> He.. he maaf rupanya Anda masih "hidup" kental di khayalan (mungkin rekan > dosen, dan asisten lainnya di milis ini akan ketawa). Teorinya memang > seperti itu, nilai adalah salah satu cara utk mendorong mahasiswa belajar > dg baik. Tapi yg terjadi adalah (saya sebutkan kenyataan umumnya), > mahasiswa hanya mengejar nilai. Nggak paham nggak apa-apa yg penting > dapat "A". Kalau anda tanya berapa prosen yg seperit itu, maka saya bisa > sebagian besar yg seperti itu 8-). Saran saya "turunlah" ke lapangan. > Contoh "Ujian Mandiri" 8-), PI, fasilitas dan cara yg baik, tapi disalah > gunakan oleh ketidak dewasaan mahasiswa dalam melihat "nilai
Saya gak ngerti gimana caranya dapat "A" tapi gak paham apa-apa, berarti : Model ujian nya harus diperbaiki bukan dengan pilihan a,b,c,d,e tetapi essay. Kampus lama saya dulu ujian Cobol itu nulis di coding form, bisa berpuluh-puluh coding form, waktu nya 4 jam, begitu juga Fortran, Basic (langsung di komputer) (salah seorang dari rekan kemudian dia bekerja dan di training di singapore, kemudian dia ikut lomba programming dan dia juara pertama, lomba diikuti umum bukan hanya peserta training dari berbagai negara) Kalau UM itu khan buatan kampus bukan buatan mhs, jadi bukan mhsnya yg salah, mhs kan cuma manfaatkan fasilitas yg ada, kalau hanya menina bobokan mhs yg dihapus aja UM nya > Kembali ke bagaimana mahasiswa memperoleh nilai, seperti seperti anda > tuliskan di atas ."mencoba,. berlatih, mesimulasikan materi kuliah" dsb > itu artinya masih bertumpu pada "Ujian" sebagai penentu nilai 8-). > Bandingkan dg di LN, (misal Australia, UK, USA), nilai akhir itu paling > hanya ditentukan 30-40% dari ujian, lainnya tugas. Tapi tentu saja, > mahasiswa yg namanya mengerjakan tugas nggak main-main 8-) Saya tidak sependapat dengan ini, kalau itu matakuliahnya seperti Pancasila,IBD,ISD mungkin hanya untuk ujian(bukan saya menyepelekan ), tapi kalau programming,design system,o/s, database itu harus bener-bener ngerti bukan hanya untuk ujian kepake kerja (dulu saya sering konsultasi sama dosen mis : pak, di pertamina pake apa, di garuda pake apa, dll, jadi kita termotivasi, Dosennya akan jawab dan biasanya dosennya juga bilang, nih mat kul yg ini penting banget buat kerja .. gitu ) jadi dari mhs pun saya sudah menghayal bisa kerja di company - company besar dengan bekal ilmu yg harus saya tekuni... Maklum saya orang susah jadi kuliah kepingin cepet-2 kerja, malu sama ortu ngeluarin duit mulu....., bahkan sebelum mhs pun sudah berfikir profesi apa yg masih menjanjikan buat "hidup dimasa depan", jadi gak ada istilah "main-main", "takut dibilang gak gaul", "kuper" ya mampunya sekolah komputer, pengennya malah "kedokteran", Tapi saya juga pengen tau kalau mhs "kedokteran" masih ada gak yg main-main,nongkrong2, karena khan "mahal" dan "materinya berat" ----- Original Message ----- From: "I Made Wiryana" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Wednesday, June 18, 2003 10:56 PM Subject: Re: [GUNADARMA] Perpustakaan: membaca buku : Kesimpulan > On Wed, 18 Jun 2003, samunanto wrote: > > > I Made Wiryana wrote : > > 1. Akan ada kecenderungan mengejar nilai saja (ini budaya buruk !!!!!) > > > Menurut saya nggak gitu : ini adalah sarana untuk mengukur tanggung > > jawab dan kwalitas, biasanya untuk mencapai nilai