bag. UM yang menjual "kupon" UM seharga
Rp. 2.000.000 kepada mahasiswanya.
- tidak akan mampu bersaing di dunia pendidikan internasional, karena
reputasi yang tidak baik sebagai perguruan tinggi. Namun demikian cukup
punya reputasi di dunia bisnis.
- pensuplai terbanyak (mengingat bisa >110 orang per kelas) generasi muda
yang tak suka/mampu berpikir, yang juga berperan membuat negeri kita ini
ngak maju2.
Apa masih layak semua dikembalikan kepada mahasiswanya?
Saya ingat apa kata Pak Made, sekali membajak ya tetap membajak, apapun
alasannya. Biar bagaimanapun, implementasi UM di Gunadarma mempunyai dampak
yang merugikan.
Mohon tanggapannya...
ps: Saya mohon kepada rekan2 mahasiswa yang masih aktif belajar di
Gunadarma supaya tidak menempuh jalur UM, melainkan belajarlah dengan baik
mencari ilmu, bukan nilai.
* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Langganan : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Berhenti : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]