Koreksi jika salah
 
Indonesian Shopping Mall
http://www.IndoMall.or.id/
RedHat 5.2 starting from Rp 29.500,-
SuSE 6.0


Date: Friday, February 26, 1999 0133 AM
Subject: Kenaikan Tarif Telepon "Hanya" 15%


 
 
                  Berita Utama
                                                    Jumat, 26 Februari 1999  
 
 
 
                 Ketentuan Lokal Tiga Dihapus
 
                 Kenaikan Tarif Telepon "Hanya" 15%
 
                                JAKARTA - Pemerintah akhirnya memenuhi
                                tuntutan dan aspirasi masyarakat untuk
                                menurunkan kenaikan tarif telepon dari
                                rata-rata 24% menjadi 15%. Selain itu, kenaikan
                                tarif lokal tiga (pembicaraan lebih dari 30 km)
                                yang berlaku di Jabotabek dihapuskan dan
                                dikembalikan seperti semula.
 
                 Menteri Perhubungan Giri Suseno usai rapat tertutup bersama Tim
                 Tarif DPR RI selama hampir 3,5 jam, semalam, menyatakan,
                 kenaikan tarif telepon yang semula rata-rata 24% diturunkan menjadi
                 15%. Angka 15% muncul setelah ada kompromi antara kedua belah
                 pihak dengan mempertimbangkan berbagai aspek.
 
                 Giri Suseno yang baru saja tiba dari Bali langsung menuju DPR.
                 Pertemuan dimulai sekitar pukul 18.00 dan sempat ada jeda sekitar
                 30 menit untuk menunaikan salat magrib. Pertemuan berakhir sekitar
                 pukul 21.45.
 
                 Ketua Komisi V DPR Burhanuddin Napitupulu mengatakan,
                 rencana kenaikan tarif telepon seluler seperti yang tertuang dalam
                 Keputusan Menteri No 13 Tahun 1999 dan berlaku mulai 1 Maret
                 1999, juga ditunda hingga ada pembicaraan lebih lanjut antara
                 Pemerintah dan DPR.
 
                 Ditambahkan, sulit untuk meniadakan kenaikan tarif, sehingga
                 dengan berbagai pertimbangan akhirnya kenaikan tetap saja meski
                 rata-rata 15%. "Mengapa menjadi 15%, ini kompromi. Faktor dari
                 Pemerintah juga patut diperhatikan. Juga ada ancaman seperti
                 jatuhnya harga saham Telkom serta beban APBN. Bagaimanapun
                 kontribusi Telkom dengan pendapatan operasional Rp 6,6 triliun
                 cukup besar,'' katanya.
 
                 Seperti diketahui, sampai Desember 1998 Pemerintah Indonesia
                 memiliki 75,8% saham Telkom dan 24,2% saham lainnya dimiliki
                 publik.
 
                 Mengenai tarif lokal tiga yang melonjak 21 kali lipat, Menhub
                 menegaskan, keputusan itu sebenarnya ketentuan yang sudah ada
                 sejak 1994 dan terkait dengan keputusan Menparpostel tahun 1994.
                 Hanya saja, lokal tiga di Jabotabek belum diterapkan seperti halnya
                 di daerah lain.
 
                 Tim Tarif DPR saat rapat tertutup bersama Menhub Giri Suseno
                 menyatakan, kenaikan tarif 24% terlalu tinggi dan meminta
                 diturunkan hingga maksimal 15%. "Dengan kenaikan 15% itu
                 sebenarnya Telkom masih bisa bernapas,'' ujar anggota tim, Ir Azhar
                 Ramly. 
 
                 Pendapatan Telkom
 
                 Menhub mengatakan, berbicara mengenai tarif telepon seakan-akan
                 selalu berbicara mengenai PT Telkom. "Padahal kita bicara mengenai
                 7 divisi regional (divre) telekomunikasi,'' jelasnya. Dia mengakui,
                 Divre II dan Divre V memberikan kontribusi besar bagi pendapatan
                 Telkom.
 
                 Berkaitan dengan penurunan tarif, lanjutnya, di satu sisi Pemerintah
                 memberi kepada masyarakat, tetapi di sisi lain ada kewajiban yang
                 tidak bisa dilaksanakan dalam waktu dekat terutama pembangunan
                 sektor telekomunikasi. "Saya harap masyarakat bisa memahami
                 karena ada kewajiban yang tertunda.''
 
                 Giri Suseno mengungkapkan, dalam situasi saat ini
                 mempertahankan pelayanan adalah hal yang berat. Maka apabila
                 kenaikan tarif 24% itu ditunda atau ditiadakan sama sekali, malah
                 akan terjadi penurunan pelayanan dan akibatnya lebih parah lagi.
 
                 Wakil Presiden Komunikasi Perusahaan PT Telkom D Amarudien
                 mengatakan, dalam laporan keuangan hasil audit tanggal 24 Februari
                 1999 menunjukkan, pendapatan operasional PT Telkom meningkat
                 12% dari Rp 5 triliun tahun 1997 menjadi Rp 6,6 triliun tahun 1998.
                 Sementara itu, pengeluaran operasional menjadi Rp 4 triliun tahun
                 1998, sehingga keuntungan bersihnya mencapai Rp 1,169 triliun.
 
                 Dijelaskan, sampai akhir 1998 beban utang Telkom mencapai Rp 8,4
                 triliun, yang komposisinya 51% dalam nilai tukar rupiah dan 49%
                 dalam mata uang aslinya.
 
                 Sampai dengan tanggal 31 Desember 1998, utang dalam mata uang
                 rupiah Rp 4,899 triliun, dalam dolar AS 367,1 juta yang telah
                 di-hedging 22,4%. Dalam mata uang yen, 14.115,2 juta yen, yang
                 telah di-hedging 3,3%. Dalam mata uang franc Prancis 154,9 juta
                 franc dan dalam mata uang gulden Belanda 25,7 juta gulden.
 
                 Menurutnya, Telkom sejak 1998 mengimplementasikan program
                 survival ability dalam menghadapi krisis ekonomi. Tujuan utama
                 program ini mengeliminir atau meminimalisasi dampak krisis
                 ekonomi terhadap performansi keuangan PT Telkom dengan tetap
                 mempertahankan keseimbangan keuangan dan penyehatan cash flow.
 
                 Ketua YLKI Tini Hadad, Kamis kemarin mengemukakan, PT
                 Telkom harus menahan diri dari ketentuan untuk menaikkan tarif,
                 karena masih membukukan keuntungan operasi sekitar Rp 1 triliun.
 
                 "Kita semua tahu inflasi melonjak cukup tinggi dan rupiah terpuruk.
                 Namun karena kesulitan ekonomi harus ditanggung bersama, banyak
                 warga negara rela tidak naik penghasilannya. Seharusnya PT Telkom
                 mampu menahan diri untuk tidak menaikkan tarif,'' ujarnya.
 
                 "Kami juga minta Pemerintah beberkan kebocoran yang yang
                 merugikan PT Telkom. (nas,D1,bu-24k) 
 

                            Copyright� 1996 SUARA MERDEKA

Kirim email ke