bagus, si mhs kan > > harus sering mencoba, berlatih atau mungkin men-simulasikan materi > > kuliah (minimal dengan logika), baru dia akan bisa punya nilai bagus, > > jadi penguasaan materi dan nilai itu kan sejalan, kecuali kalau nilai > > bagus dapet dari 'ngebet', 'lirik-lirik','nyontek' tapi itu khan > > berapa % sich ? yg ujiannya seperti itu , lalu kalau bukan 'nilai' > > apalagi paramaternya, karena syarat lulus Ujian Utama 2,75 dan bea > > siswa juga khan dari nilai bukan dari apa-apa. > " > > Memang ini bukan salah mahasiswa sendiri. Mereka hanyalah korban dari > "masyarakat" yg menilai mahasiswa/lulusan dari nilainya. (lihat iklan > penerimaan pegawai, beasiswa dsb). Karena memang itu adalah cara paling > formal dan mudah. Di situasi seperti di Indonesia, saya perhatikan, > aturan seperti apapun, akan selalu dicari celahnya diakalin, misal aturan > penilaian/ujian seketat apapun, tetapi akan diakalin, dicari celahnya > sehingga nggak perlu paham tapi bisa dapat nilai bagus 8-) (hehe jangan > ketawa, saya pernah jadi mahasiswa, dan buaaaandel). > > Oh ya kalau di Indonesia dari kelas 1 SD di raport udah ada nilainya, di > Jerman baru dari kelas 4, dan di Swedia (sebagian skandinavia) dari kelas > 9). Di rapoart siswa sebelumnya, lebih banyak deskripsi ttg bagaimana > perilaku kita di kelas, dan interaksi dg teman. > > Kembali ke bagaimana mahasiswa memperoleh nilai, seperti seperti anda > tuliskan di atas ."mencoba,. berlatih, mesimulasikan materi kuliah" dsb > itu artinya masih bertumpu pada "Ujian" sebagai penentu nilai 8-). > Bandingkan dg di LN, (misal Australia, UK, USA), nilai akhir itu paling > hanya ditentukan 30-40% dari ujian, lainnya tugas. Tapi tentu saja, > mahasiswa yg namanya mengerjakan tugas nggak main-main 8-) > > Padahal nilai bukanlah segalanya, seringkali "track record" dari apa yg > kita lakukan lebih berperan dalam menentukan kita (baik ketika ngelamar > kerja, dlsb). > > Gunadarma sendiri juga memberikan "level" dari mahasiwa (di luar IPK) > yaitu misal mereka yg boleh skripis dan tidak. Oh ya soal skripsi, 5 > tahun yg lalu banyak mengecam, kenapa tidak seluruh mahasiswa harus > skripsi..h.eh. ternyata sekarang malah PTN (UI dsb) yg mengikuti Gunadarma > 8-). Heheheh dulu banyak yg bilang salah, sekarang banyak yg bilang benar > dan mengikuti hehehe > > Back to skripsi, mahasiswa yg skripsi ini bisa disetarakan dg level > "Bachelor of ... with Honours". Artinya mereka yg lulus dg kualifikasi > lebih. Keuntungannya mereka bisa leading ke "Doktor" tanpa melalui S2 > (saya tahu ada lebih dari 3 lulusan S1 Gunadarma yg langsung bisa ke S3). > > Nah ini adalah salah satu metoda pembobotan mahasiswa, di luar dari IP itu > sendiri (walau memang siapa yg boleh mengambil skripsi bergantunga pada IP > itu juga). > > > > 2. Lembaga pendidikan menjadi lembaga saringan > > Boleh juga, khan bisa buat kelas unggulan,seperti di Malaysia, ada kelas "A" > > Pintar dan Baik, kelas "B" Pintar dan agak Nakal, kelas "C" bodoh dan nakal. > > Pengelompokkan begini khan ada bagusnya, jadi mhs berebut "Gengsi" untuk > > mendapat kelas yg bagus, dan mhs yg pinter nggak boring nugguin, karena > > temen2nya "rada bolot" atau yg sedang-sedang nggak merasa dosennya > > kecepetan, pengelompokan ini juga gak permanen, jadi fluktuatif gitu. > > Hehehe pernah nyobain hal ini ? yg terjadi adalah kerepotan luar biasa. > Dan lagi yg bodoh kumpul dg yg bodoh, malah nggak jadi pinter-pinter > karena nggak ketularan ama yg pinter. Memang ada resiko sih yg "pinter" > jadi ketularan bodoh. Tapi memisahkan mahasiswa seperti itu (yg pintar di > kelas yg pintar, yg bodoh di kelas yg bodoh) menurut saya malah kurang > mendorong mahasiswa saling memberikan pengaruh baik (inget posting saya > mengenai "peer"). > > Membandingkan mahasiswa Gunadarma tidak bisa dg mahasiswa PTN (yg > jumlahnya kecil dan heterogenitasnya rendah). Apalagi dg di Malaysia > heheh kalo mo tahu Malaysia, coba jalan 200 km keluar KL. Jangan di KL-nya > > Secara "informal" sebetulnya terjadi juga hal seperti ini di Gunadarma > (misal kelas XXX, YYYY yg dipisahkan berdasarkan nilai test masuknya). > Mengajar di dua kelas ini berbeda, dan kecendrungan yg ada mereka tetap > akan berada di "nilai rata-rata kelas" (patokan perbandingan mahasiswa > adalah "peer" di kelas tersebut). Mengharap mahasiswa merasa berebut > "gengsi" utk pindah kelas yg terdiri dari orang pandai ???? Itu khayalan > bung. Yang ada malah, ah.. ngapain ke kelas itu.. kutu buku semua, anak > kurang gaul 8-). > > Itu kenyataannya... .. memang repot khan ? > > > > Tapi apa itu makna pendidikan ??? > > Ya, menurut saya, salah satu makna pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan > > bangsa, buat apa bolak-balik kekampus bertahun-tahun, habis waktu, umur, > > biaya dan gak lulus-lulus, begitu lulus, gak bisa apa-apa > > > > Ya salahnya mahasiswa, Anda di Jerman kuliah 30 tahun, bodo terus, nggak > pintar-pinter bukan salah Universitasnya. Ya salah anda (mahasiswanya). > Jangan biasakan salah mahasiswa ditimpakan ke lembaga pendidikan 8-). Nah > karena masyarakat di Jerman menilai bahwa dalam situasi seperti ini adalah > salah "mahasiswanya", maka banyak mahasiswa yg berfikir jalan lain, kalau > tidak mampu. > > Begitu juga dg "kemampuan", tiap mahasiswa di sini yg sadar kekurangannya > apa. Mereka akan aktif ikut "trainning" di luar sendiri, atau belajar > sendiri (antar mahasiswa mereka biasanya profesional, jadi misal.. eh saya > mau belajar statistik dg kamu, saya bayar deh 20 EU/jam). Saya inget waktu > membimbing mahasiswa saya, dia belum paham stochastic, tapi sebagai "dosen > pembimbing" saya nggak mau tahu itu resikonya dia.. ya dia bayar mahasiswa > matematika buat ngajarin dia stochastic. > > > Kampus lama saya dulu (saya adalah mhs transfer), pada awal kuliah, > > ada kurang lebih 10 kelas dengan jumlah mhs 50-60, semester 2, tinggal > > 30 (yg lain d/o atau merasa gak berbakat, ngundurin diri), semester ke > > 4 hanya sekelas hanya tinggal 15-20, begitu semester delapan hanya > > tinggal 3 kelas dengan jumlah mhs 20-30 / kelas. Tapi gak apa-apa, > > nggak ada yg bilang itu ngelanggar HAM > > Hm.. tapi bagaimana mereka yg DO ? apakah mereka mendapat kesempatan utk > kuliah lebih baik? mendapat pengaruh dari teman yg lebih baik ? Atau malah > jadi nggak kuliah, jadi preman, malakin temen 8-) dsb..dsb. > > Waktu saya kuliah di PTN th I, 100 mahasiswa, pas lulus paling nggak ada > separonya. Kalau di PTN saya masih maklum, tiap mahasiswa adalah > disubsidi negara, jadi wajar kalau diberlakukan teori "saringan" (hei > mahasiswa PTN anda makan duit negara, jadi kalau males-males ya mending > keluar saja, biar duitnya dipakai orang lain). Tapi dg men-DO khan > mahasiswa artinya mereka sudah "membuang uang investasi rakyat" 8-) (hehe > makanya di PTN pun kalau sudah tahun tua, kita dipaksa-paksa dikejar biar > lulus). > > > Begitu mereka melamar kerja juga khan yg ada batasan diterima minimal > > IPK sekian, misal : 2,75 atau 3,00 dan bila mereka tidak bisa > > membuktikan antara nilai dengan kemampuan, khan pada 3 bulan pertama > > Pada era sekarang IPK bukan patokan satu-satunya utk bekerja, malah "track > record" yg sering berbicara. > > > Bapak khan dari kalangan Dosen/pengajar saya dari Praktisi, mari kita > > berbagi pengalaman, karena saya juga sering menseleksi calon > karyawan, > > mungkin tujuannya agar "Match" antara kebutuhan tenaga kerja dan > > ketersediaan calon tenaga kerja > > Heheh saya sering geli kalau orang sering merasa bahwa kalau saya "doseN" > artinya saya adalah orang yg kerjanya "cuma di depan kelas dan tidak tahu > dunia praktek" heheh padahal di lapangannya sering sekali. Jangankan > menyarin pegawai sampai "mencari kutu" laporan akuntansi pun pernah saya > lakukan 8-) > > Gunadarma memberikan kesempatan para dosen secara formal utk turun ke > lapangan (kadang mengajak mahasiswa) dalam proyek profesional. Jadi kalau > Anda melihat "ah dosen, mereka nggak tahu lapangan" mungkin Anda salah > kira. Bisa-bisa para dosen itu lebih paham lapangan, daripada mereka yg > mengaku "praktisi". Saya bisa tunjuk dosen-dosen di GD yg pengalaman di > lapangannya banyak sekali 8-) > > Utk mengaitkan dg lapangan ini, bahkan Gunadarma membukan Pusat Inkubator > Bisnis. Yang bertujuan menelorkan persh-persh (spin-off company) dari > mahasiswa/alumni Gunadarma. Saya termasuk yg menggodog ini dari awal. > > Saya sendiri sering heran, kalau mengaku "dosen Gunadarma" maka pandangan > orang adalah orang yg tidak tahu proyek, tidak tahu jalannya persh dsb. > Tapi kalau saya memperkenalkan diri "advisor persh X, pakar Y" langsung > orang bilang, wah pengalaman... Saran saya, jangan silau dg "sebutan" > > Oh ya sering kalau diwawancara saya menulis "title saya" hanya "Dosen > tetap Univ Gunadarma", tapi sering para wartawannya, menambahin dg title > lainnya, soalnya sering terjadi pandangan di masyarakat (seperti di milis > ini), dosen itu nggak tahu "praktek-nya".. > > Soal "match" kebutuhan tenaga kerja dan UNi lain kali kita bicarakan. > Sebelumnya bisa dibaca tulisan (saya lama jadi "konsultan" utk DepNaKer > terutama bidang TI) > > IMW > > NB : saya pernah jadi advisor di company "international", dan sekarnag > juga masih jadi advisor di company TI 8-) > > > * Gunadarma Mailing List ----------------------------------------------- > * Archives : http://milis-archives.gunadarma.ac.id > * Langganan : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED] > * Berhenti : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED] > * Administrator: [EMAIL PROTECTED] > > * Gunadarma Mailing List ----------------------------------------------- * Archives : http://milis-archives.gunadarma.ac.id * Langganan : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED] * Berhenti : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED] * Administrator: [EMAIL PROTECTED]
