On Thu, 25 May 2000, Ade Joen Ahmad wrote:

> Jadi nanya nih, Indonesia itu seperti apa ? (nggak pernah jadi dosen
> sih...hehehee) model bebas mandiri atau 'guidance' ? kalau saya lihat di
> gunadarma (lebih sempit sedikit boleh kan ?) lebih ke arah kemandirian .
> Saya lihat kalau universitas negeri juga begitu. Tapi kalau iniversitas
> swasta katholik agak berbeda, mereka 

Di Indonesia kita lebih "strik" pada guidance (artinya ada kurikulum
nasional yang harus diikuti, dan ada kurikulum di tingkat Uni) ada
definisi program studi dan mata kuliah tiap jenjang dengan jelas.

> Ada hal yg menarik 'Diplom degree di RVS group setara dgn lulusan master
> degree universitas terkemuka di US', apakah secara umum memang benar
 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
> belajar di science lebih bagus di banding di Jerman dan negara2 eropa
> lainnya ? Seperti setahu saya universitas di amerika mutu-nya sangat
> bervariasi. 

Tidak semua Dipl di Jerman akan diakui setara dg MSc (apalagi yang dari
Fachhochschule).  Kebetulan Bielefeld memang memiliki program kerjasama
yang banyak dg Uni di UK, dan USA, sehingga mereka melakukan penyetaraan
ini (tentunya ketika mahasiswa melakukan Dipl di Bielefeld, akan berbeda
dg Dipl di Uni lainnnya, karena diharapkan standardnya adalah MSc.  
Banyak Uni di daerah NRW (negara bagian saya) yang melakukan hal yang
sama.

> Di US = berdasar kemampuan umum, 
> Di UK = berdasarkan kemampuan khusus
> Di Jerman = berdasar sertifikat yg dikeluarkan lembaga pendidikan

Jadi pada dasarnya di Jerman akan ada dua hal yang berbeda antara jenjang
profesi dan jenjang akademis.  Pada beberapa bidang ada 2 jenjang ini yang
di"jadikan satu" (misal ketika orang mengambil Dipl. Ing) tapi ada yang
berbeda, misal dia mengambil bidang Hukum setelah akademis selesai dia
harus ujian profesi.

> Kalau begitu 'dalam bhs yg mudah' (bukan kesimpulan) , kalau mau belajar
> science ke Eropa, kalau mau sekolah bisnis ke Amerika. Kecuali bisa
> melilih secara jeli dari tiap detail university 

Mungkin tidak bisa disama-ratakan seperti itu. 8-)  Sangat tergantung per
Universitas, per Research Group, per Profesor, dan per pribadi.  Jadi
saran saya.. cari informasi sebanyak-banyaknya (dari Uni maupun dari
mahasiswa di Uni itu langsung).  Dan bandingkan dengan diri kita
masing-masing (he.he. saya sendiri sih dulu nggak gini.. lha dapat
beasiswa..he.he)

> Note : negara yg pakai wamil
> -jerman  1 th
> -di singapura 2 th lebih lama
> -Indonesia, dulu pernah ada..6 bulanan, tapi sekarang nggak pernah
> dengar lagi

Di Jerman kalau orang tidak mau ambil wamil 1 tahun, bisa mensubstitusi
dengan kerjaan sosial di masyarakat (Zivildienst).  Tapi ini harus
memiliki alasan yang kuat dan seingat saya harus maju ke pengadilan dulu.

Jadi secara umum, rata-rata mahasiswa pernah mengealami wamil 1 tahun.
Tapi mungkin ini yang menjadikan tidak ada dikotomi tentara-sipil.. lha
semua pernah merasakan jadi tidak ada ekskulisifitas dan kira-kira.

Oh iya.. waktu wamil sih mereka rata-rata diisi dengan pelatihan di bidang
yang diminati . Latihan militernya tidak terlalu banyak.
 
IMW


* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives     : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Langganan    : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Berhenti     : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke