Salam sejahtera... At 11:58 12-03-2002 +0100, IMW wrote:
>Jelas saja si dosen sering merasa "jengah". Ketika mendengar kritik >ataupun pendapat mahasiswa yang memakai "gaya bahasa lain". Saya bukan dosen, namun kegiatan sampingan yang dilakukan adalah memberi les matematika. Yang saya lakukan adalah menciptakan hubungan belajar bersama, bukan mengajarinya. Kalau saya belum bisa menyelesaikan sesuatu, saya tidak akan segan menunda penyelesaiannya, yang belakangan biasanya terjadi karena keliru meletakkan tanda matematika. Dengan cara begini, yang dipentingkan adalah alasan menjawab A dan mengapa bukan B. Tentunya ini merupakan bagian penting dari pemahaman bahan pelajaran, karena Benar atau Tidaknya sesuatu bergantung pada pemahaman yang dipunyai. >Tentu saja, si dosen sendiri banyak yg minim kemampuan >berdiskusi/berkomunikasi Sependapat. Justru saya lebih memahami matematika ketika mengajarkannya. Saya sendiri tidak cemerlang dalam hal ini, namun teranugerahi kemampuan untuk membukakan pengertian orang. Pelatih andal tidak selalu merupakan pemain yang andal pula. >Bila kita "dosen/mahasiswa" sudah terbiasa/terlatih berdiskusi/komunikasi >tentunya akan memiliki "tingkat toleransi" yang besar, Saya justru mempelajari hal ini dari para romo Katholik. Pemahaman bahwa kita semua memiliki kekurangan, bisa membuat kita lebih sabar dan -semoga- lebih arif. >Jadi sebetulnya kembali lagi ke masalah dasar "Komunikasi" Makanya timbullah yang 32,5 miliar itu... ;) Sharif Dayan di Palembang -*=*=*=*=*=*=*--*=*=*=*=*=*=*- http://www.ksatrian.or.id -*=*=*=*=*=*=*--*=*=*=*=*=*=*- * Gunadarma Mailing List ----------------------------------------------- * Archives : http://milis-archives.gunadarma.ac.id * Langganan : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED] * Berhenti : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED] * Administrator: [EMAIL PROTECTED]
