mungkin saat yg baik untuk sebuah penyegaran...
---
Mark Rompies
[EMAIL PROTECTED]
---------- Forwarded message ----------
Date: Tue, 27 Nov 2001 19:51:25 -0600
From: Moko Darjatmoko <[EMAIL PROTECTED]>
Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Subject: [telematika] To steal or not to steal ... (Was: software bajakan)
Dear Netters,
Mengikuti perdebatan seputar issue pembajakan software (terutama setelah
pihak Microsoft memenangkan gugatannya di pengadilan) di list ini, saya
ingin sedikit urun rembug dengan melampirkan tulisan saya di Pau-Mikro
awal tahun lalu [edited for typos] -- kelihatannya masih relevan:
-----
Date: Wed, 19 Jan 2000 13:03:21 -0600
To: [EMAIL PROTECTED]
From: [EMAIL PROTECTED] (Moko Darjatmoko)
Subject: [pau-mikro] To steal or not to steal ... (Was: software bajakan)
Issue software bajakan yang mencuat lagi ini mengingatkan saya pada
obrolan lama dengan mahasiswa asal Indonesia. Waktu itu saya lemparkan
pertanyaan: "Ada tetangga yang punya banyak ayam [bisnisnya memang
beternak ayam] ... Apakah kalian pernah punya pikiran untuk mencuri ayam
tersebut. Kalau ya, lalu apa motivasinya?" -- Saya tambahkan, bahwa ini
bukan sekedar "hypothetical question", jaman mahasiswa di Bandung dulu
ada teman saya (anak kos-kosan atau patungan kontrak rumah) yang nilep
ayam tetangga, disembelih, kemudian digoreng dan dimakan rame-rame.
Ternyata pertanyaan ini menyulut diskusi yang bersemangat (sampai ada
yang lupa pergi kuliah). Kebanyakan mereka menjawab "NEVER!" tetapi ada
juga yang memberi "conditional clause": "Well ... mungkin ... kalau
sudah kelaparan dan tidak ada lagi yang bisa dimakan ... you know, kalau
sudah sampai soal "mati-hidup"... tetapi sebelum mencuri, saya akan
ketuk pintu, coba dulu minta minta secara baik-baik sama pemiliknya."
Sungguh ironis, karena beberapa menit sebelumnya majoritas peserta diskusi
ini menganggap "membajak" software sebagai sesuatu yang "okay" - memang
tidak ada yang bilang itu perbuatan yang baik, tetapi kebanyakan merasa
itu sesuatu yang "perlu" dilakukan [dengan segala macam alasan yang
"meyakinkan"]. Dilain pihak "mencuri" ayam dianggap sebagai satu perbuatan
jahat, perbuatan yang hina, yang harus dihindari "at all cause" kecuali
satu orang yang menjawab "mungkin"-- itu pun kalau memang amat sangat
terpaksa, ada alasan mati-hidup. Nah sekarang mari kita pikirkan: apakah
ada alasan bahwa membajak atau mencuri software yang bisa dimasukkan dalam
kategori survival "mati hidup"?
Penggunaan bahasa atau permainan kata-kata sangat berperan disini.
Pertama-tama istilah "membajak" ayam terasa janggal kalau mau dipaksakan
sebagai substitusi "mencuri," sedangkan istilah "mencuri" software
hampir tidak pernah kita pakai dengar. Perbuatan "membajak" (atau
"pricay") punya konotasi yang lebih romantik dan heroik, ketimbang kata
"mencuri" -- konsekuensinya, mereka yang "membajak" software merasa
kurang "berdosa" ketimbang kalau dia "mencuri" sesuatu. Padahal
substansinya ya sama saja: mengambil yang bukan haknya.
Bahasa Indonesia dalam beberapa dekade belakangan ini sungguh kaya akan
penghalusan (euphemism) yang mengaburkan atau bahkan meningkatkan
derajat kata "mencuri" menjadi sesuatu yang kurang jahat, perbuatan yang
tidak perlu dihindari "at all cause". Contoh yang masih hangat adalah:
kebocoran, KKN, kolusi, salah prosedur, salah urus, inefisiensi
(Pertamina dan Bulog), dst. Padahal semuanya itu ya artinya ya sama
saja: *mencuri*, yang berarti mengambil atau menggunakan sesuatu yang
bukan haknya. Sebetulnya semua perbuatan tersebut sama hinanya dengan
perbuatan mencuri ayam, bahkan skala dan dampak sosialnya jauh lebih
besar.
Kembali ke topik "membajak software" --atau mungkin lebih baik disebut
sebagai *mencuri* software-- berikut ini saya kutipkan "fakta" statistik
dari pencurian atau perampokan massal ini di Amerika:
+ Software piracy cost 109,000 jobs in the US alone 1998. By
2008, it is estimated that number will reach 175,700. One of
those could be your kid.
+ Software piracy cost the US computer industry $2.9 billion in
1998--money that would have been much better spent creating
jobs and building better products.
Seperti halnya pencurian di toko (shoplifting) atau penyalahgunaan
credit card, pemilik toko atau bank penjamin akan kehilangan uang kalau
ada yang mencuri produknya ("tidak membeli dengan semestinya," kalau mau
diperhalus dengan euphemism). Untuk bisa tetap berbisnis, mereka harus
"pass on the cost to the consumers." Jadi, yang sesungguhnya terjadi
adalah para pemakai software yang jujur itulah yang harus menanggung
beban biaya ekstra ini, dengan membayar harga yang lebih tinggi,
sementara para "pembajak" ini cengar-cengir --merasa tak bersalah--
menikmati hasil curiannya.
Urusan baik-buruk atau moralita memang akhirnya kembali kepada hati
nurani masing-masing, tetapi tidak bisa disangkal bahwa keputusan
pribadi para individu ini punya dampak pada masyarakat luas. Dampak
paling hebat, kerugian paling besar (dan melumpuhkan) adalah matinya
motivasi, dan selanjutnya kreativitas untuk mencipta. Kita boleh
berdebat panjang soal kaitan sebab-akibat ini, seakan ini merupakan
conundrum "chicken and egg", tetapi jelas bahwa bangsa Indonesia selama
satu dekade belakangan ini praktis tidak memunculkan apa-apa dalam dunia
software. Ini bukan karena IQ manusia Indonesia itu begitu jongkoknya,
tetapi lebih karena tidak adanya motivasi mencipta ("ngapain ... paling
nanti juga dibajak orang lain").
Ya, saya sering mendengar "keluhan" tentang ekonomi nasional yang
morat-marit, daya beli yang masih sangat rendah ... jadi sah-sah saja
membajak software. Wah, kalau pakai logika seperti ini, kembalikan
pada metafor mencuri ayam diatas: apakah anda pernah dengar ada orang
mencuri ayam tetangga karena kangen sama ayam goreng Mbok Berek
tetapi tidak punya duit untuk beli? Harus diingat bahwa disini tidak
ada alasan "mati-hidup", disamping itu alternative software yang
gratis (freeware, shareware, public-domain, open-source, dll)
bertebaran dimana-mana. Mungkin tidak se-glamorous MS-ware atau
selezat ayam mbok Berek, tetapi bukankah banyak software gratisan
yang functional, dan jelas legal/halal. Atau lebih baik lagi, situasi
"buruk" ini justru bisa jadi tantangan untuk menulis software
sendiri. Asli "Made in Indonesia"!
Kembali ke subject tulisan ini, "To steal or not to steal" ...
mungkin ini bulan yang tepat untuk menanyakan kepada diri kita
masing-masing.
-- [mungkin] ada sambungannya ...
Moko/
Madison, Wisconsin
Moko/
Madison, Wisconsin
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
See What You've Been Missing!
Amazing Wireless Video Camera.
Click here
http://us.click.yahoo.com/75YKVC/7.PDAA/ySSFAA/J3DolB/TM
---------------------------------------------------------------------~->
Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/
---------------------------------------------------------------------
http://www.nawala.com
http://www.rancangimaji.com
http://www.arusimaji.com
* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Langganan : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Berhenti : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]