Mudah mudah gak terlalu telat, mungkin blom ada deregulasi pengenai
pernyataan Bp. Juwono ini yang di kutip pak Onno ya?

-(oO [EMAIL PROTECTED] Oo)-

--------------------------------
Tantangan Bagi Pendidikan Indonesia
oleh: Onno W. Purbo
20 Januari 2001


Membaca tulisan Pak Juwono Sudharsono MENDIKBUD tgl. 24 Agustus 1998 di
KOMPAS tentang delapan kompetensi dalam menyongsong globalisasi, tergelitik
hati saya untuk menuliskan sekelumit komentar berfokus pada kebijakan,
environment dan paradigma pendidikan menyongsong kompetisi global.

Pada dasarnya saya tidak mengingkari pentingnya ke delapan kompetensi Pak
Juwono untuk mengantisipasi kompetisi global. Jika Indonesia memang berniat
untuk memanfaatkan semaksimal mungkin kesempatan yang ada maka pengetahuan
akan pergeseran mendasar pada paradigma pendidikan masa depan akan memaksa
DIKBUD berpikir untuk melakukan perubahan mendasar kebijakan dunia
pendidikan. Karena itu perlu kebijakan strategis untuk menangkap kesempatan
yang ada.

Pergeseran drastis paradigma pendidikan itu terjadi karena aliran informasi
dan pengetahuan yang begitu cepat. Effisiensi teknologi informasi
Internetlah yang memungkinkan tembusnya batas-batas dimensi ruang,
birokrasi, kemapanan dan waktu. Hal ini telah terjadi di Indonesia, ini
ditandai dengan terkaitnya 40-50 lembaga pendidikan Indonesia ke Internet.
Saat ini sekitar 25+ lembaga pendidikan merupakan bagian dari AI3 Indonesia
yang terkait langsung pada gateway ITB.

Pergeseran paradigma sebagai konsekuensi logis percepatan aliran ilmu
pengetahuan yang akan menantang sistem pendidikan konvensional (juga
dijelaskan dalam konsep Nusantara-21 http://n21.ac-id.net) antara lain
adalah:

Sumber ilmu pengetahuan tidak lagi terpusat pada lembaga pendidikan formal
(SD, SMP, SMU, Perguruan tinggi) yang konvensional. Sumber ilmu pengetahuan
akan tersebar dimana-mana dan setiap orang akan dengan mudah memperoleh
pengetahuan tanpa kesulitan.

Paradigma ini dikenal sebagai distributed intelligence (distributed
knowledge). Fungsi guru/dosen/lembaga pendidikan akhirnya beralih dari
sebuah sumber ilmu pengetahuan menjadi mediator dari ilmu pengetahuan
tersebut. Proses long life learning dalam dunia informal yang sifatnya lebih
learning-based daripada teaching-based akan menjadi kunci perkembangan SDM.

Web, Homepage, Search Engine, CD-ROM merupakan alat bantu yang akan sangat
mempercepat proses distributed knowledge ini berkembang. Hal ini secara
langsung akan menantang sistem kurikulum yang rigid dan sifatnya
terpusat/mapan yang kini lebih banyak dianut dimana lebih difokuskan pada
pengajaran (teaching) dan kurang pada pendidikan (learning-based).

Ilmu pengetahuan akan terbentuk secara kolektif dari banyak pemikiran yang
sifatnya konsensus bersama yang tidak terikat pada dimensi
birokrasi/struktural jadi lebih bertumpu pada fungsi fungsional lembaga
pendidikan. Konsekuensi ekstrim yang terjadi, khususnya dengan adanya
paradigma generation lap (kebalikan dari generation gap) dimana
murid/mahasiswa memiliki ilmu yang lebih tinggi daripada guru/dosen - maka
guru/dosen tidak lagi dapat memaksakan pandangan dan kehendaknya karena
mungkin para siswa/mahasiswa memiliki pengetahuan yang lebih dari informasi
yang mereka peroleh selama ini.

Proses interaksi elektronik, diskusi melalui berbagai Internet mailing list,
newsgroup, IRC, Webchat merupakan kunci proses pembentukan collective wisdom
ini. Yang menarik di sini adalah dari sisi kurikulum, tidak akan pernah
terjadi kurikulum resmi yang rigid - kurikulum akan selalu berubah
beradaptasi dengan berbagai perkembangan sesuai dengan collective wisdom
yang diperoleh dari waktu ke waktu.

Akreditasi, sertifikasi, pengakuan akan lebih banyak ditentukan oleh
masyarakat profesional. Dengan kata lain masyarakat profesional yang akan
menjadi penilai (quality control) dari lembaga pendidikan yang ada. Kontrol
dilakukan dari kemampuan para alumni sehingga setiap lembaga
pendidikan/dosen/guru secara individual akan dinilai langsung oleh
masyarakat profesional.

Sebagai contoh, di ITB dikembangkan untuk sertifikasi komputer profesional
untuk sertifikasi MCP, MCSE, MCT bekerjasama dengan Microsoft yang merupakan
bagian dari program AATP http://ms-aatp.itb.ac.id yang sifatnya lebih
profesional daripada sekedar kurikulum formal pendidikan biasa. Track
record, Curriculum Vitae, Resume, referensi merupakan senjata yang jauh
lebih penting dan ampuh daripada sekedar ijasah resmi dari lembaga
pendidikan. Dengan adanya sertifikasi yang sifatnya global dan internasional
ini, konsekuensi yang menarik adalah seseorang dengan sertifikat global ini
dapat bekerja di mana saja (tidak tergantung batas negara lagi. Mengapa kita
tidak sekalian mengadopsi ISO 9000? Mengapa kita tidak mengambil sertifikasi
global dari lembaga internasional? Jika kita memang menginginkan utk
kompetisi global?).

Hal tersebut di atas jelas-jelas merupakan tantangan bagi konsep-konsep lama
di lembaga pendidikan formal, ujian negara bagi lulusan PTS maupun BAN PT.

Dalam pergeseran paradigma ini, training for trainers, (maupun kemampuan
untuk belajar terus-menerus) dalam tingkat kenaikan jenjang dosen merupakan
fokus yang perlu diperhatikan. Lembaga pendidikan harus melakukan investasi
secara periodik bagi guru dan dosennya jika ingin tetap memimpin di dunia
pendidikan.

Kegagalan dalam investasi guru dan dosen akan berakibat kalah dalam
persaingan merebut mahasiswa terbaiknya. Insentif bagi guru/dosen untuk
mendidik diri sendiri bukan datang dari jalur struktural/jabatan; juga bukan
dari jenjang karir fungsional tradisional (seperti asisten ahli, lektor,
guru besar) yang rigid. Reward yang lebih besar akan lebih banyak diperoleh
dari pengakuan yang diberikan langsung oleh masyarakat. Bayangkan secara
sederhana, betapa memalukannya jika ada seorang
profesor/lektor yang ternyata bahasa Inggrisnya patah-patah dan belum pernah
menulis dalam jurnal internasional. Akhirnya semua kembali kepada masyarakat
profesional yang akan menilai kualitas sebenarnya seseorang.

Prasyarat lain yang akan mempercepat pergeseran paradigma dunia pendidikan
adalah kompetisi bebas, pasar bebas dan hilangnya monopoli. Kemungkinan
prasyarat ini yang akan menghambat di Indonesia karena lambatnya adopsi
kompetisi bebas di Indonesia. Akan tetapi saya yakin, cepat atau lambat dan
mau tidak mau kompetisi bebas akan berjalan di Indonesia karena desakan
dunia global. Bagi kami yang bergerak dan betul-betul hidup mengambil
manfaat dalam dunia informasi berbasis Internet, sebetulnya kompetisi bebas
dan perdagangan bebas telah beberapa tahun ini kami nikmati - bahkan resesi
ekonomi belum terlalu parah dirasakan. Mudah-mudahan hal ini dapat menggugah
sedikit sebagian dari kita yang belum mengambil manfaat maksimal dari
Internet.

Setelah mengetahui perubahan yang mendasar dari paradigma pendidikan, apa
yang perlu dan bisa kita lakukan sebagai bangsa Indonesia?

Terus terang pendapat saya pribadi sebagai orang Indonesia akan sangat
sederhana yaitu mari kita manfaatkan sebaik-baiknya kesempatan yang semakin
terbuka untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan sertifikasi profesional ini
untuk kebaikan nasib kita masing-masing.

Pendidikan formal bukan lagi satu-satunya media untuk mengembangkan diri,
karena ilmu pengetahuan dapat diperoleh dari mana saja. Perlu dicatat bahwa
sertifikasi dan akreditasi pun sebetulnya dapat diperoleh dari mana saja
seluruh dunia tanpa tertahan oleh batas negara. Secara ekstrim sebetulnya
hal ini merupakan tantangan secara langsung bagi konsep ujian negara PTS,
BAN PT dan lain-lain yang dikembangkan DIKBUD.

