On Wed, 10 Oct 2001, Avi Heidir wrote:

> Hi Made,
> I think you are missing the point here....

I did not miss the point. Tolong diliat dalam konteks apa saya membalas
"hak dan kewajiban" mahasiswa tsb. Maybe you miss the big picture in this
discussion.

> Yang di bahas khan mahasiswa merasa rugi sudah mengeluarkan biaya untuk
> 'service' yang tidak di dapat. Memang 'kewajiban' mahasiswa bukan hanya
> membayar uang kuliah, tapi kewajiban belajar itu adalah kewajiban mahasiswa
> terhadap diri sendiri, bukan terhadap pihak sekolah...

Tolong dilihat lagi dari posting sebelumnya 8-).  Dan konteks secara
total.

Hubungan mahasiswa sekolah dalam konteks client server memang sudah
terjadi pada saat ini.  Tetapi bukan dalam arti seperti yang sering ada
dalam benak mahasiswa atau "masyarakat".  

Misal "biaya" yang diberikan oleh mahasiswa kepada Universitas itu "bukan
saja dikembalikan dalam arti "perkualihan" thok.  (dalam arti kalau nggak
ada perkuliahan dia akan rugi).  Karena kalau pembicaraan "client-server"
dalam konteks seperti ini, maka menjadi tidak berarti konsep "Open
University", "eLearning", dan segalanya itu 8-)  Yang sama sekali (atau
sedikit sekali) perkuliahan. (he.he katanya mau jaman serba eLearning,
Internet atau mbuh apa lagi.... koq masih mengandalkan "tatap muka di
kelas ?").

Pada paradigma pendidikan Universitas sekarang ini, Uni sudah bergeser
dari "lembaga pemberi instruksi pelajaran" (via perkuliahan) menjadi
lembaga penyedia fasilitas (istilahnya dari instruktor ke fasilitator).
Jadi bisa dikatakan paradigma Universitas sekarang ini malah kembali ke
model Plato Academy, yaitu student bukan dianggap "target" dari knowledge
transmision, tetapi dianggap sebagai "companion". Sehingga peran
Universitas lebih kepada "midwife, matchmaker, atau master of ceremony
dari banquet.  

Nah tugas Uni untuk menyediakan fasilitas "untuk menjadikan pintar"
sendiri bisa dideliveri (kalau mengambil konteks "client-server delivery
mechanism") dalam bentuk, fasilitas Lab, perpus, perkualiahan, atmosfir
diskusi, keberadaan dosen-dosen (bukan hanya dosen yg di kelas),
working-group, eLearn, materi multimedia, administrasi, penyediaan SDM
dll, dlsb.  

Yang semuanya itu jelas membutuhkan waktu, biaya dan tenaga 8-) Nah
duitnya dari mana, ya dari SPP mahasiswa, emang murah nyekolahin dosen ke
LN, atau ke DN..he.he.he. emang murah beli peralatan Lab yang sering
"dirusak", emang murah ngisi buku perpustakaan yg sering "dihabisin", Buat
PTN mungkin tadinya mendapatkan subsidi yang cukup besar dari pemerintah,
ataupun keringanan biaya operasional dan pengadaan SDM.  Tentu saja
ceritanya jadi lain.

Jadi "perkuliahan" atau tatap muka itu adalah "salah satu" dari fasilitas
yang "harus disediakan". Dengan kita beranggapan bahwa "perkuliahan dan
kehadiran" dosen adalah segalanya (misal dianggap sebagai suatu indikasi
tercapainya kontrak "client server" antara mahasiswa - universitas),
artinya malah kita berjalan mundur dari konsep pendidikan saat ini.  
Konsep pendidikan yang masih "menomor 1 kan" tatap muka perkuliahan itu
sebetulnya malah "mundur".

Artinya bukan berarti kehadiran dosen itu "diabaikan" tetapi jangan
dinilai sebagai "komponen" UTAMA dalam penilaian kontrak "client-server"
antara mahasiswa-uni. 8-). Sehingga "hubungan" menjadi tidak "one to one"
untuk tiap deliveri fasilitas tersebut (sebagai contoh kalau kita itung di
Unviversitas Jerman, 1 semester paling mahasiswa dapat kuliah 1-2 kali
dalam 1 minggu, lainya diskusi latihan sendiri dsb, dll), itupun dg jumlah
tidak sampai 12 kali pertemuan.  (maximal 10 kali pertemuan untuk 1 mata
kuliah).

Jelas dengan cara itu kita melihat "kerangka hak dan kewajiban" tidak
menjadi "satu per satu". Dengan kata lain "saya bayar SPP" dosen "penuh
ngajar".  Nah bisa saja "misal" dosen tersebut nggak ngajar, tapi
memberikan hal lainnya yg bersifat pemberian materi.???? 

> Sedangkan kewajiban mahasiswa membayar uang kuliah merupakan kewajiban
> mahasiswa terhadap pihak universitas untuk mendapatkan 'hak'nya. Salah satu
> 'perjanjian' antara pihak mahasiswa dan pihak sekolah adalah 'transaksi'
> belajar-mengajar, dimana sudah di sepakati bahwa mahasiswa dan dosen akan
                     ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
> melakukan proses belajar-mengajar pada waktu dan tempat yang ditentukan.
> Proses belajar-mengajar ini bisa berupa kuliah (proses satu arah) atau
> diskusi (proses dua arah). Yang jelas dalam proses belajar mengajar ini ada
> transaksi 'ilmu' .... bertukar pikiran dan ideas...

Masih ingat batasan SKS (Satu Kredit Semseter) ???? ( SKS didefinsikan
sebagai 1 jam perkuliahan (atau tatap muka) dan 4 jam waktu di luar
perkuliahan ygn dilakukan oleh mahasiswa sendiri).  Nah kalaui kita ingin
"stick" kepada aturan di atas sebagai suatu "ikatan kontrak" antara
mahasiswa dan Uni.  Maka dengan mudah  Uni menyatakan bahwa mahasiswa
telah "break the contract". Karena telah "melanggar" kesepatakan dari
sistem SKS itu sendiri 8-)

Karena Uni telah berusaha memenuhi "kewajiban yang 1 jam" tetapi mahasiswa
tidak melakukan yg 4 jam tsb 8-).  Nah untungnya pendidikan tidak berlaku
dalam penerjemahan seperti di atas 8-).  Apalagi di jaman sekarang ini,
proses belajar mengajar antara "dosen dan mahasiswa" itu SUDAH tidak dalam
mekanisme "sender dan recipient" tapi lebih kepada suatu bentuk fasilitasi
saling menemukan sendiri permasalahan, dan membahas permasalahan.

Tentu saja diskusi sebetulnya akan lebih menarik dan berfungsi kalau yang
ditanyakan "DOSEN SAYA SERING TIDAK MASUK, TERUS GIMANA CARANYA SAYA BISA
PAHAM" (misal kemudian diatasi dengan pembentukan working group antar
mahasiswa, mahassiwa-alumni, mahasiswa, dg dosen lain).  Email sudah ada,
mailing list sudah ada, kenapa tidak dimanfaatkan.

Mungkin akan lebih konstruktif pertanyaan seperti ini 8-)

> Trus kalo mahasiswa yang sering tidak hadir gimana? Lho, khan kalo tidak
> hadir ada konsekuensinya--> nilai jeblok , nggak dapet ilmu, dsb, dsb....
> Mahasiswa tidak boleh dianggap sebagai anak kecil lagi, kalo dia sering
                                    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~1
> tidak masuk, dia sendiri yang menanggung konsekuensinya...tapi kalo dosen
                    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 2
> sering tidak masuk, yang rugi (kehilangan kesempatan bertukar pikiran dan
> idea dengan dosen) adalah seluruh Mahasiswa yang sudah hadir menunggu...

Bila mahasiswa ingin berada tidak pada posisi anak kecil lagi, mungkin dia
tidak terlalu mempermasalahkan dosen ada atau tidak 8-). Alasan kesempatan
kehilangan kesempatan diskusi atau "tukar menukar idea", karena tidak ada
dosen... heh.e.h koq sepertinya dibuat-buat 8-)  Ada email, ada milis, ada
sarana lainnya ?

Saya sering melakukan diskusi via irc, milis, messenger, kepada mahasiswa
yg memang ingin berdikusi, banyak di antara mereka yg saya bimbing
skripsinya 8-).  

Oh ya, sebetulnya ada semacam kontradiksi dalam pernyataan anda :

Pernyataan nomor 1 dan 2 di atas adalah pernyataan yang benar kalau memang
mahasiswa udah dewasa 8-), dia tidak masuk maka DIA HARUS menanggung
akibatnya. Makanya saya jadi bingung kalau kondisi itu malah dianggap
salah.  Bukannya orang dewasa adalah mereka yang mau menanggung resiko
akan perbuatannya ???

Menurut pengalaman saya 8-) biasanya kalau memang mahasiswanya yg "malas"
maka dosen ada atau tidak ada, dia tidak akan tukar menukar idea..he.he.h
Tapi kalau memang mahasiswanya rajin mereka akan coba cari cara
alternatif, dosen kelasnya nggak masuk, dia masuk ke kelas lain.  Dosen di
kelasnya nggak enak, dia masuk ke kelas lain.  Saya kenal banyak mahasiswa
Gunadarma melakukan hal itu 8-)  Karena memang pada niatannya untuk
belajar, bukan sekedar datang, absen, nyatet dari dosen di kelas, dan
syukur-syukur ujiannya lulus.

Hayo.. coba "jujur" 8-)

> Kalo saya di posisi mahasiswa terus terang saya merasa rugi. Saya sudah rugi
> uang dan waktu. Saya akan melaporkan ke koordinator mata kuliah atau ke
~~~~~~~~~~~~~~~~
> Dekan fakultas...

> Di bawah ini saya kutip mission statement dari California State University,
> Fresno faculty board.
> 
> At Fresno State we believe the STUDENT is No. 1

Bisa di"ratio" uang sekolah di sana dan di Gunadarma 8-).  Memang dalam
model pendidikan sekarang apalagi yang "dibiayai mahasiswa" Student adalah
No.1 tetapi bukan berarti dia harus dilayani dan selesai bayar SPP
semuanya terpenuhi 8-).

Terkadang ketika kita di LN, kita lupa membandingkan situasi di
Universitas di LN dan di Indonesia.  Memang ketika kita di LN kita
seharusnya jadi "mata" melihat hal positif, dan membawa ke sini dg
penyesuaian di situasi setempat.  Uni seperti Gunadarma jelas menanggung
biaya dan kompleksitas jauh lebih tinggi dari Fresno (saya berani
taruhan.... rektor Fresno diminta jadi rektor Gunadarma bisa pusing kepala
nggak karuan.he.he.he.he)

Saya sering membandingkan sistem Uni di LN, dan di Gunadarma, tapi saya
berusaha tidak membandingkan dg "buta".  Tapi lihat kompleksitas yang ada,
lihat latar belakang, lihat kondisi masyarakat.  Sebagai contoh, dosen di
Jerman/Australia bisa aja di depan kelas bilang.. "saya nggak ngerti
masalah yang akan saya ajar secara ditail, untuk itu, ayo satu persatu
presentasi"... 8-) kalau di Indonesia.. mahasiswa langsung teriak "payaaah
nih dosennya nggak menguasai" .he.he.he

Kenapa dosen di Gunadarma nggak masuk kelas ?(bisa aja dia frustasi karena
melihat mahasiswa di kelas lebih asyik ngobrol, ada yg ngerokok, diminta
baca nggak ada yg baca, diminta nanya nggak ada yg nanya, disuruh bikin
tugas, hasilnya sama semua..he.h.ee.hayo..... 8-))

Wah kalau mau di"list" keluhan dosen yg bikin frustasi ngajar (di luar
masalah gaji dsb), mungkin lebih panjang lagi......

> Sekali lagi kewajiban mahasiswa belajar tidak ada hubungannya dengan
> kerugian mereka karena tidak menerima 'service' dalam proses belajar
> mengajar.

Di Jerman juga "Student is No.1" dalam arti, mereka yang menentukan diri
mereka sendiri 8-) mau jadi pinter, mau bolos, mau nggak datang.
Perkuliahan relatif kecil jumlahnya 8-) (dibanding perkuliahan di
Indonesia jauh frekuensinya lebih banyak).  Dengan "gaji" seperti yg
diterima dosen Indonesia saya masih salut.. bisa mengajar serajin "itu".
(bandingkan kalau anda di profesional trainnning center 8-)

Hak dan kewajiban adalah hal yang "sejajar" dan tidak bisa di"ambil one to
one" dalam kaitannya di dunia pendidikan.  

Saya sendiri lebih melihat hal yang menyebalkan dari ketidak hadiran dosen
adalah mahasiswa udah keburu dateng ke kampus 8-) Bukan dari bisa atau
tidaknya dia mendapatkan "ilmu" 8-).  Dengan "memasang" pandangan bahwa
perkuliahan hanyalah satu-satunya cara untuk mendapatkan ilmu atau
berdiskusi maka kita menempatkan mahasiswa sama dengan siswa SMA alias
belum dewasa.

IMW 
"Masih dosen tetap Gunadarma, pernah ngajar di Australia, dan Jerman" 8-)



* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives     : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Langganan    : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Berhenti     : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke