Eko Rusdiyanto wrote:

> sistem memang perlu dirubah, namun yang lebih penting adalah
> menciptakan suasana belajar.

hmm...sistem apakah yang akan cocok bila pelaku sistemnya selalu
mempunyai niat yg "ajaib2"? Perlu dipikirkan (bahkan sudah dilakukan)
supaya ada sistem yang secara evolusif membentuk karaketer mahasiswa
sehingga menjadi pelaku sistem yang baik.

> menurut saya jawaban "kembali kepada para mahasiswanya" sudah menjadi suatu
> jawaban yang mendasar dan tidak dapat di pakai dalam suatu argumen karena
> masalah apapun akan terjawab dengan jawaban tersebut. hehehehe

Semua sistem atau argumen apapun, akan selalu mengeluarkan output yang
sesuai dengan input yg diterimanya. Jadi duluan mana, ayam atau telur,
mahasiswa atau sistemnya. Sekarang sudah terbentuk sistemnya, tapi kalau
mahasiswanya tidak juga mendukung sistem tsb, yah hasilnya juga tidak
baik. Memang baik-buruknya sistem pada permasalahan ini (Ujian Mandiri)
ibarat setipis kertas. Namun UM ini cenderung mendidik mahasiswa pd
jangka panjang, sebab nanti juga mereka yang akan merasakan akan "tidak
berartinya nilai tanpa ilmu".

> misalnya, seorang mahasiswa tingkat satu, sebut saja si Oncom, dengan penuh
> semangat untuk menjalani kuliah. lalu dia mengetahui adanya um dan manfaat dari um
> tersebut.  dengan adanya um mental si Oncom dapat terancam karena dia
> telah mengetahui "kemudahan" yang dapat diperoleh dari um. yang ahirnya
> mempunyai pikiran, "ah, ngulang cuek aja, kan ada um".

lho...silakan saja dia memanfaatkan UM sebagai sesuatu hal yang buruk...
toh nanti ia sendiri yang akan menanggung akibatnya. Disinilah peran
pihak kampus yang sudah menyediakan sistem untuk mendidik mahasiswanya.
Jadi, dgn kata lain, siswa2 yang maha tsb dididik, bukan disuapi.

> Jadi ada baiknya bila um di gundar dibatasi. Mis 5 sks persemester.atau
> nilai tertinggi utk um adalah B dan lain sebagainya.

lho...apa bedanya...sama sekali tak ada bedanya (dilihat dari tingkah
pelaku sistem selama ini (si mhs), dan juga hasil output sistem tsb).
Tetap saja um akan dimanfaatkan dgn tidak baik, misal: "kan lumayan
dapat 5 sks B, drpd E semua...", dsb. Lalu, mahasiswa tsb lagi2 disuapi,
bukan dididik oleh sistem berdasarkan kedewasaan mhs itu sendiri.
Dididik apanya? Yaitu pengertian mengenai pentingnya ilmu.

> Jadi yag udah berusaha keras utk dapet A dan melewati jalan yang legal tidak merasa
> kecewa dan merasa dihargai jerih payahnya ..... :)

Jadi apakah "tidak ikut UM" (tiUM) = legal ?
bisa juga kok tiUM dan dapat nilai bagus, misal:
tiUM krn jago nyontek
tiUM krn memang menguasai ilmu
tiUM krn super beruntung :D

Dan lagi, camkanlah:
"mengapa bagi yang mendapat nilai bagus krn menguasai ilmu harus merasa
kecewa atau jerih payahnya tidak dihargai, bila melihat mereka2 yang
mendapat nilai bagus krn UM?"

memang jerih payah dihargai melalui nilai?
memangnya nilai merupakan predikat atas jerih payahnya seseorang?
Apa dengan pikiran "perusahaan2 membutuhkan mahasiswa ipk tinggi", "spy
dapat beasiswa", dll, kita mengutamakan perburuan nilai...?

Jaman sekarang penghargaan terhadap jerih payah tidak lagi terhadap
nilai, melainkan terhadap ilmu yang dikuasai (kemampuan), penerapan ilmu
yg dikuasai tsb, karya, dan khusus bagi mahasiswa: pengabdian ke
masyarakat. Silakan berlomba2 mengumpulkan hal2 di atas, bukan nilai,
eh...tapi...terserah sih...kan udah dewasa...

> >Betul.. taruhlah dengan ujian mandiri para mahasiswa takut "citranya
> >sebagai" lulusan Uni tertentu jadi buruk, dan jadi nggak dapat
> kerjaan.
> >Sebetulnya nggak juga.  toh ada cara lain apa..
> >
> >Misalnya.. kalau memang tuh mahasiswa takut nggak dapat kerjaan dan
> >saingan dari mereka yang dapat niali bagus dari um.. ya gampang...
> >"Buktikan kemampuan anda".
> 
> Sayang disini blum banyak yg seperti itu ... ? Masih banyak yg cari
> selembar kertas ... :)

lha ini dia yg lucu. Di sisi si Oncom minta dihargai melalui nilai2
hasil "perburuannya", namun di sisi lain si Oncom tsb malah minta
dirinya tidak dihargai dgn cara berburu ke perush pencari kertas.

Dan lagi, jaman edan kaya sekarang, hanya Perusahaan Bloon yang nyari
ipk-ipk bagus para fresh graduate utk dipekerjakan. Krn Perusahaan Bloon
tsb pd dasarnya menimbulkan risk tinggi bagi kelanjutan hidup
companynya. Lagipula di jaman era internet sperti jaman edan ini,
mendingan si company berburu personil2 yang aktif di berbagai milis,
yang sudah menunjukkan kemampuannya, ada hasilnya, dan siap pakai, entah
dia lulus SD ato ngak...hehehe...ya ngak se-ekstrim itu lah :D

> Hebat khan gundar :).

Betul.

> Makin banyak mhs yg keluar berarti makin banyak mhs baru yg masuk. sayang
> kualitasnya tidak ditingkatkan :(

Salah.

Positive thinking: makin banyak mhs yg keluar maka makin banyak peluang
baru bagi manusia untuk bisa mengecap ilmu.

Mengenai kualitas, tergantung apakah mahasiswa itu mau dididik atau
tidak.

Mark.

* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives     : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Langganan    : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Berhenti     : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke