Ada banyak faktor yg menjadikan belum, pertama mungkin kurang publikasi, ke dua ada 
banyak
fakta org2 pintar kita tidak memegang pemerintahan, sehingga arah pembangunan bangsa 
menjadi
'tidak terlalu jelas' ( ada fakta menarik ketika Li Teng Hui, terpilih menjadi presiden
Taiwan, salah satu kandidatnya adalah doktor teknis elektro, yg lain2 juga sebagian 
besar
berpendidikan mis. master ), dan juga adanya porsi reward yg tidak seimbang antara org 
yg
mempunyai nilai tambah dan dan tidak. Tapi yg ini rasanya mulai membaik.

Dan ada beberapa fakta sejarah (korea sangat rajin bekerja utk meraih ketertinggalan 
dari
jepang yg dulu adalah penjajahnya ), budaya ( mis. India, terhadap hitungan astronomy, 
mesir,
belanda ini bangsa pedagangya Eropa dimana kita tidak bisa meniru )

Satu lagi kebiasaan membaca yg kurang ( ditambah harga buku mahal, anggaran pendidikan 
rendah
). Jepang sangat mendukung beasiswa kepada mhs-nya sesudah kekalahan perang dunia ke 
2. Tapi
rasanya arah ke sana sudah ada. Ada satu nilai tambah karena tenaga kerja indonesia 
murah,
banyak perusahaan asing melakukan investasi disini dan utk tenaga tertentu mereka akan 
pakai
org lokal. Nah ini adalah arah menuju perbaikan. Kondisi ini sama seperti jaman 
penjajahan
org Belanda memakai org lokal sebagai juru tulis, nah dgn adanya kemampuan baca tulis 
inilah
menjadikan org lebih terbuka, hingga org sadar hrs merdeka.

Ade

adjie wrote:

> Ranking, Sekolah Science and Technology  se asia, menurut asiaweek
> dan ternyata indonesia masih di luar sepuluh besar, lagi-2 sekolah science dan 
>technology
> kita belum bisa jadi pemain di asia
> check this url
>
> http://www.pdat.co.id/edu/artikel/2000/index-isi.asp?file=05072000-1
>
> adjie



* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives     : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Langganan    : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Berhenti     : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke