On Fri, 2 Feb 2001, Dayan wrote:
> >di Jerman ini serba "standard".
> Pak IMW, apa yang Anda maksudkan dengan "standard" ?
Standard yang disepakati bersama (sudah barang tentu) tidak semua pihak
menyetujui. Tapi setelah disepakati sebagai "standard" maka akan dipatuhi
bersama.
Standard ini meliputi, ukuran kertas, ukuran baju, UU, dsb. DIi Jerman
lazim memakai standard DIN.
> >belajar memahami standard
>
> Bagaimana cara mengajarkan hal ini pada anak-anak, atau orang yang
> tidak terbiasa mengenai hal tersebut ? Kalau sudah biasa dengan itu,
> kenapa harus menggunakan ini karena semata "well structured and well
> organized" ?
Bukan itu saja, sebetulnya bekerja dengan standard ada beberapa keuntungan
:
- Mempermudah pekerjaan (nggak usah mikir-mikir menurut selera, tinggal
ikuti standard)
- Tidak bergantung pada "person" tapi bergantung pada sistem. Ini
terlihat dari pekerjaan yang dilakukan.
- Kesinambungan pekerjaan lebih terjaga, karena dokumetnasi dan standard
jelas (bukan karena ketika si A menjabat dia memakai ukuran 50 x 50,
lalu ketika si B menjabat dia maunya pakai ukuran 60x40)
Mengajari "mennghayati" standard ini memang harus secara perlahan, dan di
Jerman saya lihat mereka tumbuhkan sejak dini.
> >anak klas 5 sudah paham A4, A3, A0 8-)
>
> Kalau di Indonesia, masalah rim dan Rim saja, belum ada yang
> memberikan penegasan, bahwa itu merupakan satuan 500 lembar, bukan 100
> lembar.
Hm..8-) belum ada atau "tidak disebarkan atau dimasyarakatkan". Banyak
standard yang sudah ada (di Badan Standard Nationa ?)
> >catatan itu disobek, dan diletakkan di "ordner" yang telah disiapkan. Jadi
> >berbeda dengan kita yang biasanya mencatat di buku yang berbeda-beda untuk
> >tiap mata pelajaran.
>
> Saya belum mencoba menerapkan hal ini, karena belum menemukan
> 'kelinci'nya...apa keuntungan dan kerugian cara pertama dan cara
> ke-dua ? Lebih hemat buku ? Kalau masa ujian terpaksa tidak dapat
> membawa semua "ordner" ke sekolah ? Kalau pakai buku, ada alasan untuk
> 'kenalan' ? ;)
Hm.. mungkin awalnya ktia belum melihat "keuntungan". Tetpai setelah
melihat dampaknya.. baru terlihat. Misal :
- Kebiasaan teknik mengarsip ditumbuhkan sejak kecil (terlihat jelas
antara orang rata-rata di Jerman dengan mahasiswa yang berpendidikan
tinggi 8-).
- Kebiasaan menemukan "pola" tertentu ketika melakukan pekerjaan mengarsip
- Dipaksa membaca catatan "minimal 1 kali" yaitu ketika mengarsip ulang
ke ordner
Kerugiannya :
- Butuh ordner (dan di Indonesia tidak murah)
- Butuh waktu tambahan
Kalau soal kenalan 8-), nggak perlu buku...juga bisa
IMW
* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Langganan : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Berhenti : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]