Bahasa Inggris akan menjadi salah satu aset yang sangat penting untuk dapat
mengakses sumber ilmu yang terdistribusi dan menjadi rantai dalam collective
wisdom ini. Selain berbahasa Inggris, kemampuan untuk membaca, mencerna dan
menulis (menghasilkan) informasi/pengetahuan dengan menggunakan teknologi
informasi (Internet) akan sangat strategis untuk dapat memperoleh keuntungan
dan manfaat yang besar dari keberadaan teknologi informasi.

Perlu dihayati bahwa kompetisi akan cukup ketat untuk memperoleh akreditasi
dan sertifikasi terbaik. Kerja keras dan kerjasama kemitraan strategis dalam
sebuah kelompok akan sangat menentukan keberhasilan kita dalam penetrasi
pasar. Belajar dari kuliah di kelas saja tanpa mempunyai visi dan kemauan
yang kuat untuk bertempur di dunia profesional tidak akan cukup. Aktif dalam
dunia dan kegiatan mahasiswa, maupun membantu kelompok-kelompok penelitian
yang ada di masing-masing lembaga pendidikan akan sangat membantu membentuk
kemampuan kompetisi yang tangguh.

Bagi dunia pendidikan, skala ekonomi akan dapat dengan mudah dikembangkan
dengan bertumpu pada teknologi informasi. Beberapa strategi mendasar dapat
dicakup dalam beberapa sektor, antara lain adalah:

Sektor substansi:

Pembentukan platform untuk diskusi, komunikasi dan pengambilan
keputusan/antara senat perguruan tinggi, eksekutif, staf, mahasiswa dan
alumni. Platform ini penting untuk proses iterasi/feedback/open
evaluation/society audit dan adaptif/character building/re-engineering
platform dan demokratisasi kampus. Di sini Internet menjadi salah satu
alternatif.

Di sini akumulasi pengetahuan yang dihasilkan secara lokal; perpustakaan dan
mekanisme akumulasi paper/thesis menjadi sangat strategis.

Diadakan juga re-engineering metoda pengajaran dan pendidikan yang sebaiknya
didalamnya tercakup juga collective learning dan knowledge
accumulation/building/manegement. Berikut pembelajaran tentang bagaimana
cara belajar.

Sektor servis/jasa:

Sertifikasi Global dan Akreditasi professional; misalnya
ISO9000/MCP/MCSE/MCT/P.Eng. Biarkan organisasi profesional dan global yang
mengakreditasi sebuah lembaga pendidikan bukan pemerintah.

Orientasi diarahkan ke orientasi global, mengadakan kerjasama luar negeri
dan pengiriman SDM ke manca negara.

Diperlukan kemitraan dan aliansi strategis pada tingkat nasional dan
regional dengan berbagai lembaga pendidikan/commercial research
centers/industri. Untuk ini perlu pula diadakan negosiasi pada tingkat
nasional untuk insentif kerjasama dengan dunia pendidikan.

Konsep aliansi untuk kerjasama pendidikan jarak jauh ini perlu dikembangkan
dan didukung oleh DIKBUD. Jangan sampai terjadi ada kesan "monopoli" bahwa
bagi penyelenggaraan pendidikan jarak jauh hanya bisa dilakukan oleh
Universitas Terbuka (UT) saja.

Sektor Manajemen/Supporting System:

Re-engineering manajemen kampus, untuk menghilangkan dimensi fisik kampus;
contoh menghilangkan batasan fisik kampus dalam operasional universitas;
mengadopsi konsep mahasiswa part-time, mahasiswa profesional.

Sebagai contoh di sini dapat dibayangkan kalau mahasiswa ITB tidak hanya
berada di Bandung, tapi juga di Irian Jaya, di Aceh, di Padang.

Re-engineering manajemen kampus, untuk menghilangkan dimensi waktu dan
membuat proses pendidikan menjadi lebih adaptif terhadap perubahan. Di sini
waktu belajar siswa/mahasiswa menjadi lebih fleksible - tidak harus seorang
mahasiswa D.O. hanya karena tidak tepat waktu misalnya.

Re-engineering otoritas perguruan tinggi, untuk melihat sebuah perguruan
tinggi sebagai sebuah corporate. Otoritas finansial dan open management
didistribusi yang dapat diaudit. Business plan and cash flow menjadi
imbedded dalam proses khususnya penting bagi lembaga pendidikan negeri.

Adalah harapan bagi kita semua bahwa semakin banyak drop-out sekolah
menengah yang nantinya dapat meneruskan pendidikannya ke perguruan tinggi.
Mudah-mudahan strategi yang diusulkan ini dapat memperlebar daya serap
dunia pendidikan di Indonesia.

Onno W. Purbo, pengamat pendidikan (ITB).

adopted from supersiswa.com




* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives     : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Langganan    : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Berhenti     : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke